Kultum Maret 2008

Juni 18, 2008

Kultum 1 Maret 2008

STRATEGI KEPEMIMPINAN NABI MUHAMMAD SAW

Firman Allah swt:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا – وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُّنِيرًا

“Sesungguhnya Kami mengutus engkau (Muhammad) sebagai suri tauladan, pemberi kabar gembira dan pembawa peringatan yang selalu mengajak ke jalan Allah berdasarkan izin-Nya serta menjadi obor penerang (hidup umat manusia)” (QS. 33/al-Ahzab:45-46)

Ayat diatas, secara jelas menerangkan bahwa selain diutus Allah swt. sebagai pembawa risalah Tauhid, Nabi Muhammad juga adalah suri tauladan bagi setiap kebaikan dan keberhasilan termasuk dalam prilaku kepemimpinan.

Ciri kepemimpinan Rasulullah saw. sudah dijamin oleh Allah akan kemuliaan dan keberhasilannya sehingga sebagai pemimpin dalam konteks perusahaan, prilaku kepimpinan beliau patut untuk kita tiru, bahkan walaupun kita tidak berstatus sebagai pemimpin dalam suatu lembaga ditengah masyarakat paling tidak sebagai kepala keluarga maka kita adalah pemimpin bagi rumah tangga kita, bahkan menurut Rasulullah saw. setiap orang itu adalah pemimpin sebagaimana sabda beliau yang artinya : “Setiap kamu adalah pemimpin dan pemimpin bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. (HR.Bukhari)

Sepak terjang kepemimpinan Nabi kalau dilihat secara global atau garis besarnya bahwa beliau adalah Pemimpin yang penuh kasih sayang terhadap ummat yang dipimpinnya, tidak pernah bersikap kasar atau memimpin mereka secara otoriter atau dengan kekerasan. Bahkan dalam keluarga, sebagai seorang pemimpin beliau bahkan menyatakan : “Aku adalah orang yang paling baik diantara kamu sekalian dalam memperlakukan keluarga”.

Cara Nabi dalam memimpin dapat dilihat dari prinsipnya yang selalu mengutamakan kepentingan umum, selalu menghargai profesionalisme umatnya, itulah sebabnya ketika Rasulullah saw. menyaksikan seorang yang sedang menanam kurma dengan hati-hati sekali; menanam biji, menyiramnya, kemudian menutup kembali dengan menggunakan tangannya sendiri, Rasulullah saw. bersabda : “Tangan itu sungguh memiliki berkah”. Disinilah tampak keseriusan Nabi saw. memberi penghargaan atas inisiatif dan kreatifitas ummatnya dalam usaha.

Selain itu pula terdapat beberapa faktor yang menyebabkan keberhasilan Rasulullah saw. dalam menjalankan kepemimpinan diantaranya :

1. Nabi Muhammad SAW pandai menjelaskan tujuan atas kebijakan yang akan diambilnya, yakni dengan menggunakan bahasa yang sederhana sehingga mudah dicerna dan dipahami sehingga tidak menimbulkan kecurigaan atau kebingungan bagi para pengikutnya.

2. Nabi Muhammad SAW merupakan idola bagi setiap orang yang dipimpinnya, disebabkan setiap kebaikan yang disampaikannya, ditemukan contoh dalam kenyataan kehidupannya. Sehingga penampilan Nabi, prilaku, bahasa dan gaya bicara Nabi saw tetap tampil sebagai sosok idola yang patut disuri tauladani oleh para pengikutnya.

3. Disamping itu semua faktor yang paling menentukan keberhasilan beliau dalam memimpin umatnya adalah kedekatannya kepada Tuhan.

Demikianlah diantara strategi kepemimpinan Nabi dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat sehingga beliau patut dijadikan sebagai idola yang baik bagi seorang muslim.

Kultum 2 Maret 2008

KERJA DAN KAITANNYA DENGAN UPAYA MENGHINDARI ‘ADZAB

Alhamdulillah, segenap puji dan syukur marilah kita persembahkan kehadirat Allah swt. atas limpahan rahmat, taufik dan hidayah yang diberikan kepada kita. Begitu pula shalawat beriring salam semoga selalu terlimpah kepada junjungan Nabi besar Muhammad saw., keluarga beserta sahabat-sahabatnya, yang telah membumikan keihklasan dalam setiap langkah perjuangan.

Salah satu faktor universalitas islam adalah visinya mengenai kaitan antara dunia atau aktifitas keduniaan dengan hidup keabadian atau akhirat. Dengan demikian diyakini sebagai ummat Islam memiliki kesadaran dan self kontrol, sehingga ia tidak selalu memikirkan persoalan aktifitasnya di dunia saja, tetapi ia juga memiliki pemikiran untuk urusan di “sana” (keabadian).

Wong Solo sebagai perusahaan yang menjadikan landasan filosofinya surat shaf : 10 dan 11, : “ Hai orang –orang yang beriman maukah engkau aku tunjukkan pada perniagaan yang menyelematkan dirimimu dari siksaan (‘adzab) yang sangat pedih ?, yakni kamu beriman kepada Allah, berjihad dijalanNya dengan harta dan jiwa, hal itu lebih baik jika kamu mengetahui”.

Sangat jelas pernyataan Allah dalam ayat diatas, bahwa menjadi seorang beriman, harus memiliki semangat untuk menghindarkan diri dari ‘adzab termasuk merupakan bagian dari aktifitas kerja perusahaan itu.

Secara literal adzab diartikan sebagai al-ija’al-sadid sangat menyakitkan. Bisa juga diartikan sebagai segala sesuatu yang menjadikan manusia menderita karenanya. Dalam perspektif islam adzab diartikan sebagai hukuman atau siksa Tuhan disebabkan perbuatan manusia, khususnya manusia yang menyimpang dari pola, aturan, atau nilai yang telah ditetapkan. Dalam al-Qur’an pengertian siksa Tuhan selain di ungkapkan dengan term ‘adzab, juga diungkapkan dengan istilah lain yang mengandung makna siksa (al-Akhdz, al-intiqam, al-ilhaq, Tadmir, al-‘aqab, dll)

Sebagaimana sabda Rasulullah: “Tuhan akan memberikan masa yang panjang bagi orang dzalim. Jika Dia menyiksanya tidak akan segan-segan. Selanjutnya Rasulullah membaca ayat : “Dan begitulah siksa Tuhanmu jika dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang zhalim. Sesungguhnya adzabnya itu sangat pedih” (al-Hadis).

Al-Qurán menginformasikan bahwa akibat pelanggaran manusia terhadap ketentuan Tuhan, maka manusia akan memperoleh adzab di dunia. Adapun azab dunia bisa berupa banjir besar, kemarau panjang, badai, gempa, angin puting beliung, longsor, dan segala hal yang menyiksa diri manusia secara fisik seperti kekeringan dan kelaparan atupun tekanan batin seperti hilangnya ketenangan jiwa dan ketentraman batin. Demikian keterangan Ibnu Abbas sebagai dikutip oleh Ikrimah.

Selain adzab dunia, al-Qurán juga menginformasikan adanya adzab akhirat bagi para pelanggar ketentuan ketentuan Allah seperti adzab kubur, adzab neraka dan rasa penyesalan. Oleh sebab itu adzab baik adzab dunia dan akhirat harus dihindari, dan diantara upaya menghindari adzab tersebut menurut pandangan islam, masing-masing baik kelompok maupun individu harus melakukan upaya-upaya meliputi :

1. Ada keseriusan setiap orang yang beriman untuk senantiasa melakukan jihad. Jihad dalam artian upaya sungguh-sungguh untuk menghindarkan diri dari adzab yang pedih dalam menjalankan aktifitas.

2. Upaya yang serius dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar dari segenap anggota masyarakat, baik secara individu maupun kelompok, langsung atau tidak langsung.

3. Selain itu al-Qurán juga mensyaratkan taubat sebagai bagian dari upaya menghindarkan diri dari adzab Tuhan, baik yang bersifat keduniaan, maupun yang bersifat keakhiratan.

Dari kajian di atas dapatlah disimpulkan bahwa kesadaran terhadap adzab dan upaya untuk menghindarkannya merupakan bagian dari kekuatan kontrol personal, agar seorang yang beriman tetap menetapi petunjuk Tuhan dalam kehidupannya.

Kultum 3 Maret 2008

MENEGAKKAN CITRA PERUSAHAAN ISLAMI

Bekerja adalah bagian dari tugas dan kewajiban asasi bagi seorang muslim setelah kewajibannya untuk beriman kepada Allah. Hal itu diisyaratkan dalam berbagai ayat Al-Qur’an yang selalu menggandengkan kata iman dengan amal shaleh yang sama artinya dengan penunaian kerja secara benar.

Seseorang yang menjalankan tugas yang diembannya secara benar, adalah ciri insan yang beriman. Namun dalam suatu lingkup usaha, seluruh unit dan bagian yang ada dalam suatu perusahaan itu harus dapat menjalankan hal ini secara serentak (bersama-sama) agar terjadi keseimbangan dalam proses kerja.

Masing-masing harus berniat secara ikhlas dalam menunaikan pekerjaannya, karena setiap amal atau perbuatan standardnya adalah niat. Jika niat yang baik maka melahirkan proses kerja yang baik. Dan Niat yang paling baik dalam melandasi suatu kerja adalah dengan niat keimanan sehingga akan melahirkan kebaikan pula.

Disamping itu perlu diingat, bahwa kemajuan sebuah perusahaan disamping adanya para karyawan yang terdiri dari orang-orang yang beriman yang melaksanakan tugasnya secara shaleh, peran pimpinan juga sangat menentukan dalam perkembangan karakter bawahan yang ia pimpin.

Oleh sebab itu suatu usaha harus dipimpin oleh pimpinan yang memiliki komitmen yang kuat pada ketuhanan dan keislaman, karena akan berdampak besar pada pelaksanaan tugas-tugas besar pada suatu perusahaan. Kepada setiap Pimpinan dalam sebuah perusahaan juga dituntut kesetiannya pada Ketuhanan. Sosok pimpinan yang setia pada keimanan tergambar pada kesungguhannya dalam mendukung tegaknya sistem islami dalam usahanya. Ia juga memiliki kesungguhan menjaga keseimbangan hidup antara kepentingan duniawi dan ukhrawi, serta berupaya menegakkan keadilan.

Untuk mencari figur pemimpin yang ideal, nama Usman Ibn ‘Affan, sahabat dan menantu Rasulullah pantas dikedepankan di sini. Dimana perilaku Usman dalam berbisnis adalah cerminan pemimpin perusahaan muslim yang selalu berpegang pada moral dan etika bisnis. Ia tidak saja mengupahi karyawan dengan dirham, namun juga menuangkan kedalam “bejana” hati nurani karyawan siraman iman, sebab kebutuhan fisik belum tentu membahagiakan mereka. Pada waktu-waktu (malam-malam) tertentu Usman mengundang karyawannya mengkaji Al-Qur’an, mempelajari nilai-nilai yang dikandung di dalamnya dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an.

Perusahaan yang Islami adalah perusahaan yang dibangun atas dasar pengabdian kepada Allah. Tugas dan kewajiban dilakukan dalam rangka amal, dan menghiasi setiap pekerjaannya dengan semangat jihad, sebab semangat jihad selain memunculkan ketangguhan juga merupakan peluang bagi diperolehnya kejayaan dalam usaha tersebut. Sebagai terminal akhir dari setiap aktifitas seorang muslim pada akhirnya ditujukan bagi pencapaian ridha ilahi, sebab sebagaimana firman Allah ; “ Katakanlah : Sesungguhnya Shalatku ibadahku, hidupku matiku, kupersembahkan bagi Allah Tuhan semesta alam”.

Karyawan dalam pandangan Al-Qur’an hendaklah memiliki konsisten (istiqamah) dalam menjalankan amanah yang diberikan pimpinannya. Tidak goyah meskipun ujian hidup kadangkala bisa membuat seseorang gelap mata untuk melanggar aturan Allah. Ujian hidup merupakan sunnatullah yang tidak bisa dihindari oleh siapapun sebab Allah SWT dalam QS. 2/al-Baqarah : 155 berfirman yang artinya : “Kami akan mencoba kamu dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang sabar “.

Kultum 4 Maret 2008

Jihad mempertahankan agama Allah dan mencapai ridha Allah

Istilah jihad (berasal dari kata juhd dan jahd) berarti kekuatan, kemampuan, kesulitan, dan kelemahan. Kata ini terulang sebanyak 41 kali dalam Al-Qur’an. Pengertian kata jihad disini menggambarkan bahwa dalam melakukan jihad dibutuhkan kekuatan, baik fisik, ekonomi, psikologi, dan diplomasi politik. Dalam Al-Qur’an istilah jihad seringkali berhadapan dengan resiko kesulitan dan kelelahan dalam pelaksanaannya. Untuk itulah maka jihad dapat diartikan sebagai perjuangan secara sungguh-sungguh mengerahkan segala potensi dan kemampuan yang dimiliki untuk mencapai tujuan, khususnya dalam melawan musuh atau dalam mempertahankan kebenaran, kebaikan dan keluhuran.

Pada satu sisi jihad bisa berarti berjihad dalam rangka berperang melawan musuh-musuh Islam, termasuk di dalamnya perang fisik mengangkat senjata menghadapi musuh-musuh Islam. Untuk pengertian ini kita dianjurkan untuk mempersiapkan diri, di antaranya petunjuk Nabi agar kita mengajari anak-anak kita agar pandai memanah. Namun pada sebagian ayat yang menggunakan kata jihad bukan berarti perang. Seperti QS. al-Ankabut : 6 dan 69, serta QS. 25/al-Furqan : 52. Yang termasuk ayat-ayat Makkiyah (turun di Makkah). Rasulullah ketika di Mekkah tidak pernah melakukan kontak senjata dengan orang-orang kafir. Bahkan ketika orang-orang musyrik mengadakan tekanan dan penyiksaan terhadap orang Islam, umat Islam di bawah pimpinan Nabi tidak membalas mereka dengan senjata. Nabi berucap : “bersabarlah kalian, karena aku belum mendapat perintah untuk berperang”.

Dengan demikian jelaslah bahwa ayat-ayat tentang jihad tidak dapat dipahami maknanya hanya dengan melakukan perang (angkat senjata). Berdasarkan keterangan dari ayat Al-Qur’an justru semakin banyak bertambahnya penduduk yang menganut Islam pada zaman Nabi, karena kelompok kaum muslimin membalas mereka dengan penjelasan ajaran-ajaran Al-Qur’an secara rasional dan prikemanusiaan. Abdul Rahman al-Mabarkafuri mengetengahkan berbagai penafsiran berkaitan dengan kata fi sabilillah yang sering mengiringi kata jihad. Sebagai ulama memahaminya sebagai ketaatan kepada Allah (tha’at Allah) dan mengharap ridha Allah (ibtigha’a mardhatillah) , dan sebagian lagi menyebutkan sebagai berperang memperjuangkan agama Allah (li i’lai kalimatillah ).

Dari kajian mengenai muatan kata jihad dalam Al-Qur’an di atas, dapat kita lihat bahwa yang paling pokok dari makna jihad itu adalah perjuangan secara sungguh-sungguh mengerahkan segala potensi dan kemampuan untuk: mempertahankan agama Allah dan mencapai ridha Allah.

Tegaknya agama Allah maksudnya adalah tegaknya kebenaran ajaran Islam meliputi nilai-nilai Islam dalam berekonomi, berpolitik, ilmu dan berbudaya. Maka menjaga kelestarian nilai-nilai itu adalah bagian yang tidak kalah pentingnya dari peperangan menyebarkan Islam yang dilakukan Nabi dan para sahabatnya. Dalam tataran ini, maka kesungguhan kerja keras serta terencana untuk memberdayakan umat adalah juga jihad akbar. Sebab dengan keberdayaanlah ajaran Allah dapat ditegakkan. Dengan demikian upaya kita secara sungguh-sungguh menangani tugas-tugas kita, apapun profesi kita, serta kesediaan berbagai kebahagiaan dengan mereka yang menderita adalah juga jihad. Firman Allah yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya” (QS.As-Shaf:10-11)

Kultum 5 Maret 2008

MENGHIDUPKAN SEMANGAT JIHAD DALAM PERUSAHAAN

Jihad adalah istilah Islam yang memiliki makna beragam. Selain bermakna asli yang cukup beragam dan luas, kata jihad juga telah dipakai berbagai kelompok Islam sepert pada zaman Nabi dan para Sahabat sebagai bentuk perlawanan mati-matian terhadap musuh yang mengancam agama Islam dan umatnya. Sedemikian tegas dan kerasnya perlawanan yang diberikan umat Islam (atas dorongan ajaran ini) hingga banyak orang yang keliru, sehingga mengartikan jihad sebagai bentuk pengerahan massa, perlawanan sekelompok orang Islam secara emosional. Padahal artinya bukan demikian. Pemahaman seperti itu adalah pemahaman orang yang awam agama sehingga rigid atau kaku dalam memahami teks Islam tentang Jihad. Apa sesungguhnya yang dikehendaki Islam dengan istilah jihad, dan bagaimana sikap yang diminta dari seorang Muslim berkaitan dengan istilah ini, sungguh merupakan hal yang perlu mendapat kajian, agar ummat Islam tidak memahami perintah jihad hanya terbatas pada sikap perlawanan fisik terhadap mereka yang benci kepada Islam atau hidup dengan kondisi dalam rangka menegakkan semangat keislaman.

Ciri-ciri Karyawan muslim yang memimiliki semangat jihad dalam perusahaan a.l.:

1. Memiliki semangat pengabdian kepada Allah :

Ali bin Abi Thalib adalah cermin tauladan bagi para karyawan muslim. Meskipun posisi Ali sebagai ilmuwan terpandang, sebenarnya ia pernah menjadi karyawan seorang wanita Yahudi dengan bekerja sebagai penimba air. Sebagai karyawan upahnya bukanlah dirham tetapi segenggam kurma. Namun pekerjaannya tetap dilaksanakan dengan penuh pengabdian. Fakta ini jelas sebagai bukti sejarah yang menunjukkan betapa pentingnya semangat pengabdian dalam menjalankan tugas-tugas sebagai seorang karyawan muslim.

2. Memiliki sikap istiqamah dalam bekerja:

Karyawan dalam pandangan Al-Qur’an hendaklah memiliki sikap istiqamah dalam menjalankan amanah yang diberikan kepadanya dari atasannya. Artinya ia tidak gampang goyah dalam melaksanakan tugas meskipun kadangkala ujian hidup atau problem rumah tangga bisa membuatnya gelap mata dan melenceng dari aturan Allah dan melanggar amanah yang diberikan kepadanya. Ujian hidup merupakan sunnatullah yang tidak bisa dihindari oleh siapapun sebab Allah SWT dalam QS. 2/al-Baqarah : 155 berfirman :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Kami akan mencoba kamu dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang sabar “. Sikap istiqamah merupakan ciri-ciri seorang karyawan yang memiliki semangat jihad yang tinggi.

3. Berusaha Menegakkan agama Allah dalam kerjanya:

Yakni menjalankan dan mengamalkan sistem yang ditetapkan oleh Islam dalam kerjannya, seperti bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh kejujuran dengan keyakinan bahwa dengan menjalankan tugas secara demikian, akan membuka jalan bagi terbukanya pertolongan Allah SWT dalam setiap usahanya.

4. Berupaya Mencapai ridha ilahi:

Yakni apa-apa tugas yang dilaksanakannya dilandasi oleh semangat pengabdian kepada Allah. Jadi bukan sekedar bekerja agar mendapat penghargaan dari manusia atau perhatian khusus dari pimpinan ataupun atasan, melainkan dimaksudkan untuk meraih keridhaan Allah sebagai puncak tertinggi dari segala harapan manusia. Dengan dilandasi upaya meraih ridha ilahi membuat seseorang memiliki daya tahan yang tinggi terhadap berbagai tantangan yang ia hadapi dalam pengelolaan tugas-tugasnya.

Kultum 6 Maret 2008

PRINSIP-PRINSIP TOLERANSI DALAM PERUSAHAAN BERNUANSA ISLAM

Kesuksesan Nabi saw dalam mengemban misi Risalah menyebarkan dakwah Islam kepada manusia dikarenakan upaya dakwah beliau yang dijalankan dengan penuh keramahan. Banyak raja-raja yang dulunya menyembah para Dewa dan berbagai berhala kini berbalik memilih jalan Islam dengan keterbukaan hati, disebabkan politik dakwah Nabi yang menerapkan sistem toleransi yang besar kepada mereka, sehingga memberi daya tarik tersendiri terhadap Islam sebagai agama baru yang ramah.

Kehadiran Islam di zaman Nabi dirasakan oleh agama lain sebagai agama yang terbuka untuk dimasuki agar dapat menjalin hubungan baik dan melakukan kerja sama yang saling menguntungkan. Akan tetapi kenyataan yang umum kita temui di masyarakat, bahwa ada sebahagian yang memandang bahwa toleransi itu sangat kurang menguntungkan, baik dari segi materi maupun non materi. Akibatnya sikap seseorang terhadap non Muslim menjadi sangat kaku, khawatir, dan cenderung menampakkan sikap yang kurang bersahabat, padahal Islam sebagai agama rahmat, yang ramah terhadap siapapun, telah menggariskan prinsip-prinsip toleransi dalam Islam, diantaranya dapat disimpulkan dari (QS.Az-Zumar : 17-18 ; al-Syura : 13) yakni :

- Pada dasarnya agama Islam dan agama-agama lain yang pernah diturunkan Allah, (Agama samawi) sama-sama agama yang mengajak manusia untuk meyakini atau mengimani Allah sebagai satu-satunya Tuhan.

- Begitupula para Nabi yang membawa ajaran agama, semua mereka adalah bersaudara, tidak ada perbedaan di antara missi mereka yaitu agar manusia tunduk kepada Allah SWT dan berakhlak mulia (QS.2/al-Baqarah : 136).

Dengan tidak adanya perbedaan itu maka semestinya manusia tidak mempersoalkan agama satu dengan lainnya, apalagi aqidah tidak dapat dipaksakan kepada orang lain. Sebab aqidah itu memerlukan kesadaran dan kerelaan (QS. Yunus: 99). Berdasarkan itu komunikasi dengan penganut agama lain seharusnya bersifat kesadaran, psikologis dan kelembutan. Sehingga dengan demikian hubungan perusahaan menjadi bersifat manusiawi dan keindahan.

Ditambah lagi perintah Allah, yang diharuskan kepada kaum muslim untuk tidak saling bermusuhan hanya karena perbedaan mereka dalam memahami agamanya masing-masing (QS. al-Maidah:2), dan penyelesaian akhir setiap perbedaan adalah menyerahkan diri kepada Allah (QS. al-Baqarah : 113). Kelebihan manusia atas yang lain tergantung kadar kebaikan yang dipahami dan dilakukannya. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW :

Orang yang paling dicintainya Allah swt. ialah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. al-Bazzar)

Perbedaan agama tidak harus menghalangi seseorang dalam berbuat baik, dan menjalin silaturahmi antara pemeluk agama yang berbeda (QS. al-Maidah : 5 ).

Dalam pluralitas keberagaman diperlukan dialog yang baik dalam batas-batas sopan santun dengan argumentasi secara meyakinkan (QS. al-Ankabut :46 ; al-An’am : 108)

Bila suatu umat dimusuhi karena aqidah yang mereka anut, maka mereka wajib menghapuskan permusuhan itu, demi memelihara keyakinan dan menghindarkan malapetaka (QS. al-Baqarah : 193; al-Mumtahanah : 9).

Demikianlah Prinsip-prinsip toleransi ini yang harus ditanam dalam nuansa Islam perusahaan, sehingga ia menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap orang, dan sekaligus menjadi wadah bagi perbaikan masyarakat.

Kultum 7 Maret 2008

KASIH SAYANG MENDORONG KREATIFITAS

Kalimat basmalah (bismillahirahmanirrahim), yang dalam penempatannya terdapat pada setiap awal surah dalam Al-Qur’an menjadi simbol kasih sayang Tuhan yang menggambarkan betapa Islam sangat menekankan pentingnya kasih sayang untuk dipraktekkan dalam kehidupan.

Begitupula dengan Istilah “Silaturahmi”, adalah kumpulan dua buah kata yakni shilat dan rahim. Shilat artinya menyambung yang terputus dan menghimpun yang terpecah. Sementara rahim berarti kandungan, dan ini erat kaitannya dengan kasih sayang.

Kasih sayang amat penting dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat, begitupula dalam melaksanakan tugas-tugas di tempat kerja. Sedemikian pentingnya penegakan kasih sayang dalam kehidupan, maka banyak sekali petunjuk Islam yang mengisyaratkan tentang hal ini, bahkan Hubungan manusia dengan Tuhannya selalu dikemas dalam konteks kasih sayang, seperti dalam S.5/al-Maidah:54 :

فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

Allah cinta kepada mereka dan mereka cinta kepada Allah” .

Allah mencintai manusia yang gemar melakukan kebaikan, misalnya suka bersedeqah, seperti terlihat dalam kalimat : “wa Allah yuhibbu al-muhsinin”, begitupula mereka yang menjaga kesucian dirinya seperti tergambar dalam kalimat “ innallah yuhibbu al-attawwabin, wa ÿuhibbul mutatahhirin“ : “sesungguhnya Allah mencintai mereka yang suka bertaubat dan mensucikan diri”.

Adapun hadits Rasulullah saw. Juga ada yang menggambarkan kasih sayang Allah seperti terdapat dalam sebuah hadis : “Manusia terbaik adalah yang paling taqwa kepada Allah, paling giat melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, dan paling suka menegakkan kasih sayang (al-hadis).

Rasulullah bahkan tidak mau mengakui seseorang sebagai ummatnya jika didalam hati seseorang itu tidak terdapat rasa kasih syang. Sabda beliau: “Bukanlah termasuk ummatku orang yang tidak dapat menyayangi yang lebih muda dan mengakui kemuliaan orang yang lebih tua” (HR.Abu Dawud dan Turmudzi).

Dunia juga mengakui, melalui WHO badan PBB yang mengurusi masalah kesehatan, menyebutkan bahwa salah satu kriteria orang yang bermental sehat adalah mereka yang mempunyai kasih sayang yang besar.

Kasih sayang antar manusia dilakukan dengan saling mengadakan persesuaian atau persamaan antar manusia yang dengan membuang jauh setiap perbedaan. Baik perbedaan suku, golongan dan ras. Menyatukan pemikiran, menyatukan gerakan, dan menyatukan hati dan perasaan, sehingga tumbuh kebersamaan dan melahirkan kekuatan kelompok, sebab masing-masing merasa mendapat dukungan dan dorongan dari yang lain.

Rasulullah saw. mengingatkan bahwa orang yang beriman adalah bagai bangunan dan atau bagai tubuh yang satu. Ini perlu menjadi landasan filosofi kebersamaan dalam kerja. Sehingga dalam perusahaan, kasih sayang terlihat pada :

· Kasih sayang pimpinan dengan yang dipimpin, dan sebaliknya

· Kasih sayang antara sesama karyawan, tua dan muda

· Kasih sayang antara karyawan dengan keluarga karyawan

· Kasih sayang insan perusahaan dengan masyarakat.

Diharapkan kasih sayang yang ditempuh dengan jalur ini dapat melahirkan prestasi besar bagi setiap orang dalam perusahaan. Kasih sayang antar manusia dipandang sebagai syarat diperolehnya kasih sayang Allah dalam kaitan rezeki dan keberuntungan manusia. Rahmat dan pertolongan Tuhan dalam satu kelompok tergantung sejauh mana anggota kelompoknya menegakkan ketaqwaan, termasuk di dalamnya menegakkan kasih sayang.

Kultum 8 Maret 2008

FILSAFAT PROSES DAN GERAKAN DALAM ISLAM

Salah satu aspek yang paling mengesankan dalam ajaran Islam adalah penekanannya pada pentingnya dinamika dalam kehidupan manusia. Terdapat sejumlah ayat Al-Qur’an yang menjelaskan pentingnya dinamika tersebut. Di antaranya :

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada pada dirinya sendiri (Q.S. al-Ra’du : 11).

Dalam suatu hadis Rasulullah bersabda : “Berbuatlah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu hidup selama-lamanya, dan berbuatlah kamu untuk akhiratmu seolah-olah kami akan mati besok hari” (al-Hadis).

Ayat dan hadis di atas, menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan pentingnya sikap dinamis bagi setiap orang yang beriman. Sementara secara manajerial, budaya dinamis itu merupakan budaya yang seharusnya senantiasa melekat pada diri setiap karyawan.

Dalam pandangan Islam setiap Proses dan Gerakan atau dalam istilah lain disebut dengan “Dinamis” merupakan inti ajaran Islam agar ummatnya memandang setiap perintah Allah.

Islam menjadikan syari’at sebagai aturan bagi tindakan-tindakan manusia, tariqah (tarekat) sebagai jalan yang harus ditempuh, bahkan shirathal mustaqim, bukan berarti jalan dalam arti kata benda yang tetapi merupakan patron (pola) untuk diikuti manusia dalam menjalani kehidupan. Maka dengan demikian tampaklah bahwa agama Islam sangat menekankan dan mementingkan adanya prinsip gerak dan dinamis seperti Istilah-istilah yang kita uraikan tadi sebagai ajaran Islam.

Selain itu dapat ditemukan pula istilah-istilah baku yang dapat dipahami dalam makna gerak dan proses, di antaranya :

· Istilah Mukmin, yang berarti sikap beriman dan percaya. Sikap ini senantiasa bersifat aktif dan merupakan proses yang terus menerus bergerak.

· Istilah Muttaqin, istilah yang digunakan untuk proses pensalehan manusia dengan cara menaati Allah dan rasul-Nya di setiap aktifitas hidupnya.

· Istilah Muslim, juga bukan keadaan yang statis, melainkan merupakan proses yang terus – menerus. Misalnya proses keislaman seseorang dimulai dengan mengucap dua kalimat syahadat, kemudian ibadah, baik ibadah ‘ain (fardu) dan kemudian melakukan ibadah – ibadah sosial.

Pentingnya pergerakan dalam ibadah islam itu, dengan jelas sekali dapat dilihat umpamanya dalam pelaksanaan ibadah-ibadah yang ada seperti shalat dan haji, yang merupakan ibadah yang paling kaya makna gerakan dan dinamika dalam islam. Dalam ibadah haji umpamanya ditemukan gerakan-gerakan berikut:

· Gerakan tak berpindah (Wukuf )

· Gerakan searah dan berayun (Oscillatory) antara Safa dan Marwah.

· Gerakan menpati sasaran ( Melempar jumrah ).

· Dan gerakan orbital (Thawaf )sekeliling ka’ah.

Sementara dalam shalat juga dilakukan gerakan-gerakan: Gerakan takbir, Gerakan Ruku’, Gerakan Sujud, Dll. Kesemuanya gerakan ini mempunyai makna proses yang seyogianya dihayati sebagai perlambang dari penekanan agama ini pada dinamika (pergerakan) penganutnya dalam menyongsong kehidupan yang lebih baik.

Untuk mengaktualisasikan atau menjalankan berbagai simbol-simbol pergerakan itu dapat diwujudkan dengan pelaksanaan sifat-sifat yang terpuji pada diri seorang muslim, termasuk seorang karyawan, di antaranya: Kejujuran, Amanah, Bersih lahir dan bathin, Tidak mengagungkan dan memperturutkan hawa nafsunya, Memiliki keseimbangan material dan spiritual.

Kultum 9 Maret 2008

KESALEHAN INDIVIDU DAN KESALEHAN SOSIAL

Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan li al’alamin), iman harus diwujudkan dalam bentuk amal yang baik (‘amal sholeh), setiap amal sholeh mengandung perbuatan, pekerjaan dan aktifitas yang baik, sehingga Allah memberikan pahala sebagai balasan yang baik untuk dirinya, sebagaimana tersebut dalam firman Allah swt. :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاء فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, maka pahalanya (manfaat kebaikanya) adalah untuk dirinya sendiri”. (QS. Fushshilat:46)

Setiap amal sholeh, baik dalam bentuk perbuatan atau aktifitas yang dilaksanakan secara sadar dan sengaja, yang bersumber dari daya fikir, fisik dan qalbu, setidaknya harus memenuhi dua kriteria, Pertama, amal shaleh yang bersifat individual, yaitu perbuatan yang dilakukan dengan harapan bermanfaat bagi diri sendiri. Kedua, bermanfaat untuk orang lain (amal shaleh sosial). Tetapi Ibnu Faris menganalisis kata yang digunakan, Al-Qur’an mengenai amal memiliki makna bahwa seseorang bekerja hanya untuk kebaikan dirinya, atau kepentingan orang banyak atau disamping untuk kepentingan orang lain juga untuk dirinya sendiri.

Al-Qur’an menggunakan dua istilah untuk kesalehan, yaitu kata “shaleh” dan kata “birr”. Kata “shaleh” berseberangan dengan kata “sayyi’ah”. Sedangkan kata “birr” mengandung makna keluruhuran budi dan ketinggian moral yang terkait dengan perbuatan baik seseorang kepada orang lain. Misalnya kepada kedua orang tua yang dikenal dengan istilah “birrul walidaini” atau berbuat baik kepada keduanya.

Al-Qur’an dan al-Hadis memberi petunjuk bahwa hendaknya kesalehan seseorang haruslah disempurnakan dengan kesalehan sosial, atau kesalehan individual haruslah berorientasi kepada kesalehan sosial.

Ada dua cara yang digunakan Islam untuk mengajarkan kesalehan sosial.

Pertama, adanya perintah dan anjuran untuk memiliki kepedulian sosial. Misalnya : harus menganggap muslim lain sebagai saudaranya, harus mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, haruslah menghormati tamu dan jirannya.

Kedua, Islam menetapkan adanya aspek sosial pada setiap peribadatan dalam Islam. Misalnya :

· Dalam shalat digunakan kata-kata jama’ dan yang menandakan bahwa ibadah dimaksudkan untuk kesalehan sosial di samping individu. Demikian pula penetapan salam sebagai akhir dari ibadah ini.

· Dalam puasa diajarkan kesalehan individual, tetapi juga sangat menekankan kesalehan sosial. Seperti kepedulian terhadap penderitaan orang lain dan membagi konsumsi (bukaan) kepada orang lain.

· Zakat, meskipun dimaksudkan untuk membersihkan harta seseorang, tetapi pesan penting di dalamnya adalah kesalehan sosial, yaitu pemberdayaan bagi kaum yang lemah.

· Keadilan, kebersamaan dan komitmen pada tanggung jawab juga merupakan bagian dari kesalehan sosial.

· Ibadah haji merupakan ibadah individual, tetapi sekaligus sebagai kesalehan sosial.

Terdapat isyarat di dalam Islam yang memandang bahwa kesalehan sosial juga tidak kalah pentingnya dari kesalehan individual. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa ancaman pendustaan agama, bagi mereka yang tidak memiliki kesalehan sosial. Bahkan al-qur’an mengatakan “bahwa kebaikan bukan hanya menghadapkan wajahnya ke Timur dan ke barat. Tetapi kebaikan adalah kalau mereka beriman dan memiliki kesalehan sosial.

Masyarakat kita banyak yang menganggap bahwa kesalehan individual, lebih penting dari kesalehan sosial. Hal ini akan merupakan salah satu dari penyebab kemunduran mereka dan hilangnya kekuatan komunitas ini jika berhadapan dengan orang lain.

Kultum 10 Maret 2008

KOMUNIKASI PERUSAHAAN BERNUANSA ISLAMI

Perusahaan yang bernuansa Islam dijalankan dengan landasan keimanan dan jihad di jalan Allah. Karena itu komunikasi dengan Allah di sini sangat diperhatikan. Mengkomunikasian suatu usaha yang dimaksudkan sebagai pengabdian kepada Allah hendaknya selalu dikomunikasikan kepada-Nya, demi kesuksesan pengelolaannya. Petunjuk ke arah itu terlihat umpamanya dalam ayat-ayat berikut :

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka jika engkau sudah mengambil keputusan, bertawakkallah kepada Allah, karena Allah mencintai orang yang bertawakkal” (QS.3/Ali ‘Imran : 159).

Selain mengkomunikasikan dengan tawakkal kepada ALlah, juga diharapkan komunikasi dalam bentuk do’a. Firman Allah : “ud’uni astajiblakum“ artinya : “Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu”. (QS.40/al-Mukminun:60)

Ayat-ayat tersebut mengindikasikan bahwa usaha sungguh-sungguh dari pihak manusia perlu dikomunikasikan kepada Allah, dalam bentuk ketawakkalan dan do’a. Inilah prasyarat bagi datangnya pertolongan Allah untuk kesuksesannya.

Metodologi pengkomunikasian kepada Allah telah dituntun (secara tersirat) dalam urutan surat al-Fatihah mengisyaratkan urutan komunikasi dalam rangka penyerahan usaha kepada Allah SWT, yaitu : Mengucapkan pujian kepada Allah, Mengakui kemahakuasaan Allah, Menyatakan ketaatan dan penyerahan diri, Menyatakan permohonan bantuan, Menjelaskan hal yang diperlukan, Yang diminta adalah sesuatu yang baik dan berguna.

Disamping komunikasi dengan Tuhan, juga tidak kalah pentingnya menjalin komunikasi dengan insan perusahaan dan masyarakat, terutama konsumennya. Dalam hal ini bertujuan, pertama, agar masyarakat (konsumen) mempercayai dan memanfaatkannya. Dengan komunikasi ini diharapkan konsumen semakin meningkat. Dalam hal ini sangat relevan petunjuk SWT :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (QS.3/Ali ‘Imran:159).

Dengan demikian maka masyarakat akan meyakini bahwa apa yang dilakukan perusahaan tersebut adalah benar dan terpuji. Sehingga bersedia diajak/mengajak kerja sama, meniru, dan bisa pula meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjalankan agamanya. Dalam konteks ini perusahaan bernuansa Islam telah bertindak semacam “Lembaga Dakwah”. Allah berfirman “Berdakwalah kepada jalan Tuhanmu dengan bijak dan contoh-contoh yang baik. Dan ajaklah mereka dengan argumentasi yang baik pula”. Inilah pesan-pesan (promosi) usaha bernuansa islami yang harus dijaga dengan baik.

Demikian juga membangun dialog mengenai pengembangan tugas-tugas perusahaan. Contoh yang sangat menarik dalam hal ini adalah bagaimana Allah SWT mengkomunikasikan (dengan cara berdialog) kepada malaikat, rencana penciptaan manusia di bumi.

Komunikasi antar individu itu dipandu antara lain oleh hadis Nabi : “Man kana yu’minu bi Allahi wa al-yaumi al-akhir falyaqul khairan au liyashmut” , Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata secara benar (kalau tidak) atau dia diam saja.

Pada hadis lain disebutkan pula : “Tidaklah beriman seseorang sehingga ia menyayangi saudara-saudaranya, sebagaimana ia menyayangi dirinya sendiri.”

Kultum 11 Maret 2008

URGENSI AKHLAK DALAM KEHIDUPAN

Akhlak dan karakter manusia menjadi faktor penting tegaknya ajaran agama, dan juga akhlak dan karakter manusia sangat signifikan dalam menentukan berhasil atau tidaknya seseorang dalam mencapai cita-citanya. Dilihat secara demikian, maka pengembangan akhlak dan karakter merupakan bagian tak terpisahkan dari keseluruhan upaya seseorang untuk meningkatkan kualitas diri dan kehidupannya.

Dalam pandangan Islam, akhlak manusia dapat dibedakan dari dua kategori. Pertama, akhlak fitriyah, yaitu sifat bawaan yang melekat pada diri seseorang sejak ia dilahirkan baik sifat fisik maupun sifat jiwa. Bawaan tersebut dijelaskan Allah SWT dalam surat Ar-Rum:30 :

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

Hadapkanlah wajahmu kepada agama yang hanif (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.” (QS. Ar-Rum : 30)

Kedua, akhlak muktasabah, yaitu sifat yang semula tidak ada pada sifat bawaan seseorang, namun diperoleh dari melalui lingkungan alam dan sosial, pendidikan, latihan dan pengalaman.

