Kultum Maret 2008

Kultum 1 Maret 2008

STRATEGI KEPEMIMPINAN NABI MUHAMMAD SAW

Firman Allah swt:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا – وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُّنِيرًا

“Sesungguhnya Kami mengutus engkau (Muhammad) sebagai suri tauladan, pemberi kabar gembira dan pembawa peringatan yang selalu mengajak ke jalan Allah berdasarkan izin-Nya serta menjadi obor penerang (hidup umat manusia)” (QS. 33/al-Ahzab:45-46)

Ayat diatas, secara jelas menerangkan bahwa selain diutus Allah swt. sebagai pembawa risalah Tauhid, Nabi Muhammad juga adalah suri tauladan bagi setiap kebaikan dan keberhasilan termasuk dalam prilaku kepemimpinan.

Ciri kepemimpinan Rasulullah saw. sudah dijamin oleh Allah akan kemuliaan dan keberhasilannya sehingga sebagai pemimpin dalam konteks perusahaan, prilaku kepimpinan beliau patut untuk kita tiru, bahkan walaupun kita tidak berstatus sebagai pemimpin dalam suatu lembaga ditengah masyarakat paling tidak sebagai kepala keluarga maka kita adalah pemimpin bagi rumah tangga kita, bahkan menurut Rasulullah saw. setiap orang itu adalah pemimpin sebagaimana sabda beliau yang artinya : “Setiap kamu adalah pemimpin dan pemimpin bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. (HR.Bukhari)

Sepak terjang kepemimpinan Nabi kalau dilihat secara global atau garis besarnya bahwa beliau adalah Pemimpin yang penuh kasih sayang terhadap ummat yang dipimpinnya, tidak pernah bersikap kasar atau memimpin mereka secara otoriter atau dengan kekerasan. Bahkan dalam keluarga, sebagai seorang pemimpin beliau bahkan menyatakan : “Aku adalah orang yang paling baik diantara kamu sekalian dalam memperlakukan keluarga”.

Cara Nabi dalam memimpin dapat dilihat dari prinsipnya yang selalu mengutamakan kepentingan umum, selalu menghargai profesionalisme umatnya, itulah sebabnya ketika Rasulullah saw. menyaksikan seorang yang sedang menanam kurma dengan hati-hati sekali; menanam biji, menyiramnya, kemudian menutup kembali dengan menggunakan tangannya sendiri, Rasulullah saw. bersabda : “Tangan itu sungguh memiliki berkah”. Disinilah tampak keseriusan Nabi saw. memberi penghargaan atas inisiatif dan kreatifitas ummatnya dalam usaha.

Selain itu pula terdapat beberapa faktor yang menyebabkan keberhasilan Rasulullah saw. dalam menjalankan kepemimpinan diantaranya :

1. Nabi Muhammad SAW pandai menjelaskan tujuan atas kebijakan yang akan diambilnya, yakni dengan menggunakan bahasa yang sederhana sehingga mudah dicerna dan dipahami sehingga tidak menimbulkan kecurigaan atau kebingungan bagi para pengikutnya.

2. Nabi Muhammad SAW merupakan idola bagi setiap orang yang dipimpinnya, disebabkan setiap kebaikan yang disampaikannya, ditemukan contoh dalam kenyataan kehidupannya. Sehingga penampilan Nabi, prilaku, bahasa dan gaya bicara Nabi saw tetap tampil sebagai sosok idola yang patut disuri tauladani oleh para pengikutnya.

3. Disamping itu semua faktor yang paling menentukan keberhasilan beliau dalam memimpin umatnya adalah kedekatannya kepada Tuhan.

Demikianlah diantara strategi kepemimpinan Nabi dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat sehingga beliau patut dijadikan sebagai idola yang baik bagi seorang muslim.

Kultum 2 Maret 2008

KERJA DAN KAITANNYA DENGAN UPAYA MENGHINDARI ‘ADZAB

Alhamdulillah, segenap puji dan syukur marilah kita persembahkan kehadirat Allah swt. atas limpahan rahmat, taufik dan hidayah yang diberikan kepada kita. Begitu pula shalawat beriring salam semoga selalu terlimpah kepada junjungan Nabi besar Muhammad saw., keluarga beserta sahabat-sahabatnya, yang telah membumikan keihklasan dalam setiap langkah perjuangan.

Salah satu faktor universalitas islam adalah visinya mengenai kaitan antara dunia atau aktifitas keduniaan dengan hidup keabadian atau akhirat. Dengan demikian diyakini sebagai ummat Islam memiliki kesadaran dan self kontrol, sehingga ia tidak selalu memikirkan persoalan aktifitasnya di dunia saja, tetapi ia juga memiliki pemikiran untuk urusan di “sana” (keabadian).

Wong Solo sebagai perusahaan yang menjadikan landasan filosofinya surat shaf : 10 dan 11, : “ Hai orang –orang yang beriman maukah engkau aku tunjukkan pada perniagaan yang menyelematkan dirimimu dari siksaan (‘adzab) yang sangat pedih ?, yakni kamu beriman kepada Allah, berjihad dijalanNya dengan harta dan jiwa, hal itu lebih baik jika kamu mengetahui”.

Sangat jelas pernyataan Allah dalam ayat diatas, bahwa menjadi seorang beriman, harus memiliki semangat untuk menghindarkan diri dari ‘adzab termasuk merupakan bagian dari aktifitas kerja perusahaan itu.

Secara literal adzab diartikan sebagai al-ija’al-sadid sangat menyakitkan. Bisa juga diartikan sebagai segala sesuatu yang menjadikan manusia menderita karenanya. Dalam perspektif islam adzab diartikan sebagai hukuman atau siksa Tuhan disebabkan perbuatan manusia, khususnya manusia yang menyimpang dari pola, aturan, atau nilai yang telah ditetapkan. Dalam al-Qur’an pengertian siksa Tuhan selain di ungkapkan dengan term ‘adzab, juga diungkapkan dengan istilah lain yang mengandung makna siksa (al-Akhdz, al-intiqam, al-ilhaq, Tadmir, al-‘aqab, dll)

Sebagaimana sabda Rasulullah: “Tuhan akan memberikan masa yang panjang bagi orang dzalim. Jika Dia menyiksanya tidak akan segan-segan. Selanjutnya Rasulullah membaca ayat : “Dan begitulah siksa Tuhanmu jika dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang zhalim. Sesungguhnya adzabnya itu sangat pedih” (al-Hadis).

Al-Qurán menginformasikan bahwa akibat pelanggaran manusia terhadap ketentuan Tuhan, maka manusia akan memperoleh adzab di dunia. Adapun azab dunia bisa berupa banjir besar, kemarau panjang, badai, gempa, angin puting beliung, longsor, dan segala hal yang menyiksa diri manusia secara fisik seperti kekeringan dan kelaparan atupun tekanan batin seperti hilangnya ketenangan jiwa dan ketentraman batin. Demikian keterangan Ibnu Abbas sebagai dikutip oleh Ikrimah.

Selain adzab dunia, al-Qurán juga menginformasikan adanya adzab akhirat bagi para pelanggar ketentuan ketentuan Allah seperti adzab kubur, adzab neraka dan rasa penyesalan. Oleh sebab itu adzab baik adzab dunia dan akhirat harus dihindari, dan diantara upaya menghindari adzab tersebut menurut pandangan islam, masing-masing baik kelompok maupun individu harus melakukan upaya-upaya meliputi :

1. Ada keseriusan setiap orang yang beriman untuk senantiasa melakukan jihad. Jihad dalam artian upaya sungguh-sungguh untuk menghindarkan diri dari adzab yang pedih dalam menjalankan aktifitas.

2. Upaya yang serius dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar dari segenap anggota masyarakat, baik secara individu maupun kelompok, langsung atau tidak langsung.

3. Selain itu al-Qurán juga mensyaratkan taubat sebagai bagian dari upaya menghindarkan diri dari adzab Tuhan, baik yang bersifat keduniaan, maupun yang bersifat keakhiratan.

Dari kajian di atas dapatlah disimpulkan bahwa kesadaran terhadap adzab dan upaya untuk menghindarkannya merupakan bagian dari kekuatan kontrol personal, agar seorang yang beriman tetap menetapi petunjuk Tuhan dalam kehidupannya.

Kultum 3 Maret 2008

MENEGAKKAN CITRA PERUSAHAAN ISLAMI

Bekerja adalah bagian dari tugas dan kewajiban asasi bagi seorang muslim setelah kewajibannya untuk beriman kepada Allah. Hal itu diisyaratkan dalam berbagai ayat Al-Qur’an yang selalu menggandengkan kata iman dengan amal shaleh yang sama artinya dengan penunaian kerja secara benar.

Seseorang yang menjalankan tugas yang diembannya secara benar, adalah ciri insan yang beriman. Namun dalam suatu lingkup usaha, seluruh unit dan bagian yang ada dalam suatu perusahaan itu harus dapat menjalankan hal ini secara serentak (bersama-sama) agar terjadi keseimbangan dalam proses kerja.

Masing-masing harus berniat secara ikhlas dalam menunaikan pekerjaannya, karena setiap amal atau perbuatan standardnya adalah niat. Jika niat yang baik maka melahirkan proses kerja yang baik. Dan Niat yang paling baik dalam melandasi suatu kerja adalah dengan niat keimanan sehingga akan melahirkan kebaikan pula.

Disamping itu perlu diingat, bahwa kemajuan sebuah perusahaan disamping adanya para karyawan yang terdiri dari orang-orang yang beriman yang melaksanakan tugasnya secara shaleh, peran pimpinan juga sangat menentukan dalam perkembangan karakter bawahan yang ia pimpin.

Oleh sebab itu suatu usaha harus dipimpin oleh pimpinan yang memiliki komitmen yang kuat pada ketuhanan dan keislaman, karena akan berdampak besar pada pelaksanaan tugas-tugas besar pada suatu perusahaan. Kepada setiap Pimpinan dalam sebuah perusahaan juga dituntut kesetiannya pada Ketuhanan. Sosok pimpinan yang setia pada keimanan tergambar pada kesungguhannya dalam mendukung tegaknya sistem islami dalam usahanya. Ia juga memiliki kesungguhan menjaga keseimbangan hidup antara kepentingan duniawi dan ukhrawi, serta berupaya menegakkan keadilan.

Untuk mencari figur pemimpin yang ideal, nama Usman Ibn ‘Affan, sahabat dan menantu Rasulullah pantas dikedepankan di sini. Dimana perilaku Usman dalam berbisnis adalah cerminan pemimpin perusahaan muslim yang selalu berpegang pada moral dan etika bisnis. Ia tidak saja mengupahi karyawan dengan dirham, namun juga menuangkan kedalam “bejana” hati nurani karyawan siraman iman, sebab kebutuhan fisik belum tentu membahagiakan mereka. Pada waktu-waktu (malam-malam) tertentu Usman mengundang karyawannya mengkaji Al-Qur’an, mempelajari nilai-nilai yang dikandung di dalamnya dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an.

Perusahaan yang Islami adalah perusahaan yang dibangun atas dasar pengabdian kepada Allah. Tugas dan kewajiban dilakukan dalam rangka amal, dan menghiasi setiap pekerjaannya dengan semangat jihad, sebab semangat jihad selain memunculkan ketangguhan juga merupakan peluang bagi diperolehnya kejayaan dalam usaha tersebut. Sebagai terminal akhir dari setiap aktifitas seorang muslim pada akhirnya ditujukan bagi pencapaian ridha ilahi, sebab sebagaimana firman Allah ; “ Katakanlah : Sesungguhnya Shalatku ibadahku, hidupku matiku, kupersembahkan bagi Allah Tuhan semesta alam”.

Karyawan dalam pandangan Al-Qur’an hendaklah memiliki konsisten (istiqamah) dalam menjalankan amanah yang diberikan pimpinannya. Tidak goyah meskipun ujian hidup kadangkala bisa membuat seseorang gelap mata untuk melanggar aturan Allah. Ujian hidup merupakan sunnatullah yang tidak bisa dihindari oleh siapapun sebab Allah SWT dalam QS. 2/al-Baqarah : 155 berfirman yang artinya : “Kami akan mencoba kamu dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang sabar “.

Kultum 4 Maret 2008

Jihad mempertahankan agama Allah dan mencapai ridha Allah

Istilah jihad (berasal dari kata juhd dan jahd) berarti kekuatan, kemampuan, kesulitan, dan kelemahan. Kata ini terulang sebanyak 41 kali dalam Al-Qur’an. Pengertian kata jihad disini menggambarkan bahwa dalam melakukan jihad dibutuhkan kekuatan, baik fisik, ekonomi, psikologi, dan diplomasi politik. Dalam Al-Qur’an istilah jihad seringkali berhadapan dengan resiko kesulitan dan kelelahan dalam pelaksanaannya. Untuk itulah maka jihad dapat diartikan sebagai perjuangan secara sungguh-sungguh mengerahkan segala potensi dan kemampuan yang dimiliki untuk mencapai tujuan, khususnya dalam melawan musuh atau dalam mempertahankan kebenaran, kebaikan dan keluhuran.

Pada satu sisi jihad bisa berarti berjihad dalam rangka berperang melawan musuh-musuh Islam, termasuk di dalamnya perang fisik mengangkat senjata menghadapi musuh-musuh Islam. Untuk pengertian ini kita dianjurkan untuk mempersiapkan diri, di antaranya petunjuk Nabi agar kita mengajari anak-anak kita agar pandai memanah. Namun pada sebagian ayat yang menggunakan kata jihad bukan berarti perang. Seperti QS. al-Ankabut : 6 dan 69, serta QS. 25/al-Furqan : 52. Yang termasuk ayat-ayat Makkiyah (turun di Makkah). Rasulullah ketika di Mekkah tidak pernah melakukan kontak senjata dengan orang-orang kafir. Bahkan ketika orang-orang musyrik mengadakan tekanan dan penyiksaan terhadap orang Islam, umat Islam di bawah pimpinan Nabi tidak membalas mereka dengan senjata. Nabi berucap : “bersabarlah kalian, karena aku belum mendapat perintah untuk berperang”.

Dengan demikian jelaslah bahwa ayat-ayat tentang jihad tidak dapat dipahami maknanya hanya dengan melakukan perang (angkat senjata). Berdasarkan keterangan dari ayat Al-Qur’an justru semakin banyak bertambahnya penduduk yang menganut Islam pada zaman Nabi, karena kelompok kaum muslimin membalas mereka dengan penjelasan ajaran-ajaran Al-Qur’an secara rasional dan prikemanusiaan. Abdul Rahman al-Mabarkafuri mengetengahkan berbagai penafsiran berkaitan dengan kata fi sabilillah yang sering mengiringi kata jihad. Sebagai ulama memahaminya sebagai ketaatan kepada Allah (tha’at Allah) dan mengharap ridha Allah (ibtigha’a mardhatillah) , dan sebagian lagi menyebutkan sebagai berperang memperjuangkan agama Allah (li i’lai kalimatillah ).

Dari kajian mengenai muatan kata jihad dalam Al-Qur’an di atas, dapat kita lihat bahwa yang paling pokok dari makna jihad itu adalah perjuangan secara sungguh-sungguh mengerahkan segala potensi dan kemampuan untuk: mempertahankan agama Allah dan mencapai ridha Allah.

Tegaknya agama Allah maksudnya adalah tegaknya kebenaran ajaran Islam meliputi nilai-nilai Islam dalam berekonomi, berpolitik, ilmu dan berbudaya. Maka menjaga kelestarian nilai-nilai itu adalah bagian yang tidak kalah pentingnya dari peperangan menyebarkan Islam yang dilakukan Nabi dan para sahabatnya. Dalam tataran ini, maka kesungguhan kerja keras serta terencana untuk memberdayakan umat adalah juga jihad akbar. Sebab dengan keberdayaanlah ajaran Allah dapat ditegakkan. Dengan demikian upaya kita secara sungguh-sungguh menangani tugas-tugas kita, apapun profesi kita, serta kesediaan berbagai kebahagiaan dengan mereka yang menderita adalah juga jihad. Firman Allah yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya” (QS.As-Shaf:10-11)

Kultum 5 Maret 2008

MENGHIDUPKAN SEMANGAT JIHAD DALAM PERUSAHAAN

Jihad adalah istilah Islam yang memiliki makna beragam. Selain bermakna asli yang cukup beragam dan luas, kata jihad juga telah dipakai berbagai kelompok Islam sepert pada zaman Nabi dan para Sahabat sebagai bentuk perlawanan mati-matian terhadap musuh yang mengancam agama Islam dan umatnya. Sedemikian tegas dan kerasnya perlawanan yang diberikan umat Islam (atas dorongan ajaran ini) hingga banyak orang yang keliru, sehingga mengartikan jihad sebagai bentuk pengerahan massa, perlawanan sekelompok orang Islam secara emosional. Padahal artinya bukan demikian. Pemahaman seperti itu adalah pemahaman orang yang awam agama sehingga rigid atau kaku dalam memahami teks Islam tentang Jihad. Apa sesungguhnya yang dikehendaki Islam dengan istilah jihad, dan bagaimana sikap yang diminta dari seorang Muslim berkaitan dengan istilah ini, sungguh merupakan hal yang perlu mendapat kajian, agar ummat Islam tidak memahami perintah jihad hanya terbatas pada sikap perlawanan fisik terhadap mereka yang benci kepada Islam atau hidup dengan kondisi dalam rangka menegakkan semangat keislaman.

Ciri-ciri Karyawan muslim yang memimiliki semangat jihad dalam perusahaan a.l.:

1. Memiliki semangat pengabdian kepada Allah :

Ali bin Abi Thalib adalah cermin tauladan bagi para karyawan muslim. Meskipun posisi Ali sebagai ilmuwan terpandang, sebenarnya ia pernah menjadi karyawan seorang wanita Yahudi dengan bekerja sebagai penimba air. Sebagai karyawan upahnya bukanlah dirham tetapi segenggam kurma. Namun pekerjaannya tetap dilaksanakan dengan penuh pengabdian. Fakta ini jelas sebagai bukti sejarah yang menunjukkan betapa pentingnya semangat pengabdian dalam menjalankan tugas-tugas sebagai seorang karyawan muslim.

2. Memiliki sikap istiqamah dalam bekerja:

Karyawan dalam pandangan Al-Qur’an hendaklah memiliki sikap istiqamah dalam menjalankan amanah yang diberikan kepadanya dari atasannya. Artinya ia tidak gampang goyah dalam melaksanakan tugas meskipun kadangkala ujian hidup atau problem rumah tangga bisa membuatnya gelap mata dan melenceng dari aturan Allah dan melanggar amanah yang diberikan kepadanya. Ujian hidup merupakan sunnatullah yang tidak bisa dihindari oleh siapapun sebab Allah SWT dalam QS. 2/al-Baqarah : 155 berfirman :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Kami akan mencoba kamu dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang sabar “. Sikap istiqamah merupakan ciri-ciri seorang karyawan yang memiliki semangat jihad yang tinggi.

3. Berusaha Menegakkan agama Allah dalam kerjanya:

Yakni menjalankan dan mengamalkan sistem yang ditetapkan oleh Islam dalam kerjannya, seperti bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh kejujuran dengan keyakinan bahwa dengan menjalankan tugas secara demikian, akan membuka jalan bagi terbukanya pertolongan Allah SWT dalam setiap usahanya.

4. Berupaya Mencapai ridha ilahi:

Yakni apa-apa tugas yang dilaksanakannya dilandasi oleh semangat pengabdian kepada Allah. Jadi bukan sekedar bekerja agar mendapat penghargaan dari manusia atau perhatian khusus dari pimpinan ataupun atasan, melainkan dimaksudkan untuk meraih keridhaan Allah sebagai puncak tertinggi dari segala harapan manusia. Dengan dilandasi upaya meraih ridha ilahi membuat seseorang memiliki daya tahan yang tinggi terhadap berbagai tantangan yang ia hadapi dalam pengelolaan tugas-tugasnya.

Kultum 6 Maret 2008

PRINSIP-PRINSIP TOLERANSI DALAM PERUSAHAAN BERNUANSA ISLAM

Kesuksesan Nabi saw dalam mengemban misi Risalah menyebarkan dakwah Islam kepada manusia dikarenakan upaya dakwah beliau yang dijalankan dengan penuh keramahan. Banyak raja-raja yang dulunya menyembah para Dewa dan berbagai berhala kini berbalik memilih jalan Islam dengan keterbukaan hati, disebabkan politik dakwah Nabi yang menerapkan sistem toleransi yang besar kepada mereka, sehingga memberi daya tarik tersendiri terhadap Islam sebagai agama baru yang ramah.