Sifat bawaan selalu beragam antara seseorang dengan orang lain. Sifat-sifat tersebut kemudian bertemu dengan variabel psikologis dan fisiologis, hingga akhirnya membentuk karakter fitriyah. Contohnya : Seorang yang memiliki sifat serakah dan ada kecerdasan, maka akan melahirkan akhlak yang licik. Dan sebaliknya jika seseorang memiliki sifat cinta pada kebenaran dan memiliki sifat berani, maka akan muncul akhlak adil. Oleh sebab itu sifat-sifat positif harus selalu dikembangkan karena jika bertemu dengan kebaikan fitrah seseorang, diharapkan sifat-sifat positif itu akan menjadi karakter yang mulia.

Bagaimana langkah-langkah untuk mengembangkan Akhlak dan Karakter itu ? Untuk mengetahui cara bagaimana mengembangkan karakter, dan perbaikan-perbaikannya, lebih dahulu perlu diketahui faktor apa yang dapat menyelewengkan seseorang dari karakter fitrahnya. Dalam kajian-kajian akhlak, faktor ini disebut dengan metode syaitan. Dalam hal ini Ibnu Al-Qayyim menjelaskan : Pada mulanya syaitan memasuki manusia melalui lintasan pikiran yang lewat dalam benaknya. Lintasan pikiran itu terus berulang dan terus terngiang dalam kesadarannya, sehingga membetuk memori. Setelah terpendam beberapa lama dalam memori itu, ia akan menggagas untuk melakukan dan jika seseorang gagal menolak kehadiran syaitan pada tahap lintasan pikiran ini, maka akan sulit menolaknya ketika ia menjadi memori, apalagi ketika ia telah berwujud secara nyata dalam ide atau gagasan. Maka turunlah syaitan ke wilayah yang lebih dalam pada kepribadian sehingga menjadi keyakinan. Jika dalam tahap keyakinan seseorang tak kuasa menolaknya di sini, maka ia akan turun lebih dalam menjadi kemauan. Jika gagal menghadapi kemauanmu sendiri, maka ia akan turun lagi ke lapisan paling akhir dari wilayah hatimu, yaitu tekad, dan langsung menjadi tindakan.

Satu, dua kali dia melakukannya tindakan yang salah, maka ia akan terus tertarik untuk melakukannya lagi. Maka jadilah ia suatu kebiasaan, dan jika kebiasaan itu berlangsung lama, maka terbentuklah ia menjadi karakter. Proses inilah yang dikemukakan Ibnu al-Qayyim yang kita sebut sebagai metode syaitan.

Karakter yang buruk tersebut masih dapat dirubah menjadi karakter yang lebih baik dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut : melakukan perbaikan dan pengembangan cara berpikir, mental dan prilaku sehingga membentuk akhlak dan etika manusia yang luhur.

Akhlak memegang peranan penting dalam pencapaian cita-citanya. Oleh karenanya, pengembangan karakter dan akhlak merupakan bagian tak terpisahkan dalam upaya manusia meningkatkan kesalehannya.

Kultum 12 Maret 2008

SIKAP SABAR DAN URGENSINYA DALAM KEHIDUPAN

“Hati” yang baik akan menuntuk manusia kepada sifat-sifat yang baik pula, termasuk sifat sabar yang paling ditekankan Allah agar dapat dilaksanakan para hambaNya,sebagaimana firman Allah : “….. sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, ……. kecuali mereka yang saling nasehat-menasehati kepada kebenaran dan kesabaran”.

Sabar adalah “akhlak Qur’ani” yang paling menentukan keberhasilan hidup, semala ini sikap sabar lebih banyak diperbincangkan orang saat seseorang menghadapi suatu musibah, seolah menggambarkan manusia adalah makhluk tidak berdaya, sehingga arti kesabaran menjadi: “ketahanan seseorang menerima musibah yang tidak dapat dihindari atau tidak mampu dielakkan“.

Hampir seluruh aspek kehidupan manusia perlu kesabaran, sehingga apabila kita ambil ruang lingkup kesabaran ini, dapatlah kita pahami bahwa ada dua macam bentuk kesabaran. Pertama, kesabaran menyangkut fisik (jasmaniyah) seperti menahan penderitaan badan yang berat, karena sakit atau karena kerja berat dalam lapangan pekerjaan, dalam menuntut ilmu, atau dalam beribadah. Kedua, kesabaran menyangkut mental, yang cakupannya amat luas termasuk kesabaran menyangkut syahwat dan seksual, kekayaan, musibah, keadaan yang sulit, rezeki yang sedikit, kesulitan hidup.

Ciri-ciri iman menurut Rasulullah ditunjukkan oleh kesabaran, beliau bersabda: “ciri yang menonjol dari keimanan adalah kesabaran”. Allah SWT merangkum seluruh aplikasi iman pada aktivitas mempertahankan hidup dalam kata kunci “sabar” sebagaimana firmanNya :

وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاء والضَّرَّاء وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَـئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa” (QS. al-Baqarah:177).

Dalam hal ini sangat menarik komentar Abu Thalib al-Makki, yang mengatakan : “Ketahuilah bahwa kebanyakan maksiat (perbuatan dosa) yang dilakukan manusia disebabkan dua faktor ; kurang sabar dalam hal-hal yang disenangi, dan kurang sabar dalam hal-hal yang tidak disenangi”.

Dalam Bekerja, sikap sabar perlu diaplikasikan oleh seorang karyawan muslim, baik di tempat tugasnya, maupun di tempat tinggalnya, mencakup:

· Sabar menangani pekerjaan yang boleh jadi sangat berat dan menjenuhkan, dengan meningkatkan profesionalisme dan sikap optimis.

· Sabar menerima imbalan, penghasilan dan penghargaan yang mungkin terasa kurang dan bahkan tidak memadai dengan senantiasa bersifat qana’ah, sebab siapa tahu justru dengan upah atau penghasilan berlebihan itu akan menjerumuskan pada sifat boros dan konsumerisme.

· Sabar mendapat teguran karena tidak dapat melaksanakan tugas sesuai ketentuan, dengan melakukan introspeksi diri, bukan malah bersikap acuh, atau menentang.

· Bersabar agar tidak bergaul dengan orang-orang yang memungkinkannya untuk melakukan penyimpangan dari nilai-nilai akhlaq dan moral, dengan mengendalikan diri dan keinginan untuk itu.

Sikap sabar mendorong seseorang mampu mengendalikan diri, dari setiap situasi dan kondisi yang dihadapinya, sehingga tetap menjadi insan yang menunjukkan sikap-sikap yang dibimbing agamanya, saat gembira maupun sedih. Dan pula, sikap kesabaran dapat menghindarkan seseorang dari sikap mubazzir, takabbur, konsumerisme (royal) pada masa pasca kesuksesan, atau masa setelah meraih kesuksesan.

Kultum 13 Maret 2008

KESUNGGUHAN BEKERJA

Sebagai konsekuensi logis dari ajaran Islam mengenai pentingnya kerja (‘amal) dalam kehidupan manusia, maka Islam pun menekankan kepada setiap manusia agar memiliki kesungguhan dalam melakukan kerjanya, sehingga terbuka peluang kesuksesan baginya serta terbuka solusi baginya dalam menghadapi setiap problem dan tantangan yang dihadapinya, sebagai suatu konsekwensi suatu pekerjaan.

Kesungguhan dalam kitab suci al-Qurán disebut sebagai jihad, hal ini disebutkan dalam firman Allah ;

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ َ

Dan bagi orang yang bersungguh-sungguh di dalam kebenaran yang kami ajarkan, akan kami tunjukkan berbagai peluang bagi mereka”. (QS. 29/Al-Ankabut:69).

Kata “jihad” dalam ayat diatas dapat diartikan kerja sungguh-sungguh yang diridhoi Tuhan. Setiap kerja yang dilandasi dengan kesungguhan apalagi yang diridhoi Allah akan membuka berbagai jalan kemudahan sesuai dengan apa yang diinginkannya. Sebagaimana sering disebutkan :

ﻣَﻦْ ﺟَﺪَّ ﻭَ ﺟَﺪَ

“Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapat”

Namun kesungguhan dalam konteks ini paling tidak harus diikuti oleh empat unsur:

1. Adanya motivasi dan niat, serta didukung oleh rasa keikhlasan yang tinggi.

2. Kehandalan SDM (Sumber Daya Manusia) yang memiliki pengetahuan, keahlian dan kesungguhan.

3. Didukung oleh sarana dan prasarana, guna menunjang aktifitas yang berat atau ringan.

4. Ada semacam target yang harus dicapai dalam waktu tertentu.

dengan memiliki empat unsur diatas maka kesungguhan itu mudah-mudahan akan melahirkan hasil sesuai yang diinginkannya.

Untuk menyebut kesungguhan kerja, Al-qur’an al-Karim menggunakan kata “jaddu” yang berasal dari jadda, yajuddu, jaddan, jiddatan; atau jadda, yajiddu, juddan. Kata-kata ini dalam berbagai bentuknya ditemukan 10 kali dalam al-Qur’an.

Menurut buku Ensiklopedi Al-Qur’an, kata jaddu memiliki makna yang berfariasi antara lain, besar atau agung (al-‘azm), dorongan (al-Qath), kekayaan (al-hazz), dan sesuatu yang baru. Dari sekian banyak makna kata Jaddu, jika ditarik kesamaan dengan makna yang biasanya yakni “sungguh-sungguh” maka hal tersebut sangat berkaitan. Seperti jaddu yang berarti besar atau agung (al-azm), memang ada kesamaan, bahwa orang yang sungguh-sungguh dimungkinkan akan mendapatkan kebesaran dan keagungan. Begitupula kata “jaddu” yang diartikan dorongan (al-Qath); bahwa memang jika sesuatu yang dilakukan secara sungguh-sungguh mestinya adalah sesuatu yang sudah jelas dan pasti, bentuk maupun manfaatnya.

Begitu pula kata “Jaddu” yang juga berarti bahagia atau kekayaan (al-hazz), karena memang seseorang yang bersungguh-sungguh dalam kerjanya akan memperoleh kekayaan yang dapat membuat hidup dan pekerjaannya menjadi lebih indah dan membahagiakan.

“Jaddu” yang juga berarti sesuatu yang baru (inovatif) dapat berkonotasi pada pengenalan/penemuan seseorang terhadap batas-batas dan keagungan, serta keindahan ciptaan Tuhan. Sebagaimana firman Allah swt. : “Tidaklah kamu melihat bahwa Allah menurunkan hujan dari langit, maka dengan itu kami hasilkan buah-buahan yang beraneka ragam warnanya dan di antara gunung-gunung ada jalur-jalur putih dan merah, warna-warna yang beraneka ragam dan ada yang hitam pekat” (QS.35/Fathir:27).

Kultum 14 Maret 2008

MENINGKATKAN KOMITMEN MUSLIM PADA AKTIFITAS PERDAGANGAN

Dalam ayat 275 Surat Al-Baqarah Allah berfirman :

وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan Riba”,

Ayat ini menunjukkan betapa kuat dukungan dan motivasi Islam dalam aktifitas perdagangan sebagai salah satu aspek kehidupan manusia. Dan kalau kita mau mengkaji, masih banyak lagi ayat dan hadis Rasul yang berbicara mengenai betapa pentingnya aktifitas ekonomi dalam Islam. Bahkan dalam beberapa ayat di dalam al-qur’an, mengisyaratkan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan bersifat perdagangan. Amal baik dan buruk dicatat secara sempurna dan akan mendapat balasan dengan sempurna pula.

Rasulullah SAW selalu mengajarkan perdagangan melalui praktek dalam kehidupan, bahkan sebagai pedagang, Rasulullah SAW juga menempatkan posisi aktifitas perdagangan sebagai aktifitas yang mulia. Akan tetapi akibat latar belakang sejarah sebagian besar umat Islam dengan para kolonialis Belanda dimasa penjajahan, banyak pihak-pihak yang menguasai perdagangan hasil bumi Indonesia, melancarkan politik yang meninabobokkan ummat Islam dengan agamanya. Mereka menamkan kedalam pemikiran umat Islam agar meniggalkan kegiatan perdagangan kareana tidak cocok bagi ummat Islam. Ummat Islam harus menjalankan agamanya secara bersih tanpa dicampuri oleh masalah keduniaan termasuk perdagangan.

Latar belakang sejarah ini membuat ummat Islam banyak yang benci pada dunia perdagangan, padahal dengan dikuasainya perekonomian, banyak hal yang bisa dilakukan ummat Islam seperti zakat, qurban, naik haji, menuntut ilmu pengetahuan yang kesemuanya itu dibutuhkan materi yang cukup.

Adapun penyebab lain mengapa banyak umat Islam yang tidak tertarik dengan dunia ekonomi, karena banyak praktek perdagangan yang tidak menaati ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh agama, disamping karena kurangnya pengetahuan tentang pentingnya perdagangan dalam rangka penegakan syi’ar Islam. Padahal aktifitas perdagangan memiliki manfaat yang sangat luas bagi berbagai aspek kehidupan manusia. Selain terkait dengan terlaksananya ajaran Islam seperti sarana shalat, zakat, haji, dan pengentasan kemiskinan, aktifitas perdagangan juga terkait dengan upaya perubahan di dunia Islam.

Matawalli Sya’rawi, seorang ulama Mesir yang mengatakan: “Rasulullah SAW yakin bahwa bila ajaran yang beliau, diamalkan sepenuhnya, pasti akan memperoleh keunggulan dan kemenangan, karena itulah beliau selalu berpesan kepada para pengikutnya untuk selalu berusaha menjaga dan mengamalkan ajaran-Nya di dalam setiap aspek kehidupan …. “.

Inilah pandangan Islam, bahwa keimanan bukan terletak pada lidah dan angan-angan, tetapi bagaimana menjadikan keimanan kepada Allah dapat ditegakkan dalam segala situasi dan kondisi kehidupan, termasuk dalam menjalankan usaha perdagangan sebagai usaha yang sangat strategis sebagaimana Rasyid Ridha, seorang pemikir dan ulama Islam pernah mengedepankan pendapatnya mengenai peran strategis perdagangan ini.

Menurutnya : “Pedagang muslim adalah para pembuat kehidupan dan merekalah sebaik-baik pembuat, bahkan mereka adalah guru dari pembuat. Saya fatwakan bahwa barangsiapa yang memiliki 365 roti dan satu botol cuka sebagai lauknya, dan juga memiliki 1095 kurma, maka haram baginya untuk menjadi pegawai negeri. Hendaklah dia turun ke pasar melakukan transaksi dan berlomba mencari harta”.

Umat Islam harus turun ke medan-medan perdagangan, sesuai dengan kemampuannya. Meskipun saat ini mereka menjadi tukang pikul di pasar-pasar, pada suatu saat ia harus bertekad dengan kegigihannya, di suatu hari akan jadi pengusaha. Untuk itu ia harus banyak menabung, melakukan studi, pengamatan dan perbandingan, agar cita-citanya dapat terwujud.

Kultum 15 Maret 2008

Visi Hidup Seorang Muslim

Dalam setiap kesempatan kita sering dihimbau untuk meningkatkan taqwa kepada Allah dengan memelihara diri dari perbuatan yang menyimpang dari ajaran agamaNya, sebagaimana firman Allah yang artinya : “Peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi) hari, yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian, masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya.” (Al-Baqarah: 281).

Memelihara diri dari perbuatan menyimpang dari aturan Allah, harus diiringi dengan sikap waspada agar tidak lalai dari mengingat Allah karena berbagai kesibukan, sebagaimana Firman Allah : “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan salat, dan (dari) membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (pada hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (An-Nur: 37).

Dengan senantiasa ingat pada Allah dan tidak melalaikan diri dari perintahNya, dijanjikan dalam S. An-Nur:38, : seseorang akan mendapatkan balasan yang baik dari sisi Allah, berupa tambahan karunia dan rezeki.

لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ

“(Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas”.

Setiap mukmin yang mengharap kesuksesan, hendaknya dapat memadukan antara kegiatan berusaha dengan ketaatan kepada Allah, sehingga mendapat jaminan kebahagiaan tidak saja didunia berupa keuntungan materi, tetapi juga kebahagiaan hidup di akhirat berupa terhindar dari siksa api neraka.
Dunia telah diciptakan Allah sebagai suatu tempat untuk mengumpulkan bekal menuju kampung Akhirat. Dalam mengisi kehidupan hendaklah manusia bekerja secara shaleh.
Bekerja secara shaleh artinya melaksanakan pekerjaan secara profesional dan sungguh-sungguh, sesuai dengan tata aturan, tidak membabi buta, tidak serampangan dan sesuai prosedur yang ditetapkan. Bahkan untuk bisa meraih sukses, manusia diberi kebebasan oleh Allah untuk berkreasi, berinofasi dan mencari peluang-peluang baru untuk kebahagiaan dunianya. Sebab Allah menghargai setiap aktifitas manusia yang dilakukan secara kreatif sebagaimana FirmanNya: “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia akan dirugikan” (QS.Hud:15)

Namun demikian seorang muslim jangan sampai melupakan akhlak atau budi pekerti sebagai hamba Allah dalam aktifitas usahanya, seperti mengembangkan sikap amanah, baik amanah dalam menjalankan kepercayaan yang diberikan, atau amanah dalam pengertian sikap jujur dalam menjalankan pekerjaannya.

Ketika seseorang sukses dalam usahanya juga yang harus ditegakkannya adalah etika pasca kesuksesan. Yakni kesediaan seseorang untuk berinfaq, zakat dan shadaqah sebagai sikap Tawadhu’ (Rendah Hati) menghilangkan kesombongan. Takut dan malu kepada Allah SWT, jika dengan hartanya ia tidak dapat membantu orang lain. Ia bahagia luar biasa, jika mendapat kesempatan untuk menolong saudaranya dan inilah etika sukses seorang muslim.

Kultum 16 Maret 2008

FAKTOR-FAKTOR PENCAPAIAN KESUKSESAN

Al-Qur’ân, dengan ayat-ayat sucinya banyak mengingatkan manusia supaya usaha (‘amal) yang ia kerjakan dapat mendatangkan kesuksesan. Banyak sekali kata-kata sukses diulang dalam al-Qur’an seperti dalam bentuk kalimat seperti la’allkum tuflihûn, (agar kamu sukses) diulang sebanyak 11 kali. ulâika hum al-muflihûn/ muflihîn, (mereka itulah orang-orang yang sukses) diulang sebanyak 13 kali.

Al-qur’an senantiasa mengkaitkan kesuksesan dengan keimanan karena IMAN merupakan pintu utama bagi seseorang untuk masuk mencapai kesuksesan, firman Allah:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

“Sungguh sukseslah orang-orang yang beriman” (QS. al-Mu’minûn:1).

Iman yang dapat menunjang kesuksesan seseorang adalah iman yang diikuti oleh keuletan dan kesungguhan. Keimanan merupakan power untuk menambah keyakinan bahwa diluar usaha yang dilakukannya ada kekuatan lain yang dapat melipatgandakan kekuatan dirinya mencapai kesuksesannya, yakni kekuatan Tuhan atau pertolongan Allah. Sebagaimana firman Allah: “barang siapa yang bertaqwa kepada Allah akan diberikan jalan keluar bagi mereka” (QS. 65/al-Thalaq:2).

Petunjuk (jalan keluar) ini sangat penting, karena dengan demikian seseorang bisa mendapat hasil yang lebih dari jangkauan perhitungan (kakulasi) yang dibuatnya, sebagaimana firman Allah (QS.65/al-Thalaq:3). “Dan ia akan dilimpahi rizqiNya dari jalan yang tidak dia sangka”.

Disamping itu faktor keimanan yang dapat menunjang kesuksesan seseorang, juga harus diikuti penguasaan ilmu dan keahlian. Islam menjelaskannya bahwa sesungguhnya Allah akan meninggikan derajat orang yang beriman dan orang yang bertaqwa. (58/al-Mujâdalah:11) Demikian pula sabda Rasulullah SAW yang mengisyaratkan penguasaan ilmu bagi kesuksesan seseorang : “Bagi siapa yang ingin mencapai kesuksesan di dunia hendaklah ia mempergunakan ilmu. Siapa yang ingin mencapai kesuksesan akhirat hendaklah ia menggunakan ilmu dan siapa yang ingin mencapai kebahagiaan pada kedua-duanya hendaklah ia menggunakan ilmu” (HR. Bukhari Muslim)

Faktor pencapaian kesuksesan yang lain adalah mengembangkan sikap JAMAAH atau jaringan kerja yang solid dan kompak, saling percaya, saling memperkuat, saling mengevaluasi, dan saling mendukung satu dengan yang lainnya.

Faktor kesuksesan seseorang dalam meniti karirnya juga dipengaruhi oleh kemampuan mengevaluasi diri dari kesalahan dengan bertaubat. Dalam bahasa agama hal diatas dikenal dengan istilah muhâsabah, yang memungkinkan seseorang untuk dapat lebih waspada dan tidak menyombongkan diripada masa berikutnya.

Komunikasi juga merupakan salah satu faktor kesuksesan seseorang. Baik komunikasi dalam bentuk vertikal antara dirinya dengan Tuhannya, atau komunikasi dengan pimpinannya , keduanya haruslah berjalan lancar, efektif, baik dan shaleh. Demikian pula komunikasi horizontal, dengan sama manusia atau teman seprofesinya. (Q.S.3/Ali ‘Imrân :112).

Didalam kajian-kajian mengenai strategi pengembangan karier, penampilan juga bisa mendongkrak keberhasilan seseorang. Penampilan bisa dipahami sebagai kebersihan, tata rias, dan busana, namun yang lebih penting dalam penampilan bukan hanya dikaitkan dengan keindahan dan keserasian lahiriah, tetapi keserasian juga adalah dalam hal moral atau akhlakul karimah. Keduanya harus berjalan dengan seimbang sehingga menampakkan keserasian dalam penampilan.

Dari kajian di atas dapatlah diketahui bahwa dari sejumlah faktor yang mempengaruhi kesuksesan seseorang, keberagamaan menempati peran yang sangat penting. Bahkan merupakan salah satu penentu bagi keberhasilan tersebut, di samping faktor-faktor menejerial yang juga harus dimiliki.

Kultum 17 Maret 2008

DIMENSI PRODUKTIFITAS DALAM TAWAKKAL

Secara harfiah, tawakkal adalah berserah diri kepada Allah, tunduk serta patuh kepada-Nya. Bahkan kadang-kadang kata-kata tawakkal biasanya dihubungkan dengan sikap manusia yang pasrah terhadap sesuatu yang menimpa dirinya. Tawakkal bukanlah lawan dari usaha dan kerja keras, sehingga manusia harus memilih apakah dia akan berusaha atau tawakkal.

Yang dimaksud dengan tawakkal adalah sikap dan keyakinan seseorang yang senantiasa mengerjakan apa saja yang menjadi tuntutan kebenaran dan bersandar kepada Allah didalam meniti kehidupan. Sebab Allah SWT merupakan pelindung bagi orang yang menjadi pembela kebenaran. Demikian disebutkan Ulama Islam Murthada Muthahari dalam bukunya “Bis Guftor”.

Al-qur’an al-Karim mengisyaratkan pengertian tawakkal pada makna yang sangat dinamis. Diantaranya : Tidak takut meniti jalan kebenaran dan ketaqwaan kepada Allah DAN Tidak takut kepada kekuatan bathil. Diantara ayat-ayat menjelaskan hal tersebut adalah surat Ibrahim ayat 12 :

Mengapa kami tidak bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang bertawakkal dan berserah diri (QS. Ibrahim:12)

Ayat ini menjelaskan bahwa dalam kehidupab terdapat (1). Penitian jalan, (2). Terdapat berbagai kesulitan yang akan melemahkan keinginan dan menghancurkan tekad dalam meniti jalan itu. Akan tetapi di sini para nabi berkata : “Kami tidak akan gentar dengan kekuatan kebathilan, kami bersandar kepada Allah SWT, dan tetap akan berjalan di atas jalan yang benar”.

Pada ayat lain disebutkan :

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal”. (QS.3/Ali Imran:159)

Ayat ini tidak berbicara dalam konotasi mengarahkan manusia agar bertawakkal dalam arti, pasrah pada apa saja yang akan menimpa dirinya dan meletakkan satu tangan di atas tangan yang lain, Tetapi ayat ini berbicara dalam konteks agar manusia secara sungguh-sungguh merencanakan, melakukan pekerjaan, melakukan kontrol, lalu akhirnya menyerahkan usaha dan dirinya pada kebenaran yang dijanjikan Allah. Inilah yang dimaksud tawakkal dinamis.

Seperti telah disebutkan di atas bahwa tawakkal bukanlah berarti pasrah tanpa ada tindakan dari pihak manusia, tetapi merupakan keberpihakan kepada kebenaran, yaitu jalan yang dijanjikan Allah SWT.

Penyerahan diri kepada Allah SWT, tidaklah berkonotasi bahwa manusia menjadi pasif, melainkan ia harus menjalankan tugas-tugas dengan tetap berjalan di atas petunjuk Ilahi, dan karenanya ia berserah diri kepada Allah bahwa jalan yang ditempuhnya itu mendapat jaminan dari Allah SWT.

Dalam hal ini para nabi mengajarkan kepada manusia bahwa mereka harus bertaqwa kepada Allah dan berjuang di jalan-Nya. Manusia harus bertawakkal dan bersandar kepada Allah. Di dalam mencari rezeki manusia tidak boleh menyimpang dari jalan yang dibenarkan. Keyakinan ini penting karena setiap orang jika berjalan di atas jalan Allah, maka dia akan memperoleh suatu bentuk “Pembelaan Ilahi” dalam setiap usaha dan aktifitasnya.

Kultum 18 Maret 2008

KERJA SEBAGAI TASBIH

“Tasbih” adalah salah satu istilah yang sangat populer dalam Islam. Namun makna “Tasbih” seringkali dipahami oleh sebagian penganutnya dengan makna yang passif, padahal “Tasbih” bermakna aktif dan progresif yang dapat memberikan kontribusi pada kemajuan dan peningkatan kualitas hidup umat Islam.

Tasbih berasal dari kata sabbaha, yusabbihu, artinya menjauh. Ini mengandung pengertian bahwa ada posisi asal, kemudian dari posisi asal itu bergerak menjauh menuju posisi yang lebih jauh.

Orang yang berenang disebut yasbah, karena dengan menggerak-gerakkan tangannya dia bisa menjauh dari posisi awal menuju posisi yang baru. Pengertian ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al-anbiya ayat 33 dan surat al-Muzammil ayat 1.

Ada sifat-sifat manusia yang menjauh dari diri Tuhan, karena itu Tuhan menyuruhnya untuk bertasbih. Dengan demikian sikap malas tidak bekerja atau tidak bersungguh-sungguh dalam kerja dapat diartikan sebagai sikap yang berlawanan dengan tasbih. Ada beberapa ayat yang mengisyaratkan hal ini, diantaranya firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 41, surat al-Hijr ayat 98 dan surat al-Waqi’ah ayat 74.

Ketika seseorang melakukan perbuatan yang salah, termasuk dalam melaksanakan tugas-tugasnya, berarti ia telah menjauh dari kesucian Allah. Jadi tasbih dimaksudkan ada pengakuan akan kekotoran dirinya dan pengakuan akan kesucian Allah, dan tidak akan mengulanginya lagi. Dalam hal ini Tuhan memberi pertunjuk dengan menggunakan kata subhana yang berarti kesucian dari Allah.

Setiap orang yang melakukan pekerjaan atau ‘amal biasanya bertujuan untuk melakukan upaya-upaya yang menggeser posisinya dari satu tempat atau situasi kepada situasi yang lain, atau kalah dalam konteks kerja, dari posisi yang tidak memiliki hasil menjadi orang yang memiliki penghasilan; dari posisi menunggu rezeki menjadi pencari rezeki; dari yang tidak berkualitas menjadi berkualitas; dari posisi yang lemah menjadi kuat; dan dari posisi kaya atau miskin menjadi berkecukupan, dan lain-lain.

Pada sisi lain pemaknaan tasbih yang terbatas pada penyebutan kalimat tasbih (subhanallah, dan lain-lain) dengan mengggunakan simbol-simbol (“batu tasbih”) tanpa mengiringinya dengan sikap dinamis dan progresif adalah sesuatu yang bukan merupakan refresentasi dari tasbih itu sendiri.

Banyak ayat al-Qur’an yang menjelaskan bahwa alam bertasih kepada Tuhan, di antaranya surat al-Ra’d ayat 13 :

وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ

“Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah,

Dan Surat al-Anbiya’ 79 :

وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ

“Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud”.

Tasbih yang dilakukan alam berarti adanya gerak/menjauh dari posisi awal dalam rangka mentaati sunnatullah, sehingga ia disebut tasbih.

Dengan demikian kata-kata tasbih dalam Al-Qur’an memiliki makna yang dalam, sehingga term ini dapat digunakan dalam dua konotasi: tasbih bi al-qawl (tasbih dengan kata-kata), dan tasbih bi al-afi’l (tasbih dengan aktifitas) sehingga membangkitkan dinamisme pada diri dan kehidupan manusia.

Kultum 19 Maret 2008

PENTINGNYA SUNNAH SIFATIAH RASUL BAGI KARYAWAN & PERUSAHAAN

Selain harus diucapkan, kalimat syahadat khususnya kalimat wa asyhaddu anna muhammaddan rasulullah, menuntut kesediaan seorang muslim mengejawantahkan pengakuan itu dengan meneladani sejumlah sifat-sifat yang dimiliki oleh Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari sebab sesuai Firman Allah swt:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat” (QS. 33/al-Ahzab:21).

Kesediaan meneladani Rasulullah itu sendiri bukanlah suatu kewajiban tanpa makna, melainkan keteladanan itu akan mendatangkan sejumlah manfaat bagi manusia. Diantara keteladanan yang harus ditiru dari kehidupan Rasulullah adalah dengan meneladani sifat-sifat beliau. Paling tidak terdapat dua alasan mengapa kita harus mengikuti sunnah sifatiah beliau:

Pertama, Sifat-sifat beliau telah menghantarkannya menuju keberhasilan, sebab Rasulullah tidak pernah mengalami kegagalan dalam missinya. Memang kesuksesan itu disamping memang rencana dari Allah, juga karena kehandalan Rasul sebagai pribadi yang unggul dengan sifat-sifat beliau.

Kedua, Perintah Al-Qur’an yang menyatakan bahwa dengan meneladani Rasul merupakan syarat kedekatan seseorang kepada Allah.

Adapun sunnah Sifatiah Rasul terdiri dari : Shiddiq (benar), Amanah (jujur dan dapat dipercaya), Tabligh (penyampai secara tepat), Fathanah (cerdik).

Sunnah sifatiah siddiq (benar), jika diaplikasikan akan muncul beberapa sifat, diantaranya :

1. Mengerjakan setiap tugas yang diberikan secara tepat, sesuai petunjuk dan ketentuan yang telah ada.

2. Berpikir secara positif terhadap pekerjaan, pimpinan dan mitra kerja.

3. Tidak mencampuradukkan yang hak dengan yang bathil (Q.S. 2/al-Baqarah:42). “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedangkan kamu mengetahuinya”.

Sunnah sifatiah amanah (jujur dan dapat dipercaya) dapat diibaratkan dalam kehidupan melalui sifat-sifat :

1. Dapat mencapai target atau melebihinya.

2. Menjaga dan memelihara sarana dan prasarana yang digunakan dalam menangani kerja. Memiliki tanggung jawab bagi tugas-tugas yang diembannya dan menghasilkannya sesuai dengan yang direncanakan, tidak menyelewengkan amanah sebagai pengamalan surat yasin 36:65: “Pada hari itu Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan” (QS. 17/al-Isra’ 36).

Sunnah sifatiah TabliGh (penyampai secara tepat) dapat dilihat dalam sifat-sifat :

1. Kesediaan saling menasehati untuk kebenaran dan kesabaran

2. Selalu mengeluarkan kata-kata secara benar dan sopan. Hal ini dipelajari dari kenyataan bahwa rasulullah tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan walaupun sekalipun dalam hidupnya.

3. Rasul tidak pernah menyinggung perasaan sahabat di saat perjuangan.

Sunnah sifatiah Fathanah (cerdik) dapat diejawantahkan dalam kesanggupan seorang karyawan menangkap petunjuk pimpinan dan memahami petunjuk-petunjuk yang dibuat oleh perusahaan, bahkan dapat melakukan inovasi positif melampaui petunjuk yang ada.

Kultum 20 Maret 2008

menjaga sopan santun dalam berbicara

Statemen-statemen palsu dalam perspektif islam dipandang sebagai fitnah yang tidak hanya akan mendatangkan kehancuran bagi orang atau kelompok yang zalim dan jahat, tetapi akan berakibat pada hilangnya keharmonisan bahkan dapat menghancurkan sendi-sendi kebersamaan rakyat. Sedemikian pentingnya seseorang menjaga lisannya dari perkataan yang tidak benar dan tidak mendasar, Allah berfirman :

وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Jagalah dirimu dari bencana fitnah yang tidak hanya akan menimpa mereka yang jahat saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah keras sekali dalam menjatuhkan hukuman. Demikian Allah berfirman” (QS. 8/al-Anfal:25). Sedemikian berbahayanya fitnah tersebut, al-Qur’an menyebutnya sebagai lebih kejam dari pembunuhan, Demikian tertulis dalam Al-Qurán (QS.2/al-Baqarah:191).

Dalam salah satu kissah sufi diceritakan bahwa :

“Seseorang yang shaleh pernah lewat di suatu perkuburan. Setelah sampai di komplek perkuburan itu, muncul keinginan dalam hatinya untuk mengetahui apa gerangan yang sedang terjadi di bawah sana. Tiba-tiba ia hilang ingatan, bagai mimpi; kuburan hilang dari pandangannya dan menjelma perkampungan dengan gambaran rumah-ruamh yang sebagian mewah dan sebagian sederhana bahkan sebagian kumuh di bawah garis kelayakan. Ia memilih berjalan mendekati rumah mewah. Sampai di sana ia dikejutkan oleh kenyataan bahwa di dalamnya terdapat seorang laki-laki yang dengan ceria dikelilingi oleh dayang-dayang, bagai bidadari. Namun tak berapa lama berterbanganlah kawanan lebah dan menghampirinya. Selanjutnya laki-laki itu menjulurkan lidahnya untuk digigiti oleh lebah tersebut yang membuatnya kesakitan tak terperikan. Selepas peristiwa tersebut laki-laki itupun normal kembali. Seorang shaleh tadi bertanya kepadanya tentang kejadian yang sebenarnya. Laki-laki menjawab “sewaktu di dunia saya adalah seorang yang shaleh, pemuka agama, bahkan pemimpin umat, akan tetapi saya seringkali mengeluarkan statemen-statemen yang tak berdasar. Bahkan ada seorang wanita yang saya fitnah hanya karena dia tidak mau menikah dengan saya, hingga saya meninggal dunia dia tetap belum menikah. Itulah sebabnya saya mengalami penderitaan di seberang kematian ini. Jika kamu kembali, tolong sampaikan mohon maaf saya”.

Ilustrasi itu memberi pelajaran kepada kita bahwa kita harus menjaga sopan santun dalam berbicara. Sebab apa yang diucapkan harus dipertanggungjawabkan di “Pengadilan Yang Maha Agung”, di hadapan Tuhan.

Di dalam Al-Qur’an kita diajarkan agar bertutur kata yang lembut dengan merendahkan suara. Firman Allah SWT. : “Dan lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai (QS. Luqman : 14).

Sikap lemah lembut akan meredam sikap arogan yang mengusik perasaan, dan membangkitkan emosi, yang akhirnya menimbulkan konflik dan ketidakserasian dalam bermasyarakat dan bekerja. Untuk membangun kebersamaan dibutuhkan kelembutan dan kasih sayang antar sesama. Sebagaimana firman Allah SWT : “ Maka dengan rahmat Allahlah mereka berlaku lembut terhadap kamu, tetapi jika kamu berhati kasar maka mereka akan lari darimu (Q.S. 3/ali imran : 154).

Dalam hal ini menarik analisis Fathullah al-Hafnawi dalam buku Washaya Luqman li ibnihi : “Sesuatu yang kasar tidak akan mendatangkan manfaat dan kemajuan, akan tetapi akan mendatangkan keadaan yang tidak menentu. Hendaklah berbicara dengan suara yang enak didengar, tenang pada jiwa dan ringan pada hati”.

Namun perlu dinggat bahwa sopan santun dan lemah lembut bukan berarti membiarkan kejahatan dan penyimpangan. Sebab itu menyimpang dari amar ma’ruf nahi munkar.

Kultum 21 Maret 2008

PENGENDALIAN DIRI DAM KESUKSESAN KERJA

Pengendalian diri (Self control=Ihsan) merupakan faktor penting dalam kesuksesan seseorang menangani pekerjaannya. Paling tidak ada tiga alasan mengapa pengendalian diri sangat berperan dalam kesuksesan dalam menangani pekerjaannya.

Pertama, manusia mempunyai kecenderungan negatif dan positif dalam dirinya. Sementara itu setan (iblis) selalu melakukan berbagai upaya agar seseorang lebih didominasi oleh kecenderungan negatif dalam dirinya seperti banyaknya ayat yang mengindikasikan hal tersebut.

Kedua, penetapan seseorang untuk menempati suatu job (tugas- jabatan) biasanya didahului dengan studi kelayakan dan pertimbangan, yang menyimpulkan bahwa orang tersebut memiliki kekayaan untuk melaksanakannya. Oleh karenanya, jika terjadi hambatan, kekurangan atau kegagalan, maka dimungkinkan karena ketidakmampuan yang bersangkutan mengendalikan dirinya.

Ketiga, Sebagian besar kegagalan manusia menjalankan tugasnya diakibatkan oleh ketidakmampuannya mengendalikan dirinya. Sebab semua perilaku manusia didasarkan pada karakteristik yang mendorong dari dalam dirinya (teologi, karakter, dan niatnya).

Seseorang yang tidak berhasil mengendalikan dirinya biasanya ditandai dengan sifat-sifat yang menonjol pada dirinya, antara lain :

1. Cenderung menunda realisasi pekerjaan dan mengakhirkan sesuatu yang semestinya didahulukan sehingga membuatnya kehilangan prioritas dan tahapan pekerjaan.

2. Sering ragu-ragu dan goyah ketika hendak melakukan pekerjaan, karena khawatir akan gagal melakukannya, sifat akibat ketidakmampuannya untuk mengambil keputusan dan tidak serius dan cermat menjalankan pekerjaannya.

3. Sering tidak bisa konsentrasi pada pelaksanaan kerjanya, karena tidak yakin bahwa melalui pekerjaan yang sedang ditanganinya sebenarnya ia bisa lebih sukses.

4. Membebani diri dengan sesuatu yang tidak sanggup dipikulnya sehingga ia mudah kalut, panik dan hilang keseimbangan.

5. Sering dilanda kejenuhan, karena tidak disiplin dengan pekerjaan utamanya sehingga produktifitasnya menurun.

6. Selalu tergesa-gesa, seringkali berkeluh kesah dan putus asa.

Upaya-upaya yang perlu dilakukan dalam mewujudkan kemampuan mengendalikan diri itu antara lain :

1. Memberdayakan spiritual melalui latihan-latihan (spiritual) seperti puasa.

2. Tidurlah dengan cukup dan jangan berlebih-lebihan, lebih baik sebelum tidur berwudhu dulu.

3. Ketepatan waktu melakukan Shalat Shubuh, karena disamping dapat mencerahkan spiritual manusia, waktu subuh sangat dekat dengan aktifitasnya di siang hari.

4. Berdzikir dalam setiap aktifitas dengan menjalankan perintah Tuhan dalam kerjanya. Sebab dzikir akan dapat mencerahkan qalbu manusia.

5. Memenej kehidupan dengan mengandaikan bahwa setan selalu berada pada sisi kiri dari aktifitas dan prilaku sehari-hari sehingga muncul kewaspadaan untuk selalu menetapi ketentuan Tuhan.

6. Ketika keluar rumah mulailah dengan do’a keluar rumah dan do’a naik kendaraan jika Anda naik kendaraan untuk pergi ke tempat kerja.