Kehadiran Islam di zaman Nabi dirasakan oleh agama lain sebagai agama yang terbuka untuk dimasuki agar dapat menjalin hubungan baik dan melakukan kerja sama yang saling menguntungkan. Akan tetapi kenyataan yang umum kita temui di masyarakat, bahwa ada sebahagian yang memandang bahwa toleransi itu sangat kurang menguntungkan, baik dari segi materi maupun non materi. Akibatnya sikap seseorang terhadap non Muslim menjadi sangat kaku, khawatir, dan cenderung menampakkan sikap yang kurang bersahabat, padahal Islam sebagai agama rahmat, yang ramah terhadap siapapun, telah menggariskan prinsip-prinsip toleransi dalam Islam, diantaranya dapat disimpulkan dari (QS.Az-Zumar : 17-18 ; al-Syura : 13) yakni :

Pada dasarnya agama Islam dan agama-agama lain yang pernah diturunkan Allah, (Agama samawi) sama-sama agama yang mengajak manusia untuk meyakini atau mengimani Allah sebagai satu-satunya Tuhan.

Begitupula para Nabi yang membawa ajaran agama, semua mereka adalah bersaudara, tidak ada perbedaan di antara missi mereka yaitu agar manusia tunduk kepada Allah SWT dan berakhlak mulia (QS.2/al-Baqarah : 136).

Dengan tidak adanya perbedaan itu maka semestinya manusia tidak mempersoalkan agama satu dengan lainnya, apalagi aqidah tidak dapat dipaksakan kepada orang lain. Sebab aqidah itu memerlukan kesadaran dan kerelaan (QS. Yunus: 99). Berdasarkan itu komunikasi dengan penganut agama lain seharusnya bersifat kesadaran, psikologis dan kelembutan. Sehingga dengan demikian hubungan perusahaan menjadi bersifat manusiawi dan keindahan.

Ditambah lagi perintah Allah, yang diharuskan kepada kaum muslim untuk tidak saling bermusuhan hanya karena perbedaan mereka dalam memahami agamanya masing-masing (QS. al-Maidah:2), dan penyelesaian akhir setiap perbedaan adalah menyerahkan diri kepada Allah (QS. al-Baqarah : 113). Kelebihan manusia atas yang lain tergantung kadar kebaikan yang dipahami dan dilakukannya. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW :

Orang yang paling dicintainya Allah swt. ialah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. al-Bazzar)

Perbedaan agama tidak harus menghalangi seseorang dalam berbuat baik, dan menjalin silaturahmi antara pemeluk agama yang berbeda (QS. al-Maidah : 5 ).

Dalam pluralitas keberagaman diperlukan dialog yang baik dalam batas-batas sopan santun dengan argumentasi secara meyakinkan (QS. al-Ankabut :46 ; al-An’am : 108)

Bila suatu umat dimusuhi karena aqidah yang mereka anut, maka mereka wajib menghapuskan permusuhan itu, demi memelihara keyakinan dan menghindarkan malapetaka (QS. al-Baqarah : 193; al-Mumtahanah : 9).

Demikianlah Prinsip-prinsip toleransi ini yang harus ditanam dalam nuansa Islam perusahaan, sehingga ia menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap orang, dan sekaligus menjadi wadah bagi perbaikan masyarakat.

Kultum 7 Maret 2008

KASIH SAYANG MENDORONG KREATIFITAS

Kalimat basmalah (bismillahirahmanirrahim), yang dalam penempatannya terdapat pada setiap awal surah dalam Al-Qur’an menjadi simbol kasih sayang Tuhan yang menggambarkan betapa Islam sangat menekankan pentingnya kasih sayang untuk dipraktekkan dalam kehidupan.

Begitupula dengan Istilah “Silaturahmi”, adalah kumpulan dua buah kata yakni shilat dan rahim. Shilat artinya menyambung yang terputus dan menghimpun yang terpecah. Sementara rahim berarti kandungan, dan ini erat kaitannya dengan kasih sayang.

Kasih sayang amat penting dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat, begitupula dalam melaksanakan tugas-tugas di tempat kerja. Sedemikian pentingnya penegakan kasih sayang dalam kehidupan, maka banyak sekali petunjuk Islam yang mengisyaratkan tentang hal ini, bahkan Hubungan manusia dengan Tuhannya selalu dikemas dalam konteks kasih sayang, seperti dalam S.5/al-Maidah:54 :

فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

Allah cinta kepada mereka dan mereka cinta kepada Allah” .

Allah mencintai manusia yang gemar melakukan kebaikan, misalnya suka bersedeqah, seperti terlihat dalam kalimat : “wa Allah yuhibbu al-muhsinin”, begitupula mereka yang menjaga kesucian dirinya seperti tergambar dalam kalimat “ innallah yuhibbu al-attawwabin, wa ÿuhibbul mutatahhirin“ : “sesungguhnya Allah mencintai mereka yang suka bertaubat dan mensucikan diri”.

Adapun hadits Rasulullah saw. Juga ada yang menggambarkan kasih sayang Allah seperti terdapat dalam sebuah hadis : “Manusia terbaik adalah yang paling taqwa kepada Allah, paling giat melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, dan paling suka menegakkan kasih sayang (al-hadis).

Rasulullah bahkan tidak mau mengakui seseorang sebagai ummatnya jika didalam hati seseorang itu tidak terdapat rasa kasih syang. Sabda beliau: “Bukanlah termasuk ummatku orang yang tidak dapat menyayangi yang lebih muda dan mengakui kemuliaan orang yang lebih tua” (HR.Abu Dawud dan Turmudzi).

Dunia juga mengakui, melalui WHO badan PBB yang mengurusi masalah kesehatan, menyebutkan bahwa salah satu kriteria orang yang bermental sehat adalah mereka yang mempunyai kasih sayang yang besar.

Kasih sayang antar manusia dilakukan dengan saling mengadakan persesuaian atau persamaan antar manusia yang dengan membuang jauh setiap perbedaan. Baik perbedaan suku, golongan dan ras. Menyatukan pemikiran, menyatukan gerakan, dan menyatukan hati dan perasaan, sehingga tumbuh kebersamaan dan melahirkan kekuatan kelompok, sebab masing-masing merasa mendapat dukungan dan dorongan dari yang lain.

Rasulullah saw. mengingatkan bahwa orang yang beriman adalah bagai bangunan dan atau bagai tubuh yang satu. Ini perlu menjadi landasan filosofi kebersamaan dalam kerja. Sehingga dalam perusahaan, kasih sayang terlihat pada :

· Kasih sayang pimpinan dengan yang dipimpin, dan sebaliknya

· Kasih sayang antara sesama karyawan, tua dan muda

· Kasih sayang antara karyawan dengan keluarga karyawan

· Kasih sayang insan perusahaan dengan masyarakat.

Diharapkan kasih sayang yang ditempuh dengan jalur ini dapat melahirkan prestasi besar bagi setiap orang dalam perusahaan. Kasih sayang antar manusia dipandang sebagai syarat diperolehnya kasih sayang Allah dalam kaitan rezeki dan keberuntungan manusia. Rahmat dan pertolongan Tuhan dalam satu kelompok tergantung sejauh mana anggota kelompoknya menegakkan ketaqwaan, termasuk di dalamnya menegakkan kasih sayang.

Kultum 8 Maret 2008

FILSAFAT PROSES DAN GERAKAN DALAM ISLAM

Salah satu aspek yang paling mengesankan dalam ajaran Islam adalah penekanannya pada pentingnya dinamika dalam kehidupan manusia. Terdapat sejumlah ayat Al-Qur’an yang menjelaskan pentingnya dinamika tersebut. Di antaranya :

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada pada dirinya sendiri (Q.S. al-Ra’du : 11).

Dalam suatu hadis Rasulullah bersabda : “Berbuatlah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu hidup selama-lamanya, dan berbuatlah kamu untuk akhiratmu seolah-olah kami akan mati besok hari” (al-Hadis).

Ayat dan hadis di atas, menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan pentingnya sikap dinamis bagi setiap orang yang beriman. Sementara secara manajerial, budaya dinamis itu merupakan budaya yang seharusnya senantiasa melekat pada diri setiap karyawan.

Dalam pandangan Islam setiap Proses dan Gerakan atau dalam istilah lain disebut dengan “Dinamis” merupakan inti ajaran Islam agar ummatnya memandang setiap perintah Allah.

Islam menjadikan syari’at sebagai aturan bagi tindakan-tindakan manusia, tariqah (tarekat) sebagai jalan yang harus ditempuh, bahkan shirathal mustaqim, bukan berarti jalan dalam arti kata benda yang tetapi merupakan patron (pola) untuk diikuti manusia dalam menjalani kehidupan. Maka dengan demikian tampaklah bahwa agama Islam sangat menekankan dan mementingkan adanya prinsip gerak dan dinamis seperti Istilah-istilah yang kita uraikan tadi sebagai ajaran Islam.

Selain itu dapat ditemukan pula istilah-istilah baku yang dapat dipahami dalam makna gerak dan proses, di antaranya :

· Istilah Mukmin, yang berarti sikap beriman dan percaya. Sikap ini senantiasa bersifat aktif dan merupakan proses yang terus menerus bergerak.

· Istilah Muttaqin, istilah yang digunakan untuk proses pensalehan manusia dengan cara menaati Allah dan rasul-Nya di setiap aktifitas hidupnya.

· Istilah Muslim, juga bukan keadaan yang statis, melainkan merupakan proses yang terus – menerus. Misalnya proses keislaman seseorang dimulai dengan mengucap dua kalimat syahadat, kemudian ibadah, baik ibadah ‘ain (fardu) dan kemudian melakukan ibadah – ibadah sosial.

Pentingnya pergerakan dalam ibadah islam itu, dengan jelas sekali dapat dilihat umpamanya dalam pelaksanaan ibadah-ibadah yang ada seperti shalat dan haji, yang merupakan ibadah yang paling kaya makna gerakan dan dinamika dalam islam. Dalam ibadah haji umpamanya ditemukan gerakan-gerakan berikut:

· Gerakan tak berpindah (Wukuf )

· Gerakan searah dan berayun (Oscillatory) antara Safa dan Marwah.

· Gerakan menpati sasaran ( Melempar jumrah ).

· Dan gerakan orbital (Thawaf )sekeliling ka’ah.

Sementara dalam shalat juga dilakukan gerakan-gerakan: Gerakan takbir, Gerakan Ruku’, Gerakan Sujud, Dll. Kesemuanya gerakan ini mempunyai makna proses yang seyogianya dihayati sebagai perlambang dari penekanan agama ini pada dinamika (pergerakan) penganutnya dalam menyongsong kehidupan yang lebih baik.