7. Menunjukkan keramahan sebab Islam adalah agama yang ramah.

8. Tidak menunda pekerjaan

9. Sepulang ke rumah, ciptakanlah suasana islami dan hargailah siapa saja di antara anggota keluarga, termasuk teman yang sukses pada hari tersebut, kendati hanya dengan perkataan.

10. Setelah berada di rumah, beristirahatlah sambil meyakini bahwa istirahat tersebut merupakan bagian dari kerja besar anda sebagai khalifah Allah di muka bumi, sehingga istirahat itupun merupakan bagian dari usaha pengendalian diri agar kemudian berorientasi kepada kebaikan dalm aktifitas berikutnya.

Kultum 22 Maret 2008

MEMBANGUN BUDAYA KEBANGKITAN

Sebagai dorongan (spirit) bagi kebangkitan Islam di masa depan, kiranya sangat bermakna kalau dikedepankan lebih dahulu ilustrasi kebangkitan yang pernah dikemukakan oleh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi. Menurutnya :

Setiap kebangkitan dan keunggulan, termasuk keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebenarnya diperuntukkan Tuhan bagi orang yang beriman selaku khaira ummah (sebaik-baik ummat manusia), firman Allah swt. :

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah” (QS. 3/Ali ‘Imran:110).

Akan tetapi saat tertentu keunggulan itu diberikan ke tangan orang lain, karena orang yang beriman tidak memenuhi tanggung jawabnya sebagai umat terbaik.

Jalan pikiran itu didasarkan pada kenyataan sejarah bahwa umat Islam memang pernah unggul dan memimpin dinamika peradaban umat manusia, khususnya pada zaman keemasan (abad 8 sampai abad ke 13 M).

Para pemerhati sejarah dan pemikiran Islam telah melakukan penelitian mengenai faktor penyebab keunggulan umat Islam zaman keemasan tersebut yang secara garis besar dapat dirumuskan sebagai berikut :

Keyakinan mereka terhadap Islam sebagai jalan kebenaran dan faktor utama penyebab keunggulan.

Keyakinan mereka bahwa pencarian ilmu pengetahuan dan keahlian merupakan bagian yang integral dan tak terpisahkan dari ajaran Islam. Bahkan pesan ilmu dan keahlian tersebut memiliki “akar tunggal” dalam keseluruhan missi para Nabi.

Komitmen pada peningkatan kemampuan ekonomi umat merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ajaran Islam. Sebab penyebaran (dakwah) dan bahkan pengamalan ajaran Islam itu tidak pernah terlepas dari persoalan ekonomi dalam arti yang luas.

Keyakinan dari segenap umat Islam bahwa bekerja secara baik, sungguh, dan shaleh, sesuai dengan tugas dan profesinya merupakan bagian yang integral dari ajaran Islam itu. Keyakinan ini memunculkan etos kerja yang tinggi di kalangan umat Islam.

Didorong oleh perasaan bahwa kepemimpinan dunia sesungguhnya berada di tangan umat Islam (khalifah, khaira ummah, dan pemakmur bumi), maka mereka senantiasa bersikap lapang dada dan toleran (tasamuh) terhadap komunitas lain. Sementara sikap toleran ini juga dipandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ajaran Islam.

Kecemerlangan mereka dalam mengamalkan Islam menurut versi yang lebih dinamis menyebabkan atau sekaligus didorong oleh pemahaman Islam yang rasional, yang tidak terpaku pada symbol-simbol formal. Dengan demikian mereka seakan tidak pernah “dikecewakan”oleh keyakinan mereka terhadap kebenaran dan keunggulan.

Kultum 23 Maret 2008

Mencederai Faktor Keunggulan II

Memasuki abad-abad berikutnya, terutama setelah dunia Barat menemukan kemodernan, banyak umat Islam yang mencederai faktor keunggulan mereka, dan bahkan banyak diantara komunitas muslim yang tidak lagi menganut budaya kebangkitan itu. Banyak faktor yang menyebabkan umat Islam itu mengalami kemunduran atau menganut budaya kemunduran, diantaranya :

· Tidak adanya keyakinan yang utuh bahwa Islam sebagai jalan hidup yang terbaik dan dapat membawa kepada keunggulan. Bahkan banyak di antara mereka yang merasa silai dan lebih tertarik pada jalan hidup yang lain.

· Pemahaman yang lebih cenderung pada aspek refressif dari ajaran agama membuat umat Islam tidak memiliki program yang jelas bagi pengembangan masa depan.

· Sebagai konsekuensi dari masyarakat yang tidak memiliki pedoman yang kuat, maka sikap saling percaya di kalangan umat mulai sirna. Akibatnya munbcul sikap saling curiga, yang pada gilirannya memunculkan fenomena dan kenyataan disentegrasi dalam semua tingkat kehidupan.

· Semangat untuk peningkatan ilmu pengetahuan dan keahlian mulai menurun, yang menyebabkan tidak adanya prinsip-prinsip budaya dalam upaya memerangi keterbelakangan.

Berdasarkan pengalaman sejarah umat Islam dan keharusan sejarah kebangkitan, maka budaya kebangkitan itu memiliki paling tidak lima aspek penting:

1. Keyakinan yang kokoh terhadap islam sebagai jalan keselamatan dan jalan keunggulan, sehingga perilaku dan tindakannya akan dimotivasi oleh keyakinan itu.

2. Semangat yang tinggi untuk menguasai ilmu dan keahlian, serta pemikiran rasional.

3. Membangun etos kerja dan budaya kerja yang dilandasi oleh nilai-nilai yang diajarkan oleh agama.

4. Adanya konsep dan implementasi pemberdayaan yang jelas, sehingga pemberdayaan kaum yang lemah dalam rangka keadilan bagi hidup bermasyarakat dapat ditegakkan.

5. Adanya toleransi dan kebersamaan dalam pengembangan kehidupan bermasyarakat.

Berdasarkan aspek-aspek penting tersebut maka pembangunan budaya kebangkitan di kalangan umat Islam dapat dilakukan dengan upaya pemberdayaan. Pembedayaan (enpowerment) dalam arti memberi kemampuan atau keberdayaan bagi umat Islam.

Kultum 24 Maret 2008

MENCERMATI IMPLIKASI PENAYANGAN MISTIK DI TELEVISI

Salah satu fenomena yang menarik untuk diamati akhir-akhir ini adalah maraknya penayangan mistik hampir pada semua televisi di negeri kita. Tayangan ini, di samping sangat digemari oleh banyak kalangan, juga diperkirakan akan berimplikasi pada sikap beragama, juga mental banyak anggota masyarakat. Sementara itu Islam mempunyai ajaran tentang yang ghaib. Bahkan tentang Iblis, Jin, dan Syaitan. Hadis Rasulullah SAW banyak yang menjelaskan secara eksplisit keberadaan makhluk ghaib tersebut.

Terdapat dua teori tentang pengaruh tontonan bagi pemirsanya. Ada yang mengatakan bahwa tontonan sangat mempengaruhi orang yang menontonnya. Tetapi teori lain mengatakan bahwa sebuah tontonan tidak akan banyak berpengaruh pada para penontonnya.

Meskipun kecenderungan kontemporer bahwa sebuah tontanan tidak akan banyak mempengaruhi para pemirsanya. Namun kenyataannya kelihatan berbeda di Indonesia. Sebab pada masyarakat kita tontonan sangat mempengaruhi para pemirsanya.

Tayangan Mistik dan Klenik dapat membuat penontonnya, terutama remaja dan anak-anak tumbuh tidak sehat. Sebab intensitas pemutaran yang bertubi-tubi akan mendorong mereka semakin dekat dengan hal-hal yang tidak masuk akal. Sedangkan perkembangan zaman mengharuskan mereka untuk meningkatkan rasionalitasnya. Demikian juga agama sangat menekankan pengembangan penggunaan akal.

Anak-anak tidak dapat membedakan hal yang sesungguhnya fiksi, dan tidak perlu dipercayai, dengan non fiksi. Seringkali terjadi gangguan kejiwaan pada orang yang menontonnya, terutama anak-anak, seperti munculnya ketakutan yang berlebihan.

Banyak sekali waktu anggota masyarakat yang digunakan untuk menyaksikan acara tersebut, yang seharusnya digunakan untuk pekerjaan yang lebih produktif.

Bisa jadi muncul kesan kekaguman terhadap makhluk lain dan sekaligus merendahkan derajat manusia. Padahal Islam memandang manusia sebagai makhluk termulia.

Dengan semaraknya pemutaran film mistik dan klenik tersebut, boleh jadi juga akan memicu kesemarakan kegiatan perdukunan yang tidak sesuai syari’at.

Upaya Antisipasi

· Diperlukan pemahaman yang jelas mengenai keberadaan makhluk ghaib di kalangan umat beragama.

· Kalau tayangan itu akan berjalan terus, maka sangat dibutuhkan adanya advokasi spiritual masyarakat, terutama para remaja dan anak-anak yang menontonnya

· Diperlukan pembuatan/penampilan film yang bernuansa syari’at. Meskipun akan menayangkan dunia putih dan dunia hitam. Namun perlu dijelaskan bahwa yang haqq pasti menang melawan yang munkar.

· Jika penayangan akan berlangsung, maka jangan disuguhkan pada anak-anak dan para remaja yang belum mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Kultum 25 Maret 2008

MEMBERDAYAKAN POTENSI DIRI DAN KEBERAGAMAAN DALAM MENCAPAI KEBERHASILAN

Agama dalam pengertian umum selalu dipahami sebagai undang-undang atau ketentuan-ketentuan Tuhan yang diturunkan kepada manusia untuk menjadi penuntun dan pedoman hidup bagi mereka, demi kesuksesan dan kebahagiaan mereka (lisa’adatihim) di dunia dan dihari kemudian.

Ayat-ayat suci Al-Qur’an mengingatkan bahwa keberhasilan manusia dapat dicapai dengan tiga hal, pertama, melalui berbagai macam usaha dan kegiatan (amal). Kedua, dengan kualitas diri yang tinggi. Ketiga, keberagamaannya yang baik. Dengan ketiga potensi ini mereka dapat mencapai keberhasilan.

Di dalam Al-Qur’an dinyatakan kalimat la’allakum tuflihun, (agar kamu sukses) sebanyak 11 kali. Ulaika hum al-muflihun (mereka itulah orang-orang yang sukses) sebanyak 13 kali.

Al-Qur’an menyebutkan berulangkali bahwa status keimanan seseorang merupakan pintu yang sangat terbuka baginya untuk mencapai keberhasilan itu. Firman Allah SWT : Qad aflaha al-mu’minun = Sungguh sukseslah orang-orang yang beriman (Q.S.al-Mu’minun:1).

Keberhasilan dalam perspektif Islam tidak terbatas dalam konteks dunia saja, tetapi juga dalam kontek yang lebih abadi di akhirat, sehingga kesuksesan yang utuh adalah kesuksesan yang mencakup dunia dan akhirat. (Hasanah fi al-dunya wa al-akhirah)

Tampaknya, antara agama dan manajemen modern terjadi hubungan yang mutualis (saling mengisi) dalam MENDUKUNG keberhasilan seseorang dalam usahanya. Bahkan diduga beberapa ahli manajemen modern banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor religiositas.

Paling tidak ada enam faktor yang dapat mendorong manusia untuk berhasil dalam berbagai profesinya :

Keyakinan bahwa ada kekuatan di luar dirinya yang dapat melipatgandakan kekuatannya untuk mencapai kesuksesannya.

1. Penguasaan ilmu pengetahuan dan keahlian sesuai bidang profesinya.

2. Adanya kemampuan untuk memelihara dan memanfaatkan networking

3. Kesediaan untuk mengevaluasi kemampuan diri

4. Kemampuan untuk berkomunikasi dan menjaganya

5. Penampilan sesuai citra diri

Bagi seorang professional, termasuk para karyawan, keyakinan yang teguh kepada Allah dan kemahakuasaannya sangatlah penting, sebab dengan keyakinan yang teguh tersebut seseorang akan memperoleh berbagai jaminan Allah berupa : (a) akan diberi berbagai alternatif bagi keberhasilannya. Sebagaimana firman Allah : yaj’allahu makhrja (akan diberikan jalan keluar bagi mereka = 65/al-Thalaq:2). Demikian juga firman-Nya : Ianahdiyannahum subulana (Akan kami tunjukkan kepada mereka jalan kami = Q.S.29/al-Ankabut:69. (b) Akan diberikan kepadanya kesuksesan melebihi jangkauan perhitungan (kalkulasi) yang dibuatnya (wa yarzuquhu min haisu la yahtasib = Q.S. 65/al-Thalaq :3).

Kultum 26 Maret 2008

Faktor – faktor yang mendukung keberhasilan

Islam dalam konsep mengajarkan manajemen, menempatkan penguasaan ilmu dan keahlian sebagai kunci sukses utama bagi pencapaian keberhasilan. Allah menjelaskan dalam firman Nya : Sesungguhnya Allah akan meninggikan derajat orang yang beriman dan orang yang bertaqwa (58/al-Mujadalah:11). Demikian Rasulullah SAW ada mengisyaratkan bahwa penguasaan ilmu sangat menentukan bagi kesuksesan seseorang, sebagaimana sabdanNya : “Bagi siapa yang ingin mencapai kesuksesan di dunia hendaklah ia mempergunakan ilmu. Siapa yang ingin mencapai kesuksesan akhirat hendaklah ia menggunakan ilmu dan siapa yang ingin mencapai kebahagiaan pada kedua-duanya hendaklah ia menggunakan ilmu” (H.R.Bukhari Muslim).

Keberhasilan seseorang juga tidak lepas dari pembangunan dan pemanfaatan networking dalam profesinya. Networking dapat didefinisikan sebagai keunggulan sekelompok orang yang bersatu, saling memperkuat daya yang dimiliki masing-masing untuk mencapai satu tujuan.

Al Ries dan Jeck Trout dalam buku Horse Course mengumpamakan pemanfaatan networking dengan memilih kuda balap, sehingga seseorang harus hati-hati dalam memilih kuda yang tepat.

Seseorang dapat membangun kerjasama dengan membina tali ukhuwwah dengan teman-teman sekolah, teman-teman sehobbi, seprofesi, keluarga, lingkungan pergaulan istri, koneksi pimpinan, arisan, STM, tetangga, dll, baik dalam bentuk ukhuwah islamiyah ukhuwah insaniah, dan ukhuwah wataniyyah.

Kemampuan dan budaya untuk mengevaluasi diri menjadi salah satu faktor bagi kesuksesan seseorang dalam meniti karirnya, dalam bahasa agama dimaksudkan sebagai muhasabah, yang dalam penyelesaian selanjutnya digunakan lembaga taubat, terutama bagi hal-hal yang ditemukan sebagai kesalahan atau penyimpangan. Sebab kemampuan mengevaluasi diri dan upaya bertaubat dari kesalahan akan memungkinkan seseorang untuk dapat lebih waspada dan tidak menyombongkan diri pada masa berikutnya.

Komunikasi juga merupakan salah satu faktor penting bagi kesuksesan seseorang. Seseorang harus menkomunikasikan aktifitasnya kepada Tuhan dalam bentuk ibadah vertikal, dan komunikasi dengan pimpinannya dilakukan dengan bekerja secara efektif, baik dan shaleh, begitupula dengan menjalin komunikasi yang baik sama manusia atau teman seprofesinya, seperti yang digambarkan mengenai Hablun minallah wa hablun minan nas dalam Q.S. 3/Ali Imran:112.

Di dalam kajian-kajian mengenai strategi pengembangan karier, penampilan dipahami sebagai mencakup kebersihan, tata rias, dan busana. Namun dalam keprofesian senantiasa dikaitkan hanya dengan keserasian dan keindahan. Sementara dalam perspektif Islam hal tersebut bukan hanya dikaitkan dengan keindahan fisik luar tetapi keseharian dalam hal moral juga penting, sebagai pendukung penampilan.

Kultum 27 Maret 2008

MEMBANGUN VISI RELIGIUS DALAM BEKERJA

Jika setiap tenaga kerja ditanya mengapa ia bekerja maka akan diperoleh jawaban yang sangat fariatif yang menggambarkan banyaknya yang melatar belakangi seseorang yang mencari kerja.

Dengan berfariasinya jawaban mengenai visi kerja ini menjadi peyebab munculnya sejumlah sikap manusia dalam menangani pekerjaan mereka, ada yang melaksanakan pekerjaannya sesuai ketentuan yang ada, dan ada pula yang melaksanakan kerjanya tanpa merasa terikat pada ketentuan-ketentuan yang ada.

Adanya keterikatan seseorang pada ketentuan yang ada bisa karena komitmennya pada nilai-nilai agama-agama yang dianutnya, dan bisa pula karena ketaatan pada ketentuan yang berlaku di perusahaan. Kalau kedua keterikatan itu dapat ditegakkan dalam pada suatu lembaga atau perusahaan maka visi religius akan muncul dalam pekerjaan di perusahaan itu. Sebaliknya bila kedua norma dan nilai tersebut tidak sejalan, atau bertentangan maka tenaga kerja akan mengalami dilematis dalam merekam pekerjaan.

Visi religius kerja menurut Al-quran alkarim dijelaskan dalam sebuah ayat yang menceritakan tujuan kerja yang harus dipahami oleh setiap tenaga kerja, bunyi ayat itu adalah : “Muhammad itu adalah utusan allah dan orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi kasih sayang sesama mereka : kamu lihat mereka ruku, dan sujud mencari karunia Allah dalam keridhaannya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikian sifat-sifat mereka dalam taurat dan injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas tersebut menjadi kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus diatas pokoknya” (Q.S.45/Al-fath).

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertaburanlah kamu dimuka bumi dan carilah karunia Allah ingatlah allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung (QS.62/Al-jum’ah).

Dua ayat diatas menjelaskan bahwa tujuan seseorang muslim bekerja adalah untuk : Mencari keridhaan allah Swt. dan Mendapat keutamaan (kualitas dan hikmah) dari hasil yang diperoleh. Kalau kedua hal itu telah menjadi landasan kerja seseorang, maka dia akan berupaya untuk :

1. Mencari dan melaksanakan pekerjaan yang mendapatkan hasil yang positif

2. Berusaha menjadi pekerja yang jujur (bisa dipercaya)

3. Berupaya mendapatkan citra kerja yang baik, serta mengajak teman untuk bekerja secara baik agar mendapat citra yang baik pula.

4. Menggunakan cara-cara yang baik dalam bekerja supaya dapat memperoleh hasil yang baik, maksudnya jangan menghalalkan segala cara untuk memperoleh segala keuntungan.

5. Setelah memperoleh gaji menyisihkan sebagian rezeki (2.5 %) sebagai zakat dalam rangka syukur atas nikmat yang diperoleh dari Allah

Kultum 28 Maret 2008

KOMUNIKASI VERTIKAL PERUSAHAAN BERNUANSA ISLAMI

Perusahaan yang bernuansa Islam dijalankan dengan landasan keimanan dan jihad di jalan Allah. Karena itu komunikasi dengan Allah di sini sangat diperhatikan. Pada sisi lain sebagai konsekuensi logis dari cara kerja islami yang bergerak di dunia modern, maka perusahaan bernuansa islami juga dijalankan dengan manajemen modern.

Berangkat dari jalam pikiran tersebut, maka komunikasi merupakan bagian integral dari proses jalannya perusahaan bernuansa islami, dan memang Islam sangat memandang penting soal komunikasi.

Komunikasi perusahaan bernuansa islami secara garis besar dapat dilihat dalam tiga dimensi :

· Dimensi Vertikal

· Dimensi Horizontal-eksternal

· Dimensi Horizontal-internal

Suatu usaha yang dimaksudkan sebagai pengabdian kepada Allah hendaknya selalu dikomunikasikan kepada-Nya, demi kesuksesan pengelolaannya. Petunjuk ke arah itu terlihat umpamanya dalam ayat-ayat berikut : “Faidza ‘azamta fatawakkal ‘ala Allahi inna Allaha yuhibbu al-mutawakkilin” Artinya : “Maka jika engkau sudah mengambil keputusan, bertawakkallah kepada Allah, karena Allah mencintai orang yang bertawakkal” (QS.3/Ali ‘Imran : 159). “Wa qala rabbukum ud’uni astajiblakum inna al-ladzina yastakbiruna ‘an ‘ibadati sayadkhuluna jahannama dakhirin.” Artinya : “Dan Tuhanmu berfirman : Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina (QS.40/al-Mukminun:60)

Ayat-ayat tersebut mengindikasikan bahwa usaha sungguh-sungguh dari pihak manusia perlu dikomunikasikan kepada Allah, dan komunikasi itu sendiri merupakan prasyarat bagi datangnya pertolongan Allah untuk kesuksesannya.

Metodologi pengkomunikasian kepada Allah telah dituntun (secara tersirat) dalam surat al-Fatihah sebagaimana kronologi ayat-ayatnya :

· Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam

· Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

· Yang menguasai hari pembalasan

· Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

· Tunjukilah kami jalan yang lurus

· (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (jalan) mereka yang sesat (QS.1/al-FAtihah:2-7).

Urutan ayat ini mengisyaratkan urutan komunikasi dalam rangka penyerahan usaha kepada Allah SWT, yaitu :

1. Mengucapkan pujian kepada Allah

2. Mengakui kemahakuasaan Allah

3. Menyatakan ketaatan dan penyerahan diri

4. Menyatakan permohonan bantuan

5. Menjelaskan hal yang diperlukan

6. Yang diminta adalah sesuatu yang baik dan berguna.

Kultum 29 Maret 2008

KOMUNIKASI Horizontal-Eksternal PERUSAHAAN BERNUANSA ISLAMI

Dalam kiprahnya, komunikasi insan perusahaan dengan masyarakat, terutama konsumennya sangatlah penting. Komunikasi dalam hal ini bertujuan :

1. Agar masyarakat (konsumen) mempercayai dan memanfaatkannya. Dengan komunikasi ini diharapkan konsumen semakin meningkat. Dalam hal ini sangat relevan petunjuk SWT : “Fabima rahmatin min Allahi linta lahun walau kunta ghalizh al-qalbi lanfadhdhu min haulik.” Maka disebabkan rahmat Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu (QS.3/Ali ‘Imran:159).

2. Agar masyarakat meyakini bahwa apa yang dilakukan perusahaan tersebut adalah benar dan terpuji. Komunikasi ini bertujuan agar semakin banyak orang yang bersedia diajak/mengajak kerja sama, meniru, dan bisa pula meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjalankan agamanya. Dalam konteks ini perusahaan bernuansa Islam telah bertindak semacam ‘Lembaga Dakwah”. Hal ini relevan dengan firman Allah : “Ud’u ila sabili rabbika bi al-hikmati wa al-mau’izhatil hasanati wa jadilhum bi al-lati hia ahsan.” Artinya : “ Berdakwalah kepada jalan Tuhanmu dengan bijak dan contoh-contoh yang baik. Dan ajaklah mereka dengan argumentasi yang baik pula.”

Pesan-pesan (promosi) yang dilakukan oleh perusahaan bernuansa islami harus memperhatikan nilai-nilai islami, sopan santun dan saling menghormati, sebagaimana dicontohkan Allah SWT dalam mengkomunikasikan (dengan cara berdialog) kepada malaikat, tentang rencana penciptaan manusia di bumi. Yakni dengan kata-kata yang baik. Bahkan dipandu oleh hadis Nabi yang mengatakan:

Man kana yu’minu bi Allahi wa al-yaumi al-akhir falyaqul khairan au liyashmut”, Artinya : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata secara benar (kalau tidak) atau dia diam saja”. Pada hadis lain disebutkan pula : “ Tidaklah beriman seseorang sehingga ia menyayangi saudara-saudaranya, sebagaimana ia menyayangi dirinya sendiri”.

Demikianlah bangunan komunikasi islami yang dilukiskan Islam yang menunjukkan betapa komunikasi memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan terutama dalam konteks perusahaan bernuansa islami. Dan komunikasi menyangkut segala Aspek disetiap tingkat, baik pada level vertikal maupun horizontal. Dan hendaknya semua komunikasi yang dijalankan itu adalah komunikasi islami, yang penuh kelembutan dan santun.

Kultum 30 Maret 2008

KUNCI SUKSES WIRAUSAHAWAN MUSLIM

Setiap Muslim hendaklah memiliki semangat dalam berusaha agar bisa menggapai kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat, serta terhindar dari api neraka. Ini adalah visi seorang mukmin. Sedangkan untuk menjalankan visi itu dibutuhkan misi yakni :

1. Mencari kebahagiaan melalui usaha dan aktifitas yang baik

2. Menjadikan segala aktifitasnya sebagai jihad dan pengabdian kepada Tuhan

3. Mencari keridhaan Allah SWT dengan melakukan pekerjaan secara profesional dan shaleh.

Sebagai landasan kesuksesan, seorang mukmin hendaklah :

· Yakin bahwa Allah SWT akan memberikan kesuksesan kepada setiap makhluk yang aktif dan kreatif

· Allah SWT selalu menghargai aktifitas manusia

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia akan dirugikan (Q.S.Hud:15)

· Menetapi akhlak dan etika profesi.

Dalam hal Akhlak, seorang Muslim harus menjaga dirinya agar senantiasa bersifat :

· Amanah, menjaga kejujuran

· Sungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugasnya

· Suka berinfaq dan dermawan dalam

· Tawadhu’ (Rendah Hati)

· Takut dan malu kepada Allah SWT

· Toleran

· Ikhlas dan Jujur

· Penyayang

Sedangkan Kunci Suksesnya terletak pada kesungguhannya dalam :

· Menjaga waktu dan efisiensinya

· Percaya kepada Allah dan memiliki keyakinan diri

· Selalu mencari hasil yang halal

· ‘Iffah (menjaga harga diri) dan qana’ah

· Berusaha keras membekali diri dengan ilmu. Ketrampilan, dan wawasan.

Kultum 31 Maret 2008

DAMPAK MAKANAN HALAL TERHADAP PRILAKU MANUSIA

Disamping itu taqwa juga tidak hanya menjamin keselamatan hidup dalam didunia, namun juga keselamatan dihari kemudian berupa keselamatan dari siksa pedih azab neraka. Termasuk salah satu ajaran tentang ketaqwaan adalah memelihara makanan yang merupakan salah satu aspek ajaran Islam yang tidak memiliki dampak langsung terhadap kehidupan manusia tidak hanya di dunia namun juga di akhirat.

Ajaran Islam tetanga kewajiban makanan halal, adalah firman Allah :

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا

Makanlah dari makanan yang baik –baik (halal) dan kerjakanlah amal shaleh” (QS.23/al-Mukminun : 51)

Mencari makanan yang halal tidak hanya karena takut dosa agar selamat siksaan pedih di hari akhirat saja, melainkan upaya mencari makanan yang halal sangat diperlukan karena berpengaruh pada kualitas hidup dan berdampak langsung pada aktifitas serta perilaku seseorang.

Sebagaimana disinggung oleh ayat diatas tadi, bahwa perintah menjaga kehalalan makanan, dikaitkan dengan perintah mengerjakan amal sholeh, sehingga makanan yang halal akan berimplikasi pada kegemaran seseorang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik (amal shaleh). Tidak ada jaminan bagi seseorang yang mengikuti ceramah agama dari ulama kondang, akan menampakkan hasil berupa perubahan prilaku selama ada hal yang haram yang dikonsumsi. Sebab, makanan halal yang di konsumsi akan berkembang menjadi daging, bersamaan dengan meningkatnya kualitas kesalehan, lahir dan batin. Sabda Rasulullah : “Barang siapa yang makan makanan halal selama 40 hari, maka Allah menerangi hatinya dan dia dialirkan sumber-sumber hikmah dari hatinya atas lidahnya” (HR.Abu Nu’aim dan Abu Ayub).

Makanan halal akan berimplikasi pada tumbuhnya kepercayaan diri bahwa Allah akan senantiasa dekat dan akan memberi jalan terbaik, serta memperkenankan doanya. Sabda Rasulullah SAW : “Bahwasanya Sa’ad mohon kepada Rasulullah SAW untuk memohon kepada Allah SWT agar diperkenankan doanya. Lalu beliau bersabda “Baiklah makananmu, maka doamu diperkenankan” (H.R.Thabrani dan Ibnu Abbas).

Penutup KULTUM kita kali ini dapat kita simpulkan bahwa adanya kaitan secara langsung antara makanan halal dengan prilaku dan perangai yang dimunculkan oleh manusia. Oleh karenanya salah satu cara untuk memunculkan prilaku dan perangai yang baik yang muncul secara kesadaran adalah dengan cara berupaya mengkonsumsi makanan halal. Semoga Allah membuka luas pintu hati kita untuk senantiasa memandang kehalalan dalam mencari rizqi dan kebaikan. Amiin ya Rabbal ‘Alamiin

Kultum Pebruari 2008

Juni 18, 2008

Kultum 1 Pebruari 2008

Waktu pelaksanaan Aqiqah

Sebahagian ummat Islam ada bahkan banyak yang melaksanakan aqiqah tidak pada hari yang tepat yakni pada hari ke-7 bagaimana kita menyikapi hal ini ?

Kembali kepada masalah pokok bahwa aqiqah itu hukumnya adalah sunnah muakkad, sunnah yang hampir mendekati wajib, Namun perlu diingat bahwa jangan sampai ada yang dirugikan oleh adanya aqiqah ini. Prinsip inilah yang medasari Imam Ahmad bin Hambal : “Penyembelihan dilakukan pada hari ketujuh, jika tidak maka pada hari keempat belas, dan jika tidak maka pada hari kedua puluh satu.” Pendapat ini sama dengan hadits yg dibawakan oleh Al-Baihaqi. Ulama lainnya berpendapat: Jika tidak dapat maka bisa dilakukan selagi anak itu belum baligh. Sebab jika melihat bunyi hadits, “maka tumpahkan (penebus) darinya darah (sembelihan),” adalah perintah yang bukan bersifat wajib, karena ada sabdanya yang memalingkan dari kewajiban yaitu: “Barangsiapa di antara kalian ada yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, maka silahkan lakukan.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud dan An Nasai dengan sanad yang hasan). Perkataan beliau, “ingin menyem-belihkan,” merupakan dalil yang memalingkan perintah aqiqah yang pada dasarnya wajib menjadi sunnah.

Untuk lebih mendekatkan kita pada makna aqiqah, marilah kita lihat aqiqah menurut bahasa. Bahwa aqiqah berasal dari kata ‘Aqq yang berarti memutus dan melubangi, dan ada yang mengatakan bahwa aqiqah adalah nama bagi hewan yang disembelih, dinamakan demikian karena lehernya dipotong. Ada juga yang mengatakan bahwa ‘aqiqah artinya adalah rambut yang dibawa si bayi ketika lahir. Namun maknanya secara syari’at adalah hewan yang disembelih untuk menebus bayi yang dilahirkan. Karena menurut hadits Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda : Setiap anak itu tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi nama.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, dan dishahihkan oleh At Tirmidzi)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Tuhfatul Maudud hal.25-26, mengatakan bahwa: Imam Jauhari berkata : Aqiqah ialah “Menyembelih hewan pada hari ketujuhnya dan mencukur rambutnya”. Selanjutnya Ibnu Qayyim berkata: “Dari penjelasan ini jelaslah bahwa aqiqah itu disebut demikian karena mengandung dua unsur diatas dan ini lebih utama.” Imam Ahmad dan jumhur ulama berpendapat bahwa apabila ditinjau dari segi syar’i maka yang dimaksud dengan aqiqah adalah makna berkurban atau menyembelih (an-nasikah).

Apa batasan “mampu” dalam pelaksanaan aqiqah pada hari ke-7. Jawab : Karena pelaksanaan pada hari-hari ke tujuh, ke empat belas dan ke dua puluh satu adalah sifatnya sunnah dan paling utama bukan wajib, maka berbicara tentang kemampuan melaksanakan Aqiqah pada hari ke-7 kelahiran dapat kita lihat hadits dari Imam Ahmad bin Hambal: “Penyembelihan dilakukan pada hari ketujuh, jika tidak maka pada hari keempat belas, dan jika tidak maka pada hari kedua puluh satu.” Pendapat ini sama dengan hadits yg dibawakan oleh Al-Baihaqi. Ulama lainnya berpendapat: “Jika pada hari-hari tersebut di atas belum juga dapat dilakukan penyembelihan maka penyembelihan dapat dilakukan pada hari-hari lainnya yg memungkinkan.” bahkan dalam kitab Al-Majmu‘: 8/323-324 dijelaskan bahwa aqiqah dapat dilakukan pada hari 28, 35 dan seterusnya. (Al-Majmu‘: 8/323-324)

Di dalam kitab Kifayah al-Akhyar ada menyebutkan bahwa bagi yang mampu, masa untuk menyembelih aqiqah itu hendaklah jangan melebihi masa habisnya nifas ibu yang bersalin yakni lebih dari 60 hari. Tapi jika belum juga dapat dilakukan, maka bolehlah dilakukan selepas itu, tetapi janganlah terlewat sehingga anak itu berhenti menyusu (dalam tempoh dua tahun daripada hari kelahiran). Jika tidak dapat dilaksanakan juga, maka bolehlah dilakukan selepas itu, tetapi janganlah terlewat sehingga anak itu berumur tujuh tahun. Jika tidak dilakukannya juga sehingga anak itu berumur tujuh tahun, bolehlah dilakukan selepas itu, tetapi sebelum anak itu mencapai umur baligh. Jika anak itu mencapai umur baligh, maka pada masa itu diberi pilihan kepada anak tersebut untuk melakukan aqiqah bagi dirinya sendiri. Demikian disebutkan dalam kitab Kifayah al-Akhyar: 534.

Kultum 2 Pebruari 2008

Upaya-upaya Peningkatan Kemampuan Mengendalikan Diri

Mengendalikan diri merupakan salah satu kunci untuk meraih kesuksesan seseorang dalam hidupnya sehingga berpeluang bagi diraihnya kebahagiaan dunia dan juga akhirat. Upaya-upaya yang perlu dilakukan dalam mewujudkan kemampuan mengendalikan diri itu antara lain :

1. Memberdayakan spiritual melalui latihan-latihan (spiritual). Biasanya dengan berpuasa, seperti puasa sunnah senin kamis. Puasa merupakan salah satu media yang tampaknya dirancang Tuhan untuk menciptakan kemampuan mengendalikan diri pada manusia.

2. Memiliki waktu istirahat (tidur) yang cukup dalam arti tidak kurang ataupun berlebih-lebihan. Untuk itu sangat baik, ketika hendak tidur seseorang membiasakan diri dengan berwudhu terlebih dahulu. Sebab salah satu hikmah disyariatkkannya wudhu adalah sebagai pengembali semangat jiwa (tahzibun nufus) sehingga memberikan ketenangan batin dan kelapangan hati.

3. Ketepatan waktu dalam melakukan Shalat Shubuh. Sebab waktu subuh adalah waktu yang sangat dekat dengan aktifitas di siang hari dan merupakan ibadah yang dapat mengencangkan hubungan spiritual manusia dengan Tuhan.

4. Tidak lupa memasang niat untuk dzikir dalam memulai kegiatan, sebab setiap aktifitas yang dilaksanakan demi menegakkan ajaran Tuhan merupakan bagian dari dzikir itu sendiri. Dan zikir tidak serta merta hanya lantunan kalimat-kalimat zikir dari lidah atau mulut. Dan dengan dzikir akan dapat mencerahkan qalbu manusia sekaligus dapat mewujudkan kemampuan mengendalikan diri.

5. Biasa memenej diri dengan meyakini bahwa syaitan selalu berada disisi manusia yang siap menggelincirkan manusia untuk taat pada Tuhan. Oleh sebab itu dalam setiap aktifitas hendaklah berniat untuk mewujudkan kemakmuran bagi umat manusia melalui kerjanya. Sebab keberadaan manusia di muka bumi ini ditujukan untuk memakmurkan bumi. Pada sisi lain manusia terbaik dalam pandangan Islam adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain disekitarnya.

6. Ketika keluar dari rumah untuk menyelesaikan tugas harian, hendaklah memasang niat dan do’a keluar rumah begitupula ketika naik kendaraan untuk pergi ke tempat kerja juga hendaklah berdo’a kepada Allah agar senantiasa menjaga dirinya dan keluarga yang ditinggalkannya. Dan jangan lupa mengucapkan salam kepada keluarga yang ditinggalkan.

7. Memandang bahwa setiap ajaran Islam memiliki maksud untuk menjaga keselamatan manusia, sehingga tidak menjadikan Islam sebagai agama yang sulit dan menyusahkan melainkan Islam sebagai agama yang ramah dan penuh nilai kasih kepada diri kita.

8. Selalu berusaha untuk merampungkan keseluruhan program kerja.

9. Ketika pulang ke rumah, masuk dengan mendahulukan kaki kanan dan mengucapkan salam sebagai upaya untuk menciptakan suasana islami dan sekaligus do’a selamat yang dituntunkan oleh Nabi saw. Hal ini juga harus dilakukan oleh seluruh anggota keluarga sehingga semua tetap terjaga dalam lindungan Allah secara lahir maupun batin.

10. Setelah berada di rumah, beristirahat dengan niat menjadikan istirahat tersebut sebagai bagian dari kerja besar sebagai khalifah Allah di muka bumi, sehingga dengan demikian istirahat itupun merupakan bagian dari usaha pengendalian diri agar kemudian berorientasi kepada kebaikan dalam aktifitas berikutnya.

Kultum 3 Pebruari 2008

Ummat Islam adalah Ummat yang Unggul

Jika kita membuat suatu kesimpulan, bahwa ummat yang mana dinilai sebagai ummat yang unggul untuk saat ini, tentu kita dapat simpulkan bahwa ummat unggul adalah ummat yang menguasai Ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi. Sebab dengan penguasaan Ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi sekelompok ummat dapat diperhitungkan disegala lapangan kehidupan.

Allah Swt adalah penguasa dari segala Ilmu pengetahuan, yang merupakan bukti kekuasaanNya. Dan Allah akan memberikan ilmu kepada siapa yang dikehendaki Allah untuk menguasai Ilmu tersebut, sehingga orang dianggap sebagai manusia yang unggul. Namun dengan ilmu yang diberikan kepada manusia, belum dapat dari yang lain sebagi “khaira ummah” atau ummat yang unggul, sebelum ilmu itu dapat menjadi alat bagi tegaknya amar ma’ruf dan nahi mungkar serta iman kepada Allah sebagaimana disebutkan Allah dalam (QS. 3/Ali ‘Imran: 110) :

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ

“Kamu adalah sebaik-baik ummat untuk manusia, jika kamu mampu menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar serta iman kepada Allah”.

Berkaitan dengan hal diatas Muhammad Said Ramadhan al-Buthi memberikan ilustrasi tentang orang tua yang mempunyai dua anak; yang satu baik dan yang satu satunya lagi nakal. Pada suatu saat orang tua itu bermaksud akan memberikan baju baru untuk si anak baik. Namun, sayangnya, ketika sampai di toko, tiba-tiba si anak baik itu banyak membantah dan “ngambek”, yang mengakibatkan orang tuanya memutuskan untuk membelikan (sementara) baju bagus tersebut untuk anaknya yang nakal, sebagai pelajaran dan pendidikan kepada anak yang baik tersebut.

Ilustrasi di atas mengisyaratkan bahwa anak yang baik itu adalah symbol orang yang beriman (khairu ummah). Akan tetapi karena mereka tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai khaira ummah, maka keunggulan (untuk sementara) ditarik dari tangan mereka, sampai mereka sadar atas kekeliruannya dan mau menjalankan tugasnya sebagaimana yang diinginkan Tuhan.

Gambaran diatas kiranya benar terjadi dan dibuktikan oleh kenyataan sejarah bahwa dahulu umat Islam memang pernah unggul dan memimpin kemajuan peradaban umat manusia, khususnya pada zaman keemasan di abad 8 sampai abad ke 13 M. Keunggulan Ummat Islam Menurut para ahli sejarah telah menguasai lebih dari separuh dunia Barat. Dan ummat Islam kala itu adalah ummat penguasa, karena memang mereka benar-benar yakin terhadap Islam sebagai agama kebenaran yang dapat menjadikan mereka menjadi ummat yang unggul dari ummat yang lain ketika itu.