Untuk mengaktualisasikan atau menjalankan berbagai simbol-simbol pergerakan itu dapat diwujudkan dengan pelaksanaan sifat-sifat yang terpuji pada diri seorang muslim, termasuk seorang karyawan, di antaranya: Kejujuran, Amanah, Bersih lahir dan bathin, Tidak mengagungkan dan memperturutkan hawa nafsunya, Memiliki keseimbangan material dan spiritual.

Kultum 9 Maret 2008

KESALEHAN INDIVIDU DAN KESALEHAN SOSIAL

Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan li al’alamin), iman harus diwujudkan dalam bentuk amal yang baik (‘amal sholeh), setiap amal sholeh mengandung perbuatan, pekerjaan dan aktifitas yang baik, sehingga Allah memberikan pahala sebagai balasan yang baik untuk dirinya, sebagaimana tersebut dalam firman Allah swt. :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاء فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, maka pahalanya (manfaat kebaikanya) adalah untuk dirinya sendiri”. (QS. Fushshilat:46)

Setiap amal sholeh, baik dalam bentuk perbuatan atau aktifitas yang dilaksanakan secara sadar dan sengaja, yang bersumber dari daya fikir, fisik dan qalbu, setidaknya harus memenuhi dua kriteria, Pertama, amal shaleh yang bersifat individual, yaitu perbuatan yang dilakukan dengan harapan bermanfaat bagi diri sendiri. Kedua, bermanfaat untuk orang lain (amal shaleh sosial). Tetapi Ibnu Faris menganalisis kata yang digunakan, Al-Qur’an mengenai amal memiliki makna bahwa seseorang bekerja hanya untuk kebaikan dirinya, atau kepentingan orang banyak atau disamping untuk kepentingan orang lain juga untuk dirinya sendiri.

Al-Qur’an menggunakan dua istilah untuk kesalehan, yaitu kata “shaleh” dan kata “birr”. Kata “shaleh” berseberangan dengan kata “sayyi’ah”. Sedangkan kata “birr” mengandung makna keluruhuran budi dan ketinggian moral yang terkait dengan perbuatan baik seseorang kepada orang lain. Misalnya kepada kedua orang tua yang dikenal dengan istilah “birrul walidaini” atau berbuat baik kepada keduanya.

Al-Qur’an dan al-Hadis memberi petunjuk bahwa hendaknya kesalehan seseorang haruslah disempurnakan dengan kesalehan sosial, atau kesalehan individual haruslah berorientasi kepada kesalehan sosial.

Ada dua cara yang digunakan Islam untuk mengajarkan kesalehan sosial.

Pertama, adanya perintah dan anjuran untuk memiliki kepedulian sosial. Misalnya : harus menganggap muslim lain sebagai saudaranya, harus mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, haruslah menghormati tamu dan jirannya.

Kedua, Islam menetapkan adanya aspek sosial pada setiap peribadatan dalam Islam. Misalnya :

· Dalam shalat digunakan kata-kata jama’ dan yang menandakan bahwa ibadah dimaksudkan untuk kesalehan sosial di samping individu. Demikian pula penetapan salam sebagai akhir dari ibadah ini.

· Dalam puasa diajarkan kesalehan individual, tetapi juga sangat menekankan kesalehan sosial. Seperti kepedulian terhadap penderitaan orang lain dan membagi konsumsi (bukaan) kepada orang lain.

· Zakat, meskipun dimaksudkan untuk membersihkan harta seseorang, tetapi pesan penting di dalamnya adalah kesalehan sosial, yaitu pemberdayaan bagi kaum yang lemah.

· Keadilan, kebersamaan dan komitmen pada tanggung jawab juga merupakan bagian dari kesalehan sosial.

· Ibadah haji merupakan ibadah individual, tetapi sekaligus sebagai kesalehan sosial.

Terdapat isyarat di dalam Islam yang memandang bahwa kesalehan sosial juga tidak kalah pentingnya dari kesalehan individual. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa ancaman pendustaan agama, bagi mereka yang tidak memiliki kesalehan sosial. Bahkan al-qur’an mengatakan “bahwa kebaikan bukan hanya menghadapkan wajahnya ke Timur dan ke barat. Tetapi kebaikan adalah kalau mereka beriman dan memiliki kesalehan sosial.

Masyarakat kita banyak yang menganggap bahwa kesalehan individual, lebih penting dari kesalehan sosial. Hal ini akan merupakan salah satu dari penyebab kemunduran mereka dan hilangnya kekuatan komunitas ini jika berhadapan dengan orang lain.

Kultum 10 Maret 2008

KOMUNIKASI PERUSAHAAN BERNUANSA ISLAMI

Perusahaan yang bernuansa Islam dijalankan dengan landasan keimanan dan jihad di jalan Allah. Karena itu komunikasi dengan Allah di sini sangat diperhatikan. Mengkomunikasian suatu usaha yang dimaksudkan sebagai pengabdian kepada Allah hendaknya selalu dikomunikasikan kepada-Nya, demi kesuksesan pengelolaannya. Petunjuk ke arah itu terlihat umpamanya dalam ayat-ayat berikut :

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka jika engkau sudah mengambil keputusan, bertawakkallah kepada Allah, karena Allah mencintai orang yang bertawakkal” (QS.3/Ali ‘Imran : 159).

Selain mengkomunikasikan dengan tawakkal kepada ALlah, juga diharapkan komunikasi dalam bentuk do’a. Firman Allah : “ud’uni astajiblakum“ artinya : “Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu”. (QS.40/al-Mukminun:60)

Ayat-ayat tersebut mengindikasikan bahwa usaha sungguh-sungguh dari pihak manusia perlu dikomunikasikan kepada Allah, dalam bentuk ketawakkalan dan do’a. Inilah prasyarat bagi datangnya pertolongan Allah untuk kesuksesannya.

Metodologi pengkomunikasian kepada Allah telah dituntun (secara tersirat) dalam urutan surat al-Fatihah mengisyaratkan urutan komunikasi dalam rangka penyerahan usaha kepada Allah SWT, yaitu : Mengucapkan pujian kepada Allah, Mengakui kemahakuasaan Allah, Menyatakan ketaatan dan penyerahan diri, Menyatakan permohonan bantuan, Menjelaskan hal yang diperlukan, Yang diminta adalah sesuatu yang baik dan berguna.

Disamping komunikasi dengan Tuhan, juga tidak kalah pentingnya menjalin komunikasi dengan insan perusahaan dan masyarakat, terutama konsumennya. Dalam hal ini bertujuan, pertama, agar masyarakat (konsumen) mempercayai dan memanfaatkannya. Dengan komunikasi ini diharapkan konsumen semakin meningkat. Dalam hal ini sangat relevan petunjuk SWT :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (QS.3/Ali ‘Imran:159).

Dengan demikian maka masyarakat akan meyakini bahwa apa yang dilakukan perusahaan tersebut adalah benar dan terpuji. Sehingga bersedia diajak/mengajak kerja sama, meniru, dan bisa pula meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjalankan agamanya. Dalam konteks ini perusahaan bernuansa Islam telah bertindak semacam “Lembaga Dakwah”. Allah berfirman “Berdakwalah kepada jalan Tuhanmu dengan bijak dan contoh-contoh yang baik. Dan ajaklah mereka dengan argumentasi yang baik pula”. Inilah pesan-pesan (promosi) usaha bernuansa islami yang harus dijaga dengan baik.

Demikian juga membangun dialog mengenai pengembangan tugas-tugas perusahaan. Contoh yang sangat menarik dalam hal ini adalah bagaimana Allah SWT mengkomunikasikan (dengan cara berdialog) kepada malaikat, rencana penciptaan manusia di bumi.

Komunikasi antar individu itu dipandu antara lain oleh hadis Nabi : “Man kana yu’minu bi Allahi wa al-yaumi al-akhir falyaqul khairan au liyashmut” , Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata secara benar (kalau tidak) atau dia diam saja.

Pada hadis lain disebutkan pula : “Tidaklah beriman seseorang sehingga ia menyayangi saudara-saudaranya, sebagaimana ia menyayangi dirinya sendiri.”

Kultum 11 Maret 2008

URGENSI AKHLAK DALAM KEHIDUPAN

Akhlak dan karakter manusia menjadi faktor penting tegaknya ajaran agama, dan juga akhlak dan karakter manusia sangat signifikan dalam menentukan berhasil atau tidaknya seseorang dalam mencapai cita-citanya. Dilihat secara demikian, maka pengembangan akhlak dan karakter merupakan bagian tak terpisahkan dari keseluruhan upaya seseorang untuk meningkatkan kualitas diri dan kehidupannya.

Dalam pandangan Islam, akhlak manusia dapat dibedakan dari dua kategori. Pertama, akhlak fitriyah, yaitu sifat bawaan yang melekat pada diri seseorang sejak ia dilahirkan baik sifat fisik maupun sifat jiwa. Bawaan tersebut dijelaskan Allah SWT dalam surat Ar-Rum:30 :

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

Hadapkanlah wajahmu kepada agama yang hanif (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.” (QS. Ar-Rum : 30)

Kedua, akhlak muktasabah, yaitu sifat yang semula tidak ada pada sifat bawaan seseorang, namun diperoleh dari melalui lingkungan alam dan sosial, pendidikan, latihan dan pengalaman.

Sifat bawaan selalu beragam antara seseorang dengan orang lain. Sifat-sifat tersebut kemudian bertemu dengan variabel psikologis dan fisiologis, hingga akhirnya membentuk karakter fitriyah. Contohnya : Seorang yang memiliki sifat serakah dan ada kecerdasan, maka akan melahirkan akhlak yang licik. Dan sebaliknya jika seseorang memiliki sifat cinta pada kebenaran dan memiliki sifat berani, maka akan muncul akhlak adil. Oleh sebab itu sifat-sifat positif harus selalu dikembangkan karena jika bertemu dengan kebaikan fitrah seseorang, diharapkan sifat-sifat positif itu akan menjadi karakter yang mulia.

Bagaimana langkah-langkah untuk mengembangkan Akhlak dan Karakter itu ? Untuk mengetahui cara bagaimana mengembangkan karakter, dan perbaikan-perbaikannya, lebih dahulu perlu diketahui faktor apa yang dapat menyelewengkan seseorang dari karakter fitrahnya. Dalam kajian-kajian akhlak, faktor ini disebut dengan metode syaitan. Dalam hal ini Ibnu Al-Qayyim menjelaskan : Pada mulanya syaitan memasuki manusia melalui lintasan pikiran yang lewat dalam benaknya. Lintasan pikiran itu terus berulang dan terus terngiang dalam kesadarannya, sehingga membetuk memori. Setelah terpendam beberapa lama dalam memori itu, ia akan menggagas untuk melakukan dan jika seseorang gagal menolak kehadiran syaitan pada tahap lintasan pikiran ini, maka akan sulit menolaknya ketika ia menjadi memori, apalagi ketika ia telah berwujud secara nyata dalam ide atau gagasan. Maka turunlah syaitan ke wilayah yang lebih dalam pada kepribadian sehingga menjadi keyakinan. Jika dalam tahap keyakinan seseorang tak kuasa menolaknya di sini, maka ia akan turun lebih dalam menjadi kemauan. Jika gagal menghadapi kemauanmu sendiri, maka ia akan turun lagi ke lapisan paling akhir dari wilayah hatimu, yaitu tekad, dan langsung menjadi tindakan.

Satu, dua kali dia melakukannya tindakan yang salah, maka ia akan terus tertarik untuk melakukannya lagi. Maka jadilah ia suatu kebiasaan, dan jika kebiasaan itu berlangsung lama, maka terbentuklah ia menjadi karakter. Proses inilah yang dikemukakan Ibnu al-Qayyim yang kita sebut sebagai metode syaitan.

Karakter yang buruk tersebut masih dapat dirubah menjadi karakter yang lebih baik dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut : melakukan perbaikan dan pengembangan cara berpikir, mental dan prilaku sehingga membentuk akhlak dan etika manusia yang luhur.

Akhlak memegang peranan penting dalam pencapaian cita-citanya. Oleh karenanya, pengembangan karakter dan akhlak merupakan bagian tak terpisahkan dalam upaya manusia meningkatkan kesalehannya.

Kultum 12 Maret 2008

SIKAP SABAR DAN URGENSINYA DALAM KEHIDUPAN

“Hati” yang baik akan menuntuk manusia kepada sifat-sifat yang baik pula, termasuk sifat sabar yang paling ditekankan Allah agar dapat dilaksanakan para hambaNya,sebagaimana firman Allah : “….. sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, ……. kecuali mereka yang saling nasehat-menasehati kepada kebenaran dan kesabaran”.

Sabar adalah “akhlak Qur’ani” yang paling menentukan keberhasilan hidup, semala ini sikap sabar lebih banyak diperbincangkan orang saat seseorang menghadapi suatu musibah, seolah menggambarkan manusia adalah makhluk tidak berdaya, sehingga arti kesabaran menjadi: “ketahanan seseorang menerima musibah yang tidak dapat dihindari atau tidak mampu dielakkan“.

Hampir seluruh aspek kehidupan manusia perlu kesabaran, sehingga apabila kita ambil ruang lingkup kesabaran ini, dapatlah kita pahami bahwa ada dua macam bentuk kesabaran. Pertama, kesabaran menyangkut fisik (jasmaniyah) seperti menahan penderitaan badan yang berat, karena sakit atau karena kerja berat dalam lapangan pekerjaan, dalam menuntut ilmu, atau dalam beribadah. Kedua, kesabaran menyangkut mental, yang cakupannya amat luas termasuk kesabaran menyangkut syahwat dan seksual, kekayaan, musibah, keadaan yang sulit, rezeki yang sedikit, kesulitan hidup.

Ciri-ciri iman menurut Rasulullah ditunjukkan oleh kesabaran, beliau bersabda: “ciri yang menonjol dari keimanan adalah kesabaran”. Allah SWT merangkum seluruh aplikasi iman pada aktivitas mempertahankan hidup dalam kata kunci “sabar” sebagaimana firmanNya :

وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاء والضَّرَّاء وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَـئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa” (QS. al-Baqarah:177).

Dalam hal ini sangat menarik komentar Abu Thalib al-Makki, yang mengatakan : “Ketahuilah bahwa kebanyakan maksiat (perbuatan dosa) yang dilakukan manusia disebabkan dua faktor ; kurang sabar dalam hal-hal yang disenangi, dan kurang sabar dalam hal-hal yang tidak disenangi”.

Dalam Bekerja, sikap sabar perlu diaplikasikan oleh seorang karyawan muslim, baik di tempat tugasnya, maupun di tempat tinggalnya, mencakup:

· Sabar menangani pekerjaan yang boleh jadi sangat berat dan menjenuhkan, dengan meningkatkan profesionalisme dan sikap optimis.

· Sabar menerima imbalan, penghasilan dan penghargaan yang mungkin terasa kurang dan bahkan tidak memadai dengan senantiasa bersifat qana’ah, sebab siapa tahu justru dengan upah atau penghasilan berlebihan itu akan menjerumuskan pada sifat boros dan konsumerisme.

· Sabar mendapat teguran karena tidak dapat melaksanakan tugas sesuai ketentuan, dengan melakukan introspeksi diri, bukan malah bersikap acuh, atau menentang.

· Bersabar agar tidak bergaul dengan orang-orang yang memungkinkannya untuk melakukan penyimpangan dari nilai-nilai akhlaq dan moral, dengan mengendalikan diri dan keinginan untuk itu.

Sikap sabar mendorong seseorang mampu mengendalikan diri, dari setiap situasi dan kondisi yang dihadapinya, sehingga tetap menjadi insan yang menunjukkan sikap-sikap yang dibimbing agamanya, saat gembira maupun sedih. Dan pula, sikap kesabaran dapat menghindarkan seseorang dari sikap mubazzir, takabbur, konsumerisme (royal) pada masa pasca kesuksesan, atau masa setelah meraih kesuksesan.

Kultum 13 Maret 2008

KESUNGGUHAN BEKERJA

Sebagai konsekuensi logis dari ajaran Islam mengenai pentingnya kerja (‘amal) dalam kehidupan manusia, maka Islam pun menekankan kepada setiap manusia agar memiliki kesungguhan dalam melakukan kerjanya, sehingga terbuka peluang kesuksesan baginya serta terbuka solusi baginya dalam menghadapi setiap problem dan tantangan yang dihadapinya, sebagai suatu konsekwensi suatu pekerjaan.

Kesungguhan dalam kitab suci al-Qurán disebut sebagai jihad, hal ini disebutkan dalam firman Allah ;

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ َ

Dan bagi orang yang bersungguh-sungguh di dalam kebenaran yang kami ajarkan, akan kami tunjukkan berbagai peluang bagi mereka”. (QS. 29/Al-Ankabut:69).

Kata “jihad” dalam ayat diatas dapat diartikan kerja sungguh-sungguh yang diridhoi Tuhan. Setiap kerja yang dilandasi dengan kesungguhan apalagi yang diridhoi Allah akan membuka berbagai jalan kemudahan sesuai dengan apa yang diinginkannya. Sebagaimana sering disebutkan :

ﻣَﻦْ ﺟَﺪَّ ﻭَ ﺟَﺪَ

“Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapat”

Namun kesungguhan dalam konteks ini paling tidak harus diikuti oleh empat unsur:

1. Adanya motivasi dan niat, serta didukung oleh rasa keikhlasan yang tinggi.

2. Kehandalan SDM (Sumber Daya Manusia) yang memiliki pengetahuan, keahlian dan kesungguhan.

3. Didukung oleh sarana dan prasarana, guna menunjang aktifitas yang berat atau ringan.

4. Ada semacam target yang harus dicapai dalam waktu tertentu.

dengan memiliki empat unsur diatas maka kesungguhan itu mudah-mudahan akan melahirkan hasil sesuai yang diinginkannya.

Untuk menyebut kesungguhan kerja, Al-qur’an al-Karim menggunakan kata “jaddu” yang berasal dari jadda, yajuddu, jaddan, jiddatan; atau jadda, yajiddu, juddan. Kata-kata ini dalam berbagai bentuknya ditemukan 10 kali dalam al-Qur’an.

Menurut buku Ensiklopedi Al-Qur’an, kata jaddu memiliki makna yang berfariasi antara lain, besar atau agung (al-‘azm), dorongan (al-Qath), kekayaan (al-hazz), dan sesuatu yang baru. Dari sekian banyak makna kata Jaddu, jika ditarik kesamaan dengan makna yang biasanya yakni “sungguh-sungguh” maka hal tersebut sangat berkaitan. Seperti jaddu yang berarti besar atau agung (al-azm), memang ada kesamaan, bahwa orang yang sungguh-sungguh dimungkinkan akan mendapatkan kebesaran dan keagungan. Begitupula kata “jaddu” yang diartikan dorongan (al-Qath); bahwa memang jika sesuatu yang dilakukan secara sungguh-sungguh mestinya adalah sesuatu yang sudah jelas dan pasti, bentuk maupun manfaatnya.

Begitu pula kata “Jaddu” yang juga berarti bahagia atau kekayaan (al-hazz), karena memang seseorang yang bersungguh-sungguh dalam kerjanya akan memperoleh kekayaan yang dapat membuat hidup dan pekerjaannya menjadi lebih indah dan membahagiakan.

“Jaddu” yang juga berarti sesuatu yang baru (inovatif) dapat berkonotasi pada pengenalan/penemuan seseorang terhadap batas-batas dan keagungan, serta keindahan ciptaan Tuhan. Sebagaimana firman Allah swt. : “Tidaklah kamu melihat bahwa Allah menurunkan hujan dari langit, maka dengan itu kami hasilkan buah-buahan yang beraneka ragam warnanya dan di antara gunung-gunung ada jalur-jalur putih dan merah, warna-warna yang beraneka ragam dan ada yang hitam pekat” (QS.35/Fathir:27).

Kultum 14 Maret 2008

MENINGKATKAN KOMITMEN MUSLIM PADA AKTIFITAS PERDAGANGAN

Dalam ayat 275 Surat Al-Baqarah Allah berfirman :

وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan Riba”,

Ayat ini menunjukkan betapa kuat dukungan dan motivasi Islam dalam aktifitas perdagangan sebagai salah satu aspek kehidupan manusia. Dan kalau kita mau mengkaji, masih banyak lagi ayat dan hadis Rasul yang berbicara mengenai betapa pentingnya aktifitas ekonomi dalam Islam. Bahkan dalam beberapa ayat di dalam al-qur’an, mengisyaratkan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan bersifat perdagangan. Amal baik dan buruk dicatat secara sempurna dan akan mendapat balasan dengan sempurna pula.