Disamping itu mereka sangat antusias untuk mencari ilmu pengetahuan dan keahlian, sebab hal itu merupakan ajaran Islam dan merupakan akar dari keseluruhan missi yang dibawa para Nabi-nabi terdahulu.

Keimanan dan keilmuan serta ketaqwaan merupakan gabungan yang harus melekat dan terpatri dalam diri seorang muslim agar ia dapat menjadi bagian dari sebaik-baik ummat seperti yang dinyatakan Allah dalam ayat diatas.

Kultum 4 Pebruari 2008

Ukhuwwah dan Tim Kerja

Bagi suatu perusahaan pembentukan tim kerja merupakan suatu keharusan untuk ditegakkan agar usaha dan cita-cita perusahaan dapat tercapai dengan sempurna. Al-qurán sendiri mengajak ummat Islam untuk saling bersatu, dan saling tolong menolong untuk suatu kebajikan, sebagaimana firman Allah :

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan takwa, dan jangan kamu saling tolong dalam dosa dan permusuhan, dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah maha pedih siksaanNya“ (QS.5/al-Maidah:2).

Membina kebersamaan sangat dianjurkan Islam sebagai upaya menunjang keberhasilan manusia melaksanakan tugas kekhalifahan yang diamanahkan Allah kepadaNya. Tugas kekhalifahan itu adalah tugas manusia untuk memakmurkan bumi, termasuk mengolah hasil alam yang dianugerahkan Allah, sehingga mendatangkan manfaat yang sebesar-besarnya untuk kepentingan seluruh ummat manusia.

Bahkan Allah menilai bahwa kebersamaan itu merupakan ciri manusia yang berketaqwa kepada Tuhan karena dengan kebersamaan merupakan upaya manusia agar terhindar dari siksaan Allah swt karena Allah sangat benci terhadap sikap saling bermusuhan atau berpecah belah terutama dengan sesama ummat Islam.

Untuk itu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim) perlu dijaga untuk menjalin tegaknya etos kerja, kedisiplinan, rasa kebersamaan senasib sepenanggungan, serta saling membagi ilmu dan ketrampilan. Sedangkan lemahnya ukhuwwah ummat Islam yang ditandai dengan kurangnya kemampuan ummat Islam dalam menjaga kekompakan kerja dapat melemahkan manajemen dan pengelolaan sumber daya dalam anggota kelompoknya sehingga masing-masing bersikap indivudualis. Kesalahan dalam menjalankan ajaran agama adalah apabila ummat Islam cenderung mengajak kelompoknya untuk membenci dan tidak terlalu berambisi mengejar dunia, sehingga akhirnya ummat menjadi tidak agresif, tidak kreatif dalam berusaha dan mengembangkan ajaran Islam.

Ada tiga bagian yang harus membentuk tim kerja dalam kelompok ummat Islam yaitu: Pengelola Inti (manajer), para ahli dan perencana (orang-orang ahli dalam bidangnya masing-masing) dan Karyawan. Ketiga anggota ini harus didukung oleh satu kelompok lagi yakni masyarakat (Konsumen), mereka juga harus dilibatkan.

Sedangkan kendala Tim Kerja yang sering kita hadapi adalah kurangnya kesadaran anggota kelompok untuk turut terlibat dalam pemikiran guna menunjang cita-cita bersama. Sedangkan kendala lain adalah perbedaan masing-masing dalam memandang tugas yang diembannya, termasuk perbedaan cara menyelesaikan pekerjaan dan waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikannya. Namun perbedaan yang ada bukanlah merupakan suatu hal yang harus dimusuhi namun harus diatur sedemikian rupa melalui jalan musyawarah dan mufakat mencari jalan keluar yang terbaik.

Islam sangat membenci perpecahan dalam ummat Islam sebab itu dapat melemahkan jiwa dan kekuatan ummat, bahkan apabila ada perbedaan pendapat dalam kelompok harus dipandang sebagai suatu rahmat agar kebersamaan dapat tetap terjaga. Nabi sendiri bersabda yang artinya kurang lebih : “perbedaan dikalangan ummatku merupakan rahmat”.

Kultum 5 Pebruari 2008

TIGA GOLONGAN ORANG YANG TIDAK MASUK SYURGA

Sabda Rasulullah saw. : “Ada tiga orang yang tidak akan Allah masukkan kedalam syurga : Pecandu khamr, (Peminum minuman keras), orang yang durhaka kepada kedua orang tua, dan ADDAYYUS, yakni laki-laki yang membiarkan isterinya berbuat serong”. (HR.Ahmad)

Dalam Hadits diatas Rasulullah saw. menerangkan tentang adanaya tiga golongan orang yang diharamkan oleh Allah masuk kedalam syurgaNya yaitu :

1. Meminum minuman keras.

Sebab diharamkannya minum minuman keras, adalah karena banyaknya bahaya atau mudharat yang ditimbulkannya. Seorang yang berada dibawah pengaruh minuman keras dapat membahayakan orang lain, dan disamping itu pula akibat perbuatan itu dapat menghilangkan akal pikiran sehingga ia tidak dapat melaksanakan perintah Allah seperti sholat.

2. Durhaka Kepada Orang Tua.

Durhaka kepada orang tua artinya tidak mau berbakti kepadanya. Dalam sebuah buku yang berjudul “al-Kabair” yang dikarang oleh ulama kenamaan bernama Adz-Dzahabi disebutkan, bahwa berbakti kepada kedua orang tua mencakup tiga hal yakni : menaati perintahnya yang benar, menjaga amanah yang dipercayakan mereka, dan memperhatikan kebutuhan mereka dan membahagiakan keduanya. Sedangkan bila mereka telah tiada, hanya dengan do’a yang bisa membahagiakan mereka itupun harus didukung oleh kesholehan si anak baru do’a bisa diterima.

3. Ad-Dayyus

Suami yang dayyus adalah suami yang tidak memperdulikan busana yang dikenakan isterinya apakah telah memenuhi syarat penutup aurat seperti busana muslimah, atau mengenakan jilbab. Juga termasuk suami yang dayyus apabila membiarkan isterinya bergaul dan berbicara dengan lelaki yang bukan muhrim tanpa kepentingan yang betul-betul mendatangkan kemashlahatan dan urusan yang benar-benar pokok. Dan termasuk pula suami yang dayyus apabila tidak mencegah atau tidak perduli dan tidak berusaha untuk memperbaiki keluarganya apabila melakukan suatu perbuatan menyimpang dari ajaran agama.

Ketiga golongan diatas merupakan gambaran tentang manusia yang sangat jauh dari syurga dan sangat dekat dengan nereka. Maka oleh sebab itu hendaklah kita senantiasa berupaya dan berusaha agar tidak termasuk salah satu dari mereka dengan berusaha meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah swt.

Kultum 6 Pebruari 2008

TEOLOGI PERDAGANGAN

Rasulullah SAW bersabda :

ﻄﻠﺏﺍﻠﺤﻼﻝ ﻓﺮﻳﻀﺔ ﺑﻌﺩﺍﻠﻓﺭﻳﺿﺔ

Artinya : “Bekerja mencari yang halal itu suatu kewajiban sesudah kewajiban beribadah.” (HR.Thabrani dan Baihaqi).

Mungkin tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa tidak ada agama yang memiliki perhatian yang demikian serius dan sistematis mengenai yang demikian serius dan sistematis kerja dan perdagangan melebihi perhatian agama Islam. Agama ini telah mewajibkan setiap orang untuk bekerja mencari rizqi yang halal, sehingga meskipun ia memiliki uang yang cukup ia masih diwajibkan untuk bekerja dan tetap berdosa apabila ia menganggur.

Dalam pandangan Islam walaupun seseorang sudah tercukupi semua kebutuhannya, keharusan untuk berusaha bekerja masih tetap ada. Kalaupun misalnya seseorang bekerja namun tidak membuahkan hasil bagi dirinya, maka tidak cukup alasan bagi dirinya untuk tidak bekerja, sebab meskipun dengan kerjanya tidak membuahkan hasil dan keuntungan materi bagi dirinya, asalkan orang lain dapat menikmati hasil kerjanya maka dengan demikian ia telah menginfakkan hasil keringatnya kepada orang lain sehingga ia berhak mendapatkan pahala dari sisi Tuhannya.

Dari uraian diatas, jelas tidak ada alasan bagi orang yang beriman untuk menganggur, sehingga Rasulullah menyatakan : “Bekerja mencari yang halal itu suatu kewajiban sesudah kewajiban beribadah.” (HR.Thabrani dan Baihaqi)

Dalam pandangan Islam kewajiban pokok atas setiap muslim bukan semata terletak pada pelaksanaan shalat, haji atau penunaian puasa saja, namun lebih jauh dari itu ada kewajiban yang tidak kalah pentingnya setelah shalat ditegakkan yaitu kewajiban bekerja. Sehingga orang yang berusaha mencari rizqi yang halal merupakan orang yang berusaha melaksanakan ketaatan atas perintah Allah, sebagaimana pelaksanaan sholat sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.

Seorang mukmin yang berupaya untuk berusaha dan bekerja mencari nafkah dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, merupakan salah satu bentuk ibadah yang kedudukannya sama dengan pelaksanaan ibadah lainnya. Inilah falsafah hidup seorang mukmin yakni bekerja adalah ibadah, dikarenakan menganggur atau mengandalkan belasan kasih orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidup seperti meminta-minta, adalah sangat dicela dalam Islam, Nabi saw. bersabda: “tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah” (al-Hadits).

Kultum 7 Pebruari 2008

HUBUNGAN SEKSUAL SUAMI-ISTRI DALAM ISLAM

Kita tidak boleh bersikap malu dalam memahami ilmu agama, untuk menanyakan sesuatu hal. Aisyah r.a. telah memuji wanita Anshar, bahwa mereka tidak dihalangi sifat malu untuk menanyakan ilmu agama. Walaupun dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan haid, nifas, janabat, dan lain-lainnya, di hadapan umum ketika di masjid, yang biasanya dihadiri oleh orang banyak dan di saat para ulama mengajarkan masalah-masalah wudhu, najasah (macam-macam najis), mandi janabat, dan sebagainya.

Hal serupa juga terjadi di tempat-tempat pengajian Al-Qur’an dan hadis yang ada hubungannya dengan masalah tersebut, yang bagi para ulama tidak ada jalan lain, kecuali dengan cara menerangkan secara jelas mengenai hukum-hukum Allah dan Sunnah Nabi saw. dengan cara yang tidak mengurangi kehormatan agama, kemuliaan masjid dan kewibawaan para ulama.

Hal itu sesuai dengan apa yang dihimbau oleh ahli-ahli pendidikan pada saat ini. Yakni, masalah hubungan ini, agar diungkapkan secara jelas kepada para pelajar, tanpa ditutupi atau dibesar-besarkan, agar dapat dipahami oleh mereka. Misalkan masalah hubungan antara suami-istri yang pengaruhnya amat besar bagi kehidupan. Sebab kesalahan dalam memahami hubungan suami isteri dapat mengakibatkan kehancuran bagi kehidupan keluarga.

Agama Islam menjelaskan tentang kehidupan berkeluarga tentang akhlak, tabiat, suluk (adab), dan sebagainya, dalam uraian yang sangat lengkap.

1. Islam telah menetapkan pengakuan bagi fitrah manusia akan adanya dorongan seksual, yang condong dianggap tabu oleh sebagian orang. Padahal Islam melarang bagi orang yang tidak memfungsikannya dan lebih memilih hidup membujang, ketimbang mengikuti sunnah Nabi saw, yaitu menikah. Nabi saw. telah menyatakan : “Aku lebih mengenal Allah daripada kamu dan aku lebih khusyu, kepada Allah daripada kamu, tetapi aku bangun malam, tidur, berpuasa, tidak berpuasa dan menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak senang (mengakui) sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku.”

2. Islam telah menerangkan mengenai hubungan seksual, sebagaimana dijelaskan dalam hadis: “Jika si istri dipanggil oleh suaminya karena perlu, maka supaya segera datang, walaupun dia sedang masak.” (HR.Tirmidzi, dan dikatakan hadis Hasan). Bahkan dalam Islam hubungan suami isteri sebagai sebagai suatu ibadah, sebagaimana keterangan Nabi saw.: “Di kemaluan kamu ada sedekah (pahala).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ketika kami bersetubuh dengan istri akan mendapat pahala?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya. Andaikata bersetubuh pada tempat yang dilarang (diharamkan) itu berdosa. Begitu juga dilakukan pada tempat yang halal, pasti mendapat pahala. Kamu hanya menghitung hal-hal yang buruk saja, akan tetapi tidak menghitung hal-hal yang baik”. Bahkan dianjurkan oleh Nabi saw. supaya si istri jangan sampai menolak kehendak suaminya tanpa alasan yang tepat dan masuk akal, misalnya sakit, letih, berhalangan, atau hal-hal yang layak sebab hal itu dapat menimbulkan kemarahan dan menyebabkannya menyimpang kejalan yang tidak baik, atau membuat suaminya gelisah dan stres. Nabi saw. telah bersabda: “Jika suami mengajak tidur si istri lalu dia menolak, kemudian suaminya marah kepadanya, maka malaikat akan melaknat dia sampai pagi.” (HR.Muttafaq Alaih). Selanjutnya, Islam telah melarang bagi seorang istri yang berpuasa sunnah tanpa seizin suaminya, karena baginya lebih diutamakan untuk memelihara haknya daripada mendapat pahala puasa. Nabi saw. bersabda: “Dilarang bagi si istri (puasa sunnah) sedangkan suaminya ada, kecuali dengan izinnya.” (HR.Muttafaq Alaih).

Kultum 8 Pebruari 2008

ADAB HUBUNGAN SEKSUAL SUAMI-ISTRI DALAM PANDANGAN ISLAM

Perkawinan menjamin terpeliharanya hak kaum laki-laki (suami) dan hak wanita (istri) dalam segala hal. Nabi saw. sangat mengecam kepada laki-laki (suami) yang terus-menerus puasa dan bangun malam tanpa memperhatikan hak isterinya, beliau bersabda: “Sesungguhnya bagi jasadmu ada hak dan bagi keluargamu (istrimu) ada hak.”

Abu Hamid Al-Ghazali, ahli fiqih dan tasawuf? dalam kitab Ihya’ mengenai adab bersetubuh, beliau berkata: “Disunnahkan memulainya dengan membaca Bismillahirrahmaanirrahiim dan berdo’a, sebagaimana do’a yang diajarkan Nabi saw.: “Ya Allah, jauhkanlah aku dan setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau berikan kepadaku’.” Rasulullah saw. melanjutkan sabdanya jika do’a tersebut dibacakan niscaya : “Jika mendapat anak, maka tidak akan diganggu oleh setan.”

Al-Ghazali berkata, “Dalam suasana ini (akan bersetubuh) hendaknya didahului dengan kata-kata manis, bermesra-mesraan dan sebagainya; dan menutup diri mereka dengan selimut, jangan telanjang menyerupai binatang. Sang suami harus memelihara suasana dan menyesuaikan diri, sehingga kedua pasangan sama-sama dapat menikmati dan merasa puas”. Kemudian Ibnul Qayyim berkata, “Sebaiknya sebelum bersetubuh hendaknya diajak bersenda-gurau dan menciumnya, sebagaimana dilakukan Rasulullah saw..

Berkata Al-Imam Abu Abdullah Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zaadul Ma’aad Fie Haadii Khainrul ‘Ibaad, mengenai sunnah Nabi saw. dan keterangannya dalam cara bersetubuh. Selanjutnya Ibnul Qayyim berkata: Hikmah utama dari jimak (bersetubuh) itu ialah:

1. Dipeliharanya nasab (keturunan), sehingga mencapai jumlah ummat seperti yang ditetapkan menurut takdir Allah.

2. Mengeluarkan air yang dapat mengganggu kesehatan badan jika ditahan terus.

3. Mencapai maksud dan merasakan kenikmatan, sebagaimana kelak di surga.

Sedangkan hikmah kejiwaan yaitu : Dapat menundukkan pandangan, menahan nafsu, menguatkan jiwa sehingga peluang berbuat serong bagi kedua pasangan tidak terjadi. Nabi saw. telah menyatakan: “Yang aku cintai di antara duniamu adalah wanita dan wewangian.”

Selanjutnya Nabi saw. bersabda: “Wahai para pemuda! Barangsiapa yang mampu melaksanakan pernikahan, maka hendaknya menikah. Sesungguhnya hal itu menundukkan penglihatan dan memelihara kemaluan.”

Islam telah mengenal hubungan seksual diantara kedua pasangan suami istri, seperti telah diterangkan dalam Al-Qur’an : “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa, bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu, Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu” (Q.s. Al-Baqarah: 187).

Bahkan tidak ada kata yang lebih indah, serta lebih benar, mengenai hubungan antara suami-istri, seperti yang telah disebutkan, dalam al-Qur’an yaitu: “Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (Q.s. Al-Baqarah 187). Inilah ayat yang menunjukkan betapa besar perhatian Islam tentang hubungan suami isteri, tidak ada satupun kitab suci yang dapat menerangkan hal itu kecuali al-Qur’an.

Kultum 9 Pebruari 2008

KEUTAMAAN TAWAKKAL

Allah ta’ala berfirman: “Dan, barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. (Ath-Thalaq:33)

Di dalam hadits diriwayatkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan bahwa diantara ummatnya terdapat tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab. Kemudian beliau bersabda, “Yaitu mereka yang tidak membual, tidak mencuri, tidak membuat ramalan buruk dan kepada Rabb mereka bertawakkal”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)

Dari Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Andaikan kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Dia kan menganugerahkan rezki kepada kalian sebagaimana Dia menganugerahkan rezki kepada burung, yang pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, lalu kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang”. Diantara do’a yang dibaca Nabi saw. ialah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon taufik kepada-Mu untuk mencintai-Mu daripada amal-amal, kebenaran tawakkal dan baik sangka kepada-Mu”. (Hadits mursal, diriwayatkan Abu Nu’aim)

Tawakkal harus didasari oleh rasa ketauhidan kepada Allah, seperti yang terangkum dalam kalimat la ilaha illallahu wahdahu la syarika lahu lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir, yang artinya : “Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu baginya dan miliknya seluruh kerajaan dan hanya miliknyalah seluruh pujian dan ia berkuasa atas segala sesuatu”.

Kalimat diatas adalah kalimat tauhid yang harus kita tanamkan dalam rangka bertawakkal kepada Allah, sehingga kita benar-benar yakin atas kemaha kuasaan Allah diatas kekuasaan semua makhluk ciptaanNya. tidak ada yang lebih kuat dan hebat kecuali Allah swt. zat yang menciptakan segenap makhluk, dan makhluknya tidak memiliki daya apapun kecuali atas izin Allah sebab Allah adalah Tuhan yang menciptakan mereka dan berhak untuk berbuat apa pun menurut kehendak-Nya.

Orang yang bertawakkal adalah orang yang menyerahkan urusannya kepada sesuatu, yang bisa saja ia dilakukan kepada siapa saja selain Allah. Ada orang yang bertawakkal atau bersandar kepada kekuatan makhluk halus, jin, dukun, jimat, dan benda-benda yang dianggap memiliki keampuhan yang luar bisa, seperti cincin, keris, batu, patung dll. Dalam hal ini jelas itu merupakan dosa besar karena manusia telah menjadikan makhluk sebagai sandaran kekuatan bukan Allah swt. sehingga merupakan perbuatan syirik yang dosanya tidak terampuni.

Kepada orang mukmin Allah berpesan dalam al-Qur’an : “Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-oang Mukmin berTAWAKKAL”. (Ali Imran: 22). Sebab pada hakekatnya tidak ada kekuatan yang bisa menandingi kekuatan Allah, lalu mengapa manusia masih saja mencari tandingan-tandingan lain selain Allah, yang dapat menjerumuskan mereka kedalam kesesetan didunia dan di akhirat.

Kesimpulannya, orang mukmin yang bertawakkal kepada Allah seperti keadaan anak kecil bersama ibunya. Anak itu bahkan tidak percaya kepada siapapun selain ibunya, sebagaimana seorang mukmin yang tidak akan pernah mau bergabung dengan kekuatan apapun selain Allah swt. Jika menghadapi suatu masalah, seorang anak kecil pertama kali terlontar dari lidahnya ucapan, “Ibu..!” dan begitupula gambaran orang yang pasrah kepada Allah, ketika ia berhadapan dengan suatu masalah, ia hanya berucap ‘La haula wala quwwata illa billah’, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan bersandar kepada Allah.

Kultum 10 Pebruari 2008

Bentuk-BENTUK keberkahan

Keberkahan sebagai anugerah Allah kepada manusia dalam berbagai bentuknya dapat dirinci sebagi berikut :

1. Keberkahan dalam keturunan, yakni dengan lahirnya generasi-generasi muda yang memiliki keunggulan akhlak dan keilmuan yang tinggi di segala bidang. Contohnya, keberkahan yang diberi Allah kepada Nabi Ibrahim, berupa keturunan yang baik yakni anaknya Ismail as. dari isterinya Siti Hajar, dan Ishak as. dari Siti Sarah. Kala itu Nabi Ibrahim As hampir putus asa akan memperoleh keturunan, karena ketuaannya. Akan tetapi karena rahmat dan keberkahan Allah, akhirnya ia memperoleh keturunan, seorang putera bernama Ishak as. sehingga Ibraham menjadi bahagia dan tenteram (QS.Hud 11:73).

2. Keberkahan dalam soal makanan, yakni dengan diberikannya pertumbuhan fisik dan kesehatan kepada manusia. Maka oleh sebab itu dalam rangka meraih keberkahan dalam soal makanan, kita dituntun agar mengkonsumsi makanan yang halal dan tidak melampaui batas (tidak belebihan)

3. Keberkahan dalam hal waktu, seperti memiliki waktu yang cukup untuk berusaha memenuhi kebutuhan hidup dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Allah berjanji akan memberikan balasan yang baik dan kemudahan-kemudahan (berkah) bagi mereka yang dapat mempergunakan waktu dengan baik serta memanfaatkannya untuk melaksanakan perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah sebagai suri tauladan yang paling baik dalam menggunakan waktu.

Karena keberkahan terdapat dalam berbagai aspek kehidupan, maka Allah mengungkapkan kata berkah dalam Al-Qur’an dalam bentuk jamak (plural). Dan Untuk memperoleh keberkahan tersebut Allah memerintahkan :

1. Mengikuti petunjuk Al-Qur’an dalam melakukan usaha dan aktifitas, serta tidak mengingkarinya (lihat S.6/al-An’am:66).

2. Mensyukuri segala pemberian Allah dan bermanfaatkannya untuk kehidupan manusia (lihat QS.50/Qat:9)

3. Memiliki sikap yang memandang bahwa manusia di sisi Allah sama dan sejajar. Sehingga dengan demikian timbul egalitarisme (persaudaraan) dan pergaulan yang membawa keberuntungan (QS.22/al-Nur:61)

4. Memiliki keseimbangan visi atau pandangan mengenai kehidupan dan keakhiratan, rohani dan jasmani, dunia dan akhirat.

5. Memiliki etos kerja dan keikhlasan/ketulusan dalam melakukan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya.

Penutup dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keberkahan merupakan bagian integral dan tak terpisahkan dari kesuksesan seorang yang beriman. Dan orang yang ingin memperoleh keberkahan tidak boleh mengabaikan pentingnya etos kerja dan kesungguhan, sebab dari sanalah akan diperoleh kehidupan yang berkah yang merupakan anugrah Allah itu.

Kultum 11 Pebruari 2008

KESIMPULAN TAFSIR SURAT AN-NISA :1-3

Ahmad al-Wahidi al-Naisaburi (w. 468 H/1076 M) dalam bukunya Asbab al-Nuzul menceritakan bahwa pada waktu itu ada seorang laki-laki yang mempunyai anak yatim dan dia langsung sebagai walinya. Anak yatim itu punya beberapa harta, maka Nabi saw berkata, “Janganlah ia nikahi karena mengharapkan hartanya, lalu ia disakiti dan disia-siakan kesehatannya. Karena itu, jika takut tidak berlaku adil terhadap anak yatim itu, kawinilah perempuan lain dan diperbolehkan ia membatalkan niat untuk kawin dengan anak yatim itu”.

Al-Thabari, salah seorang penafsir yang terkemuka, juga mengutip para ahli tafsir yang berpendapat bahwa ayat ini diturunkan berkaitan dengan seorang laki-laki yang mengawini sepuluh istri atau lebih, dan kemudian mengambil kekayaan anak yatim yang berada di bawah perwaliannya untuk kepentingan dirinya sendiri ketika dia membutuhkan (karena dia harus membiayai istri-istrinya yang banyak), dia mengambil dari harta anak yatim.

Firman-Nya maka kawinilah apa yang kamu senangi, bukan siapa yang kamu senangi, bukan maksudnya bahwa wanita itu kurang berakal sehingga disebut dengan pertanyaan yang dimulai dengan apa (ma) Tetapi al-Qur’an menggunakan kata ma untuk menekankan sifat wanita itu, bukan orang tertentu, nama atau keturunannya. Tetapi pertanyaan kepada status, “Siapa yang dia kawini?” maka Anda menanti jawaban tentang wanita tertentu, namanya, dan anak siapa dia. Sedang bila Anda bertanya dengan menggunakan kata apa , maka jawaban yang Anda nantikan adalah sifat dari yang ditanyakan itu, misalnya janda atau gadis, cantik atau tidak, dan sebagainya.

Ayat ini tidak membuat satu peraturan tentang poligami, karena poligami telah dikenal dan dilaksanakan oleh syariat agama dan adat istiadat sebelum ini. Ayat ini berbicara tentang kebolehan poligami, dan itu pun merupakan pintu yang boleh dilalui saat amat diperlukan dan dengan syarat yang tertentu. Jika demikian halnya, maka pembahasan tentang poligami dalam syariat al-Qur’an, hendaknya tidak ditinjau dari segi ideal atau baik dan buruknya, tetapi harus dilihat dari sudut pandang pengaturan hukum, dalam aneka kondisi yang mungkin terjadi.

Adalah wajar bagi satu perundangan apalagi agama yang bersifat universal dan berlaku setiap waktu dan kondisi seperti agama Islam ini, mempersiapkan ketetapan hukum yang boleh jadi terjadi pada satu ketika, walaupun kejadian itu hanya merupakan “kemungkinan”. Padahal data-data sudah menunjukan bahwa jumlah lelaki lebih sedikit daripada jumlah wanita, peperangan yang hingga kini tidak kunjung dapat dicegah telah merenggut banyak nyawa kaum lelaki ketimbang wanita, lalu apa jalan keluar bagi seorang suami yang dapat diusulkan untuk menghadapi kemungkinan ini?

Dalam konteks ini, poligami adalah jalan yang paling ideal. Tetapi, ini diserahkan kepada masing-masing menurut pertimbangannya. Al-Qur’an memberi wadah bagi mereka yang menginginkannya, ketika menghadapi kondisi atau kasus tertentu seperti yang dikemukakan di atas. Masih banyak kondisi-kondisi selain yang disebut ini, yang juga merupakan alasan logis untuk tidak menutup pintu poligami dengan syarat-syarat yang tidak ringan itu.

Kultum 12 Pebruari 2008

TAFSIR SURAT AN-NISA :3

Akan tetapi, realitas menunjukkan, tidak sedikit para wali yang kemudian berlaku curang terhadap anak-anak yatim yang berada dalam perlindungannya dengan tidak memberikan harta mereka walaupun mereka sudah dewasa dan mampu menjaga hartanya sendiri. Kecurangan lain yang dilakukan para wali adalah menukar barang-barang anak yatim yang baik dengan yang buruk atau mereka memakan harta anak yatim yang tercampur di dalam harta mereka. Tradisi jahiliyah yang keji dan tidak adil itu rupanya berlanjut ke masa awal Islam dan ayat ini turun untuk mengecam ketidakadilan tersebut.

Allah sangat mengecam perilaku culas dan ketidakadilan para wali terhadap anak-anak yatim yang berada dalam asuhan mereka. Dan untuk menghindari perilaku dosa dan zalim tersebut, Allah selanjutnya menunjukkan jalan keluar sebagaimana terbaca dalam ayat ketiga dibawah ini :

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُواْ

Artinya : “Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan (yatim), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu khawatir tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja atau budak-budak wanita yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (Qs. Al-Nisa [4]:3).

Para mufassir sepakat bahwa sebab turun ayat ini berkenaan dengan perbuatan para wali yang tidak adil terhadap anak yatim yang berada dalam perlindungan mereka. Aisyah ra. Menuturkan bahwa ayat ini turun menyangkut sikap sementara orang yang ingin mengawini anak-anak yatim yang kaya lagi cantik dan berada dalam perwaliannya, tetapi tidak ingin memberinya mas kawin yang sesuai serta tidak memperlakukannya secara adil.

Dari Ibn Syihab berkata aku menerima berita dari Urwah bin al-Zubair bahwa dia bertanya kepada Aisyah r.a. tentang firman Allah “wa in khiftum alla tuqsithu sampai waruba.” Aisyah berkata, “wahai anak saudara perempuanku, itu berkaitan dengan masalah anak yatim yang berada di bawah asuhan walinya punya harta kekayaan bercampur dengan harta kekayaannya,dan harta serta kecantikannya membuat pengasuh anak yatim ini senang padanya lalu ia ingin menjadikan perempuan yatim ini sebagai istrinya, tapi tidak mau memberi mas kawin kepadanya dengan adil, yaitu memberikan mas kawin yang sama dengan mas kawin yang diberikan kepada perempuan lain. Maka pengasuh anak yatim seperti ini dilarang mengawini mereka kecuali mau berlaku adil, mereka disuruh kawin dengan perempuan lain yang disenanginya. Urwah berkata, “Aisyah berkata, ‘lalu orang-orang meminta fatwa kepada Rasulullah saw setelah turun ayat diatas, kemudian Allah menurunkan ayat wayastaftunaka fi al-Nisa’ sampai firman-Nya watarghabuna an tankihuhunna. Yang dimaksud firman Allah yang dibacakan kepadamu dalam al-Qur’an adalah ayat yang pertama, yaitu ayat wa in khiftum alla tuqsithu fil yatama fankihu ma thaba lakum minan nisa’. Aisyah berkata dan firman Allah dalam ayat lain watarghabuna an tankihuhunna kamsudnya adalah diantara kalian ada yang bermaksud menikahi anak yatim yang berada di bawah pengasuhannya yang tidak mempunyai harta yang banyak dan tidak terlalu cantik, maka mereka dilarang untuk menikahinya karena harta dan kecantikannya kecuali dengan sikap adil”.

Kultum 13 Pebruari 2008

Etos Kerja Baru yang dibangun setelah melakukan suatu Ibadah

Etos Kerja Baru dapat diperoleh setelah melakukan suatu Ibadah yang ditandai dengan cara pandang seseorang dalam melakukan pekerjaannya yang sungguh-sungguh dan kerja secara keras (al-Juhdu fi al-‘amal).

Kerja keras merupakan salah satu ciri etos kerja Islami, sehingga Allah memberikan nilai positif atas kerja keras seseorang sebagaimana dalam salah satu hadits, Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah mencintai hambanya yang bekerja dan terampil. Barang siapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah SWT “ (H.R.Ahmad).

Etos Kerja melahirkan cita-cita yang tinggi, berupa sikap yang selalu ingin meningkatkan kualitas kerja sehingga karir akan terus meningkat. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk meningkatkan karirnya melalui peningkatan kualitas kerja, yaitu dengan memperhatikan hal-hal berikut :

1. Bekerja secara sholeh yakni secara baik dan jujur, supaya mendapat kepercayaan dari setiap orang. Kepercayaan merupakan nilai yang tidak dapat diukur dengan materi apapun. Oleh karena itu sebagian orang berpendapat bahwa kepercayaan merupakan tabungan yang tidak pernah habis. Kepercayaan akan terus memberikan buah, baik berupa materi maupun immateri, seperti pertolongan dan lain sebagainya.

2. Selalu mengupayakan agar tempat bekerja memperoleh hasil dan keuntungan yang terus meningkat sehingga kelanggengan usaha dapat terus terjaga sehingga banyak orang yang terbantu dari keuntungan usaha yang terus meningkat. Menurut Islam sebaik-baik manusia disisi Allah adalah orang yang berguna bagi orang lain, sehingga manakala seseorang bekerja dan hasil kerja itu dapat memberikan keuntungan bagi masyarakat luas maka, ia akan mendapatkan pahala dan menurut Islam ia dikategorikan sebagai orang yang paling baik.

3. Meningkatkan ilmu dan mengasah keterampilan di tempat bekerja, sehingga memungkinkan baginya mendapat kepercayaan untuk mengemban tugas yang lebih penting dalam perusahaan.

4. Menabung. Yakni menysihkan sisa dari penghasilan dengan cara berhemat adalah cara berinfestasi dalam rangka menyongsong masa tua. Sebab Islam sudah mengajarkan untuk modal di masa bahwa setiap muslim hendaklah mempersiapkan untuk masa kedepan. Jadi pada hakekatnya orang yang beretos kerja tinggi adalah orang-orang yang mau menyisihkan sedikit penghasilannya dan berhemat untuk berinfestasi.

5. Bertakwa kepada Allah dengan mengeluarkan zakat, infaq dan sadaqah (dekat kepada Tuhan) sebab diyakini orang yang menempuh jalan Zakat tidak akan mengurangi penghasilan, namun secara tidak sadar akan menambah penghasilan kelak, tentunya dari jalan yang hanya Allah yang mengetahuinya. Justru orang yang tidak berzakat, akan berkurang hartanya karena adanya kemungkinan seperti azab atau cobaan yang datang dari Allah seperti misalnya sakit parah atau kehilangan harta yang secara tidak sadar artinya adalah pengeluaran uang.

Dari pembahasan di atas dapat diketahui bahwa setiap ibadah dalam Islam memiliki implikasi kepada peningkatan etos kerja berikutnya. Sehingga ibadah yang maqbul seyogianya dapat meningkatkan taraf hidup dan kualitas kehidupan seseorang.

Kultum 14 Pebruari 2008

Amal yang dilihat Allah

Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh kalian dan tidak pula rupa kalian, tetapi Dia melihat hati kalian.” (HR. Muslim)

Banyak definisi yang diberikan untuk memaknai kata ikhlas, namun dari sekian banyak pengertian yang didefinisan oleh para ulama itu tujuannya adalah sama. Misalkan ada ulama yang berpendapat, ikhlas artinya mengkhususkan Allah sebagai tujuan dalam amal perbuatan. Dan ada pula yang berpendapat, ikhlas artinya membersihkan perbuatan dari perhatian manusia, termasuk pula diri sendiri harus bersih dari sifat riya’ dan takabbur. Sebab banyak orang yang amal nya menjadi tidak ikhlas karena masih munculnya sifat riya’ dan ujub dari dalam dirinya.

Al-Fudhail berkata, “Meninggalkan amal karena tidak ada perhatian manusia adalah riya’, Mengerjakan amal karena mengharap perhatian manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas ialah meninggalkan keduanya”.

Al-Junaid berkata, “Ikhlas merupakan rahasia antara Allah dan hamba, yang tidak diketahui kecuali oleh malaikat sehingga dia menuliskannya sebagai amal, tidak diketahui oleh syetan sehingga dia tidak dapat merusaknya, dan tidak pula diketahui hawa nafsu sehingga dia tidak dapat melencengkannya.”

Yusuf bin Al-Husain berkata. “Sesuatu yang paling mulia di dunia adalah ikhlas. Berapa banyak aku mengenyahkan riya’ dari hatiku, tapi seakan-akan ia tumbuh dalam bentuk rupa yang lain.”

Pengarang Manazilus-Sa’irin berkata, “Ikhlas artinya membersihkan amal dari segala campuran.” Dengan kata lain, amal itu tidak dicampuri sesuatu yang mengotorinya seperti kehendak-kehendak nafsu karena ingin memperlihatkan amal itu agar tampak indah di mata orang-orang, mencari pujian, pengagungan dan sanjungan, karena ingin mendapatkan harta dari mereka atau pun alasan-alasan lain yang berupa cela dan cacat, yang secara keseluruhan dapat disatukan sebagai keinginan selain Allah”.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang berperang karena riya’, berperang karena keberanian dan berperang karena kesetiaan, manakah diantaranya yang ada di jalan Allah? Maka beliau menjawab, “Orang yang berperang agar kalimat Allah lah yang paling tinggi, maka dia berada di jalan Allah”.

Dari beberapa pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa keikhlasan itu sangat penting ditanamkan dalam hati sehingga amal perbuatan seorang hamba dapat diterima oleh Allah swt. sebab Allah berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (QS.Al-Bayyinah:5)

Kultum 15 Pebruari 2008

Implikasi Pensucian Diri

Pensucian diri yang dilakukan seseorang dengan mengerjakan perintah-perintah wajib maupun sunnah sebagaimana yang dituntunkan olah Nabi saw. baik melalui hadits-hadits mupun petunjuk Tuhan dari ayat-ayat Al-qur’an akan berpengaruh pada tiga hal :

1. Meningkatnya kesetiaan dan kesemangatan untuk tetap menjaga dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agama dalam sikap tingkah lakunya.

2. Memberi dorongan untuk melakukan perlawanan terhadap ajakan syaitan dan hawa nafsu yang cenderung pada pengrusakan kesucian diri (fitrah) manusia.

3. Memberi dorongan untuk kembali kepada keutuhan manusia sebagai makhluk dengan kapasitas akal, agama dan panca indra, sehingga memiliki kecenderungan untuk menghargai dan mencari ilmu pengetahuan dan ketrampilan.

Dengan adanya ketiga dampak tersebut dalam diri seseorang, secara otomatis akan mendorong bagi peningkatan produktifitas atau keberdayaan seorang muslim dalam berbagai bentuk kegiatan yang ditekuninya. Sebab lemahnya tingkat produktiftas seseorang dalam kegiatannya biasanya dikarenakan oleh paling tidak :

1) Kurangnya ilmu pengetahuan dan ketrampilan, karena kapasitas kemanusiaannya telah hilang sehubungan kondisi dirinya yang buruk.

2) Memuncaknya dorongan hawa nafsu dan syaitan dalam diri seseorang, sehingga akan mengakibtakan munculnya dorongan untuk melakukan sikap-sikap negatif seperti malas, boros, curang dan menempuh jalan dan cara-cara yang tidak halal, dsb.

3) Kurangnya komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai rohanian dan spiritual, sehingga mengakibatkan manusia kehilangan kontrol dan keseimbangan hidup sehingga lebih ngotot pada kehidupan duniawi dan benci pada kematian. (hubbud dunya wa karahiyatul maut)

Dari analisis di atas dapat disimpulkan bahwa kondisi fitrah (kesucian diri) manusia erat sekali hubungannya dengan produktifitasnya. Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa degan melakukan pensucian diri, dengan cara pelaksanaan ibadah dengan penuh penghayatan, akan memberi dampak secara langsung pada peningkatan kualitas hidup seorang muslim.

Kultum 16 Pebruari 2008

Jihad Melalui Kerja

Sebagai konsekuensi dari posisi manusia sebagai khalifah Allah di permukaan bumi, maka kehidupan manusia dengan sendirinya, adalah merupakan jihad berdasarkan pada firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ, تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui ” (QS.61/Shaf:10-11).

Dengan panafsiran sederhana terhadap ayat tersebut di atas, dapat diketahui bahwa perniagaan merupakan jihad yang terbaik, jika saja manusia mengetahuinya. Maka untuk mengetahui lebih jelas mengenai pengertian Jihad ini, perlu kita ketahui bahwa ‘Jihad’ dalam berbagai bentuknya diulang sebanyak 41 kali dalam Al-Qurán. Kata tersebut berasal dari kata ‘juhdun’ dan ‘jahada’ yang berarti kekuatan, kemampuan, kesulitan dan kelelahan. Dengan demikian kata jihad mengandung muatan, harus lelah, harus kuat, harus mampu, harus berhadapan dengan kesulitan, sebagai upaya yang sungguh-sungguh. Dengan demikian Jihad pada umumnya mengandung resiko, kesulitan, dan kelelahan dalam pelaksanaannya. Itulah sebabnya Jihad seringkali diindentikkan dengan upaya perang di jalan Allah, namun pengertian jihad yang lebih luas adalah melakukan berbagai aktifitas dalam rangka mentaati perintah Allah.