Rasulullah SAW selalu mengajarkan perdagangan melalui praktek dalam kehidupan, bahkan sebagai pedagang, Rasulullah SAW juga menempatkan posisi aktifitas perdagangan sebagai aktifitas yang mulia. Akan tetapi akibat latar belakang sejarah sebagian besar umat Islam dengan para kolonialis Belanda dimasa penjajahan, banyak pihak-pihak yang menguasai perdagangan hasil bumi Indonesia, melancarkan politik yang meninabobokkan ummat Islam dengan agamanya. Mereka menamkan kedalam pemikiran umat Islam agar meniggalkan kegiatan perdagangan kareana tidak cocok bagi ummat Islam. Ummat Islam harus menjalankan agamanya secara bersih tanpa dicampuri oleh masalah keduniaan termasuk perdagangan.

Latar belakang sejarah ini membuat ummat Islam banyak yang benci pada dunia perdagangan, padahal dengan dikuasainya perekonomian, banyak hal yang bisa dilakukan ummat Islam seperti zakat, qurban, naik haji, menuntut ilmu pengetahuan yang kesemuanya itu dibutuhkan materi yang cukup.

Adapun penyebab lain mengapa banyak umat Islam yang tidak tertarik dengan dunia ekonomi, karena banyak praktek perdagangan yang tidak menaati ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh agama, disamping karena kurangnya pengetahuan tentang pentingnya perdagangan dalam rangka penegakan syi’ar Islam. Padahal aktifitas perdagangan memiliki manfaat yang sangat luas bagi berbagai aspek kehidupan manusia. Selain terkait dengan terlaksananya ajaran Islam seperti sarana shalat, zakat, haji, dan pengentasan kemiskinan, aktifitas perdagangan juga terkait dengan upaya perubahan di dunia Islam.

Matawalli Sya’rawi, seorang ulama Mesir yang mengatakan: “Rasulullah SAW yakin bahwa bila ajaran yang beliau, diamalkan sepenuhnya, pasti akan memperoleh keunggulan dan kemenangan, karena itulah beliau selalu berpesan kepada para pengikutnya untuk selalu berusaha menjaga dan mengamalkan ajaran-Nya di dalam setiap aspek kehidupan …. “.

Inilah pandangan Islam, bahwa keimanan bukan terletak pada lidah dan angan-angan, tetapi bagaimana menjadikan keimanan kepada Allah dapat ditegakkan dalam segala situasi dan kondisi kehidupan, termasuk dalam menjalankan usaha perdagangan sebagai usaha yang sangat strategis sebagaimana Rasyid Ridha, seorang pemikir dan ulama Islam pernah mengedepankan pendapatnya mengenai peran strategis perdagangan ini.

Menurutnya : “Pedagang muslim adalah para pembuat kehidupan dan merekalah sebaik-baik pembuat, bahkan mereka adalah guru dari pembuat. Saya fatwakan bahwa barangsiapa yang memiliki 365 roti dan satu botol cuka sebagai lauknya, dan juga memiliki 1095 kurma, maka haram baginya untuk menjadi pegawai negeri. Hendaklah dia turun ke pasar melakukan transaksi dan berlomba mencari harta”.

Umat Islam harus turun ke medan-medan perdagangan, sesuai dengan kemampuannya. Meskipun saat ini mereka menjadi tukang pikul di pasar-pasar, pada suatu saat ia harus bertekad dengan kegigihannya, di suatu hari akan jadi pengusaha. Untuk itu ia harus banyak menabung, melakukan studi, pengamatan dan perbandingan, agar cita-citanya dapat terwujud.

Kultum 15 Maret 2008

Visi Hidup Seorang Muslim

Dalam setiap kesempatan kita sering dihimbau untuk meningkatkan taqwa kepada Allah dengan memelihara diri dari perbuatan yang menyimpang dari ajaran agamaNya, sebagaimana firman Allah yang artinya : “Peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi) hari, yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian, masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya.” (Al-Baqarah: 281).

Memelihara diri dari perbuatan menyimpang dari aturan Allah, harus diiringi dengan sikap waspada agar tidak lalai dari mengingat Allah karena berbagai kesibukan, sebagaimana Firman Allah : “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan salat, dan (dari) membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (pada hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (An-Nur: 37).

Dengan senantiasa ingat pada Allah dan tidak melalaikan diri dari perintahNya, dijanjikan dalam S. An-Nur:38, : seseorang akan mendapatkan balasan yang baik dari sisi Allah, berupa tambahan karunia dan rezeki.

لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ

“(Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas”.

Setiap mukmin yang mengharap kesuksesan, hendaknya dapat memadukan antara kegiatan berusaha dengan ketaatan kepada Allah, sehingga mendapat jaminan kebahagiaan tidak saja didunia berupa keuntungan materi, tetapi juga kebahagiaan hidup di akhirat berupa terhindar dari siksa api neraka.
Dunia telah diciptakan Allah sebagai suatu tempat untuk mengumpulkan bekal menuju kampung Akhirat. Dalam mengisi kehidupan hendaklah manusia bekerja secara shaleh.
Bekerja secara shaleh artinya melaksanakan pekerjaan secara profesional dan sungguh-sungguh, sesuai dengan tata aturan, tidak membabi buta, tidak serampangan dan sesuai prosedur yang ditetapkan. Bahkan untuk bisa meraih sukses, manusia diberi kebebasan oleh Allah untuk berkreasi, berinofasi dan mencari peluang-peluang baru untuk kebahagiaan dunianya. Sebab Allah menghargai setiap aktifitas manusia yang dilakukan secara kreatif sebagaimana FirmanNya: “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia akan dirugikan” (QS.Hud:15)

Namun demikian seorang muslim jangan sampai melupakan akhlak atau budi pekerti sebagai hamba Allah dalam aktifitas usahanya, seperti mengembangkan sikap amanah, baik amanah dalam menjalankan kepercayaan yang diberikan, atau amanah dalam pengertian sikap jujur dalam menjalankan pekerjaannya.

Ketika seseorang sukses dalam usahanya juga yang harus ditegakkannya adalah etika pasca kesuksesan. Yakni kesediaan seseorang untuk berinfaq, zakat dan shadaqah sebagai sikap Tawadhu’ (Rendah Hati) menghilangkan kesombongan. Takut dan malu kepada Allah SWT, jika dengan hartanya ia tidak dapat membantu orang lain. Ia bahagia luar biasa, jika mendapat kesempatan untuk menolong saudaranya dan inilah etika sukses seorang muslim.

Kultum 16 Maret 2008

FAKTOR-FAKTOR PENCAPAIAN KESUKSESAN

Al-Qur’ân, dengan ayat-ayat sucinya banyak mengingatkan manusia supaya usaha (‘amal) yang ia kerjakan dapat mendatangkan kesuksesan. Banyak sekali kata-kata sukses diulang dalam al-Qur’an seperti dalam bentuk kalimat seperti la’allkum tuflihûn, (agar kamu sukses) diulang sebanyak 11 kali. ulâika hum al-muflihûn/ muflihîn, (mereka itulah orang-orang yang sukses) diulang sebanyak 13 kali.

Al-qur’an senantiasa mengkaitkan kesuksesan dengan keimanan karena IMAN merupakan pintu utama bagi seseorang untuk masuk mencapai kesuksesan, firman Allah:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

“Sungguh sukseslah orang-orang yang beriman” (QS. al-Mu’minûn:1).

Iman yang dapat menunjang kesuksesan seseorang adalah iman yang diikuti oleh keuletan dan kesungguhan. Keimanan merupakan power untuk menambah keyakinan bahwa diluar usaha yang dilakukannya ada kekuatan lain yang dapat melipatgandakan kekuatan dirinya mencapai kesuksesannya, yakni kekuatan Tuhan atau pertolongan Allah. Sebagaimana firman Allah: “barang siapa yang bertaqwa kepada Allah akan diberikan jalan keluar bagi mereka” (QS. 65/al-Thalaq:2).

Petunjuk (jalan keluar) ini sangat penting, karena dengan demikian seseorang bisa mendapat hasil yang lebih dari jangkauan perhitungan (kakulasi) yang dibuatnya, sebagaimana firman Allah (QS.65/al-Thalaq:3). “Dan ia akan dilimpahi rizqiNya dari jalan yang tidak dia sangka”.

Disamping itu faktor keimanan yang dapat menunjang kesuksesan seseorang, juga harus diikuti penguasaan ilmu dan keahlian. Islam menjelaskannya bahwa sesungguhnya Allah akan meninggikan derajat orang yang beriman dan orang yang bertaqwa. (58/al-Mujâdalah:11) Demikian pula sabda Rasulullah SAW yang mengisyaratkan penguasaan ilmu bagi kesuksesan seseorang : “Bagi siapa yang ingin mencapai kesuksesan di dunia hendaklah ia mempergunakan ilmu. Siapa yang ingin mencapai kesuksesan akhirat hendaklah ia menggunakan ilmu dan siapa yang ingin mencapai kebahagiaan pada kedua-duanya hendaklah ia menggunakan ilmu” (HR. Bukhari Muslim)

Faktor pencapaian kesuksesan yang lain adalah mengembangkan sikap JAMAAH atau jaringan kerja yang solid dan kompak, saling percaya, saling memperkuat, saling mengevaluasi, dan saling mendukung satu dengan yang lainnya.

Faktor kesuksesan seseorang dalam meniti karirnya juga dipengaruhi oleh kemampuan mengevaluasi diri dari kesalahan dengan bertaubat. Dalam bahasa agama hal diatas dikenal dengan istilah muhâsabah, yang memungkinkan seseorang untuk dapat lebih waspada dan tidak menyombongkan diripada masa berikutnya.

Komunikasi juga merupakan salah satu faktor kesuksesan seseorang. Baik komunikasi dalam bentuk vertikal antara dirinya dengan Tuhannya, atau komunikasi dengan pimpinannya , keduanya haruslah berjalan lancar, efektif, baik dan shaleh. Demikian pula komunikasi horizontal, dengan sama manusia atau teman seprofesinya. (Q.S.3/Ali ‘Imrân :112).

Didalam kajian-kajian mengenai strategi pengembangan karier, penampilan juga bisa mendongkrak keberhasilan seseorang. Penampilan bisa dipahami sebagai kebersihan, tata rias, dan busana, namun yang lebih penting dalam penampilan bukan hanya dikaitkan dengan keindahan dan keserasian lahiriah, tetapi keserasian juga adalah dalam hal moral atau akhlakul karimah. Keduanya harus berjalan dengan seimbang sehingga menampakkan keserasian dalam penampilan.

Dari kajian di atas dapatlah diketahui bahwa dari sejumlah faktor yang mempengaruhi kesuksesan seseorang, keberagamaan menempati peran yang sangat penting. Bahkan merupakan salah satu penentu bagi keberhasilan tersebut, di samping faktor-faktor menejerial yang juga harus dimiliki.

Kultum 17 Maret 2008

DIMENSI PRODUKTIFITAS DALAM TAWAKKAL

Secara harfiah, tawakkal adalah berserah diri kepada Allah, tunduk serta patuh kepada-Nya. Bahkan kadang-kadang kata-kata tawakkal biasanya dihubungkan dengan sikap manusia yang pasrah terhadap sesuatu yang menimpa dirinya. Tawakkal bukanlah lawan dari usaha dan kerja keras, sehingga manusia harus memilih apakah dia akan berusaha atau tawakkal.

Yang dimaksud dengan tawakkal adalah sikap dan keyakinan seseorang yang senantiasa mengerjakan apa saja yang menjadi tuntutan kebenaran dan bersandar kepada Allah didalam meniti kehidupan. Sebab Allah SWT merupakan pelindung bagi orang yang menjadi pembela kebenaran. Demikian disebutkan Ulama Islam Murthada Muthahari dalam bukunya “Bis Guftor”.

Al-qur’an al-Karim mengisyaratkan pengertian tawakkal pada makna yang sangat dinamis. Diantaranya : Tidak takut meniti jalan kebenaran dan ketaqwaan kepada Allah DAN Tidak takut kepada kekuatan bathil. Diantara ayat-ayat menjelaskan hal tersebut adalah surat Ibrahim ayat 12 :

Mengapa kami tidak bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang bertawakkal dan berserah diri (QS. Ibrahim:12)

Ayat ini menjelaskan bahwa dalam kehidupab terdapat (1). Penitian jalan, (2). Terdapat berbagai kesulitan yang akan melemahkan keinginan dan menghancurkan tekad dalam meniti jalan itu. Akan tetapi di sini para nabi berkata : “Kami tidak akan gentar dengan kekuatan kebathilan, kami bersandar kepada Allah SWT, dan tetap akan berjalan di atas jalan yang benar”.

Pada ayat lain disebutkan :

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal”. (QS.3/Ali Imran:159)

Ayat ini tidak berbicara dalam konotasi mengarahkan manusia agar bertawakkal dalam arti, pasrah pada apa saja yang akan menimpa dirinya dan meletakkan satu tangan di atas tangan yang lain, Tetapi ayat ini berbicara dalam konteks agar manusia secara sungguh-sungguh merencanakan, melakukan pekerjaan, melakukan kontrol, lalu akhirnya menyerahkan usaha dan dirinya pada kebenaran yang dijanjikan Allah. Inilah yang dimaksud tawakkal dinamis.

Seperti telah disebutkan di atas bahwa tawakkal bukanlah berarti pasrah tanpa ada tindakan dari pihak manusia, tetapi merupakan keberpihakan kepada kebenaran, yaitu jalan yang dijanjikan Allah SWT.

Penyerahan diri kepada Allah SWT, tidaklah berkonotasi bahwa manusia menjadi pasif, melainkan ia harus menjalankan tugas-tugas dengan tetap berjalan di atas petunjuk Ilahi, dan karenanya ia berserah diri kepada Allah bahwa jalan yang ditempuhnya itu mendapat jaminan dari Allah SWT.

Dalam hal ini para nabi mengajarkan kepada manusia bahwa mereka harus bertaqwa kepada Allah dan berjuang di jalan-Nya. Manusia harus bertawakkal dan bersandar kepada Allah. Di dalam mencari rezeki manusia tidak boleh menyimpang dari jalan yang dibenarkan. Keyakinan ini penting karena setiap orang jika berjalan di atas jalan Allah, maka dia akan memperoleh suatu bentuk “Pembelaan Ilahi” dalam setiap usaha dan aktifitasnya.

Kultum 18 Maret 2008

KERJA SEBAGAI TASBIH

“Tasbih” adalah salah satu istilah yang sangat populer dalam Islam. Namun makna “Tasbih” seringkali dipahami oleh sebagian penganutnya dengan makna yang passif, padahal “Tasbih” bermakna aktif dan progresif yang dapat memberikan kontribusi pada kemajuan dan peningkatan kualitas hidup umat Islam.

Tasbih berasal dari kata sabbaha, yusabbihu, artinya menjauh. Ini mengandung pengertian bahwa ada posisi asal, kemudian dari posisi asal itu bergerak menjauh menuju posisi yang lebih jauh.

Orang yang berenang disebut yasbah, karena dengan menggerak-gerakkan tangannya dia bisa menjauh dari posisi awal menuju posisi yang baru. Pengertian ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al-anbiya ayat 33 dan surat al-Muzammil ayat 1.

Ada sifat-sifat manusia yang menjauh dari diri Tuhan, karena itu Tuhan menyuruhnya untuk bertasbih. Dengan demikian sikap malas tidak bekerja atau tidak bersungguh-sungguh dalam kerja dapat diartikan sebagai sikap yang berlawanan dengan tasbih. Ada beberapa ayat yang mengisyaratkan hal ini, diantaranya firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 41, surat al-Hijr ayat 98 dan surat al-Waqi’ah ayat 74.

Ketika seseorang melakukan perbuatan yang salah, termasuk dalam melaksanakan tugas-tugasnya, berarti ia telah menjauh dari kesucian Allah. Jadi tasbih dimaksudkan ada pengakuan akan kekotoran dirinya dan pengakuan akan kesucian Allah, dan tidak akan mengulanginya lagi. Dalam hal ini Tuhan memberi pertunjuk dengan menggunakan kata subhana yang berarti kesucian dari Allah.

Setiap orang yang melakukan pekerjaan atau ‘amal biasanya bertujuan untuk melakukan upaya-upaya yang menggeser posisinya dari satu tempat atau situasi kepada situasi yang lain, atau kalah dalam konteks kerja, dari posisi yang tidak memiliki hasil menjadi orang yang memiliki penghasilan; dari posisi menunggu rezeki menjadi pencari rezeki; dari yang tidak berkualitas menjadi berkualitas; dari posisi yang lemah menjadi kuat; dan dari posisi kaya atau miskin menjadi berkecukupan, dan lain-lain.

Pada sisi lain pemaknaan tasbih yang terbatas pada penyebutan kalimat tasbih (subhanallah, dan lain-lain) dengan mengggunakan simbol-simbol (“batu tasbih”) tanpa mengiringinya dengan sikap dinamis dan progresif adalah sesuatu yang bukan merupakan refresentasi dari tasbih itu sendiri.

Banyak ayat al-Qur’an yang menjelaskan bahwa alam bertasih kepada Tuhan, di antaranya surat al-Ra’d ayat 13 :

وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ

“Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah,

Dan Surat al-Anbiya’ 79 :

وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ

“Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud”.

Tasbih yang dilakukan alam berarti adanya gerak/menjauh dari posisi awal dalam rangka mentaati sunnatullah, sehingga ia disebut tasbih.

Dengan demikian kata-kata tasbih dalam Al-Qur’an memiliki makna yang dalam, sehingga term ini dapat digunakan dalam dua konotasi: tasbih bi al-qawl (tasbih dengan kata-kata), dan tasbih bi al-afi’l (tasbih dengan aktifitas) sehingga membangkitkan dinamisme pada diri dan kehidupan manusia.

Kultum 19 Maret 2008

PENTINGNYA SUNNAH SIFATIAH RASUL BAGI KARYAWAN & PERUSAHAAN

Selain harus diucapkan, kalimat syahadat khususnya kalimat wa asyhaddu anna muhammaddan rasulullah, menuntut kesediaan seorang muslim mengejawantahkan pengakuan itu dengan meneladani sejumlah sifat-sifat yang dimiliki oleh Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari sebab sesuai Firman Allah swt:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat” (QS. 33/al-Ahzab:21).

Kesediaan meneladani Rasulullah itu sendiri bukanlah suatu kewajiban tanpa makna, melainkan keteladanan itu akan mendatangkan sejumlah manfaat bagi manusia. Diantara keteladanan yang harus ditiru dari kehidupan Rasulullah adalah dengan meneladani sifat-sifat beliau. Paling tidak terdapat dua alasan mengapa kita harus mengikuti sunnah sifatiah beliau:

Pertama, Sifat-sifat beliau telah menghantarkannya menuju keberhasilan, sebab Rasulullah tidak pernah mengalami kegagalan dalam missinya. Memang kesuksesan itu disamping memang rencana dari Allah, juga karena kehandalan Rasul sebagai pribadi yang unggul dengan sifat-sifat beliau.

Kedua, Perintah Al-Qur’an yang menyatakan bahwa dengan meneladani Rasul merupakan syarat kedekatan seseorang kepada Allah.

Adapun sunnah Sifatiah Rasul terdiri dari : Shiddiq (benar), Amanah (jujur dan dapat dipercaya), Tabligh (penyampai secara tepat), Fathanah (cerdik).

Sunnah sifatiah siddiq (benar), jika diaplikasikan akan muncul beberapa sifat, diantaranya :

1. Mengerjakan setiap tugas yang diberikan secara tepat, sesuai petunjuk dan ketentuan yang telah ada.

2. Berpikir secara positif terhadap pekerjaan, pimpinan dan mitra kerja.

3. Tidak mencampuradukkan yang hak dengan yang bathil (Q.S. 2/al-Baqarah:42). “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedangkan kamu mengetahuinya”.

Sunnah sifatiah amanah (jujur dan dapat dipercaya) dapat diibaratkan dalam kehidupan melalui sifat-sifat :

1. Dapat mencapai target atau melebihinya.

2. Menjaga dan memelihara sarana dan prasarana yang digunakan dalam menangani kerja. Memiliki tanggung jawab bagi tugas-tugas yang diembannya dan menghasilkannya sesuai dengan yang direncanakan, tidak menyelewengkan amanah sebagai pengamalan surat yasin 36:65: “Pada hari itu Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan” (QS. 17/al-Isra’ 36).

Sunnah sifatiah TabliGh (penyampai secara tepat) dapat dilihat dalam sifat-sifat :

1. Kesediaan saling menasehati untuk kebenaran dan kesabaran

2. Selalu mengeluarkan kata-kata secara benar dan sopan. Hal ini dipelajari dari kenyataan bahwa rasulullah tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan walaupun sekalipun dalam hidupnya.

3. Rasul tidak pernah menyinggung perasaan sahabat di saat perjuangan.

Sunnah sifatiah Fathanah (cerdik) dapat diejawantahkan dalam kesanggupan seorang karyawan menangkap petunjuk pimpinan dan memahami petunjuk-petunjuk yang dibuat oleh perusahaan, bahkan dapat melakukan inovasi positif melampaui petunjuk yang ada.