Perniagaan dapat dipandang sebagai jihad, berdasarkan dua alasan :

Pertama, Perniagaan dan usaha yang dijalankan tersebut menyangkut kepentingan primer atau kepentingan pokok hidup manusia.

Kedua, Islam memandang bahwa manusia yang terbaik adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lain, sebagaimana Rasulullah menyebutkan dalam sebuah hadits :

“sebaik–baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia”

Dengan dua alasan diatas, dimana suatu usaha atau perniagaan dapat dikatakan sebagai jihad apabila kehadirannya ditengah masyarakat dirasakan cukup memberi arti bagi dipenuhinya kepentingan orang banyak, dan memberikan manfaat besar kepada khalayak, maka apabila kedua alasan tersebut dapat kita terima menjadi dasar bagi jihad dalam perdagangan maka ada tiga hal lagi yang perlu diperhatikan dalam mengelola perusahaan, khususnya perusahaan makanan dan minuman.

1. Motivasi dilakukannya usaha haruslah dalam rangka ketaatan kepada Allah. Akan tetapi jika motivasinya tidak etis maka nilai dari usaha yang dijalankan itu tidak memenuhi kriteria jihad.

2. Proses yang dilakukan harus Islami, artinya proses harus dijalankan berdasarkan nilai-nilai ajaran yang diterapkan Allah.

3. Out put atau hasil usaha yang berorientasi pada nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan.

Apabila ketiga syarat ini terpenuhi, maka sebuah usaha dapat disebut sebagai jihad yang dapat menghindarkan pelaksananya dapat azab yang pedih. Tegasnya sebuah usaha haruslah berorientasi rabbaniyah dan insaniyah. Rabbaniyah dalam arti mengarahkan pelaksanaannya pada ketaqwaan dan lebih menyerahkan diri kepada Allah, sedangkan Insaniyah dalam arti menjaga sisi- sisi kemanusiaan dalam proses dan pelayanan kepada orang-orang yang terkait dalam pelaksanaan usaha.

Kultum 17 Pebruari 2008

KAYA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

Al-Quran al-Karim menggunakan kata ghaniy atau aghniya’ untuk menyebut orang kaya atau orang-orang kaya. Kata ghaniyy juga merupakan salah satu dari asma’ al-husna, yang menunjukkan bahwa Allah Swt. memiliki sifat kaya yang tidak butuh kepada pertolongan siapa pun.

Dalam Islam, kata-kata kaya memiliki tiga konotasi makna. Pertama, kaya dalam arti kepemilikan harta, shahib al-mal al-kasir (orang-orang yang mempunyai banyak harta). Kedua, kaya dalam arti kepemilikan ilmu dan amal, seperti tergambar dari bunyi sya’ir ; “Seseorang belum tentu disebut kaya kalau hanya karena hartanya, tetapi yang disebut kaya adalah orang yang kaya ilmu dan amal”. (Laisa al-ghina al-mal walakinna al-ghina gina al-‘ilmu wa al-‘amal). Ketiga, kaya dalam konteks al-Qur’an adalah kemampuan menjaga marwah atau harga diri, sebagaimana tergambar dalam surat 2/al-Baqarah ayat 273, yang artinya : “(Sedekah itu) untuk golongan orang fakir yang membatasi diri hanya di jalan Allah dan tak dapat bepergian di bumi (mencari nafkah); orang yang tidak tahu mengira mereka orang kaya, karena sikap harga diri akan kamu kenal mereka dari ciri-ciri mereka; mereka tidak meminta-minta kepada orang dengan mendesak dan segala yang baik kamu sumbangkan, sungguh Allah mengetahuinya.

Al-Qur’an menjelaskan beberapa karakter yang harus dimiliki oleh para aghniya’. Diantaranya.

Pertama, selalu menyadari bahwa apa yang dimilikinya merupakan karunia dari Allah SWT. Dengan demikian ia tidak menyombongkan diri, dan bahkan ia merasa miskin bila dibanding dengan kekayaan Allah SWT. Terdapat sejumlah ayat yang menyindir orang kaya yang cenderung menyombongkan diri. Seperti firman Allah yang artinya : Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya kaya, serta mendustakan pahala yang terbaik maka kelak kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar, dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa. (Q.S.92/al-Layl:8-11).

Kedua, memiliki kesediaan untuk berjihad dengan harta dan fasilitas yang dimilikinya untuk kemajuan agama dan tegaknya kebenaran. Sedemikian pentingnya komitmen pada jihad ini hingga Allah SWT mencela orang kaya yang tidak melakukannya.

Ketiga, memiliki rasa kepedulian terhadap orang lain yang sangat membutuhkan bantuannya dan memiliki rasa keadilan yang tinggi. Sebagaimana tergambar dalam Al Qur’an surat Al Hasyr ayat 7 : “Apa saja harta rampasan yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Rasul anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. (Q.S.59/al-Hasyr:7).

Keempat, Dia merasa tenang dan bahagia dengan kekayaan yang dimilikinya. Sebab kekayaan itu sendiri dicari sebagai upaya untuk mencari ketenangan dan kebahagiaan tersebut. Untuk itu hendaklah merek memiliki karakter seperti yang diajarkan agama yaitu :

1. Menjadi pelindung bagi orang-orang mukmin agar mereka dapat memperjuangkan kemajuan agamanya.

2. Menjadi pembela bagi orang-orang yang ingin memperjuangkan kemajuan agamanya.

3. Bertindak sebagai tiang penyangga bagi kesejahteraan masyarakatnya.

Dari kajian di atas dapatlah diketahui bahwa Islam menempatkan orang-orang kaya yang shaleh pada posisi yang baik dan memberikan penghargaan yang sangat tinggi kepada orang-orang yang kaya yang shaleh. Akan tetapi mereka harus menjadi kaya yang menaati fungsinya sesuai dengan harapan pemberi kekayaannya, yaitu Allah SWT.

Kultum 18 Pebruari 2008

Menanamkan Kebiasaan yang baik dalam etika hidup dan pergaulan untuk anak

Menurut Ahmad Izuddin Al Bayanuni, dalam buku Minhaj At Tarbiyah Ash-Shalihah. hendaklah orang tua membiasakan anak di usia 6 (enam) tahun pertama dengan :

1. Dibiasakan membaca Bismillah ketika hendak memulai sesuatu misalnya hendak makan.

2. Dibiasakan mengambil, memberi, makan dan minum dengan tangan kanan. Jika melanggar, diperingatkan dan dipindahkan ke tangan kanannya secara halus.

3. Dibiasakan mendahulukan bagian kanan dalam berpakaian. Ketika mengenakan kain, baju, atau lainnya memulai dari kanan; dan ketika melepas pakaiannya memulai dari kiri.

4. Dilarang tidur telungkup dan dibiasakan tidur dengan miring ke kanan.

5. Dihindarkan tidak memakai pakaian atau celana yang pendek bagi anak putra, dan mengenakan jilbab bagi putri supaya tumbuh kesadaran menutup aurat.

6. Dicegah agar tidak menghisap jari dan menggigit kukunya untuk menghindari penyakit.

7. Dibiasakan sederhana dalam makan dan minum, dan dijauhkan dari sikap rakus makan.

8. Dilarang bermain dengan hidungnya, kupingnya, atau anggota tubuhnya yang fital.

9. Dibiasakan untuk mengambil makanan yang terdekat dan tidak memulai makan sebelum orang lain.

10. Tidak memandang dengan tajam kepada makanan maupun kepada orang yang makan.

11. Dibiasakan tidak makan dengan tergesa-gesa dan supaya mengunyah makanan dengan baik.

12. Dibiasakan memakan makanan yang ada dan tidak mengingini yang tidak ada.

13. Dibiasakan menjaga kebersihan mulut dengan menggunakan siwak atau sikat gigi setelah makan, sebelum tidur, dan sehabis bangun tidur.

14. Dididik untuk mendahulukan orang lain dalam makanan atau permainan yang disenangi, dengan dibiasakan agar menghormati saudara-saudaranya, sanak familinya dan anak-anak tetangga yang lebih kecil darinya, jika mereka melihatnya sedang menikmati sesuatu makanan atau permainan.

15. Dibiasakan mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengulanginya berkali-kali.

16. Dibiasakan membaca “Alhamdulillah” jika bersin, dan mengatakan “Yarhamukallah” kepada orang yang bersin jika membaca “Alhamdulillah”.

17. Supaya menahan mulut dan menutupnya jika menguap, dan jangan sampai bersuara.

18. Dibiasakan berterima kasih jika mendapat suatu kebaikan, sekalipun hanya sedikit.

19. Tidak memanggil ibu dan bapak dengan namanya, tetapi dibiasakan memanggil dengan kata-kata: Ummi (Ibu), dan Abi (Bapak).

20. Ketika berjalan jangan mendahului kedua orangtua atau siapa yang lebih tua darinya, dan tidak memasuki tempat lebih dahulu dari keduanya untuk menghormati mereka.

21. Dibiasakan bejalan kaki pada trotoar, bukan di tengah jalan. Tidak membuang sampah dijalanan, bahkan menyingkirkan kotoran dari jalan.

22. Mengucapkan salam dengan sopan kepada orang yang dijumpainya dengan mengatakan “Assalamu ‘Alaikum” serta membalas salam orang yang mengucapkannya.

23. Diajari kata-kata yang benar dan dibiasakan dengan budi bahasa yang baik.

24. Dibiasakan menuruti perintah yang benar dari orangtua atau siapa saja yang lebih besar darinya. Bila ia membantah, diperingatkan supaya menerimanya dengan ikhlas, jika tidak memungkinkan, boleh dipaksa karena hal ini lebih baik daripada tetap membantah.

25. Hendaknya kedua orang tua mengucapkan terima kasih kepada anak jika menuruti perintah dan menjauhi larangannya. Bisa juga sekali-kali memberikan hadiah yang disenangi berupa makanan, mainan atau diajak jalan-jalan.

26. Tidak dilarang bermain selama masih aman, seperti bermain dengan pasir dan permainan yang diperbolehkan, sekalipun menyebabkan bajunya kotor. Karena permainan pada periode ini penting sekali untuk pembentukan jasmani dan akal anak.

Demikianlah beberapa kebiasaan yang harus ditanamkan kepada anak untuk membentuk karakter dan akhlak Islami sejak dini kepada mereka.

Kultum 19 Pebruari 2008

Kebutuhan Manusia Terhadap Do’a

Adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa manusia memiliki rasa cemas dan mengharap, terutama saat ia menghadapi masa-masa sulit dan mencekam dalam hidupnya.

Adalah suatu kenyataan pula bahwa dalam kehidupannya sehari-hari, manusia seringkali menyandarkan dirinya kepada makhluk lain, meskipun penyandaran diri itu sering tidak membuahkan hasil yang diharapkan, jika bukannya mengecewakan.

Disinilah Islam menawarkan konsep do’a, media atau metode yang dapat digunakan untuk memohon, meminta dan mengharap, langsung kepada Allah, pencipta dan pengatur alam semesta, melalui do’a baik dilakukan secara sendiri maupun secara bersama. Seperti istighasah, do’a bersama, do’a selamat, do’a tolak bala, dan sebagainya.

Ada pendapat yang menyatakan bahwa kekuatan do’a hanya berfungsi untuk kejiwaan saja. Artinya ia berfungsi dan efektif untuk untuk menciptakan ketenangan dan jiwa dari sesuatu yang mencemaskan dan menghawatirkan, dari kegundahan atau kelabilan kejiwaan. Pendapat tersebut di atas dianut sebagian pembaharu muslim, seperti Sayyid Ahmad Khan, pemikir India.

Dalam kajian-kajian Islam do’a didefinisikan sebagai, permohonan dari bawah ke atas. Jadi permohonan dari seorang hamba kepada Tuhan-Nya, mengenai sesuatu yang dia anggap sangat dibutuhkan. Oleh sebab itu do’a berarti memanggil atau meminta.

Didalam al-Qur’an banyak isyarat Allah yang berkaitan dengan keharusan manusia untuk berdo’a kepada-Nya. Diantaranya, firman Allah SWT : Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan rendah diri dan suara lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS.7/al-A’raf:55).

Pada ayat lain disebutkan : “ Berdo’alah, niscaya akan kukabulkan permintaanmu ” (QS.al-Mu’min/40:60)

Sebagai suatu kegiatan yang sakral, maka berdo’a menghendaki tata cara seperti yang diajarkan ayat-ayat al-qur’an dan Hadis Nabi yang secara umum dapat disimpulkan kepada empat langkah.

Pertama, do’a hendaklah dimulai dengan memuji dan berterima kasih atas nikmat dan anugerah Allah, atas terima segala kasih sayangnya. Biasanya diucapkan dengan : Alhamdulillahi rabbil ’alamin.

Kedua, shalawat kepada Rasulullah sebagai tanda terima kasih atas kasih sayangnya, dan dengan harapan memperoleh percikan kasih sayang tersebut. Biasanya diucapkan dengan : Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad … dst.

Ketiga, mengajukan permohonan ampun dirinya kepada Allah, Biasanya diucapkan dengan : Allahummagfir li …. Sembari memohon juga kepada orang lain. Biasanya diucapkan dengan : Allhummagfir lil mukmnin wal mukminat …dst.

Keempat, akhirilah do’a dengan mensucikan Allah dari segala kekurangan. Biasanya diucapkan dengan : subhanallah amma yasifun …dst.

Sedangkan Makna do’a itu sendiri adalah : Kesadaran diri sebagai makhluk yang lemah dihadapan Allah, Keyakinan diri akan berhasil dengan do’a, Usaha-usaha Manusia yang konkrit memanjatkan do’a, Mohon maaf atas kesalahan & kesilapan.

Syarat Terkabulnya Do’a antara lain : Setia menaati perintah Allah dan melaksanakan ajaran agama, berbaik sangka kepada Allah bahwa tidak akan menyia-nyiakan kita sebagaimana keyakinan anak pada ayahnya bahwa dia tidak akan menyia-nyiakannya, ketulusan dan tidak berprasangka kurang baik kepada Allah.

Do’a adalah permohonan seorang hamba kepada Tuhannya, saat paling dekat antara manusia dengan Allah adalah pada saat sedang sujud dalam sholat, maka dianjurkan Nabi agar kita memperbanyak do’a ketika itu. Juga pada saat kita dalam kondisi kesusahan.

Kultum 20 Pebruari 2008

Makna kerjasama DALAM PANDANGAN ISLAM

Dalam kehidupan dunia usaha, kerjasama merupakan salah satu syarat yang menentukan bagi kesuksesan suatu usaha. Untuk itu, diperlukan peran serta segenap insan dalam lembaga atau perusahaan, untuk saling mengembangkan upaya-upaya kecerdasan hubungan. dalam Islam Kecerdasan hubungan ini dikenal dengan istilah (ta’awun). Yakni membina kerjasama melalui upaya tolong menolong dalam suatu kebaikan.

Pengembangan kecerdasan hubungan yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam meningkatkan produktifitas dan kemajuan perusahaan yang islami merupakan perintah pokok dalam Islam. Apalagi dalam hadits juga disebutkan bahwa sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk menolong yang lain (yasuddu ba’duhum ‘ala ba’din). Maka oleh sebab itu pengembangan kecerdasan hubungan, harus dibarengi dengan semangat agama, karena selain dipandang penting dalam upaya membangun kerja sama kelompok atau jaringan kerja, juga dapat menjadi upaya perekat ummat sehingga umat yang beragama dapat terangkat kualitas hidupnya secara bersama-sama dengan cara menjalin kerjasama.

Menurut Edwin A.Hoover Kecerdasan hubungan digambarkan sebagai RELATIONSHIP QUATION disingkat (RQ), yakni adanya sekelompok orang dalam suatu badan (usaha) yang melakukan kerjasama untuk mencapai tujuan kelompok tersebut, sehingga dapat menghasilkan sebuah produk atau hasil.

Meskipun ada sekelompok orang yang menjalin kekompakan namun tidak bisa membuahkan suatu produk atau hasil, maka hal itu bukan Kecerdasan Hubungan, tetapi kelompok itu hanya melakukan hubungan yang biasa saja. Karena ciri-ciri kelompok memiliki Kecerdasan Hubungan diantaranya adalah :

1) Adanya kemampuan tiap anggotanya untuk mencurahkan atau mewujudkan kemampuan dirinya di tempat satu usaha yang menghasilkan. Seperti kelompok orang dalam satu perusahaan, dimana setiap individu karyawannya dituntut perannya untuk dapat menghasilkan suatu produk yang bermutu.

2) Adanya kemampuan kelompok untuk menjaga agar hubungan antar tiap anggota tetap harmonis, saling memahami tugas-tugas pokok masing-masing, dan selalu menghargai prestasi yang dilakukan teman sekelompoknya.

3) Adanya kemampuan kelompok untuk produktif.

Dengan mengacu pada tiga ciri tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Kecerdasan Hubungan, baru bisa terwujud jika satu dengan lainnya mempunyai i’tikad untuk berupaya memajukan kelompoknya dengan mempersembahkan karya-karya terbaik yang dimiliki masing-masing anggota kelompok itu.

Jika hal ini dikembalikan pada perusahaan, maka perusahaan yang memiliki kecerdasan hubungan, adalah apabila masing-masing karyawannya memiliki keahlian yang dapat memberikan sumbangsih bagi kemajuan perusahaan. Disamping itu setiap insan yang ada dalam perusahaan harus mampu menjaga keharmonisan hubungan sehingga tidak terjadi persaingan yang kurang sehat yang pada akhirnya akan melemahkan produktifitas perusahaan.

Kultum 21 Pebruari 2008

Ketentuan Allah Mengenai Rizqi

Setiap makhluk yang diciptakan Allah SWT di atas bumi ini telah mendapat jaminan rizqi dari Allah swt sebagaimana firman Allah Swt. :

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

artinya : “tidak satupun yang melata di bumi ini kecuali telah dijamin Allah rizqinya” (QS. 11/Hud : 6). Selain Allah menjamin rizqi, ada ketentuan bahwa yang mendapat jaminan rizqi itu hanyalah makhluk yang dabbah (yang merangkak) yang diidentikkan dengan makhluk yang aktif bergerak dalam mencari rizqinya.

Adapun mengenai kwantitas atau jumlah rizqi masing-masing, Allah menetapkan bahwa “seseorang dibedakan atas yang lain dalam hal rizqi” (Q.S.16/al-Nahal:71) ada yang banyak dan ada yang sedikit. Sehingga dengan demikian ada yang sulit mencari rizqi dan ada juga yang mudah. Bahkan Allah swt menjanjikan di ayat lain adanya rizqi dari jalan yang tidak diduga-duga sebagaimana disebutkan dalam (Q.S. 65/al-Thalaq:3).

Apa arti Rizqi ?

Mutawalli Sya’rawi seorang ulama Islam dalam kitabnya Al-Rizq mendefinisikan bahwa rizqi adalah apa yang dapat dimanfaatkan oleh seseorang, baik oleh dirinya atau orang lain, jadi meskipun harta milik kita tapi orang lain juga dapat yang memanfaatkan maka hal itu adalah rizqi anda dan rizqi orang lain. Meski demikian seseorang yang memiliki harta namun tidak dapat dimanfaatkannya, maka itu bukan berarti rizqinya, melainkan rizqi orang lain, yang memanfaatkan miliknya.

Pengertian di atas mengingatkan kita pada dua hal :

Pertama, bahwa manusia dapat saja mencari dan memiliki harta sebanyak-banyaknya. Namun pada hakekatnya yang menjadi rizqinya, adalah apa yang dapat memberikan manfaat kepadanya. Jika tidak dapat dimanfaatkannya maka sebenarnya itu bukan rizqinya tapi rizqi bagi orang lain yang memanfaatkannya.

Kedua, Meskipun harta yang dimiliki seseorang yang tidak dimanfaatkannya, dapat dialihkan untuk membantu orang lain yang membutuhkannya, sehingga hartanya tidak mubazzir tapi bermanfaat bagi orang lain.

Pada sisi lain disebutkan bahwa rizqi itu ada yang baik untuk orang lain tapi tidak baik untuk diri kita. Itu artinya bahwa rizqi itu ada yang positif ada yang negatif; tergantung daripada kehendak Allah swt. Sedangkan rizqi disamping ada yang berbentuk material tapi ada juga yang berbentuk spiritual.

Kultum 22 Pebruari 2008

MENCARI RIZQI DI TENGAH SUASANA SULIT

Saat mencari rizqi, manusia seringkali menghadapi kesulitan dan tantangan. Kesulitan bisa terjadi karena tidak tersedianya lapangan kerja, atau kurangnya keterampilan dan skill atau kemampuan yang dimiliki. Tetapi bisa juga terjadi karena adanya berbagai krisis atau musibah dan lain-lain. Namun seyogianya, setiap kesulitan yang dihadapi jangan sampai menghilangkan kesungguhan dalam mencari rizqi tersebut. Karena kesulitan dan cobaan merupakan bagian yang lumrah dari keberadaan manusia dalam menjalani kehidupannya.

Dalam menghadapi kesulitan itu, atau jika sedang berada dalam suasana sulit, seseorang harus berhati-hati, jangan sampai melanggar dengan melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan Allah. Untuk itu setiap muslim perlu mengambil sikap sebagai berikut :

1. Bersikap positif terhadap Tuhan dengan berkeyakinan bahwa Allah swt. bukanlah zat yang kejam, tetapi Ia adalah zat yang maha kuasa, pengasih dan penyayang yang menjamin rizqi setiap makhluknya yang berusaha. Sebab, Tidak satupun yang melata (berusaha) di bumi ini kecuali telah dijamin Allah rizqinya” (QS. 11/Hud : 6). Ia juga harus yakin bahwa tanpa diduga-duga (Q.S. 65/al-Thalaq:3) Allah swt. bisa saja merubah kehidupannya asalkan ia tetap berada dalam ketaqwaan kepada Allah.

2. Mau belajar dari pengalaman hidupnya, sebagaimana Nabi pernah bersabda : “Jangan seorang muslim terjerumus dalam satu lobang yang sama” atau gagal dalam kegagalan yang sama.

3. Mendekatkan diri pada Tuhannya, termasuk melalui kerjanya, hendaklah kerja dijadikan sebagai alat untuk mengabdi kepada Allah, bukan kerja untuk menambah kedurhakaan kepadaNya.

4. Bekerja lebih keras dan sistematis, tidak santai atau malas, tetapi disiplin ulet, tahan banting dan tidak mudah menyerah.

5. Melakukan penghematan dalam arti yang luas, selalu memikirkan kerja yang efisien sehingga menghemat waktu dan tenaga, tanpa mengurangi kualitas kerjanya.

6. Meningkatkan ukhuwah, selalu menjalin kerjasama dengan orang lain sebab pada suatu saat kita mempunyai kepentingan dengan dia dalam membantu usaha yang kita jalankan.

7. Peningkatan ilmu pengetahuan dan keahlian, guna mencapai kemajuan usaha. Sebab setiap usaha perlu adanya inofasi atau pengembangan kearah yang lebih baik.

8. Perencanaan masa depan, sebab usaha hendaknya bisa berkelanjutan hingga anak-anaknya.

9. Yakin bahwa di balik kesulitan yang dihadapinya, ada berbagai kemudahan yang bakal di perolehnya.

Sebagai penutup dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa bagi seorang muslim, suasana kesulitan tidak boleh menghambatnya untuk terus bersungguh-sungguh mencari rizqi dalam peningkatan kualitas hidupnya.

Seseorang yang diberi rizqi oleh Allah, harus memiliki budaya distributif atau pembagian, selain untuk kepentingan diri dan keluarganya, rizqi yang diperolehnya juga harus diperuntukkan bagi kepentingan orang banyak.

Dalam suasana kesulitan, seorang muslim jangan kehilangan akal sehatnya untuk mencari berbagai cara mencari rizqi yang lebih besar.

Kultum 23 Pebruari 2008

LIDAH DAN HARMONISASI KEHIDUPAN

Salah satu kelebihan manusia dari makhluk lain adalah kemampuannya berbicara berkat lidahnya untuk mengeluarkan statemen (pernyataan) yang dapat ditangkap oleh orang atau kelompok lain, atau masyarakat di mana ia berada. Namun perlu diingat bahwa kemampuan berbicara bagai pisau bermata dua; dapat menciptakan keharmonisan sosial disatu sisi dan dapat menciptakan kekacauan, bahkan menjatuhkan harga diri dan martabat manusia disisi yang lain.

Saat ini bangsa Indonesia sedang berada pada setting waktu di mana lidah sering dijadikan sebagai media statemen (pernyataan-pernyataan) untuk mempengaruhi massa ditengah euforia reformasi serta demokrasi dan kebebasan mengeluarkan pendapat.

Setiap orang dapat mengeluarkan statemen-statemennya, layaknya masyarakat yang baru keluar dari “penjara bungkam” selama puluhan tahun. Sehingga seringkali pernyataan-pernyataan muncul tanpa mempertimbangkan etika kebersamaan sebagai bangsa Indonesia yang beradat dan berbudaya Timur.

Islam memberikan control yang sangat serius terhadap penggunaan lidah untuk mengeluarkan statemen. Bahkan Islam melihatnya sebagai salah satu kriteria manusia beriman yang berhak mendapat keselamatan dan jalan keluar dari kesulitan yang dihadapinya. Rentetan sifat-sifat itu disebutkan pada surat 25/al-Furqan:63-77). Diantaranya, seperti firman Allah yang artinya : “Dan orang-orang yang tidak memberikan pernyataan-pernyataan (statemen-statemen) palsu (yang tak berdasar). Apabila mereka sedang melewati sesuatu yang sia-sia, mereka tetap menjaga keharmonisan dirinya” (QS.25/al-Furqan:73).

Paling tidak ada dua hal yang dapat ditangkap dari ayat ini. Pertama, bahwa salah satu karakter seseorang yang pantas disebut beriman adalah tidak sering mengeluarkan statemen-statemen palsu yang tak berdasar, tanpa data dan fakta. Kedua, dalam situasi yang kurang menguntungkan mereka selalu menjaga kehormatan diri dan keharmonisannya. Dua hal yang kini menjadi persoalan yang sangat akut di tengah masyarakat kita.

Untuk melihat bagaimana kaitan antara lidah dengan harmonisasi sosial perlu disimak ilustrasi berikut :

“Pada suatu saat seseorang pernah bertanya kepada Al-Ghazali : Tuan, siapakah yang paling dekat dengan kita? Allah SWT kata Al-Ghazali. Kalau begitu siapakah yang paling jauh dari kita? Al-Ghazali menjawab : yang paling jauh dari kita adalah kata-kata kita. Sebab begitu kata-kata itu kita keluarkan (apalagi bagi mereka yang public figur), kata-kata itu akan melayang-layang di tengah-tengah masyarakat. Ia akan mengingatkan orang-orang atau akan menghantui dan mengadudomba anggota-anggota masyarakat yang ditemuinya. Begitulah, sekali kata-kata dikeluarkan, dia tidak akan bisa ditarik lagi meskipun dengan kekuatan sekaliber presiden atau raja”.

Ilustrasi ini mengingatkan kita pada pribahasa bahwa “mulutmu adalah harimaumu” yang dapat menerkam dan menghempaskanmu di suatu saat, cepat atau lambat.

Statemen-statemen palsu dalam perspektif islam dipandang sebagai fitnah yang tidak hanya akan mendatangkan kehancuran bagi orang atau kelompok yang zalim dan jahat, tetapi akan berakibat pada inharmonisasi sosial, jika bukannya menghancurkan sendi-sendi kebersamaan rakyat. “Jagalah dirimu dari bencana fitnah yang tidak hanya akan menimpa mereka yang jahat saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah keras sekali dalam menjatuhkan hukuman. Demikian Allah berfirman (QS. 8/al-Anfal:25).

Sedemikian berbahayanya statemen yang tak berdasar yang dapat dikategorikan fitnah tersebut, hingga Allah menyebutkannya sebagai lebih kejam dari pembunuhan. “Fitnah lebih jahat daripada pembunuhan” Demikian tertulis dalam Al-Qurán (QS.2/al-Baqarah:191).

Kultum 24 Pebruari 2008

Membangun Budaya Kebangkitan II

Berdasarkan pengalaman sejarah umat Islam dimasa silam dengan kejayaaannya, sudah semestinya ummat Islam saat ini harus bangkit melalui budaya kebangkitan. Budaya kebangkitan itu memiliki paling tidak lima aspek penting yaitu :

1. Mempertebal keyakinan terhadap Islam sebagai agama yang apabila dijalankan dengan maksimal dan benar akan melahirkan perilaku dan tindakan yang benar pula, sehingga akan membuka jalan keselamatan dan jalan keunggulan, dan begitulah hendaknya perilaku serta tindakan seorang muslim selalu didasari oleh keyakinan itu.

2. Semangat yang tinggi untuk menguasai ilmu dan keahlian, sehingga melahirkan kaum intelektual yang memiliki pemikiran-pemikiran yang rasional yang berguna bagi kemajuan masyarakat Islam.

3. Etos kerja dan budaya kerja yang dilandasi oleh nilai-nilai yang diajarkan oleh agama akan melahirkan keunggulan dan ciri khas tersendiri.

4. Adanya konsep dan implementasi pemberdayaan yang jelas, sehingga pemberdayaan kaum yang lemah dalam rangka keadilan bagi hidup bermasyarakat dapat ditegakkan.

5. Adanya toleransi dan kebersamaan dalam pengembangan kehidupan bermasyarakat.

Berdasarkan aspek-aspek penting tersebut maka pembangunan budaya kebangkitan di kalangan umat Islam dapat dilakukan dengan upaya pemberdayaan. Pembedayaan dalam arti memberi kemampuan atau keberdayaan bagi umat Islam dapat dilakukan melalui tiga tahapan:

Tahapan pertama, Membangun etika sehingga memberi keyakinan bahwa segala bentuk keterbelakangan, kejahatan, kebejatan harus dibuang.

Tahap kedua, perubahan budaya dari tingkah laku dari budaya keterbelakangan menuju budaya kebangkitan. Dilihat dari pendekatan pemberdayaan, maka pendekatan pertama dan kedua ini baru berada pada tahap inisial. Artinya usaha pemberdayaan itu muncul dari kelompok-kelompok terbatas, yang ditujukan kepada orang yang beriman. Subjeknya adalah kelompok-kelompok penyadar. Sementara umat Islam menjadi objeknya.

Pendekatan ketiga adalah mengupayakan terciptanya gelombang kebangkitan dengan cara masing-masing ummat Islam menjadi pendukung budaya kebangkitan itu, dengan cara melaksanakan aktifitasnya masing-masing secara sungguh-sungguh, sistematis, dan terencana, serta disemangati oleh nilai-nilai yang terkandung dalam budaya kebangkitan itu. Pada tahap ini upaya yang dilakukan adalah mencapai tahap partisipatoris, upaya kebangkitan esensial yang tumbuh dari keseluruhan orang yang beriman secara keseluruhan, untuk kemajuan dan kebahagiaan umat Islam secara keseluruhan.

Penutup dari kajian di atas dapat disimpulkan bahwa untuk menggapai kemajuan dan kebangkitan umat Islam di masa yang akan datang, diperlukan penegakan budaya kebangkitan yang dilakukan secara partisipatoris yakni melibatkan partisipasi segenap ummat Islam dari berbagai kalangan, sehingga umat Islam harus menjadi subjek sekaligus objek bagi kebangkitan itu.

Kultum 25 Pebruari 2008

MAKNA SHADAQAH

Rasulullah saw bersabda yang artinya : “Senyummu untuk saudaramu adalah shadaqah, dan amar ma’ruf serta nahi mungkarmu adalah shadaqah, dan memberikan petunjuk kepada seseorang yang sesat adalah shadaqah, dan engkau menyingkirkan batu, duri, tulang dari jalan adalah shadaqah” (HR. Bukhari).

Shadaqah dalam pengertian yang umum artinya memberikan sesuatu berupa harta atau untuk diambil manfaatnya dengan baik oleh orang lain tanpa mengharap balasan apa pun dari shadaqah yang diberikan. Namun dalam hadits diatas terdapat suatu ajaran yang teramat mengesankan bahwa shadaqah tidak hanya diartikan dengan pemberian uang, namun hal yang dianggap sepele, seperti senyuman yang ikhlas, mengajak orang berbuat baik, dan melarang orang berbuat jahat atau mungkar, memberikan petunjuk jalan kepada seseorang yang sesat dalam perjalanannya, hingga menyingkirkan batu, duri, tulang dari jalan semuanya dianggap sebagai shadaqah.

Mengapa hal yang diuraikan dalam hadits ini dikategorikan sebagai shadaqah, mungkin karena ditinjau dari sisi manfaatnya yang besar. Seperti senyuman misalnya, kita mengetahui bahwa mengucapkan salam adalah perkara yang pokok dari ajaran Islam dalam tata krama. Dapat kita bayangkan jika salam diucapkan tidak diiringi dengan senyuman, tentunya akan membuat takut orang yang menjawab salam, sehingga apa yang akan kita utarakan kepadanya kurang mendapat respon atau sulit untuk menangkap apa yang akan kita ucapkan. Sehingga kesan yang ditinggalkan setelah itu pun menjadi kesan yang sangat buruk.

Itulah sebabnya mengapa Allah memesankan kepada Nabi dalam mengajak orang masuk kedalam Islam dengan teori senyum. Sebab senyum dapat melunakkan hati, memberikan perasaan gembira kepada orang lain, dan menjamin orang lain akan bergembira mendengar ucapan yang akan diutarakan. Sementara disisi lain bagi yang memberikan senyum dapat membuat muka menjadi berseri dan manis, membuat awet muda, karena wajah tidak keriput ketika sedang senyum.

Hadits di atas mengajak seorang mukmin untuk gemar melakukan shadaqah, meskipun tidak dengan uang atau harta benda. Sebab banyak hal lain yang dapat dilakukan dengan tindakan yang sangat berarti bagi orang lain seperti membatu orang yang sedang tersesat agar terhindar bahaya di perjalanan atau upaya-upaya lain yang bermanfaat bagi manusia.

Dalam suatu hadits disebutkan bahwa orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat kepada manusia. Dapat dipahami bahwa betapapun hebatnya seseorang jika tidak dapat memberi manfaat kepada orang lain, maka ia hanya dipandang sebagai manusia kerdil yang tidak berarti apa-apa, dan justru sebaliknya orang yang bisa memberi manfaat besar bagi kelangsungan hidup manusia, maka itulah sesungguhnya manusia yang besar.

Kultum 26 Pebruari 2008

MARASAKAN KEHADIRAN TUHAN

Ada cara beragama yang mempersepsikan Tuhan amat jauh dari kehidupan. Persepsi (pandangan) ini muncul dari pemahaman bahwa Tuhan Maha Tinggi dan Maha Gaib secara kaku, atau pemahaman bahwa Tuhan adalah Maha Pembalas dan Penghukum bagi setiap prilaku menyimpang. Pemahaman seperti ini jika berlangsung secara kaku akan melahirkan cara beragama yang amat gersang, jika bukannya menegangkan, sehingga peran agama tidak begitu berarti dalam memberikan semangat dinamika dan ketenangan bagi para penganutnya, terutama di saat-saat terjadinya perubahan sosial yang amat cepat, seperti era reformasi di Indonesia.

Cara beragama yang positif adalah cara yang mempersepsikan bahwa Tuhan selalu “hadir” menyertai manusia, memberi petunjuk (hudan) terhadap apa yang akan dan seharusnya dilakukannya, dan yang lebih penting lagi memberikan pengertian bahwa Allah sangat luas rahmatnya dan senantiasa memberikan pertolongan jika manusia mengalami kesulitan dalam kehidupannya.

Sesungguhnya Islam memberi petunjuk bahwa Allah senantiasa menyertai manusia dalam kehidupan kehidupan. Hal ini dapat di lihat umpamanya dalam ayat al-Qur’an, ketika Rasul bersama Abu Bakar di Gua Sur. Firman Allah : “Ketika keduanya berada dalam gua diwaktu dia berkata kepada temannya “Janganlah kamu berduka cita sesungguhnya Allah beserta kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Muhammad dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya. (Q.S. 9/al-Taubah:40).

Pada ayat lain juga disebutkan : “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi” (Q.S. 89/al-Fajr : 14). “Dan yang kami wahyukan kepadamu dari kitab (al-Qur’an) adalah yang haq, membenarkan apa-apa yang sebelumnya (kitab-kitab). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha melihat hamba-hambaNya”. (Q.S. 35/Fathir : 31).

Ayat-ayat di atas mengisyaratkan bahwa Allah SWT tidak pernah jauh dari manusia, apalagi meninggalkannya. Akan tetapi Dia selalu menyertai mereka.

Keyakinan akan kehadiran Tuhan dalam kehidupan seseorang yang beragama paling tidak akan memunculkan tiga hal :

1. Apabila melakukan amal (pekerjaan) yang baik ia merasa mendapat perkenan dari Allah, sekaligus menumbuhkan semangat kerja yang lebih tinggi. Pada sisi lain seringkali orang yang beribadah merasa mendapat respon dari Allah, sehingga dirinya merasa tenteram. Inilah yang pernah dirasakan para sufi ketika memperoleh “hal” dan orang-orang yang saleh.

2. Orang yang merasa kehadiran Tuhan dalam hidupnya tidak pernah merasa sendiri dalam melakukan aktifitas-aktifitas yang baik, sehingga akan muncul keberanian dalam dirinya.

3. Orang yang merasakan kehadiran Tuhan akan memiliki rasa pengendalian diri yang tinggi. Rasulullah Saw bersabda : “Bahwa ada tiga keadaan (manusia) yang berkaitan dengan iman, (1) dalam keadaan emosi seseorang mampu mengendalikan dirinya, (2) dalam keadaan berkuasa (menduduki jabatan) seseorang tidak akan melampaui hak-haknya, dan (3) dalam keadaan gembira, dia tidak melewati batas/berlebihan”.

Mengapa tiga keadaan tersebut dihubungkan dengan keimanan ? Sebab seorang mukmin dituntut untuk beriman bahwa Allah selalu hadir (ada), meskipun gaib. Setiap orang, jika memahami bahwa Allah SWT setiap saat hadir dalam hidupnya, ia akan senantiasa mengendalikan seluruh tindak-tanduknya.

Kultum 27 Pebruari 2008

Membangun Daya Tahan Keluarga Melalui Agama

Daya tahan keluarga perlu dibangun melalui jalur Agama. Memahami agama bukan hanya mengenal halal-haram, atau tata cara ibadah-ibadah wajib saja, melainkan juga diperlukan pengajaran pada pendalaman nilai-nilai ajaran yang dibawa oleh Agama.

Untuk lebih mengetahui nilai-nilai ajaran itu, manusia harus belajar, melakukan pengkajian agama melalui majlis ta’lim, majelis pengajian, diskusi dan berbagai cara pendalaman agama yang lain, seperti membaca, mengikuti seminar dan lain sebagainya, yang kesemuanya harus diikuti secara serius dan dilakukan secara terus menerus.

Pendalaman agama seperti inilah, yang bisa membuat diri manusia sadar akan dirinya. Sehingga terbinalah tauhid dan keimanan dalam dirinya, sehingga agama bagi dirinya bukan hanya sebagai pelengkap data, tetapi agama dapat memberi ketenangan, kedamaian, dan kecerdasan sendiri baginya.

Bagi seseorang yang ingin unggul dalam kehidupannya, ia juga harus mempelajari Al-Qur’an, dan juga dalam kesehariannya senantiasa memedomani Al-Qur’an dalam sikap dan prilaku, serta tindakan-tindakannya. Sebagaimana Firman Allah dalam QS.17/al-Isra’ : 82 : “ Dan Kami (Allah) tidak menurunkan al-Qurán kecuali agar dapat menjadi obat (penawar), serta rahmat bagimu …

Al-Qur’an sebagai penawar, maksudnya dapat menghilangkan segala bentuk penyakit hati, berupa ragu, nifak, syirik, prilaku yang menyimpang (dosa), dan Al-Qur’an juga dapat menyembuhkan penyakit kemaksiatan dan kebatilan. Sedangkan sebagai rahmat, Al-Qur’an dapat memberikan keimanan dan hikmah bagi para pencarinya, atau mendalami isi dan makna Al-Qur’an. Sebab orang yang menjadikan Al-qurán sebagai pedoman dalam beragama, merupakan kriteria orang yang paling berhasil dalam berbagai bidang.

Disamping menjadikan Al-qurán sebagai pembina hidupanya, seseorang juga perlu membina keseimbangan dalam kehidupan agar dapat membangun daya tahan bagi diri dan keluaraganya. Keseimbangan disini maksudnya adalah antara kepentingan duniawi dan kepentingan ukhrowi, kepentingan dunia tidak boleh diabaikan begitupula kepentingan akhirat, keduanya harus sejalan dan inilah yang dinamakan membina keseimbangan dalam kehidupan.

Disamping itu silaturahmi antar sesama keluarga dan rekan sesama profesi, dan dengan anggota masyarakat lainnya, juga perlu dibina, sebab diri kita adalah bagian dari mereka. Kita tidak boleh berdiri sendiri sehingga merasa tidak bertanggung jawab, baik material, moral dan spiritual terdadap keluarga, masyarakat atau perusahaan tempat kita bekerja.

Kiranya upaya pembinaan daya tahan terhadap serangan dan gangguan dalam kehidupan kita, diakhiri dengan banyak-banyak mencari, mengumpulkan segala informasi mengenai agama. Dan Insya Allah, dengan mengumpulkan informasi agama sebanyak mungkin, serta sering mengkomunikasikannya kepada orang lain, akan memberikan daya saring kepada kita terhadap segala macam gangguan dan cobaan hidup.

Kultum 28 Pebruari 2008

Membentuk anak yang sholeh dan sholehah

————————–

Setiap muslim tentunya menginginkan terbentuknya sebuah keluarga yang sakinah yang didalamnya penuh keberkahan dan ridho Ilahi. Rumah tangga dibentuk oleh dasar mawaddah dan rahmah merupakan impian setiap muslim. Setiap muslim juga menginginkan pula dikarunia anak-anak yang sholeh dan sholehah yang merupakan mutiara yang terindah yang tidak dapat digantikan oleh harta berapapun jumlahnya. Sebab anak yang sholeh dan sholeh adalah warisan amal yang tidak putus mengalir kepada orang tua apabila kedua orang tua itu telah meninggal dunia. Sebagaimana disebutkan dalam Hadits yang artinya : Sabda Rasululallah saw. : “Jika seorang anak Adam meninggal dunia maka putuslah amalnya kecuali tiga perkara, shadaqah jariyah dan atau Ilmu yang bermanfaat dan atau anak yang sholeh yang mendo’akannya”. (Hadits)

Jadi dengan demikian hendaklah seorang muslim mempersiapkan anak yang sholeh dengan mencurahkan perhatiannya upaya pembentukan anak-anak yang sholeh, yang tentunya diawali dengan pembentukan orang tua yang sholeh. Dalam hal ini Rasulullah SAW memberikan nasehat dan pelajaran kepada orang yang hendak berkeluarga dengan bersabda :

” Dapatkan wanita yang beragama, (jika tidak) niscaya engkau merugi” (HR.Al-Bukhari dan Muslim)

Begitu pula bagi wanita, hendaklah memilih orang-orang yang datang melamarnya sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh agama, dan mendahulukan laki-laki yang beragama dan berakhlak. Rasulullah memberikan pengarahan kepada para wali dan orang tida seorang gadis dengan bersabda : “Bila datang kepadamu pemuda yang kamu sukai agama dan akhlaknya, maka kawikanlah. Jika tidak kamu lakukan, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar” (Hadits)

Jadi dalam hal membentuk keluarga sakinah harus didahulukan dengan pemilihan bibit yang sholeh atau sholehah sehingga nantinya akan melahirkan anak-anak yang sholeh dan sholehah pula yang dapat mendo’akan kedua orang tuanya kelak jika telah tiada.

Berdasarkan tuntunan Rasulullah dalam kehidupan rumah tangga kita, Rasulullah memerintahkan kepada kita : “Jika seseorang diantara kamu hendak menggauli isterinya, hendaklah membaca:

ﺒﺳﻢﺍﷲ ﺍ ﻟﻟﻬﻡ ﺇﻧﺎ ﻧﻌﻮﺬ ﺒﻚ ﻣﻥ ﺍﻠﺸﻴﻃﺎﻦ ﻮ ﻧﻌﻮﺬﺒﻚ ﻣﻥ ﺃﻦ ﻴﺤﺿﺮﻮﻥ

“Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami”. Dengan demikian maka andaikata ditakdirkan keduanya mempunyai anak, niscaya tidak ada syaitan yang dapat mencelakakannya” (Hadits).

Sehingga dengan demikian ajaran Islam yang begitu indah sebagai upaya membentuk anak yang sholeh dan sholehah.

Kultum 29 Pebruari 2008

Mencederai Faktor Keunggulan I

Giat berusaha meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat, adalah salah satu sebab mengapa ummat Islam terdahulu unggul dibanding ummat yang lain. Keunggulan ummat Islam di era keemasan Islam di abad lampau itu mencakup segala bidang, yakni dalam hal ekonomi, menguasai dunia perdagangan dan hal itu didapatkannya dari upaya keras menerapkan ajaran Islam yang kaya akan nilai-nilai yang mengatur tentang persoalan ekonomi dalam arti yang luas.

Mereka yakin bahwa dengan bekerja secara baik, sungguh- sungguh, dan juga shaleh, sesuai dengan tugas dan profesinya merupakan juga ajaran Islam. Sehingga dengan keyakinan tersebut dapat muncul etos kerja yang tinggi di kalangan umat Islam.

Mereka juga terdorong oleh perasaan bahwa kepemimpinan dunia sesungguhnya berada di tangan umat Islam, sebab banyak ayat yang menyatakan bahwa manusia adalah khalifah, dan ummat Islam adalah khaira ummah (sebaik-baik ummat), dan manusia bertugas sebagai pemakmur bumi. Sehingga dengan keyakinan tersebut mereka bersikap layaknya pemimpin yang memiliki sikap yang arif, bijaksana, senantiasa bersikap lapang dada dan toleran (tasamuh) terhadap komunitas atau kelompok masyarakat lain.

Kecemerlangan mereka dalam mengamalkan ajaran Islam secara lebih dinamis didorong oleh pemahaman Islam yang rasional, yang tidak terpaku pada simbol-simbol formal. Dengan demikian mereka seakan tidak pernah “dikecewakan” oleh keyakinan mereka terhadap kebenaran dan keunggulan itu.

Memasuki abad-abad berikutnya, terutama setelah dunia Barat menemukan kemodernan, banyak umat Islam yang mencederai atau merusak faktor keunggulan yang telah diyakini oleh ummat Islam sebelum mereka, dan bahkan banyak diantara masyarakat muslim tidak lagi menganut budaya kebangkitan itu. Sehingga akibatnya umat Islam itu mengalami kemunduran di antaranya :

· Hilangnya keyakinan terhadap Islam, sebagai agama yang dapat memberikan jalan keluar dari problematika hidup, yang dapat memberikan jalan keluar yang terbaik. Bahkan di antara mereka ada yang merasa silau dan lebih tertarik pada jalan hidup yang lain yang tidak dibenarkan Islam.

· Pemahaman terhadap ajaran agama yang lebih cenderung refressif dan tidak berkembang yang cenderung mengenal Islam hanya sebatas kulit atau hanya dalam pelaksanaan ibadah sholat dan puasanya saja. Atau melihat Islam hanya sebatas ibadah tanpa keinginan untuk menelusuri pemikiran-pemikiran Islam yang terkandung dalam setiap ajaran yang dipesankan oleh Nabi saw. Padahal Islam memiliki pandangan hidup yang tentu saja telah dijamin kebenarannya. Umat Islam yang telah kehilangan keislamannya tadi, akhirnya kehilangan cara pandang tentang kehidupan dan masa depannya.

· Sebagai akibat masyarakat yang tidak memiliki pedoman yang kuat, maka sikap saling percaya di kalangan umat mulai sirna. Akibatnya muncul sikap saling curiga, yang pada gilirannya memunculkan fenomena dan kenyataan perpecahan (dis-integrasi) diantara ummat Islam dalam berbagai tingkat kehidupan.

· Semangat untuk peningkatan ilmu pengetahuan dan keahlian mulai menurun, yang menyebabkan tidak adanya prinsip-prinsip budaya dalam upaya memerangi keterbelakangan mereka.

Berdasarkan hal itu ummat Islam harus dapat bangkit dari keterpurukannya dengan segala daya dan upaya agar dapat hidup ditengah kemajuan ilmu dan teknologi yang canggih saat ini. Upaya-upaya apa saja yang harus dilakukan ummat Islam dalam rangka kebangkitan itu merupakan hal yang harus diusahakan, secara lebih lanjut akan kita bahas pada pertemuan berikut.

Kultum Januari 2008

Juni 18, 2008

Kultum 1 Januari 2008

THAHARAH DAN PENSUCIAN DIRI

Sebagai makhluk ciptaan Allah tugas terpenting manusia adalah mengabdi kepadaNya dengan beribadah, sebab sebagaimana firmanNya : “ Dan tidak Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu” (QS.5/al-Dzariyat: 56). Bentuk ibadah ada dua macam, yakni ibadah mahdhah seperti sholat dll, maupun ghairu mahdhah diantaranya ibadah sosial dan ekonomi.

Dalam rangka mengabdi dan mendekatkan diri kepada Allah, kepada manusia diharuskan untuk menyesuaikan diri dengan sifat-sifat Allah yang agar ibadah yang mereka lakukan mendapat perkenan dari Tuhan. Dengan dimengertinya sifat-sifat Allah tersebut maka manusia akan menemukan pintu masuk dalam menjalankan ibadah. Menurut informasi al-Qur’an yang disebutkan bahwa Allah swt. memiliki sifat zhahir dan yang batin, firman-Nya :

“Dialah Yang Maha Awal dan Yang Maha Akhir; Yang Zhahir dan Yang Batin dan Dia Maha Mengetahui atas segala sesuatu” (QS.57/al-Hadid:3).

Dalam melakukan Ibadah dalam rangka pendekatan manusia kepada Allah sebagai zat Yang Zhahir dan Yang Batin itu, maka perlu persiapan lahir dan batin misalnya ketika hendak melakukan ibadah shalat yang disyaratkan pensucian diri lahir dan batin.

Dalam pensucian (thaharah) lahir dengan pelaksanaan wudhu’. “Seorang muslim harus membasuh tangannya sampai pergelangan tangan tiga kali, berkumur dengan air yang dimasukkan ke dalam mulut dengan tangan kanan, menghirup air ke dalam lubang hidung kemudian menghembuskannya, tiga kali, membasuh muka tiga kali. Lalu dilanjutkan dengan membasuh tangan kanan lebih dahulu, lalu tangan kiri sampai siku, tiga kali, menyapu kepada dengan bagian dalam jari-jari kedua tangan, memasukkan kedua jari telunjuk ke dalam gendang telinga dan menyeka bagian belakang telinga dengan ibu jari. Kemudian membasuh kaki kanan dan kaki kiri sampai pergelangan kaki tiga kali”.

Adapun pensucian (thaharah) batin harus dilaksanakan karena Allah Swt juga adalah zat Maha Batin, sehingga pelaksanaan wudhu dalam dimensi batin adalah permohonan rahmat, ampunan dan penjagaan Allah Swt terhadap dirinya. Jadi seseorang hendaklah berdo’a kepada Allah agar membersihkan dirinya dari dosa-dosa yang telah dilakukan melalui kedua tangannya, baik disengaja atau tidak disengaja. Ketika berkumur-kumur ia berdo’a agar Allah membersihkannya dari dosa-dosa yang dilakukan oleh mulutnya. Ketika membersihkan hidung ia bedo’a agar Allah mengizinkannya menghirup keharuman sorga. Ketika membasuh muka ia berdo’a agar menghilangkan kegelapan yang telah menodai wajahnya dan menyinari wajahnya dengan cahaya hikmah dan kebijaksanaan. Ketika membersihkan kedua tangan (kanan dan kiri) seorang muslim berdo’a kepada Allah agar menyerahkan buku catatan amal-amalnya ke tangan kanannya, bukan ke tangan kirinya seperti yang dilakukan Allah kepada orang-orang yang berdosa.

Ketika membasuh kakinya, dia memohon agar ia dibimbing ke jalan yang benar dan ketika membasuh kaki kirinya dia memohon agar dilindungi dari bisikan-bisikan setan yang berusaha membawanya ke jalan kehancuran yang menyimpang dari segala kebajikan.

Thaharah dalam dimensi lahir dan batin seperti dikemukakan di atas menjadikan seseorang dapat mendekat kepada Allah dan memperoleh rahmat serta ampunan-Nya.

Kondisi kesucian adalah kondisi yang sangat disukai Allah pada diri seseorang, sebagaimana firmanNya :

إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri” (QS.2/al-Baqarah: 222)

Kecintaan Allah menjadi modal utama bagi seseorang untuk mencapai kesuksesan sebab dengan kecintaan itulah akan membuka pintu rahmat dan kasih sayang Allah.

Kultum 2 Januari 2008

Manajemen kepemimpinan Nabi

Ternyata kesuksesan Nabi dalam membangun masyarakat Madinah menjadi masyarakat yang islami tidak lepas dari tehnik managemen yang digunakannya.

Dalam ilmu manajemen, kesuksesan dalam kepemimpinan dapat diraih manakala menjalankan empat tahapan berikut ini, yakni: Perencanaan (planning);Pengorganisasian (organizing); Pemotivasian (motivating); Pengendalian (controling).

1. Perencanaan (planning); yakni penyusunan tujuan dan sasaran termasuk garis-garis besar yang harus dilalui untuk pencapaian tujuan dan sasaran tersebut.

2. Pengorganisasian; yaitu proses pengumpulan sumber daya manusia, modal dan peralatan-peralatan dan penyusunan cara-cara yang paling efektif untuk mencapai tujuan itu.

3. Pemotivasian; yakni pengarahan (directing) komunikasi (communiting) dan pemanduan (leading).

4. Pengendalian, yaitu mengevaluasi hasil yang dicapai dengan rencana awal yang telah ditetapkan, dan perlu diambil tindakan penyesuaian apabila terdapat penyimpangan-penyimpangan.

Keempat hal diatas sudah dijalankan oleh Nabi saw dalam kepemimpinannya, yakni bagaimana Nabi pertama kali menjelaskan tujuan diutusnya beliau, dan kemudian bagaimana kemampuan beliau memotivasi dan mempengaruhi perilaku manusia untuk mendukung tujuan risalahnya itu.

Selama di Mekkah beliau gencar mengajarkan tauhid, memotifasi manusia dengan dakwah sirran (dakwah sembunyi-sembunyi) mengungkapkan tujuannya dengan rumusan yang jelas dalam kalimat yang indah dan mengagumkan dan mudah dipahami. Baik dengan menggunakan ayat-ayat maupun melalui berbagai hadisnya. Sehingga upaya beliau menegakkan tauhid menggantikan keberhalaan berhasil.

Dan setelah itu beliau dengan pemikiran cemerlang seorang pemimpin yang memiliki visi masa depan, memutuskan untuk melanjutkan dakwah dengan hijrah ke Madinah. Disana beliau mengingatkan manusia akan posisinya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi yang bertanggung jawab menegakkan moral dan menaati norma-norma yang ada. Beliau bertindak sebagai khalifah (pemimpin) menggandeng para tokoh dari berbagai suku dan pemuka agama dari berbagai agama untuk bersama-sama menjalankan misi dan tujuan masing-masing. Beliau adalah mediator dari berbagai kalangan dan tidak jarang beliau diminta oleh berbagai suku untuk memutuskan berbagai kasus hukum yang sulit dan tidak bisa dipecahkan.

Kalau ditelusuri kiprah Rasul membawa masyarakat menuju jalan Tuhan sesuai tuntutan risalahnya dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Kejelasan rumusan tujuan dan sasaran yang ingin dicapainya.

2. Memiliki visi masa depan dan kemampuan memanfaatkan peluang secara cemerlang.

3. Kemampuannya menggalang dan mempersatukan masyarakat yang pluralistik untuk bersama-sama mencapai tujuan.

4. Sikap egalitarian dan musyawarah serta menyediakan kesempatan bagi tumbuh dan berkembangnya pribadi yang dipimpinnya.

5. Sifat istiqamah dan konsekwen dalam menegakkan keimanan dan keislamannya.

6. Mampu berbicara dengan masyarakat sesuai dengan kemampuan mereka.

7. Kejujuran, kesesuaian kata dengan perbuatan, dan gagasan dengan tindakan.

Ketujuh karakter ini dapat, dan seyogiyanya menjadi inspirasi mengembangkan nilai-nilai manajemen yang kita tekuni untuk menciptakan masyarakat yang islami di zaman kita.

Kultum 3 Januari 2008

SISTEM PEMBINAAN TENAGA KERJA SEUTUHNYA MENURUT ISLAM

Kemajuan suatu perusahaan sangat tergantung pada kualitas SDM-nya atau karyawan dan staf yang mengelola dan sekaligus menjalankan operasional di perusahaan tersebut. Oleh sebab itu perlu dilakukan pembinaan SDM yang tepat, sebab sebagaimana Al-Qur’an menyatakan bahwa kemakmuran dunia ini hanya diwariskan kepada hamba-hamba Allah yang sholeh:

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

“Dan sesungguhnya kami telah menetapkan di dalam zabur sesudah peringatan (Taurat) bahwa sesungguhnya bumi akan diwarisi hamba-hambaku yang sholeh.” (Q.S. al-Anbiya : 105).

Bumi adalah simbol kemakmuran yang diwariskan kepada mereka yang mampu menjaga dan mengelola bumi dengan kesolehannya. Hamba yang sholeh memiliki keahlian yang cukup dibidangnya atau profesinya yang paling tidak memiliki tiga kehandalan, yaitu : Kehandalan iman, Taqwa, dan Shaleh.

Tiga kualitas tersebut harus terbina secara baik dan utuh dalam diri karyawan dengan cara : Pengkayaan rohani dan jasmani. Rohani terdiri dari ruh, hati dan intelektual sedangkan jasmani terdiri dari tubuh atau jasad manusia itu sendiri.

Pengkayaan rohani dikembangkan melalui ibadah dan pembinaan moral, sehingga hati menjadi bersih dan tulus demi meraih etos kerja yang tinggi. Biasanya upaya yang bisa diupayakan dengan bimbingan agama, pengajaran etika (akhlak), Ibadah dan memberikan ketauladanan yang tinggi.

Pengkayaan jasmaniah dibina melalui kesejahteraan finansial dan memberikan fasilitas olah raga dan juga pelayanan kesehatan, sehingga karyawan memiliki kebugaran, kesehatan dan kekuatan fisik.

Pengkayaan intelektual dapat dibina melalui pendidikan dan pengetahuan, pengamatan (nazhar), perenungan (tadabbur), dan penelitian, serta menambah pengalaman. Meningkatkan kemampuan intelektual juga dapat dilakukan dengan banyak konsultasi dan diskusi dengan orang yang lebih pengalaman, selalu mengevaluasi hasil kerja sehingga ada peningkatan hasil kerja sehingga semakin berkualitas.

Seluruh pembinaan tenaga kerja hendaknya dilakukan atas dasar keimanan dan ketaqwaan, sebab dengan demikianlah karyawan memiliki ketangguhan, profesionalisme yang tinggi, terampil, tangguh, dan memiliki ketabahan dalam menghadapi segala macam tantangan dan cobaan.

Kultum 4 Januari 2008

KEUTAMAAN BERTAUHID

Berbicara tentang keutamaan sebenarnya terkandung unsur wajib didalamnya. Jadi bukan berarti bahwa ketika kita berbicara tentang keutamaan tauhid berarti tauhid itu tidak wajib, sebab tidak mungkin seorang hamba mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah swt dengan suatu amalan tanpa bertauhid kepadanya, karena kunci suatu amal akan diterima adalah dengan bertauhid kepada Allah swt.

Diantara keutamaan tauhid adalah :

1. Mendatangkan semangat kepada Allah dalam beramal.

Orang yang bertauhid akan merasa dekat kepada Allah, sehingga dalam suasana hatinya yang ada hanya Allah. Dan itulah yang selalu diliputi kesemangatan dan kekhusuyuannya dalam melakukan ibadah, baik dalam menyendiri maupun ketika bersama orang banyak, tidak perlu diperhatikan atau tidak oleh orang lain. Sebaliknya orang yang tidak bertauhid dikatakan sebagai orang yang riya’ karena hanya melakukan ibadah jika dalam fikirannya ada yang memperhatikan, atau paling tidak orang lain mengetahui bahwa dirinya telah berbuat ibadah.

1. Menambah kedekatan pada Allah

Orang yang amalnya tidak dicampuri oleh riya’ atau beramal penuh dengan ketauhidan kepada Allah akan mengantarkan seseorang pada kedekatan kepada Allah swt, karena ia melakukan ibadah demi ketaatan dan memurnikan ibadah hanya karena Allah Swt..

3. Mendapatkan Hidayah

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS.Al-An’aam: 82)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Mereka adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya kepada Nya semata yang tidak ada sekutu bagi Nya, dan mereka tidak menyekutukan Allah Swt. sedikitpun dalam berbagai hal. Mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan pada hari Qiamat dan mendapatkan petunjuk di dunia dan akhirat.”

Syekh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin –hafizhalullah- mengatakan: Firman Allah Swt. (Wahum Muhtaduun; dan merekalah orang-orang yang mendapatkan hidayah) maksudnya di dunia, (mendapatkan hidayah) menuju syari’at Allah Swt. dengan ilmu dan amal. Mendapat hidayah dengan ilmu adalah hidayah irsyaad, sedangkan mendapat hidayah dengan amal adalah hidayah taufiq. Mereka juga mendapatkan hidayah di akhirat yang menuntunnya menuju surga. Sedangkan hidayah untuk orang-orang yang zhalim adalah yang menuntunya pada jalan menuju neraka jahim.

4. Diliputi ketenangan, sebagaimana firman Allah Swt. diatas :

أُولَئِكَ لَهُمُ الأَْمْنُ

“mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan”

Yakni mendapatkan ketenangan dan rasa aman baik di dunia begitu pula di akhirat.

Kultum 5 Januari 2008

MEMBINA DAYA TAHAN KELUARGA MODERN

Mengingata banyaknya permasalahan yang muncul ditengah masyarakat yang ditandai dengan munculnya berbagai kasus kriminal seperti bunuh diri, lari dari rumah (bagi pemuda), kawinan di luar nikah, prilaku kekerasan, pembunuhan, pemerkosaan, penganiyaan, narkoba, judi, dan lain-lain. Menurut pengamat sosial bahwa penyebab timbulnya penyakit masyarakat tersebut dikarenakan manusia mengalami “frustasi eksistensial” yakni sikap keputus-asaan karena keinginan materialis yang tidak terpenuhi, seperti keinginan berkuasa, keinginan hidup mewah, keinginan memiliki banyak harta, haus pekerjaan, keinginan seks yang tidak terkendali dan keinginan-keinginan materialis lainnya.

Agar seseorang tetap eksis dalam kemanusiaannya dan tidak jatuh dalam penyakit yang meresahkan masyarakat akibat “frustasi eksistensial” maka diperlukan upaya-upaya untuk memperkokoh ketahanan mental melalui pendalaman Agama, diantaranya adalah :

Pertama, memberikan pemahaman agama secara mendalam dan terus menerus. Paling tidak setiap hari harus ada disampaikan kepada anggota keluarga pengetahuan tentang nilai-nilai agama minimal dalam waktu 7 menit (kultum).

Kedua, membangun tauhid dan keimanan. Membangun Tauhid yakni melakukan upaya-upaya mendekatkan diri kepada Allah, seperti puasa sunnah, sholat-sholat sunnah, shadaqah dll. Sedangkan membangun keimanan adalah melakukan upaya-upaya agar bisa menambah ketaatan kepada Allah swt lewat zikir, karena diyakini dapat memberi ketenangan, kedamaian, dan kecerdasan spiritual.

Ketiga, memedomani Al-Qur’an yakni dengan menjadikannya sebagai pemandu dalam penyelenggaraan kehidupan. Bahkan di samping sebagai pedoman hidup Al-Qur’an juga dapat menjadi pelipur lara bagi kegerahan manusia modern. Firman Allah :

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَارًا

Kami turunkan dalam Al-Qur’an apa yang menjadi obat dan rahmat bagi orang yang beriman; tetapi bagi orang durjana akan menambah kerugian demi kerugian” (QS.17/al-Isra’ : 82)

Keempat, mejadikan taqwa sebagai kriteria keberhasilan, sebab hanya itu yang Allah pandang padi diri seseorang yang sukses.

Kelima, mengembangkan sikap ramah, sopan dan lemah lembut. Dikatakan lemah lembut bukan berarti tidak ada ketegasan, melainkan lebih mengacu pada keramahtamahan dengan standard disiplin. Sehubungan dengan sikap ramah dan sopan santun itu, Nabi menyebutkan bahwa seseorang yang penuh keramahan akan mendapat simpatik dari penguasa alam semesta. Oleh karenanya berkatalah yang benar. Jika tidak, lebih baik diam saja.

Keenam, membina keseimbangan dalam kehidupan antara material dan spiritual, antara rohani dan jasmani, antara visi dunia dan akherat, dan antara modernitas dan spiritualitas.

Ketujuh, mengembangkan silaturahmi sesama anggota keluarga dan dengan tetangga dan teman sekerja. Ini penting mengingat satu ancaman kemanusiaan modern adalah tidak adanya waktu anggota keluarga untuk bersilaturahmi.

Kedelapan, menjadikan keluarga sebagai tiang penyangga masyarakat baik dari sudut rohani, ekonomi, sosial dan kebersamaan. Dan keluarga memiliki tanggung jawab, baik moril maupun material untuk menjaga dan mengembangkan spiritual (keagamaan) ditengah masyarakat.

Kesembilan, mengumpulkan informasi mengenai perkembangan dunia dan kemanusiaan serta daya saing yang handal.

Hanya dengan demikian keluarga modern dapat membentengi anggotanya dari permasalahan yang belakangan ini banyak menimpa masyarakat.

Kultum 6 Januari 2008

KEAGUNGAN RUMAH TANGGA Rasulullah SAw

Sebagaimana yang sudah dimaklumi bahwa Rasulullah menikahi sembilan isteri. Kesemuanya kemudian dikenal dengan sebutan Ummahatul Mukminin, yang artinya ibundanya orang-orang mukmin.

Rumah Tangga Rasulullah saw. patut menjadi contoh bagi orang-orang mukmin khususnya dalam penegakan keadilan kepada para istri dalam hal pembagian giliran ataupun urusan duniawi lainnya. Wujud keadilan beliau dilukiskan dalam beberapa riwayat berikut ini:

1. kan oleh ‘Aisyah Radhiallaahu anha : “Setiap kali Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam hendak melakukan lawatan, beliau selalu mengundi para istri. Bagi yang terpilih akan menyertai beliau dalam lawatan tersebut. Beliau Shalallaahu alaihi wasalam membagi giliran bagi setiap istri masing-masing sehari semalam.” (HR. Muslim)

Sahabat Anas Radhiallaahu anhu juga meriwayatkan salah satu bentuk keadilan beliau kepada para istri-isterinya, bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mempunyai sembilan orang istri. Apabila beliau telah membagi giliran bagi para istri, beliau hanya bermalam di rumah satu orang istri yang tiba masa gilirannya. Biasanya para Ummahaatul Mukminin berkumpul setiap malam di rumah tempat dimana beliau bermalam ketika itu. Pernah pada suatu malam, mereka berkumpul di rumah ‘Aiysah Radhiallaahu anha yang sedang tiba masa gilirannya. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengulurkan tangannya kepada Zaenab Radhiallaahu anha yang hadir ketika itu. ‘Aisyah Radhiallaahu anhu berkata: “Itu Zaenab!” Beliau segera menarik tangannya kembali.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam suasana rumah tangga Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam yang agung, suasana harmonis penuh dengan bimbingan taufik dan hidayah dari Allah Subhannahu wa Ta’ala, karena beliau senantiasa menganjurkan istri-istri beliau untuk giat beribadah sesuai seruan Allah :

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerja-kannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.” (Thaha: 132)

Aisyah Radhiallaahu ‘anha menceritakan: Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa mengerjakan shalat malam sementara aku tidur melintang di hadapan beliau. Beliau akan membangunkanku bila hendak mengerjakan shalat witir.” (Muttafaq ‘alaih).

Rasulullah saw. menghimbau ummatnya untuk mengerjakan shalat malam dan menganjurkan agar suami istri hendaknya saling membantu dalam mengerjakannya. Sampai-sampai sang istri boleh menggunakan cara terbaik untuk itu, yaitu dengan memercikkan air ke wajah suaminya! demikian pula sebaliknya. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bahwa beliau bersabda: “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati seorang suami yang bangun pada malam hari untuk mengerjakan shalat malam lalu membangunkan istrinya untuk shalat bersama. Bila si istri enggan, ia lalu memercikkan air ke wajah istrinya (supaya bangun)”.

Kultum 7 Januari 2008

Agama fitrah

Seorang Muslim adalah khalifah Allah di muka bumi. Keberlangsungan kehidupan di atas bumi adalah kewajibannya. Islam melarang ummatnya menjauh dari pentas kehidupan dunia, seperti kehidupan yang dianggap suci oleh ummat budha dengan bertapa atau mengasingkan diri dari hiruk pikuk kehidupan. Begitupula bagi seorang Hindu bahwa menjauh dari kehidupan dunia berarti seseorang telah masuk dalam kedamaian sejati sehingga seorang hindu sangat bercita-cita untuk menjadi shadu karena itu adalah posisi tertinggi dikalangan mereka. Demikian pula dalam agama Kristen Katolik yang menganggap untuk mencapai kehidupan yang sempurna, seseorang harus bisa membuat jarak yang cukup jauh dengan keduniaan seperti kehidupan membujang (celibate) seperti yang dilakukan oleh Bunda Maria dalam pengertian mereka.

Lain halnya dengan Islam, yang diharuskan bagi ummatnya untuk terlibat dalam proses-proses sosial, dan mereka harus bisa menjadi saksi sejarah bagi kelangsungan hidup makhluk manusia sebagai tanggung jawab selaku khalifah Allah.

Kesucian dalam Islam adalah kemampuan manusia dalam memelihara fitrahnya dari kerusakan sebab sebagai manusia, ia bukanlah malaikat yang memiliki kekuatan spiritual yang sangat tinggi. Manusia memiliki nafsu seperti makan, minum, beristri dan beranak-pinak, sedangkan malaikat tidak demikian. Jadi sangan lumrah sekali jika para malaikat dianggap sebagai salah satu diantara makhluk Allah paling suci karena ketiadaan hawa nafsu.

Manusia sebagai makhluk Allah ditempatkan di muka bumi, dan diberikan nafsu agar dapat menikmati kehidupan dunia dalam batas-batas tertentu yang dihalalkan Allah swt. Sifat naluriah manusia untuk mendapatkan keturunan merupakan proses panjang yang harus dilalui dengan mengikuti tuntunan Allah (swt) agar kesucian dirinya tetap terjaga diantaranya dengan menjaga spiritual dan kesalehannya sebagai seorang makhluk Allah.

Ukuran kesalehan menurut agama Islam bukan dengan memutuskan hawa nafsu tetapi dengan memeliharanya dan mengendalikannya. Islam melarang seorang Muslim mengharamkan diri dari makan dan minum dengan keinginan sendiri. Islam bahkan mengharamkan tindakan berlebihan dalam makan dan minum karena dianggap sebagai perbuatan yang mubazzir. Batasan yang diberikan oleh Islam sudah sangat jelas, yakni berbuat di tengah-tengah : tidak berlebihan dan tidak menjauhi sama sekali.

Islam tidak melarang mereka menikmati keindahan hidup asalakan tidak berlebihan dan sesuai kebutuhan. Islam sangat membenci kemewahan yang melampaui batas kemampuan, sebab hal itu dapat menjatuhkan kesucian dirinya. Untuk itulah Islam mewajibkan seorang hamba untuk mengekang diri pada waktu-waktu tertentu dengan berpuasa agar dirinya terlatih dalam mengikuti arus kehidupan dan tidak terjerumus dalam tipu daya hawa nafsu.

Prinsip kesederhanaan sangat ditekankan dalam Islam, sebagaimana hadits Rasulullah saw menyebutkan : “sebaik-baik perkara adalah pertengahannya”, yang tujuannya agar manusia tidak mengalami gangguan ketenangan hidup dan kebahagiaan hatinya akibat keinginan yang terlalu ditekan atau keinginan yang terlalu diperturutkan.

Dalam menjalankan perintah agama juga demikian. Seperti terlalu berlebihan dalam memahami agama sehingga memandang hina agama lain atau bahkan saudara seagama tapi lain pemahaman dengannya, atau terlalu longgar sehingga tidak memperhatikan sunnah-sunnah dalam ibadah melainkan hanya yang wajib itupun dengan memilah-milah mana yang paling mudah dilakukan dan sesuai dengan selera bukan seperti yang dituntunkan oleh Rasulullah saw.

Inilah asal muasal timbulnya ajaran sesat yang tidak sesuai sebenarnya dengan ajaran Islam, begitupula dengan hati nurani dan fitrah manusia. Maka oleh sebab itu kalau kita ingin bicara tentang fitrah, atau ingin mengetahui ajaran yang sesuai dengan batasan naluri manusia, maka tidak adal jalan lain selain kembali pada ajaran Islam yang murni, sebab agama yang paling baik adalah agama yang tidak terdapat didalamnya suatu ajaran pun yang bertentangan dengan fitrah manusia.

Kultum 8 Januari 2008

menyambut Tahun Baru Hijriyah

Bulan Muharram yang merupakan awal bulan dalam tahun hijriyah yang untuk tahun ini kita telah berada di tahun 1429 H. Tahun hijrah merupakan moment yang sangat penting bagi seorang muslim yang paling tidak harus memunculka adanya kesadaran baru dalam diri seseorang diantaranya :

Pertama, kesadaran bahwa usia telah berkurang sementara simpanan pahala masih relatif kurang, tidak sebanding dengan nikmat-nikmat Allah yang telah kita manfaatkan. Detik demi detik dalam kehidupan kita selalu mengalir nikmat Allah namun kesadaran untuk bersyukur tak kunjung hadir dalam kehidupan kita.

Kedua, kurangnya kita menaruh perhatian terhadap tanda-tanda alam bahwa telah terjadi pergeseran alam yaitu dengan munculnya bulan sabit tahun baru diufuk barat yang menandakan tibanya tanggal 1 Muharram. Kita terlalu sibuk dengan urusan kita sendiri tanpa mau peduli akan wujud alam ini. Padahal Allah SWT selalu mengajak kita agar memperhatikan pergantian waktu untuk pelaksanaan kewajiban ibadah terhadapNya.

Dalam menjalani shalat misalnya, Allah menegaskan dalam Al-Qur’an agar ditegakkan pada waktu-waktu tertentu, firman Allah :

فَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

“maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Nisa: 103).

Secara lebih rinci hadits Rasulullah telah menginformasikan kepada kita tentang waktu pelaksanaan sholat, bahwa waktu shalat Dzuhur setelah tergelincir matahari, shalat maghrib, setelah terbenam matahari, shalat subuh setelah terbit fajar dan lain sebagainya. Dalam menlaksanakan puasa Ramadlan, kita juga diajarakan oleh Rasulullah SAW agar memulainya setelah melihat bulan tanggal satu Ramadlan, dan mengakhirinya pun setelah melihat bulan akhir Ramadhan (HR. Imam Muslim). Begitupula Ibadah haji diperintahkan kepada kita agar dilaksanakan pada bulan yang telah ditentukan, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah;

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi” (QS. Al-Baqarah: 197).

Dengan demikian dapat kita simpulkan betapa eratnya aktifitas ibadah kita dengan pergantian waktu. Seolah ada pesan untuk kita agar memperhatikan dengan cermat alam ciptaan Allah di jagad raya dengan kesadaran untuk melakukan ibadah-ibadah khusus kepadaNya.

Bulan Muharram yang menandakan sebagai awal tahun Hijriyah memiliki arti yang sangat penting dalam sejarah ummat Islam. Sebab seperti awal turunnya Al-Qur’an dan bulan kemenangan ummat Islam pada peperangan Badar sebagai perang yang paling dahsyat terjadi pada bulan muharram ini. Bahkan dengan diketahuinya awal bulan hijrah ini, menjadi dasar penentuan dari hari besar Islam seperti penentuan hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Dari sini, hendaklah kita lebih banyak bercermin dari kejadian masa lalu yang menjadi sejarah bagi kehidupan kita agar tidak mengulang kesalahan itu lagi, sebagaimana sebuah hadits Rasulullah menyebutkan: ” Hendaklah seorang mu’min tidak terjerumus dalam jurang yang sama dua kali”. ( HR Muslim). Dengan menjadikan momentum hijrah sebagai peringatan, berarti kita telah membangun masa depan yang lebih baik sehingga kita kemudian menjadi pribadi yang kokoh, tangguh dan handal.

Kultum 9 Januari 2008

KEWAJIBAN MELAKUKAN HIJRAH

Membicarakan peristiwa hijrah Rasulullah Saw dari Mekkah ke Madinah, (berangkat dari Mekkah pada hari Kamis malam tanggal 1 Rabiul Awal/16 Juni 622 M, sampai Yasrib/Madinah sebelum zhuhur hari Senin 12 Rabiul Awal/28 Juni 622 M) seakan tidak pernah kering dari makna-makna yang kian hari semakin relevan dengan perkembangan sejarah manusia. Sebab momentum itu telah memberikan kepada umat Islam sebentuk harapan bagi masa depan yang lebih baik.

Bagi kita di zaman kini, refleksi peristiwa hijrah tersebut semakin terasa signifikansinya. disaat kita berada dalam pergantian abad (dari abad 20 memasuki abad 21). Sebab keberhasilan menyongsong masa depan itu sangat ditentukan oleh pengembangan sumber daya manusia.

Itulah sebabnya bagi kita umat Islam yang memiliki harapan terhadap masa depan itu sangat bermakna jika mencoba menkaji refleksi strategi nabi Muhammad, termasuk dalam peristiwa hijrah bagi kehidupan kita di zaman kini, terutama dalam pengembangan sumber daya manusia. Apalagi jika dihubungkan dengan petunjuk Tuhan agar kita semua senantiasa dapat menauladani hidup para nabi (QS.60/al-Mumtahanah:6).

Istilah hijrah diartikan sebagai perpindahan seseorang dari suatu tempat yang lain. Sedangkan menurut Islam, hijrah diartikan sebagai “Keluarnya Rasulullah Saw, dari kota Mekkah, kota kelahirannya, menuju Yasrib/Madinah, suatu daerah yang lain, dengan niat dan kepentingan disamping untuk keselamatan dirinya dan juga demi pengembangan ajaran Islam yang wajib disiarkannya, dan akan kembali lagi pada suatu waktu kemudian”.

Al-Qur’an al-Karim secara mengesankan menggambarkan bagaimana strategisnya momentum hijrah itu, dan Allah mengancam mereka yang tidak melaksanakannya, seperti terlihat dalam firman Allah swt. :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَالَّذِينَ آوَواْ وَّنَصَرُواْ أُوْلَـئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَالَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يُهَاجِرُواْ مَا لَكُم مِّن وَلاَيَتِهِم مِّن شَيْءٍ حَتَّى يُهَاجِرُواْ وَإِنِ اسْتَنصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلاَّ عَلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah, serta berjihad dengan harta dan jiwa pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberikan tempat, kediaman dan pertolongan (kepada muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi”. “Dan terhadap orang-orang yang beriman tapi belum berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. 8/al-Anfal:72)

Momentum hijrah mempunyai makna yang strategis, sehingga peristiwa tersebut tidak tepat kalau dipahami sebagai pelarian Nabi dari penderitaan karena tekanan kaum musyrikin di Mekkah. Seperti pemaham yang banyak sekali dilontarkan oleh para orientalis, yang belum memahami ajaran Islam dan sirah Nabi secara benar.

Kultum 10 Januari 2008

MAKNA HIJRAH BAGI KEHIDUPAN MUSLIM modern

Paling tidak ada lima makna yang amat strategis yang terkandung dalam momentum hijrah Nabi, yang dalam tingkat tertentu dapat kita refleksikan pada kehidupan Muslim modern:

1. Hijrah sebagai strategi perjuangan Nabi. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana Nabi membangun basis dan kekuatan umat Islam dari bawah yaitu membangun Mesjid Quba. Sebab mesjid dapat dipandang sebagai pusat melakukan ibadah dan tempat mengembangkan kebudayaan Islam. Hijrah juga dilakukan agar lebih leluasa memberi pemahaman tentang Islam dan agar kaum muslimin dapat melaksanakan pengamalan Islam secara sempurna dalam kehidupan mulai dari pelaksanaan ibadah hingga pelaksanaan seluruh ajaran Islam tentang sosial, ekonomi dan politik.

2. Penegasan identitas umat Islam. Peristiwa ini menguji sampai dimana orang beriman sanggup dan dapat menegaskan identitas keislamannya. Kalau ketika di Mekkah mereka sangat sulit dan tidak berani menegaskan identitasnya, maka ketika di Madinah umat Islam harus berani menegaskan identitas keimanan dan keislaman agar mereka dapat membangun masyarakat Islam yang kaffah (menyeluruh). Bahkan ketika Nabi kembali ke Mekkah dan berhasil menaklukkannya, status keislaman harus dapat ditunjukkan meskipun ummat dari berbagai agama lain (Yahudi dan Nashrani) diberi kebebasan menunjukkan identitasnya dan mengamalkan ajaran agamanya masing-masing.

3. Membangun Peradaban. Dipilihnya Madinah sebagai tempat tujuan hijrah, berarti bahwa hijrah bermakna pembangunan tahta peradaban (sebagai makna dari kata Madinah). Untuk membangun tahta peradaban umat Islam, Nabi membangun tiga arah pembangunan umat Islam, yaitu: mengarah pada Budaya, Kerja dan pembangunan ekonomi atau permodalan (Kapital). Hingga saat ini tiga masalah tersebut menurut Malik ben Nabi merupakan syarat bagi pembangunan peradaban Islam yang harus ditata diatas keyakinan agama yang kuat.

4. Konsep Persatuan. Hijrah juga merupakan penegasan konsep persatuan sesama Muslim (ukhuwah islamiyah, sebagaimana diperankan Muhajirin dan Anshar), dan bahkan melalui Piagam Madinah, Nabi memberi contoh bagaimana mengatur kehidupan masyarakat yang pluralistik dalam ukhuwah insaniyyah atau persaudaraan sesama manusia.

5. Konsep Masyarakat Egalitarian. Hijrah juga merupakan strategi membangun masyarakat yang egaliter (penuh kebersamaan). Hal tersebut dapat dilihat pada kenyataan bahwa ketika Abu Bakar bersedih di Gua Tsur, lalu Nabi menenangkannya dengan berkata : “Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”, (Q.S. al-Taubah:40). Akan tetapi disaat Nabi sangat gelisah ketika Perang Badr, dan terus menerus berdo’a, Abu Bakar menenangkannya dengan berkata : “Cukup-cukuplah do’amu, karena sesungguhnya Tuhan akan melaksanakan apa yang dijanjikannya kepadamu”. Ini menggambarkan bagaimana kebersamaan yang dipraktekkan oleh dua manusia (pemimpin dan yang dipimpin) saling menasehati dan mengingatkan. Perkataan Nabi yang mengucapkan kata “kita”, mengingatkan betapa dalam ucapan Nabi besar itu tidak pernah lepas dari kebersamaan meski dalam kondisi terdesak.

Dapat kita simpulkan dari kajian diatas bahwa banyak sekali hikmah yang dapat diambil dari peristiwa hijrah tersebut untuk kita aplikasikan dalam upaya pembangunan masyarakat Islam.

Kultum 11 Januari 2008

MACAM-MACAM SYIRIK (Bag.I)

Para ulama berbeda pendapat dalam mengungkapkan pembagian syirik meski intinya tidak terlepas dari tiga penggunaan kata syirik yang telah dibahas di atas. Namun pembagian yang merangkum semuanya bisa kita katakan bahwa syirik terbagi menjadi dua:

1. Syirik Akbar.

Syirik ini terbagi menjadi dua:

1) Syirik yang berkaitan dengan dzat Allah Swt. atau syirik dalam rububiyah Allah Swt. Syirik ini terbagi lagi menjadi dua:

(1) Syirik dalam ta’thil, seperti syirik yang dilakukan oleh Fir’aun dan orang-orang atheis.

(2) Syirik yang dilakukan oleh orang yang menjadikan sembahan lain selain Allah Swt. tetapi tidak menafikan asma (nama-nama), sifat-sifat dan rububiyah Nya, seperti syirik yang dilakukan oleh orang-orang Nashrani yang menjadikan Allah Swt. sebagai salah satu dari tiga Tuhan (trinitas).

2) Syirik yang berkaitan dengan ibadah kepada Allah Swt. atau syirik dalam uluhiyyah. Syirik ini ada empat jenis:

(1) Syirik dalam berdo’a; yaitu berdo’a kepada selain Allah Swt..

(2) Syirik dalam niat, keinginan dan kehendak. Beramal karena ditujukan kepada selain Allah Swt. menyebabkan pahalanya hilang.

(3) Syirik dalam keta’atan; yaitu seorang hamba taat kepada makhluk dalam perbuatan ma’shiyat kepada Allah Swt..

(4) Syirik dalam mahabbah; yaitu seorang hamba mencintai makhluk seperti cintanya kepada Allah Swt..

2. Syirik Ashghar.

Syirik Ashghar terbagi menjadi dua:

1) Yang Zhahir (tampak);

(1) Mengerjakan amal dengan riya`. Melakukan perbuatan untuk selain Allah Swt. yang zhahir (tampak)nya untuk Allah Swt., tetapi dalam hatinya tidak ikhlas karena Allah Swt.. amal

(2) Dengan ucapan, seperti bersumpah dengan selain Allah Swt., perkataan: Ma Syaa Allah wa Syi`ta.

2) Yang Khafiyy (samar);

Yaitu sesuatu yang kadang-kadang, terjadi dalam perkataan atau perbuatan manusia tanpa ia sadari bahwa itu adalah syirik. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Abbas -radliyallaahu ‘anhuma- bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الشرك فى أمتي أخفى من دبيب النمل على الصفا

“Syirik bagi umatku lebih halus (samar) dari pada barjalannya semut di atas batu yang licin (hitam).” (Hadits ini dishahihkan oleh Syekh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ Ash Shaghir, hadits no 3730 dan 3731)

Karena begitu halusnya syirik ini sehingga para sahabat bertanya pada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bagaimana caranya terhindar dari syirik ini? Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Katakanlah (Bacalah) oleh kalian semua

اللهم إنا نعوذبك من أن نشرك بك شيئا نعلمه ونستغفرك لما لا نعلمه

Ya Allah, kami berlindung kepada Mu dari perbuatan (kami) menyekutukan Mu dengan sesuatu yang kami ketahui dan kami memohon ampunan kepada Mu dari sesuatu yang tidak kami ketahui.” (HR Imam Ahmad)

Kultum 12 Januari 2008

MACAM-MACAM SYIRIK (Bag.II)

Syirik yang digunakan dalam berbagai bentuknya bisa berarti syirik akbar atau syirik ashghar. Syirik akbar dibagi dalam 2 bagian :

1. Syirik rububiyah : yaitu menyekutukan Allah Swt. dalam hal kekuasaan, mencipta, memberi rizqi dan mengatur alam.

2. Syirik uluhiyah : yaitu syirik yang banyak dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy. Yang menyembah Tuhan selain Allah dan mendustakan Rasulullah.

Sedangkan syirik asghar adalah adalah Riya’. Sebagaimana Sabda Rasulullah saw. : “Sesungguhnya hal yang paling kutakutkan pada diriku dan pada diri kalian adalah“syirkul asghar”. Sahabat bertanya apa itu “syirkul asghar”, Lalu Rasulullah mengatakan yaitu : “RIYA’”.

Sikap hati-hati dalam menghindari riya’ dibutuhkan dalam berbagai situasi dan kondisi. Ada beberapa contoh kasus yang perlu kita perhatikan untuk menghindari perbuatan riya’.

1. Tidak mengharap perhatian dan pujian dari seseorang karena rajin ibadah, shadaqah, bagus dalam shalat, rajin puasa sunnah, dll. Hal ini bisa saja terjadi pada seseorang misalnya ketika melakukan shalat ia panjangkan berdiri, ruku’ dan sujudnya kemudian ia tampakkan kekhusyu’annya di hadapan orang banyak, ketika ia puasa, ia tampakkan bahwa dirinya sedang puasa, misalnya dengan mengatakan: “Apa anda tidak tahu bahwa hari ini Senin (atau Kamis) ?” “Apa anda tidak puasa ?” Atau ia katakan: “Hari ini saya undang anda untuk berbuka puasa bersama ?”.

2. Demikian pula haji dan jihad. Ia pergi haji dan jihad tetapi tujuannya riya`.

3. Riyanya orang-orang yang cinta dunia seperti orang yang angkuh dan sombong ketika berjalan, memalingkan mukanya atau menggerakkan kendaraannya dengan gerakan khusus.

4. Riya` dengan teman atau orang yang berkunjung ke rumahnya, seperti orang yang memaksakan diri meminta seorang ‘alim atau seorang yang dikenal ahli ibadah untuk datang ke rumahnya agar dikatakan bahwa fulan telah mengunjungi rumahnya, atau sebaliknya ia kunjungi mereka (orang-orang ‘alim dan ahli ibadah) agar dikatakan bahwa kami telah mengunjungi fulan atau kami telah bertemu dengan ‘alim fulan dan yang lainnya.

5. Riya dengan perkata juga bisa terjadi pada orang-orang ahli agama sekalipun. Seperti orang yang memberikan nasehat di majlis-majlis, kemudian ia menghafal hadits-hadits dan atsar-atsar khusus untuk acara-acara tertentu agar bisa berbicara dan debat dengan orang-orang, sehingga tampak di hadapan mereka bahwa ia memiliki pengetahuan tentang hal-hal tersebut, tampak di hadapan mereka bahwa ia memiliki ilmu yang kuat dan perhatian yang besar terhadap keadaan ulama-ulama salaf, tetapi ketika kita lihat di rumahnya bersama keluarganya, ia adalah orang jauh dari keadaan tersebut.

6. Contoh lain adalah menggerak-gerakkan kedua bibir untuk berdzikir di hadapan orang banyak dan menampakkan kemarahan terhadap kemunkaran di hadapan orang, tetapi ketika ia berada di rumah ia tidak mengingkari atau lalai melakukan hal tersebut.

Semua contoh-contoh perbuatan riya’ diatas, dapat mengurangi kesempurnaan tauhid dan keikhlasan beribadah kepada Allah.

Kultum 13 Januari 2008

KASIH DAN ADIL

Anda mengasihi seseorang? Apa buktinya? Hanya anda dan orang yang dikasihi yang tahu. Bila kita mendengar pendapat orang bijak, maka jawabannya adalah kasih itu memberi.

Dalam bahasa Arab, kasih adalah rahim, darinya diambil ungkapan rahim ibu. Rahim ibu ini merupakan lambang kasih, yaitu memberi. Bagaimana tidak, jabang bayi/janin di dalam rahim ibu terus saja disuplay makanan dan minuman tanpa ada sedikitpun rasa untuk minta imbalan balas jasa. Kata Syekh Sya’rawi, kalau ingin melihat kasih yang nota bene memberi, maka lihatlah rahim ibu yang memberi dan tidak pernah meminta.

Begitu juga dengan cinta/kasih dengan tanah air dilakukan dengan memberikan jiwa dan raga kepadanya, yang dalam istilah Islam disebut Jihad. Cinta/kasih kepada anak dan isteri dilakukan dengan memberi hasil jerih payah membanting tulang seharian bekerja untuk menafkahi mereka agar dapat hidup layak. Sikap memberi di atas dilakukan berdasarkan cinta, dan itulah cinta kasih sayang yang hakiki.

Bila benar seorang isteri mengasihi suami, maka di antara bukti kasihnya yang besar ialah ia merelakan suami untuk mencari isteri lagi. Tidak lain tidak bukan alasannya, karena hakikat kasih itu adalah memberi.

Ada pernyataan bahwa bukti kasih Tuhan kepada hamba-Nya adalah Dia mensyariatkan poligami. Inilah pernyataan yang benar. Karena ada yang menduga bukti ketaqwaan itu tidak mendekati isteri, menghindar dari dunia, dengan cara puasa tidak pernah berbuka, tahajjud dan tidak tidur malam. Kesalahan persepsi ini pernah tercetus dibenak sahabat Nabi Muhammad dan Nabi pun melarangnya.

Tidak menikah bukanlah prestise dan satu hal yang patut dibanggakan. Tapi merupakan sikap lemah dan tercela. Manusia bukan Tuhan. Manusia makhluk dan Tuhan Khalik/Pencipta. Sebagai Pencipta yang Mahakuasa maka sifat Tuhan yang hakiki itu tidak punya isteri dan anak, sedangkan sifat manusia yang sempurna ialah menikah dan memiliki keluarga.

Dalam sejarah ditemukan para nabi yang dikasihi-Nya melakukan poligami. Lihat saja bapak para nabi, Ibrahim a.s, Nabi Daud, Ya’kub a.s dan Nabi Muhammad saw. semuanya melakukan poligami agar kasih-Nya tersebar. Agar kekhalifahan, memakmurkan bumi dan ibadah kepada-Nya dapat ditegakkan oleh keturunan saleh yang mayoritas. Dalam istilah Nabi disebut dengan al-wadûd wal walûd. Dari sejarah ini jelaslah bahwa poligami bukan monopoli syariat Islam. Ajaran para nabi membenarkan adanya poligami sebagai wujud kasih-Nya.

Menurut Tafsir Sya’rawi, secara dasar keadilan diminta saat beristeri satu (monogami) maupun banyak (poligami). Seorang yang melakukan monogami bisa saja tidak berlaku adil pada isterinya, dan pelaku poligami dapat berbuat sebaliknya. Contoh monogami yang tidak adil ialah meninggalkan isteri lebih dari empat bulan, atau suami yang workholic/candu bekerja hingga melupakan isteri walau hidup serumah.

Sebagaimana khusyu’ dalam shalat bukan merupakan syarat dan rukun, begitu juga adil dalam poligami bukan merupakan syarat dan rukun. Khusyu diharapkan dalam shalat munfarid (sendiri) atau jama’ah, begitu pula keadilan diharapkan dalam monogami atau poligami.

Poligami bukti kasih-Nya. Bagi orang yang ingin menyebarkan keadilan maka lakukanlah monogami, sedangkan orang yang ingin menyebarkan kasih-Nya maka lakukanlah poligami. Hal ini berdasarkan pada dialog yang kita kutip dalam tafsir Syara’wi.

Ketika seseorang melaporkan hal ikhwal sengketa keluarga, berkata “Wahai hakim, putuskanlah perkara kami secara adil.”

Hakim berkata: “Maukah kamu suatu hal yang lebih baik dari adil.” Mereka berkata: “Adakah yang lebih baik dari adil?” Hakim berkata: “Ada, itulah fadilah/kasih. Kamu saling memberi kepada saudaramu apa yang menjadi hakmu.”

Poligami adalah usaha untuk saling mengasihi/memberi bukan untuk tegaknya keadilan. Bila kita adalah hamba Allah yang Maha Pengasih dan dipinta untuk menyebarkan kasih, maka poligami itu adalah satu diantara cara untuk menyebarkan kasih-Nya.

Kultum 14 Januari 2008

ETOS KERJA MENURUT ISLAM

Manusia dan kerja adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Bahkan menurut Islam keadaan dan keberadaan manusia dinilai dari kerjanya. Tanpa kerja, manusia lemah sehingga dianggap kurang berarti keberadaannya. Bahkan dengan tegas Allah berfirman :

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib manusia sebelum mereka merubah apa yang ada pada dirinya”. (QS. 13/al-Ra’d :11).

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

Dan bahwasanya seorang manusia tidak akan memperoleh, selain apa yang telah diusahakannya” (QS.53/al-Najm:39)

Berangkat dari petunjuk Allah SWT tersebut, maka sangat relevan kalau kita berbicara tentang etos kerja sebagai salah satu ciri dari manusia modern. Secara harfiah perkataan etos berasal dari bahasa Yunani, yang berarti watak atau karakter. Dengan demikian etos adalah karakteristik (watak) dan sikap, kebiasaan, serta kepercayaan seseorang dalam memandang kerjanya dan cara menangani kerjanya.

Karena Islam menggariskan kerja sebagai unsur penting keberadaan manusia itu sendiri. Maka manusia diciptakan Allah karena adanya kerja itu sendiri, jika manusia tidak bekerja, itulah yang membuat manusia keluar dari eksistensinya yang sesungguhnya.

Oleh karenanya sungguh beralasan mengapa nabi menjelaskan bahwa Allah SWT mencintai Hamba-Nya yang bekerja. Nabi Muhammad pernah mencium tangan sahabat Saad bin Muadz ketika melihat tangan Saad sangat kasar akibat bekerja keras, seraya berkata : “Kaffani yuhibbuhuma llahu ta’ala” artinya inilah tangan yang dicintai Allah ta’ala. Nabi Muhammad SAW mengingatkan pula bahwa bekerja dengan sepenuh hati, mengejar kesempurnaan (perfectness) merupakan hal yang sangat dicintai Allah, Karena Allah mencintai hamba-Nya yang bekerja dengan sempurna. Allah sendiri menyatakan DiriNya senantiasa berada dalam kesibukan Allah (QS.Ar-Rahman:29). hal ini memberi tuntunan kepada manusia agar senantiasa bekerja; bahkan dalam sebuah ayat Allah memerintahkan :

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ

setelah selesai dengan pekerjaan yang satu agar dilanjutkan dengan pekerjaan lain” (QS. 94/Al-Insyiraah:7)

Maka dalam Islam tidak ada istilah istirahat kerja, sebab Setelah kita menyelesaikan satu rencana, Islam mengajarkan agar kita mengerjakan urusan atau menyelesaikan program-program kerja selanjutnya dengan sungguh-sungguh.

Dalam hal kerja ada satu hal yang perlu diingat bahwa banyak orang yang bekerja, namun ia tidak tahu mengapa Allah dilibatkan dalam kerjanya. Banyak orang yang bekerja hanya untuk uang, terlepas apakah itu dilakukan atas dasar iman kepada Allah atau tidak, bukan hal yang penting. Padahal sesungguhnya manusia dituntut agar mengerahkan hidup nya untuk Allah dan juga matinya juga karena Allah.

Maka oleh sebab itu hendaklah usaha atau kerja itu dilakukan dengan niat ikhlas, yaitu dengan mengharap ridha Allah. Sebab setiap orang akan menerima imbalan atau balasan dari Allah sejalan dan seimbang dengan amal perbuatannya (QS.99/Az-Zalzalah:7-8).

Dan sesungguhnya seseorang akan dinilai kerjanya berdasarkan niat, jika niatnya dunia maka akan mendapatkan dunia dan tidak sedikitpun memperoleh bagiannya diakhirat.

Kultum 15 Januari 2008

JUJUR DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Masalah JUJUR termasuk salah satu topik yang sangat ramai dibicarakan oleh setiap lapisan masyarakat. Hal ini termasuk sebuah fenomena yang sangat menarik untuk diperhatikan. Selain merupakan dasar agama, kejujuran juga salah satu syarat berkembangnya sesuatu bangsa.

Jujur termasuk salah satu sikap yang langka dan sangat mahal dan hampir terabaikan oleh masyarakat, bangsa atau negara. Maka untuk kemajuan bangsa perlu ditumbuhkan kesadaran sikap jujur ini sehingga tercapai ketertiban, keadilan dan kesejahteraan di tengah-tengah masyarakat.

Di dalam Al-Qur’an kata jujur disebutkan sebanyak + 145 kali. Pengertian orang yang jujur adalah orang menyampaikan sesuatu sesuai dengan kenyataan dan perkataannya tidak bertentangan dengan perasaannya. Kejujuran seseorang belum benar bila hanya berupa perkataan, tetapi mesti disertai dengan perbuatan. Dengan penjelasan-penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa jujur adalah perkataan dan perbuatan yang sesuai dengan kenyataan serta mengandung kebenaran. Begitupula sebaliknya seseorang itu belum melakukan kejujuran bila hanya perbuatannya yang benar, sedangkan perkataannya mengandung kebohongan dan menimbulkan kekacauan dan keonaran.

Ahmad Khalil Jum’at menuliskan ada enam tingkatan kejujuran. Setiap tingkatan memiliki maknanya masing-masing yang sesuai dengan tingkatannya, yakni sebagai berikut :

Ø Jujur perkataan, yaitu pemberitaan dan penyampaian pesan yang mengandung kebenaran dan sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya. Di dalamnya juga termasuk pemberian janji-janji dan menepatinya.

Ø Jujur niat dan kemauan, yakni keikhlasan kepada Allah SWT, dalam setiap gerak dan tindakan. Apabila terdetik perasaan ria dan keangkuhan dalam melakukan sesuatu, maka kejujuran niat dan kemauannya menjadi rusak hingga masuk dalam kategori dusta.

Ø Jujur dalam pendirian, yaitu kehendak kuat kepada kebaikan. Hal ini seperti pernyataan “apabila Allah SWT memberikan suatu kekuasaan kepada saya, maka saya akan bertindak adil dan jujur”. Pada saat ia mendapatkan suatu kedudukan, sekecil apapun jabatannya, ia harus berbuat adil dan jujur, walaupun tantangan-nya sangat berat. Apabila hal tersebut tidak dilaksanakannya, maka ia tergolong orang yang tidak jujur atau pendusta.

Ø Jujur dalam kesetiaan pada rencana. Hal ini berkaitan dengan sikap dan tindakan terhadap rencana untuk melakukan kebaikan. Ketika hendak melakukan sesuatu, lazimnya seseorang membuat rencana. Pada saat melaksanakan rencana tersebut ia tetap istiqamah dan menolak rasa ragu-ragu, rasa malas serta perasaan-perasaan yang tidak baik lainnya untuk melakukannya secara sempurna, walaupun terhadap tantangan yang sangat berat. Sikap dan tindakan seperti inilah yang tergolong jujur terhadap rencana.

Ø Jujur dalam perbuatan, yakni melakukan sesuatu yang baik dan benar secara sungguh-sungguh dalam berbagai situasi dan kondisi. Di dalamnya terdapat kesesuaian antara pernyataan bathin dengan sikap dan tindakan yang dimunculkan.

Ø Jujur dalam menjalankan ajaran-ajaran agama, yakni bersungguh-sungguh dalam melaksanakan seluruh perintah Allah SWT, dengan mengagungkan nama-Nya dan mengharapkan ridha-Nya, tawakal dan hidup zuhud (tidak terlena dan hanyut dalam kemegahan duniawi). Kejujuran dalam bentuk inilah yang tertinggi dan paling mulia. Karena dengan kejujuran ini seseorang itu telah memenuhi tujuan penciptanya di permukaan bumi ini yang tiada lain adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT. (Lihat QS.Adz-Dzariyaat, 51:56), dan dengan mematuhi seluruh perintah Allah SWT, hal-hal yang bersifat negatif dapat terantisipasi dengan baik.

Kultum 16 Januari 2008

BELAJAR ETOS KERJA DARI KARAKTER ALAM

Etos kerja adalah semangat pantang menyerah dalam melaksanakan tugas. Untuk itu Allah swt.. menyuruh manusia untuk melihat alam dan belajar darinya tentang etos kerja. Sebab Allah swt.. menciptakan alam disamping sebagai ayat (tanda) ke Maha KuasaanNya, juga sebagai pelajaran bagi kehidupan manusia. Allah swt. berfirman al-Baqarah: 163 :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ السَّمَاء مِن مَّاء فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. (QS. 2/al-Baqarah:164)

Alam memiliki sifat-sifat, karakter yang mengagumkan, penuh dedikasi dan tak pernah keluar dari ketentuan Allah. Ada beberapa karakter alam yang perlu dipelajari agar menambah etos kerja yang tinggi bagi seorang karyawan, diantaranya :

· Bumi. Memiliki sifat memberi aneka manfaat untuk manusia. Ia selalu memberi kebaikan berupa ruang pada manusia untuk tempat berpijak, tempat tinggal, bercocok tanam, bahkan ia menyediakan air yang cukup demi kelangsungan hidup manusia. Maka pelajaran yang dapat diambil dari hal ini adalah sikap yang rela berkorban memberi kebahagiaan pada orang lain.

· Air, memiliki sifat mengalir ketempat yang rendah, walaupun demikian ia bisa diatur dan diarahkan untuk berbagai keperluan seperti pengairan dan irigasi. Kadang kala air bisa bergejolak dengan menunjukkan kehebatannya berupa air bah, banjir atau tsunami dan gelombang besar, namun ia dengan cepat dapat tenang kembali. Isyarat yang dapat diambil dari karakter air adalah sifat yang mudah diajak untuk kebaikan, menyejukkan bagi orang lain, namun sifat yang amarahnya cepat pulih dan tidak menyimpan dendam.

· Api terkenal dengan sifatnya yang tegas namun tetap terkendali. Etika yang bisa diambil dari sifat api ini adalah ketegasan yang terkendali. Sikap tegas diambil tanpa pandang bulu, namun tetap terkendali, dalam arti ketegasan itu tidak sampai menghilangkan rasa ukhuwah dan kasih sayangnya.

· Angin, memiliki sifat yang selalu aktif (berpindah) untuk memberi kesejukan pada semua orang. Etika yang bisa ditangkap dari angin adalah sikap ramah yang tidak pernah berhenti untuk memberi dan menebar kebajikan. Dapat bergaul dengan semua kalangan tanpa batas. Tidak pernah berhenti dalam kebaikan meski banyak yang menghalangi. Sehingga bila dinasehati tidak marah, kalau terkena teguran tidak tersinggung.

· Matahari, menggambarkan sikap tidak berburu-buru terencana dan terorganisir sehingga segalanya dapat selesai dengan pencapaian target yang memuaskan.

· Bulan, memiliki sifat dan lambang kegembiraan, sehingga karakter ini membuat gembira semua orang, kareana senyumnya yang manis, budinya yang halus, dan ketulusannya memberi kegembiraan pada setiap orang.

· Bintang, tegas tidak gampang tergoda dan terombang-ambing, karakter yang tak mudah gentar menghadapi cobaan, percaya diri, dan terus terang tanpa menutupi.

· Mendung, merupakan karakter sikap adil dalam menjalankan kewenangan, mampu bersikap tegas bagi yang salah, dan senyuman bagi mereka yang berjasa.

Demikianlah beberapa karakter alam yang dapat dijadikan sebagai ilmu pengetahuan bagi peningkatan etos kerja seorang karyawan.

Kultum 17 Januari 2008

JIHAD MELALUI USAHA ADALAH LEBIH BAIK

Jihad dalam berbagai bentuknya berulang sebanyak 41 kali dalam Al-Qurán. Kata itu berasal dari kata juhdun dan jahada yang berarti kekuatan, kemampuan, kesulitan dan kelelahan. Dengan demikian kata jihad mengandung makna : Upaya sungguh-sungguh, Kekuatan, Kemampuan, Kesulitan, Kelelahan dalam pelaksanaannya.

Pada umumnya kata Jihad diartikan sebagai berperang di jalan Allah, namun pengertian lebih luas, jihad adalah berbagai aktifitas atau usaha-usaha yang dilakukan dalam rangka mentaati perintah Allah. Sehingga dengan demikian, termasuk usaha perniagaan jika dijalankan dengan niat untuk penegakan ajaran agama, itu juga dipandang sebagai Jihad.

Ada dua standard yang dijadikan ukuran agar perniagaan itu dapat dipandang sebagai Jihad:

Pertama, apabila usaha perniagaan itu dijalankan untuk memenuhi kebutuhan primer manusia.

Kedua, niat usaha untuk menolong orang banyak, sebab menurut hadits Rasulullah saw: “sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi manusia lain” (Hadits).

Jika kedua standard telah dipenuhi, maka ada tiga hal lagi yang harus diperhatikan:

Pertama, motivasi dilakukannya usaha haruslah dalam rangka ketaatan kepada Allah, jika usaha tersebut dijalankan bukan untuk ketaatan kepadaNya maka usaha belum dapat dikatakan sebagai jihad.

Kedua, menggunakan proses-proses islami dan didasari oleh nilai syariat yang diterapkan Allah.

Ketiga, out put atau aksiologi yang dijalankan berorientasi pada nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan.

Apabila ketiga syarat ini terpenuhi, maka sebuah usaha dapat disebut sebagai jihad dan dapat menghindarkan pelaksananya dari azab Allah yang pedih.

Sebuah usaha yang dilakukan dalam rangka jihad haruslah memiliki dua orientasi atau tujuan yaitu rabbaniyah dan insaniyah.

Sedemikian pentingnya perniagaan dalam struktur ajaran Islam, hingga teologi Islam seringkali disebut sebagai teologi perdagangan, yaitu seperti yang kita lihat dalam ulasan berikut ini :

Hubungan-hubungan timbal balik antara Tuhan dan manusia adalah bersifat perdagangan betul. Allah adalah saudagar sempurna. Ia memasukkan seluruh alam semesta dalam pembukuan-Nya. Segalanya diperhitungkan, tiap barang diukur. Ia telah membuat buku perhitungan, neraca-neraca, dan Ia telah menjadi contoh buat bisnis-bisnis yang jujur. Hidup adalah suatu bisnis, orang yang untung atau rugi disitu. Bagi yang melakukan pekerjaan yang baik atau jahat akan mendapat ganjaran berupa kebaikan atau keburukan, baik selama di dunia ataupun di akhirat. Hutang-hutang berupa keburukan (dosa) akan ‘diputihkan’ pada saat-saat tertentu, seperi dengan berpuasa di bulan ramadhan, melakukan ibadah seperti dan ibadah-ibdah lain yang dapat menghapus dosa. Sebab Allah bukanlah penghutang yang tidak berbelas kasihan. Orang Islam menghutangkan kepada Allah, ia membayar lebih dulu untuk surga, lalu ia menjual jiwanya kepada-Nya, dan itu adalah suatu tindakan yang menguntungkan.

Maka bagi orang yang tidak percaya akan hal ini, ia membuang kebenaran Ilahi dengan menjualnya dengan harga yang menyedihkan, lalu ia pun bangkrut, seluruh jiwa telah ditahan sebagai jaminan bagi hutang yang telah dibuatnya. Sehingga kelak pada hari kebangkitan, Allah mengadakan perhitungan terakhir dengan umat manusia. Segala tindakannya telah tercatat dalam ‘Buku Perhitungan Besar : tindakan-tindakan tersebut seluruhnya ditimbang pada neraca. Kepada tiap orang dibayar persis jumlah simpanan pahalanya, tak seorangpun tertipu. Bagi orang Islam yang telah membayar berlipat ganda buat dengan perbuatan baiknya, akan menerima tambahan suatu hadiah istimewa berupa syurga dari sisiNya.

Kultum 18 Januari 2008

Hari Asyura

Hari ini adalah hari Asyura (10 Muharram) yang dikenang sebagai hari dimana Allah menyelamatkan Nabi Nuh a.s. dari bencana banjir dan menenggelamkan musuh-musuh-Nya. Asyura juga dikenang sebagai hari Allah menyelamatkan Musa a.s. dari kejaran Fir’aun dan tentaranya. Itulah sebabnya umat Yahudi dan umat Nasrani mengagungkan hari ini. Nabi Nuh dan Musa diriwayatkan melakukan puasa pada hari ini sebagai ekpresi syukur kepada Allah atas kemenangan yang diberikan kepadanya. Umat Yahudi melakukan puasa pada hari Asyura dan menjadikannya sebagai hari raya. Konon kaum Quraish di masa jahiliyah juga melakukan puasa pada hari Asyura dan mereka menjadikannya hari keramat dimana pada hari itu mereka menjalankan tradisi mengganti kiswah Ka’bah atau kelambu ka’bah.

Ketika Rasulullah berhijrah, beliau mendapati penduduk kota Madinah melakukan puasa pada hari Asyura. Seorang Yahudi mengatakan kepada Rasulullah bahwa Asyura adalah hari agung dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari ancaman musuhnya, sehingga Musa berpuasa pada hari itu, Rasulullah pun menjawab “Aku lebih berhak atas Musa dari kalian” (HR.Sahihain), lalu beliau berpuasa dan memerintahkan umatnya berpuasa.

Pada masa awal Islam, puasa Asyura adalah wajib bagi setiap muslim hingga turun ayat yang mewajibkan puasa bulan Ramadhan. Di mata Rasulullah s.a.w. hari Asyura begitu istimewa, beliau senantiasa melaksanakan puasa pada hari ini dan memerintahkan umatnya berpuasa demi rasa solidaritasnya kepada saudara seperjuangannya Nuh dan Musa a.s., bahkan pada tahun terakhir kehidupan Rasulullah beliau bersabda “Insya Allah tahun depan saya juga akan berpuasa” (Ashabu Sunan) namun ajal telah menjemput beliau sebelum sempat menyempurnakan tahun itu.

Asyura bagi umat Islam juga menampilkan kilas balik tragedi Karbala yang telah merenggut kedua cucu tercinta Rasulullah s.a.w, Hasan r.a. dan Husain r.a.. Lebih dari itu Karbala adalah tragedi yang menyadarkan kita betapa anarkisme, kekerasan dan tindakan tidak berperikemanusiaan telah menjadi noktah hitam sejarah umat Islam yang tidak akan pernah layak untuk terulang kembali.

Masyarakat kita juga banyak menjalankan beberapa tradisi beragam berkaitan dengan hari Asyura. Ini menandakan betapa mengakarnya hari Asyura dalam tradisi dan budaya sebagian masyarakat kita.

Di atas makna dan peristiwa yang terjadi bersamaan dengan hari Asyura ini, kita disunnahkan untuk mendirikan ritual puasa. Ada yang mengatakan puasa dilakukan pada tanggal 9 dan 10 Muharram karena keduanya pernah dilakukan Rasulullah dan sahabatnya. Namun ada yang mengatakan bahwa Asyura hanya tanggal 10 Muharram. Puasa yang kita lakukan, tentunya mempunyai kandungan makna yang cukup mendalam dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat, karena menanamkan kepada kita nilai-nilai pengorbanan, perjuangan, solidaritas antar umat beragama, tenggang rasa dan yang terpenting semangat anti kekerasan dan anti anarkisme dalam setiap langkah upaya dan perjuangan kita. Semoga puasa Asyura kita diterima Allah dan mampu mencerminkan makna yang terkandung di dalamnya.

Kultum 19 Januari 2008

PERANAN KELUARGA DALAM ISLAM

Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan anak, sebab di dalam keluarga adalah tempat pertumbuhan pertama bagi anak dimana dia mendapatkan pengaruh pendidikan dari anggota-anggota keluarga yang lain. Masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupanya (usia pra-sekolah). Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah selamanya.

Dari sini, keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan generasi Islam yang unggul dimasa mendatang.

Musuh-musuh Islam telah menyadari pentingya peranan keluarga ini. Maka mereka pun tak segan-segan berupaya menghancurkan dan merobohkannya. Melihat peran keluarga yang cukup besar itu mereka mengerahkan segala usaha untuk mencapai tujuan itu. Mempergunakan cara-cara yang tepat untuk mengaburkan peran ibu sehingga mereka meninggallkan tugas utamanya yakni menjaga keluarga dan mempersiapkan generasi muda Islam.

Diantara upaya mereka merusak generasi muda Islam dilakukan dengan menghadirkan tayangan telivisi untuk ditonton keluarga didalam rumah. Acara yang disuguhkan bervariasi diantaranya kontes pemilihan anak wanita dan ibunya yang tampil bersama dalam acara “MAMA MIA” di sebuah stasiun televisi swasta. Dalam acara itu ditampilkan kontes yang menunjukkan hampir tidak ditemukan perbedaan dan batas antara anak dan ibu sebagai pendidiknya. Mereka tampil bersama dan menampilkan sosok ibu mendukung cita-cita si anak dan siap berkorban memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih busana yang lagi ngetren dengan model yang membuat tampilan sianak lebih seksi. Dalam acara itu ditunjukkan bagaimana seorang ibu dengan gembira tampil bersama anaknya bebas mengekspresikan gerakan diatas panggung dengan gaya menggoda, seolah kepada masyarakat ditunjukkan bahwa beginilah seorang ibu yang berhasil. Kita menjadi semakin sulit untuk mengerti batas antara anak dan orang tua yang seharusnya berperan untuk menjaga si anak dari kerusakan dan kehancuran moral, serta membiarkan anak hidup dalam dunia glamor dan kemewahan.

Para ulama Islam sangat menekankan betapa pentingya pendidikan anak dalam keluarga. Syaikh Abu Hamid Al Ghazali ketika membahas tentang peran kedua orangtua dalam pendidikan mengatakan: “Ketahuilah, bahwa anak merupakan amanat bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan orang tua kepadanya, jika anak dibiasakan dan diajarkan tentang kebaikan maka anak akan tumbuh dalam kebaikan, dan berbahagialah kedua orang tuanya di dunia dari akherat. Tapi jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagaimana binatang temak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa. Dosanya pun ditanggung oleh orang tuanya. Maka hendaklah ia memelihara, mendidik dan membina serta mengajari anaknya akhlak yang baik, juga menjaganya dari teman-teman jahat, dan tidak membiasakan anaknya bersenang-senang dan tergila-gila oleh kemewahan, sehingga umurnya habis dalam upaya mencari kemewahan itu sampai tua.”

Demikianlah tugas keluarga, individu dan seluruh lapisan masyarakat untuk turut berperan memberi pendidikan yang baik terhadap anak dan tidak membiarkan mereka hidup menuju jalan kehancuran.

Kultum 20 Januari 2008

PENDAPAT PARA ULAMA MENGENAI POLIGAMI

Menurut Mahmud Syaltut mantan Syekh al-Azhar, hukum poligami adalah mubah. Poligami dibolehkan selama tidak dikhawatirkan terjadinya penganiayaan terhadap para isteri. Jika terdapat kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya penganiayaan dan untuk melepaskan diri dari kemungkinan dosa yang dikhawatirkan itu, dianjurkan bagi kaum laki untuk mencukupkan beristeri satu orang saja. Dengan demikian menjadi jelas, bahwa kebolehan berpoligami adalah terkait dengan terjaminnya keadilan dan tidak terjadinya penganiayaan terhadap para isteri.

Al-Zamakhsyari dalam Tafsir al-Kasysyaf mengatakan, bahwa poligami menurut syari’at Islam adalah suatu rukhshah (kelonggaran) ketika darurat. Sama halnya dengan rukhshah bagi musafir dan orang sakit yang dibolehkan buka puasa Ramadhan ketika dalam perjalanan. Darurat yang dimaksud dalam berpoligami adalah berkaitan dengan naluri laki-laki yang kecenderungannya ingin bergaul lebih dari seorang isteri. seandainya syari’at Islam tidak memberikan kelonggaran berpoligami niscaya kecenderungan yang ada pada diri seorang laki-laki itulah akan membawanya kepada perzinaan, sehingga oleh sebab itulah maka poligami diperbolehkan dalam Islam.

Dalam ayat tentang berpoligami terdapat kata ma thaba lakum (yang kalian senangi) yang dikemukakan al-qur’an dengan bentuk umum, tanpa ada batasan ataupun syarat apapun. Hanya saja, mencukupkan diri dengan seorang istri merupakan sikap yang dianjurkan oleh syariat dalam satu keadaan tatkala muncul kekhawatiran tidak dapat berlaku adil. Maka diluar kekhawatiran itu, ayat ini tidak pernah menganjurkan untuk menikah hanya dengan satu wanita, begitu pula nash-nash lainnya. Hanya saja, karena poligami merupakan hukum syariat yang tercantum dalam al-qur’an secara jelas, maka peradaban kapitalis dan propaganda Barat langsung menyerang Islam dengan menggambarkan hukum tentang poligami sebagai hukum yang keji dan busuk.

Mereka pun menjadikan poligami sebagai satu alat untuk merendahkan Islam, supaya dengan begitu mempengaruhi kaum muslimin. Lalu kaum muslimin pun berusaha menakwilkan secara keliru nash-nash syari’at yang ada untuk menolak tindakan poligami sebagai bentuk pelecehan terhadap wanita.

Islam tidak menjadikan poligami sebagai sebuah kewajiban atau hal yang disunnahkah bagi Muslim, tetapi menjadikannya sebagai sesuatu yang mubah , yakni boleh dilakukan jika memang perlu oleh mereka. Realitas semacam ini mengandung pengertian bahwa, syariat Islam telah memberikan kepada manusia suatu pemecahan dengan poligami, yang boleh dipraktekkan bagi mereka yang membutuhkannya.

Dengan demikian, adanya aturan dan kebolehan poligami telah menjadikan poligami sebagai jalan keluar yang layak bagi manusia, yang tidak bertentangan dalam kondisi manusia atau masyarakat.

Bahkan menurut Muhammad Rasyid Ridha ada beberapa hikmah atas dibolehkannya poligami diantaranya :

1. untuk memperoleh keturunan bagi suami yang subur dan istri yang mandul,

2. untuk menjaga keutuhan keluarga tanpa menceraikan istri kendati istrinya itu tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri seperti mempunyai cacat badan atau penyakit yang sukar disembuhkan.

3. untuk menyelematkan orang yang hiperseks (keinginan seks yang tinggi) dari perbuatan zina dan krisis akhlak, seperti istri pada masa haid atau nifas, keinginan suami tetap bisa disalurkan.

4. untuk menyelamatkan perempuan-perempuan dari krisis akhlak seperti pada negara yang jumlah perempuannya lebih banyak dari laki-laki. Umpamanya akibat perang yang berkepanjangan dan sebagainya, sehingga dengan berpoligami mereka dapat terselamatkan.

Kultum 21 Januari 2008

MENJALANKAN AMANAH DALAM AKTIFITAS PERUSAHAAN

Dalam ajaran Islam disebut bahwa setiap amal (pekerjaan) yang dilakukan seseorang hendaklah diarahkan untuk mencari ridha ilahi, sebab tujuan hidup dan penciptaan manusia adalah untuk mengabdi kepada-Nya. Sementara tugas-tugas yang diemban seseorang dalam aktifitasnya sehari-hari pada hakekatnya adalah amanah yang harus ditunaikan. Maka oleh sebab itu setiap muslim hendaklah senantiasa memandang tugasnya atau jabatannya sebagai amanah yang harus ditunaikan, sebab Allah swt. berfirman :

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya”, (QS. Al-Mukminun :8)

Amanah harus dijalankan dengan tulus dan ikhlas agar mendatangkan pahala, sebab segala aktifitas hanya mendapatkan nilai pahala apabila niatnya sempurna. Sabda Rasulullah saw: “setiap pekerjaan dinilai dari niatnya, dan seseorang akan mendapatkan nilai sesuai dengan niatnya”.

Seorang yang amanah dalam bekerja bukan tanpa target. Ia akan selalu memanfaatkan waktu, dana, tenaga, sarana dan prasarana yang telah disediakan untuk mengejar target dengan cara berupaya meningkatkan mutu kerja yang maksimal. Sebab apabila hasil kerja kurang memadai, padahal sarana dan prasana sudah tersedia maka itu artinya kurang melaksanaan amanah.

Seorang yang amanah dalam melaksanakan tugasnya dapat dilihat dari kesungguhannya menunjukkan mutu kerja yang sempurna. Untuk itu ia terus menerus melakukan perbaikan dan inofasi dari waktu kewaktu tanpa henti. Maka dengan demikian apabila prestasi kerja seseorang terus merosot dan tidak pernah menunjukkan hasil kerja yang menggembirakan berarti amanah belum dijalankan dengan sempurna. Padahal Rasulullah saw menyebutkan bahwa hendaknya seorang muslim harus melakukan perbaikan dari hari kehari, sebagaimana dalam haditsnya beliau menyebutkan, “keadaan hari ini harus lebih baik dari kemaren, dan keadaan hari esok harus lebih baik dari hari ini jika tidak, maka hidup seseorang akan celaka”. (Hadits).

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa wujud pelaksanaan amanah dalam suatu bidang pekerjaan tidak hanya dibuktikan dengan ketaatan pemimpin, menejer, staf dan karyawan pada peraturan yang ada, tapi segala upaya yang mendatangkan kebaikan dan keuntungan pada perusahaan dapat disebut telah melaksanakan amanah.

Bagi sebahagian orang memandang amanah suatu beban berat yang dipikulkan kepundaknya, padahal Al-Qur’an dengan tegas menyebutkan tidak ada suatu perintah Allah yang tidak bisa dilakukan manusia, firman Allah ta’ala :

لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا

Allahu tidak akan menyuruh seseorang kecuali atas kemampuannya”. (QS.al-Baqarah : 286)

Perintah Allah termasuk juga perintah untuk menjalankan amanah, sehingga tidak alasan yang membebani manusia untuk tidak melaksanakan amanah itu. Bahkan dianggap manusia itu tidak beriman manakala sikap amanah tidak ada pada dirinya. Sabda Rasulullah saw:

“Tidak ada agama bagi orang yang tidak memenuhi janjinya, dan tidak ada iman bagi orang yang tidak memegang amanahnya” (HR.Muslim)

Kultum 22 Januari 2008

IKHLASH JALAN KEBAHAGIAAN

Ikhlash dalam bekerja artinya apa pun yang dilakukan hanya dengan niat untuk meraih ridha Allah semata, sehingga muncul kebahagiaan tersendiri karena janji kemenangan yang akan diberikan Allah di dunia dan di akhirat. Rasulullah pernah bersabda : “Seandainya sesorang di antara kalian melakukan suatu kebaikan di tengah padang sahara yang sangat sepi, dalam ruangan tertutup tanpa pintu, amal itu suatu saat pasti akan ketahuan juga “.

Hakikat keikhlasan ini tergambar dalam firman Allah: “Katakanlah : Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah , Tuhan semesta alam ” (QS:6:162).

Sebuah hadits yang sangat masyhur, diriwayatkan oleh Imam Bukhari Muslim : dari Umar Bin Khattab, Rasulullah bersabda : “Bahwa segala amal perbuatan tergantung pada niat, dan bahwa bagi tiap-tiap orang adalah apa yang ia niatkan”. Oleh sebab itu niat adalah pokok pangkal dari setiap amal, maka barangsiapa niatnya menuju ridha Allah, dan RasulNya, atau dalam rangka menaati perintah ALlah dan Rasulnya, dan tidak keluar dari rel keikhlashan, maka inilah yang dipandang Allah swt. sehingga segala perbuatan yang mereka lakukan mendapat nilai dimata Allah.

Imam Muslim dan Imam Ibn majah, meriwayatakan hadits Rasulullah yang berbunyi : “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada penampilan dan harta kamu sekalian, melainkan melihat kepada hati dan perbuatan kalian”.

Dalam hadits yang lain Imam Muslim meriwayatkan : bahwa yang pertama kali kelak di hari kiamat akan dihakimi adalah : Pertama, seorang yang mati di jalan perang. Ketika ditanya ia menjawab bahwa ia berperang sampai mati syahid. Dikatakan kepadanya: “Kamu bohong. Kamu berperang dengan niat supaya kamu dikatakan pemberani. Dan orang-orang sudah menyebut itu”. Kemudian diperintahkan supaya ia dimasukkan kedalam api neraka. Kedua, Seorang yang mencari ilmu agama dan mengajarkannya, ia mengajarkan Al-Qur’an. Ketika ditanya, ia menjawab bahwa saya mecari ilmu dan mengajarkannya, saya juga mengajarkan Al-Qur’an. Lalu dikatakan kepadanya : “Kamu bohong. Kamu belajar mencari ilmu dengan niat supaya kamu dikatakan alim, dan orang-orang sudah mengatakan itu”. Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dimasukkan ke dalam neraka. Ketiga, seorang yang dikaruniai limpahan harta kekayaan. Ketika ditanya, kemana harta itu dipergunakan, ia menjawab bahwa ia telah menginfakkannya ke jalan-jalan kebaikan. Lalu dikatakan kepadanya: “Kamu bohong, kamu lakukan itu dengan niat supaya dikatakan sebagai seorang dermawan dan orang-orang sudah mengatakan itu”. Lalu diperintahkan supaya orang tersebut diseret ke dalam api neraka.

Keikhlasan adalah ruh dari sekecil apa pun perbuatan kita, dan ikhlash merupakan kunci diterimanya amal. Betapapun banyak amal perbuatan yang telah mengorbankan keringat dan darah hanya menjadi sia-sia disebabkan tidak dibarengi keikhlshan yang murni. Karenanya, mari kita selalu hati-hati dalam menjaga niat agar tetap dalam keikhlasan sehingga amal kita dicatat Allah sebagai amal yang baik. Apalah artinya kalau amal yang kita lakukan hanya ingin diketahui orang dan agar mendapat pujian orang lain bukan pujian Allah. Karena pujian orang banyak tidak bisa mengalahkan pujian Allah dan perkenan dari Tuhan.

Kultum 23 Januari 2008

TAFSIR SURAT AN-NISA :1-2

Poligami termasuk salah satu isu penting dalam pembaruan Islam dan gerakan feminisme. Dalam al-Qur’an, poligami hanya disebut satu kali, yaitu dalam Qs. Al-Nisa’ [4]:3). Ayat ini menjadi dasar hukum bolehnya poligami sekaligus memberikan penafsrian yang lurus karena banyaknya kalangan yang berbeda-beda penafsiran.

Ayat 3 surat an-Nisa tersebut diturunkan di Madinah, yang terdiri dari 176 ayat, merupakan surat terpanjang setelah al-Baqarah. Surat itu diberi nama al- Nisa’ karena kandungan ayatnya banyak memuat penjelasan tentang hal-hal yang berkaitan dengan perempuan. Ayat pertama surat an-Nisa berbunyi :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Artinya : “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahum. Sesungguhnya Allah selaku menjaga dan mengawasi kamu” (Qs. Al-Nisa [4]:1)

Ayat di atas berisi peringatan agar manusia bertaqwa kepada Allah. Bahkan peringatan itu diulang, dua kali. Pertama, manusia diperingatkan bertaqwa kepada Allah sebagai perwujudan dari kesadaran dirinya sebagai makhluk Tuhan dan kesadaran bahwa sesungguhnya Allah Maha Pencipta. Kedua, manusia diperingatkan untuk bertaqwa kepada Allah karena atas-Nya manusia saling meminta satu sama lain.

Ayat selanjutnya berbunyi :

وَآتُواْ الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ وَلاَ تَتَبَدَّلُواْ الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَالِكُمْ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا

Artinya : “Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar” (Qs. Al-Nisa [4]:2).

Ayat ini berbicara tentang siapa yang harus dipelihara hak-haknya dalam rangka bertaqwa kepada Allah dan memelihara hubungan silaturrahim terhadap orang yang paling lemah yaitu anak yatim. Karena itu ayat ini memerintahkan kepada para wali untuk memelihara harta anak yatim yang berada di bawah pemeliharaannya dan memberikan harta anak-anak yang tersebut bila telah dewasa, dan dilarang untuk menukar memanfaatkan harta mereka secara tidak wajar, serta menggabungkan harta anak yatim dengan harta walinya.

Kehidupan bangsa Arab pada masa jahiliyah tidak sepi dari peperangan, baik peperangan antar suku maupun antar bangsa. Akibatnya banyak jumlah anak yatim karena ayah-ayah mereka gugur di medan perang. Dalam tradisi Arab jahiliyah pemeliharaan anak-anak yatim menjadi tanggung jawab para walinya dan menguasai harta-harta mereka sampai anak yatim itu dewasa dan mampu mengelola sendiri harta mereka.

Kultum 24 Januari 2008

ETOS KERJA DAN OPTIMISME MENURUT ISLAM

Manusia dan kerja adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Bahkan menurut Islam keadaan dan keberadaan manusia ditentukan oleh aktivitas kerjanya. Sebagaimana firman Allah yang artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib manusia sebelum mereka merubah apa yang ada pada dirinya”. (QS. 13/al-Ra’d :11). Dan firman Allah pula : “Dan bahwasanya seorang manusia tidak akan memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS.al-Najm/53:39)

Berangkat dari petunjuk Allah SWT tersebut, maka sangat relevan kalau kita berbicara tentang etos kerja sebagai salah satu ciri dari manusia modern. Secara harfiah perkataan etos berasal dari bahasa Yunani, yang berarti watak atau karakter. Dengan demikian etos adalah karakteristik dan sikap, kebiasaan, serta kepercayaan seseorang dalam memandang dan menangani kerja.

Dalam Islam didapati suatu nuktah yang amat fundamental menyangkut etos kerja itu, yaitu bahwa kerja adalah bentuk keberadaan (mode of existence) manusia. Artinya manusia ada karena kerja, dan kerja itulah yang membuat seseorang dikatakan sebagai manusia sesungghuhnya. Oleh karenanya sungguh beralasan nabi menjelaskan bahwa Allah SWT mencintai Hamba-Nya yang bekerja. Allah sendiri menuntun manusia agar senantiasa melakukan kerja lain setelah usai dari satu pekerjaan, Firman Allah :

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ

setelah selesai dengan pekerjaan yang satu agar dilanjutkan dengan pekerjaan lain” (Al-Insyiraah 94:7).

Ayat ini berisi anjuran agar manusia memiliki sikap dinamis, tidak bermalas-malasan dalam hidupnya atau sebagaimana Allah sendiri yang senantiasa berada dalam kesibukan di setiap saat, firman Allah :

يَسْأَلُهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

“Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepadanya. Setiap waktu dia dalam kesibukan” (QS. 55/al-Rahmaan: 29).

Agar kerja mendapat ridho dari Allah dan menjadi amal sholeh, maka perlu diingat bahwa Allah hanya akan menerima kerja hamba-Nya yang dikerjakan dengan ikhlas. Yaitu dengan mengharap ridha Allah. Setiap orang akan menerima imbalan atau balasan dari Allah sejalan dan seimbang dengan amal perbuatannya (Az-Zalzalah 99:7-8). Nabi Muhammad SAW mengingatkan pula agar umatnya bekerja dengan sepenuh hati, mengejar kesempurnaan kerja karena Allah mencintai hamba-Nya yang bekerja dengan sempurna.

Selanjutnya Allah menggambarkan bahwa kehidupan manusia penuh dengan perjuangan (Al-Balad 90:4) dan dengan demikian sungguh dapat dimengerti mengapa Allah memberikan penilaian yang tinggi kepada hamba-Nya yang bekerja dengan sungguh-sungguh (kerja-keras).

Sebagai contoh nabi Muhammad SAW bersabda: “Orang yang tertidur di malam hari setelah bekerja keras di siang hari, dia tersebut beristirahat dalam lindungan rahmat dan keampunan dari Ilahi Rabbi.” (HR. Ath Thabrani).

Allah mengisyaratkan kepada manusia agar tidak gentar dan takut mneghadapi berbagai kesulitan dalam melakukan sesuatu pekerjaan, karena sesudah dihadapi kesulitan itu akan datang kemudahan sebagaimana firman Allah :

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“ maka sesungguhnya [94.5] Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Al-Insyarah 94:5-6).

Kultum 25 Januari 2008

Mengharap Pertolongan Allah

Dengan terjadinya berbagai musibah selalu menimpa umat Islam di mana-mana, menyisakan pertanyaan kapan pertolongan Allah akan turun. Setiap orang yang tertimpa musibah siang dan malam mungkin akan senantiasa meminta kepadaNya agar azab yang menyedihkan tidak terulang. Namun semakin hari musibah kian bertambah, bahkan dengan bentuk yang lebih memilukan. Sebenarnya bila iman kita kuat, tentu kita dapat menangkap adanya ujian yang memerlukan ketabahan, dan sebagai pengajaran agar ummat ini sadar akan kekeliruannya selama ini, sehingga pada gilirannya ummat ini akan menambah ketaqwaan dan keimanannya kepada Allah sehingga akan mendapat kasih sayang Allah.

Untuk mencapai kasih sayang Allah di dalam Al-Qur’an telah meletakkan beberapa resep antara lain :

Pertama, pertolongan Allah akan turun, jika seseorang memiliki iman yang kuat dan sungguh-sungguh mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya. Sebagaimana janji Allah :

الَّذِينَ أَجْرَمُوا وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

“kewajiban Kami untuk menolong orang-orang yang beriman” ( QS.30/ar-Rum:47 ).

Kedua, Allah berjanji untuk menolong hamba-hambaNya yang bertaqwa, menegakkan shalat dan membayar zakat, berjuang menegakkan ajaranNya di bumi. Allah berfirman :

وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertaqwa” (QS.9/:123).

Ketiga, Allah akan menolong mereka yang sabar menjalani jihad, tidak kenal lelah, dan tidak pernah putus asa. Firman Allah:

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agamaNya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa” (QS.22/al-Hajj:40).

Keempat, menjalin persaudaraan yang kuat, Allah berfirman:

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya, dan janganlah kamu bertengkar di antara kalian, karena itu akan menyebabkan kegagalan dan hilangnya kekuatan kalian, maka bersabarlah, sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS.8/al-Anfal:46).

Kelima, Kebersihan hati ikhlas semata kepada Allah, selalu mengharapkan pahala Allah dan ridhaNya, tidak riya’ atau ingin mengharap penghormatan dan decak kagum serta ucapan terima kasih dari orang lain. Sebab Allah berfirman :

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ خَرَجُواْ مِن دِيَارِهِم بَطَرًا وَرِئَاء النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللّهِ وَاللّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’” (QS.8/al-Anfal:47). Dan ingatlah, bahwa kemenangan itu hanya di tangan Allah “wamannashru illaa min ‘indillah” (QS.3/ali-Imran:126 ).

Kultum 26 Januari 2008

MANFAAT Bersungguh-sungguh dalam meNGAJARKAN SHOLAT PADA ANAK

Ada sebahagian orang tua yang sangat kasihan pada anaknya ketika akan mengajak si anak melaksanakan sholat. Ada yang takut kalau anaknya kedinginan bila dibangunkan pada subuh hari untuk sholat, ada yang takut kalau konsentrasi anaknya terganggu karena sedang belajar, bahkan ada orang tua yang takut menyuruh anaknya sholat jum’at ke masjid karena kebetulan saat itu panas matahari sangat terik, padahal semestinya api nerakalah yang paling kita takuti kalau kita perhatian firman Allah swt. berikut ini :

قُلْ نَارُجَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَّوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ

katakanlah bahwa api neraka Jahannam itu lebih panas jika mereka memahaminya” (QS.At-Taubah:81)

Ibnul Qayyim pernah berkata : “bahwa orang tua yang menyepelekan pendidikan sholat pada anaknya, maka meskipun nanti anak tersebut berhasil, tapi tak ada artinya keberhasilan itu, justru kalau orang tua mengabaikan salah satu fardu dan sunnah agama tersebut yakni mengajarkan sholat ketika anak masih kecil, sebenarnya orang tua lah yang telah menghancurkan masa depan anaknya lebih dalu, sebelum anaknya menghancurkan diri mereka sendiri. Maka mengajarkan anak untuk sholat bisa mendatangkan manfaat, tidak hanya bagi diri anak sendiri, tapi juga bermanfaat bagi orang tuanya kelak dikemudian hari “.

Adapun manfaat itu diantaranya sebagai berikut :

1. Terlepas dari tuntutan Allah swt. atas tanggung jawab orang tua sebagaimana perintah Allah swt.:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan sholat, dan perbanyaklah sabar (jangan pernah berhenti) dalam hal itu” (QS.Thoha:132)

2. Orang tua akan mendapatkan pahala yang besar, terutama apabila anak-anak dapat melaksanakan sholat. Sebab sabda Rasulullah saw. : “Barang siapa yang menunjukkan pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melaksanakan kebaikan itu”.

3. Seluruh keluarga akan mendapatkan penjagaan dari Allah swt., dalam hal ini apabila orang tua bisa mengajak anggota keluarga melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan maksud mengajari mereka, sebagaimana sabda Rasulullah saw. : “Barang siapa sholat subuh berjamaah maka ia akan berada dalam tanggung jawab Allah swt.” (HR. Ibnu Majah)

4. Apabila anak sudah terbiasa dengan sholat, maka insyaallah ia tidak akan termasuk pada golongan munafik dan kafir ketika dewasa nanti, sebagaimana sabda Rasulullah saw. : “perjanjian antara golongan kami dengan yang lain adalah sholat, maka siapa yang meninggalkannya itulah golongan kafir”. Sabda Nabi saw. pula : “Tidak ada sholat yang lebih berat bagi orang munafiq daripada sholat subuh dan isya, tapi kalau mereka tahu apa manfaatnya, niscaya mereka akan mengejarnya walaupun dengan merangkak” (HR.Bukhari)

5. Mengajarkan anak tentang sholat, hendaklah dimotifasi oleh keinginan agar dengan demikian anak bisa menjadi tabungan akhirat bagi kedua orang tuanya nanti sepeninggalnya, sabda Rasulullah saw. : “Apabila seorang anak adam telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh yang mendo’akannya” (HR.Muslim)

Kultum 27 Januari 2008

MENSIKAPI POLIGAMI SEBAGAI AJARAN ISLAM

Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” (QS. an-Nisa`; 3).

Sebuah hadis yang diriwayatkan al-Bukhari 9/140 dari Ibnu ‘Abbas ra.:

خير هذة الأمة أكثرها نساء.

Artinya: (Sebaik-baik umat ini adalah orang-orang yang paling banyak istrinya).

Sebagai seorang muslim seyogianya memandang perintah Allah swt sebagai suatu ajakan yang mulia yang harus dijunjung tinggi dan ditaati sebagai bentuk takut kepada Allah sebagai Tuhan semesta alam yang harus dilaksanakan perintahNya. Bahkan ketika Islam mengajarkan tentang poligami, maka orang mukmin harus yakin dan percaya bahwa ajaran tersebut bukan penyimpangan terhadap ajaran agama melain salah satu dari sejumlah perintah Allah swt.

Seorang muslim harus menyikapi poligami dengan menggunakan hati untuk merasa, telinga untuk mendengar dan mata untuk menyaksikan akan kebenaran perintah Allah ini, khususnya bagi kaum wanita yang mengharap keridhaan Allah, kehidupan yang bahagia di akhirat kelak, dan yang berambisi untuk mencapai surga Tuhan.

Peran kedua orang tua dalam memberikan pendidikan dan pengertian kepada anak-anak wanitanya terhadap ajaran poligami menjadi sangat penting dalam keluarga agar mereka dan ana-anak mereka tidak terjebak dalam menganalisa suatu problematika umat yang sangat polemis ini. Memang poligami merupakan salah satu problematika besar umat yang tidak kalah peliknya dengan berbagai problematika lain.

Namun keberhasilan dalam memecahkan polemik poligami dengan sudut pandang yang benar, akan memberikan hikmah yang sangat besar bagi sisi keagamaan, sosial, ekonomi, dan sebagainya. Kesungguhan dalam membahas isu poligami akan memperkecil tumbuhnya berbagai penyakit masyarakat, diantaranya memperkecil merebaknya jumlah perawan tua ditengah masyarakat.

Poligami memang banyak bertentangan dengan keinginan perempuan. Sebenarnya, penentangan ini timbul karena “rasa cemburu’ yang sangat berlebihan pada diri perempuan, ambisi untuk memiliki seorang lelaki (suami) seorang diri, dan enggan untuk bergabung dengan wanita lain di bawah tanggung jawab dan lindungan seorang suaminya. Inilah yang diperjuangkan oleh para kaum feminis dan didukung oleh mereka yang ingin agar jumlah orang Islam lebih sedikit dimuka bumi ini.

Sebenarnya, kita bukan menyuruh kaum perempuan untuk meminta atau menyarankan para suami menikah lagi, tapi hanya sekadar menjelaskan satu kebenaran dan sikap yang seharusnya diambil oleh seorang mukmin terhadap fenomena poligami. Yaitu, satu saran untuk menyarankan kaum perempuan untuk tidak menentang atau menolak keinginan suami yang berniat untuk menikahi wanita lain. Karena, perempuan memang tidak berhak untuk menahan dan melarang suaminya untuk menikah lagi. Akan tetapi, satu hal yang harus dilakukannya adalah meminta keadilan dari suami mereka yang beristri lebih dari satu. Karena keadilan merupakan bagian dari hak istri yang harus dipenuhi oleh suami.

Kultum 28 Januari 2008

PELUANG UNTUK SUKSES

Apabila kita mengajukan pertanyaan kepada setiap orang, apakah ia ingin meraih sukses dan bahagia di dunia dan di akhirat, akan kita peroleh jawaban yang pada intinya sama yaitu bahwa semua orang, tanpa terkecuali, mengharapkan kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat. Namun harus diakui bahwa meraih prestasi sukses tersebut tidak begitu mudah, dia tidak akan datang sendiri, akan tetapi harus dicari melalui berbagai ikhtiar. Sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Mu’minun/23 : 1-9 bahwa seorang mukmin akan mendaat peluang menjadi orang yang sukses dengan mengikuti kriteria sebagai berikut :

“Sungguh bahagialah orang-orang mukmin, yaitu orang-orang yang khusu’ di dalam shalat mereka, dan orang yang berpaling dari pekerjaan sia-sia, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga harga diri (kemaluannya) kecuali terhadap istri-istri mereka, atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barang siapa mencari yang dibalik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah dan janji-janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. Yakni yang akan mewarisi surga firdaus. Mereka kekal di dalamnya”. (Q.S. 23/al-Mu’minun:1-9)

Ayat diatas secara gamblang menjelaskan peluang meraih kesuksesan itu dirumuskan dalam poin-poin berikut :

· Fi’shalatihim khasyi’un (orang khusu’ dalam shalatnya).

Shalat merupakan sarana komunikasi seorang hamba dengan Tuhannya, tempat mengadu dan memohon harapan, dan juga merupakan jalur untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Sholat juga dapat membuka peluang dan memberikan jalan bagi seseorang mengatasi setiap problema kehidupan. Hal ini karena didalam sholat terdapat takbiratul Ihram sebagai tanda pembuka yang berguna untuk melatih jiwa agar dapat menyingkirkan segala godaan saat berhadapan dengan perintah yang Maha Kuasa. Dan ketika lidah membaca do’a, maka hati meraba makna, sehingga dengan itu diharapkan jalan kesuksesan bagi seorang hamba semakin terbuka.

· Wa’anil lagghwi mu’ridhun (menjauhkan diri dari perbuatan lagha) yaitu sesuatu yang tak berharga, sehingga setiap hari rajin beramal saleh, berbuat baik terhadap sesama, dengan keluarga, jiran dan lingkungannya. Waktu-waktunya diatur dengan disiplin, tidak berlalu dengan hampa tak bermakna. Tapi diisi penuh kreatifitas dalam rangka mengabdikan diri kepada sang penciptanya.

· Lizzakati fa’ilun (mengeluarkan zakat).

Mukmin yang memiliki ciri sukses sangat merasa, bahwa apa yang dinikmati dalam hidupnya merupakan pemberian dan rahmat Allah Swt. Dia sadar ketika lahir ke dunia tidak membawa apa-apa. Karena itu mukmin ia tidak pernah membuat perhitungan atas harta yang dizakatinya. Menyisihkan harta adalah budaya dirinya, sehingga harta dizakati, infak diberikan dan sedekah diperhatikan.

· Liamanatihim wa’ahdihim ra’un (memegang amanah dan menepati janji).

Dalam dirinya terpantul nilai amanah, sangat hati-hati terhadap kepercayaan yang diberi. Dalam dirinya terekam bahwa Allah mengetahui apapun yang terjadi sedikit banyak di waktu siang maupun malam hari. Tidak ada satupun yang tersembunyi bagi zat yang maha tinggi. Dia penuhi segala janji, dan tidak pernah ia pungkiri.

· Lifurujihim hafizhun (memelihara farajnya).

Nafsunya diperihara, terkontrol tidak berbuat yang salah. Tidak pernah menempuh jalan ilegal tanpa prosedur lewat akad nikah. Selain mampu meredam nafsu melawan rayuan setan didalam kalbu, juga mengupayakan menegakkan nilai-nilai moral sejauh kemampuan yang ada pada dirinya.

Demikianlah gambaran mukmin sukses yang digambarkan Allah dalam Al-Qur’an. Mereka itulah pewaris surga, orang yang menang di dunia dan ukhrawi.

Kultum 29 Januari 2008

BEKERJA DAN BERIBADAH MENURUT ISLAM

Suatu hari Rasulullah SAW sedang duduk bersama sahabat, tiba-tiba mereka melihat seorang pemuda tampan dan bertubuh kekar, tergesa-gesa hendak pergi menuju tempatnya bekerja. Salah seorang sahabat berkata: “Alangkah baiknya sekiranya pemuda yang gagah itu mempergunakan kekuatan tubuhnya untuk berjuang di jalan Allah, jihad fi sabilillah”.

Mendengar komentar sahabat tersebut, Rasulullah SAW bersabda :

“Janganlah kalian berkata seperti itu. Karena jika dia bekerja untuk mencukupi kebutuhannya, sehingga tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain, maka sesungguhnya dia telah berjuang di jalan Allah. Jika dia berusaha untuk menghidupi orangtuanya yang sudah jompo atau untuk anak-anaknya yang masih kecil, demi memenuhi kebutuhan keluarganya, maka dia juga berjuang di jalan Allah”. (HR.Baihaqi)

Hadis di atas mengisyaratkan bahwa bekerja dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup adalah suatu kewajiban dan usaha yang terpuji dan sangat dicintai oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya : “Katakanlah, hai kaumku, beramallah kamu menurut keadaanmu, sesungguhnya aku beramal (menurut keadaanku), maka kelak kamu akan mengetahu” (QS. Al-Zumar:39)

Sebaliknya orang yang malas merupakan awal dari kemiskinan. Sementara orang yang bekerja menimbun harta kekayaan untuk bermegah-megah dan pamer tanpa bermanfaat bagi kemanusiaan adalah merupakan jalan setan.

Sedemikian eratnya kaitan kerja dengan ibadah, hingga Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang pulang ke rumahnya di sore hari dan merasakan kelelahan karena kedua tangannya bekerja di siang hari, maka pada malam itu dia akan mendapat ampunan Allah SWT” (HR.Thabrani).

Ada Enam Kebiasaan Efektif yang harus ditanamkan dalam rangkan menjadikan kerja sebagai ibadah:

Pertama, selalu proaktif, kreatif, dan berinisiatif, sehingga terasa kehadirannya di tengah teman-temannya dan ditengah suasana pekerjaannya” (QS.2:141).

Kedua, memulai sesuatu dengan akhir dalam pikiran, artinya segala tingkah lakunya diawali dengan niat li Allah Ta’ala dan tujuan mencapai ridha Allah SWT. Niat ini seakan mensakralkan segala aktifitas orang beriman menjadi ibadah.

Ketiga, selalu mengutamakan yang paling utama. Dalam sebuah hadis Nabi dijelaskan, aula laka fa aula (carilah yang lebih utama).

Keempat, selalu berpikir menang-menang, berfikir positif (huznuzhzhan), sebab segala sesuatu diyakini sebagai mengandung hikmah.

Kelima, adalah selalu mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan diri sendiri, meskipun kepentingan diri sendiri itu penting namun ia dipenuhi dengan melakukan kerja sama.

Keenam, adalah selalu meningkatkan kualitas diri dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya. Sebagaimana firman Allah swt. : “Apabila kamu selesai mengerjakan sesuatu pekerjaan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh pekerjaan lain. Kemudian mendekatlah kepada Allah” (QS.al-Insyirah:7)

Dengan demikian dapat dimengerti apabila kebiasaan diatas dapat dilaksanakan dalam kehidupan aktifitas sehari-hari maka bekerja itu dapat dinilai sebagi ibadah. Dan kebiasan itu umumnya menjadi faktor penyebab kemajuan seseorang dalam hidupnya.

Kultum 30 Januari 2008

Kriteria Sukses Menurut Islam

Kalau diamati petunjuk Al-Qur’an, ternyata kesuksesan seseorang bukanlah terbatas pada pencapaian materi semata, akan tetapi mereka yang dinilai beruntung apabila dapat memenuhi kriteria sebagai berikut :

1. Mendapat petunjuk dari Tuhan karena ketaqwaannya

2. Beriman kepada Allah, Rasul-rasul, Kitab-Kitab Akhirat

3. Mengerjakan sholat

4. Bekerja mencari karunia atau rezeki demi tercapainya kebutuhan dan mendatangkan manfaat baik bagi keluarga maupun masyarakat.

Sukses dalam Islam harus didukung oleh beberapa upaya diantaranya:

1. Bekerja secara efisien dan produktif, karena dengan demikian akan memberikan nilai tambah lebih tinggi daripada sekedar bekerja tanpa memikirkan efisiensi kerja dan produktifitas yang lebih. Dalam Islam ada ajaran bahwa sebuah ibadah memiliki nilai yang berfariasi. Ada yang standard (biasa) dan adapula yang memiliki nilai lebih. Misalkan dalam shalat berjemaah dipandang lebih tinggi beberapa derajat nilainya daripada sholat sendiri. Atas petunjuk ini bahwa kerja juga demikian, nilai kerja diukur dari hasil lebih besar yang dihasilkan oleh kerja itu. Maka seorang mukmin yang sukses memakai kriteria ini dalam bekerja sehingga kerjanya dinilai tinggi dalam pandangan Islam.

2. Kesuksesan tidak lepas dari keahlian seseorang, sebab itulah mengapa dalam Islam kita diajarkan untuk mempercayakan suatu pekerjaan kepada mereka yang memiliki kemampuan cukup untuk itu. Nabi Muhammad SAW mengisyaratkan dalam ungkapannya bahwa: “bila mana sesuatu pekerjaan dipercayakan kepada pihak yang bukan ahlinya, hasilnya tidak akan seperti yang diharapkan”.

3. Mempunyai rencana yang sudah diperhitungkan untung ruginya. Seorang yang ingin sukses harus memiliki rencana kerja yang jelas. Dan bila nanti rencananya itu harus berhadapan dengan suatu kendala atau suatu kesulitan diluar perhitungan, maka ia harus yakin bahwa Allah akan memberikan kemudahan lebih banyak. Kesulitan merupakan suatu tantangan yang wajar bagi mereka yang ingin meraih kesuksesan dan itu harus dihadapi dan dipecahkan dengan kepala dingin dan mengharap kemudahan dari Allah swt.

4. Setelah selesai menjalankan satu rencana, Islam mengajarkan kepada kita bersikap tawakkal dan bersandar kepada Allah akan hasil yang bakal diterima. Yang penting sebelum rencana itu diserahkan kepada Allah, terlebih dahulu sudah dilakukan upaya yang sungguh-sungguh dengan menerapkan alur proses kerja yang telah ditetapkan sehingga tidak ada yang terabaikan dan semua pekerjaan dapat dipertanggung jawabkan kualitas dan mutu kerjanya.

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan-kesimpulan berikut:

· Manusia dan kerja (‘amal) adalah suatu kesatuan yang tak bisa dipisahkan, bahkan eksistensi manusia itu ditentukan oleh nilai kerjanya.

· Dalam menangani kerja, seorang manusia harus memiliki prinsip-prinsip : (1) kerja adalah sebagai ibadah, (2) kerja harus berkualitas, sebab semakin tinggi kualitas pekerjaan semakin tinggi pula nilai ibadahnya, (3) setiap kerja akan berpapasan dengan tantangan dan cobaan. Tantangan dan cobaan tersebut harus dihadapi dengan penuh optimisme, sebab di balik kesulitan pasti ada kemudahan dan jalan keluar.

· Karena kerja merupakan ibadah, maka ia harus dikerjakan secara terencana Allahlah yang menciptakan manusia dan kerja, dan bahkan tantangan-tantangan di dalamnya, dan Dia pulalah tempat bersandar dalam menjalani dan melaksanakannya.

Kultum 31 Januari 2008

Ukhuwah Islamiyah

Allah menurunkan Islam sebagai ‘hudan linnaas’, petunjuk bagi umat manusia. Sebagai petunjuk, Islam menciptakan alam baru pemikiran dan keyakinan manusia yang tidak lagi hanya tersekat pada batas-batas wilayah dan garis kekeluargaan. Sebagai agama fitrah, penjunjung tinggi kemanusiaan umat manusia, Islam tidak menafikan hubungan yang fitri pada diri manusia yang terbentuk atas kesamaan asal wilayah dan muasal keturunan. Semakin orang dekat dalam persamaan dengan salah satu hal ini, mereka merasa rapat, mengikat simpul batin adanya kedekatan. Pasa sisi lain, Islam menciptakan sebuah perasaan dekat lain, yaitu semangat keberagamaan baru : seiman dan seagama, meskipun berangkat dari ketidak-samaan pada asal keturunan atau muasal daerah. Semangat ini disebut ukhuwah al-islamiyah, persaudaraan atas kesamaan akidah.

Penduduk Jazirah Arabia pada umumnya, hingga masa-masa awal kenabian Muhammad (saw), lebih banyak membentuk ikatan antar mereka dari sisi silsilah keturunan. Semakin dekat garis keturunan antar mereka, maka semakin kuat tali perkawanan dan persekutuan. Izzah tertinggi (kemuliayan) bagi masyarakat ini adalah pengabdian kepada suku. Pengabdian anggota suku adalah untuk suku masing-masing. Lantaran fanatisme kesukuan yang sangat tinggi, tiap orang berbangga atas kesukuannya, sehingga peperangan, kebencian dan permusuhan tidak dapat dihindari.

Nabi (saw), akhirnya, diundang oleh beberapa orang yang sudah muak dengan peperangan dan kebencian tak berujung dari kedua suku tersebut untuk menjadi penengah. Nabi menyambut baik ajakan tersebut, dan hal pertama yang dikerjakan Nabi saat menjejakkan kaki di bumi Madinah adalah mempersatukan dua suku Arab yang saling bertempur. Nabi tak banyak mengalami kesulitan dalam mengupayakan hal paling mendasar dalam sebuah masyarakat, karena Nabi dari pihak ibu adalah berasal dari suku tersebut. Perdamaian kedua suku ini merupakan pilar pertama dari ajaran Islam, yaitu muakhat (persaudaraan). Barangsiapa yang mengaku beragama Islam, dia adalah akh (saudara) bagi seorang Muslim lainnya. Tak ada kedudukan lebih tingi, dan tak ada pula yang lebih rendah, semua sama, kecuali nilai taqwa. Tak ada persaudaraan yang abadi kecuali dikarenakan keimanan yang sama. Bahkan pada waktu yang sama, Nabi memperkenalkan kepada mereka saudara baru yang berasal dari kota lain, Muhajiriin, orang-orang yang berhijrah bersama Nabi dari Mekkah. Identitas kesukuan tidak lagi ditonjolkan dan dijadikan kebanggaan, kecuali bahwa mereka penduduk asli Madinah adalah Ansor, para penolong, dan orang-orang pendatang sebagai Muhajiriin.

Islam yang membentangkan kepada siapa saja kasih sayang untuk semua umat manusia, Islam yang memberikan rasa damai bagi pemeluknya, bagi saudara seiman, bagi saudara sedarah dan sedaging, bagi saudara satu negara, dan bagi umat manusia, siapapun dia, apapun mereka. Inilah Islam yang menjunjung tinggi martabat manusia.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.