Kultum 20 Maret 2008

menjaga sopan santun dalam berbicara

Statemen-statemen palsu dalam perspektif islam dipandang sebagai fitnah yang tidak hanya akan mendatangkan kehancuran bagi orang atau kelompok yang zalim dan jahat, tetapi akan berakibat pada hilangnya keharmonisan bahkan dapat menghancurkan sendi-sendi kebersamaan rakyat. Sedemikian pentingnya seseorang menjaga lisannya dari perkataan yang tidak benar dan tidak mendasar, Allah berfirman :

وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Jagalah dirimu dari bencana fitnah yang tidak hanya akan menimpa mereka yang jahat saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah keras sekali dalam menjatuhkan hukuman. Demikian Allah berfirman” (QS. 8/al-Anfal:25). Sedemikian berbahayanya fitnah tersebut, al-Qur’an menyebutnya sebagai lebih kejam dari pembunuhan, Demikian tertulis dalam Al-Qurán (QS.2/al-Baqarah:191).

Dalam salah satu kissah sufi diceritakan bahwa :

“Seseorang yang shaleh pernah lewat di suatu perkuburan. Setelah sampai di komplek perkuburan itu, muncul keinginan dalam hatinya untuk mengetahui apa gerangan yang sedang terjadi di bawah sana. Tiba-tiba ia hilang ingatan, bagai mimpi; kuburan hilang dari pandangannya dan menjelma perkampungan dengan gambaran rumah-ruamh yang sebagian mewah dan sebagian sederhana bahkan sebagian kumuh di bawah garis kelayakan. Ia memilih berjalan mendekati rumah mewah. Sampai di sana ia dikejutkan oleh kenyataan bahwa di dalamnya terdapat seorang laki-laki yang dengan ceria dikelilingi oleh dayang-dayang, bagai bidadari. Namun tak berapa lama berterbanganlah kawanan lebah dan menghampirinya. Selanjutnya laki-laki itu menjulurkan lidahnya untuk digigiti oleh lebah tersebut yang membuatnya kesakitan tak terperikan. Selepas peristiwa tersebut laki-laki itupun normal kembali. Seorang shaleh tadi bertanya kepadanya tentang kejadian yang sebenarnya. Laki-laki menjawab “sewaktu di dunia saya adalah seorang yang shaleh, pemuka agama, bahkan pemimpin umat, akan tetapi saya seringkali mengeluarkan statemen-statemen yang tak berdasar. Bahkan ada seorang wanita yang saya fitnah hanya karena dia tidak mau menikah dengan saya, hingga saya meninggal dunia dia tetap belum menikah. Itulah sebabnya saya mengalami penderitaan di seberang kematian ini. Jika kamu kembali, tolong sampaikan mohon maaf saya”.

Ilustrasi itu memberi pelajaran kepada kita bahwa kita harus menjaga sopan santun dalam berbicara. Sebab apa yang diucapkan harus dipertanggungjawabkan di “Pengadilan Yang Maha Agung”, di hadapan Tuhan.

Di dalam Al-Qur’an kita diajarkan agar bertutur kata yang lembut dengan merendahkan suara. Firman Allah SWT. : “Dan lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai (QS. Luqman : 14).

Sikap lemah lembut akan meredam sikap arogan yang mengusik perasaan, dan membangkitkan emosi, yang akhirnya menimbulkan konflik dan ketidakserasian dalam bermasyarakat dan bekerja. Untuk membangun kebersamaan dibutuhkan kelembutan dan kasih sayang antar sesama. Sebagaimana firman Allah SWT : “ Maka dengan rahmat Allahlah mereka berlaku lembut terhadap kamu, tetapi jika kamu berhati kasar maka mereka akan lari darimu (Q.S. 3/ali imran : 154).

Dalam hal ini menarik analisis Fathullah al-Hafnawi dalam buku Washaya Luqman li ibnihi : “Sesuatu yang kasar tidak akan mendatangkan manfaat dan kemajuan, akan tetapi akan mendatangkan keadaan yang tidak menentu. Hendaklah berbicara dengan suara yang enak didengar, tenang pada jiwa dan ringan pada hati”.

Namun perlu dinggat bahwa sopan santun dan lemah lembut bukan berarti membiarkan kejahatan dan penyimpangan. Sebab itu menyimpang dari amar ma’ruf nahi munkar.

Kultum 21 Maret 2008

PENGENDALIAN DIRI DAM KESUKSESAN KERJA

Pengendalian diri (Self control=Ihsan) merupakan faktor penting dalam kesuksesan seseorang menangani pekerjaannya. Paling tidak ada tiga alasan mengapa pengendalian diri sangat berperan dalam kesuksesan dalam menangani pekerjaannya.

Pertama, manusia mempunyai kecenderungan negatif dan positif dalam dirinya. Sementara itu setan (iblis) selalu melakukan berbagai upaya agar seseorang lebih didominasi oleh kecenderungan negatif dalam dirinya seperti banyaknya ayat yang mengindikasikan hal tersebut.

Kedua, penetapan seseorang untuk menempati suatu job (tugas- jabatan) biasanya didahului dengan studi kelayakan dan pertimbangan, yang menyimpulkan bahwa orang tersebut memiliki kekayaan untuk melaksanakannya. Oleh karenanya, jika terjadi hambatan, kekurangan atau kegagalan, maka dimungkinkan karena ketidakmampuan yang bersangkutan mengendalikan dirinya.

Ketiga, Sebagian besar kegagalan manusia menjalankan tugasnya diakibatkan oleh ketidakmampuannya mengendalikan dirinya. Sebab semua perilaku manusia didasarkan pada karakteristik yang mendorong dari dalam dirinya (teologi, karakter, dan niatnya).

Seseorang yang tidak berhasil mengendalikan dirinya biasanya ditandai dengan sifat-sifat yang menonjol pada dirinya, antara lain :

1. Cenderung menunda realisasi pekerjaan dan mengakhirkan sesuatu yang semestinya didahulukan sehingga membuatnya kehilangan prioritas dan tahapan pekerjaan.

2. Sering ragu-ragu dan goyah ketika hendak melakukan pekerjaan, karena khawatir akan gagal melakukannya, sifat akibat ketidakmampuannya untuk mengambil keputusan dan tidak serius dan cermat menjalankan pekerjaannya.

3. Sering tidak bisa konsentrasi pada pelaksanaan kerjanya, karena tidak yakin bahwa melalui pekerjaan yang sedang ditanganinya sebenarnya ia bisa lebih sukses.

4. Membebani diri dengan sesuatu yang tidak sanggup dipikulnya sehingga ia mudah kalut, panik dan hilang keseimbangan.

5. Sering dilanda kejenuhan, karena tidak disiplin dengan pekerjaan utamanya sehingga produktifitasnya menurun.

6. Selalu tergesa-gesa, seringkali berkeluh kesah dan putus asa.

Upaya-upaya yang perlu dilakukan dalam mewujudkan kemampuan mengendalikan diri itu antara lain :

1. Memberdayakan spiritual melalui latihan-latihan (spiritual) seperti puasa.

2. Tidurlah dengan cukup dan jangan berlebih-lebihan, lebih baik sebelum tidur berwudhu dulu.

3. Ketepatan waktu melakukan Shalat Shubuh, karena disamping dapat mencerahkan spiritual manusia, waktu subuh sangat dekat dengan aktifitasnya di siang hari.

4. Berdzikir dalam setiap aktifitas dengan menjalankan perintah Tuhan dalam kerjanya. Sebab dzikir akan dapat mencerahkan qalbu manusia.

5. Memenej kehidupan dengan mengandaikan bahwa setan selalu berada pada sisi kiri dari aktifitas dan prilaku sehari-hari sehingga muncul kewaspadaan untuk selalu menetapi ketentuan Tuhan.

6. Ketika keluar rumah mulailah dengan do’a keluar rumah dan do’a naik kendaraan jika Anda naik kendaraan untuk pergi ke tempat kerja.

7. Menunjukkan keramahan sebab Islam adalah agama yang ramah.

8. Tidak menunda pekerjaan

9. Sepulang ke rumah, ciptakanlah suasana islami dan hargailah siapa saja di antara anggota keluarga, termasuk teman yang sukses pada hari tersebut, kendati hanya dengan perkataan.

10. Setelah berada di rumah, beristirahatlah sambil meyakini bahwa istirahat tersebut merupakan bagian dari kerja besar anda sebagai khalifah Allah di muka bumi, sehingga istirahat itupun merupakan bagian dari usaha pengendalian diri agar kemudian berorientasi kepada kebaikan dalm aktifitas berikutnya.

Kultum 22 Maret 2008

MEMBANGUN BUDAYA KEBANGKITAN

Sebagai dorongan (spirit) bagi kebangkitan Islam di masa depan, kiranya sangat bermakna kalau dikedepankan lebih dahulu ilustrasi kebangkitan yang pernah dikemukakan oleh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi. Menurutnya :

Setiap kebangkitan dan keunggulan, termasuk keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebenarnya diperuntukkan Tuhan bagi orang yang beriman selaku khaira ummah (sebaik-baik ummat manusia), firman Allah swt. :

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah” (QS. 3/Ali ‘Imran:110).

Akan tetapi saat tertentu keunggulan itu diberikan ke tangan orang lain, karena orang yang beriman tidak memenuhi tanggung jawabnya sebagai umat terbaik.

Jalan pikiran itu didasarkan pada kenyataan sejarah bahwa umat Islam memang pernah unggul dan memimpin dinamika peradaban umat manusia, khususnya pada zaman keemasan (abad 8 sampai abad ke 13 M).

Para pemerhati sejarah dan pemikiran Islam telah melakukan penelitian mengenai faktor penyebab keunggulan umat Islam zaman keemasan tersebut yang secara garis besar dapat dirumuskan sebagai berikut :

Keyakinan mereka terhadap Islam sebagai jalan kebenaran dan faktor utama penyebab keunggulan.

Keyakinan mereka bahwa pencarian ilmu pengetahuan dan keahlian merupakan bagian yang integral dan tak terpisahkan dari ajaran Islam. Bahkan pesan ilmu dan keahlian tersebut memiliki “akar tunggal” dalam keseluruhan missi para Nabi.

Komitmen pada peningkatan kemampuan ekonomi umat merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ajaran Islam. Sebab penyebaran (dakwah) dan bahkan pengamalan ajaran Islam itu tidak pernah terlepas dari persoalan ekonomi dalam arti yang luas.

Keyakinan dari segenap umat Islam bahwa bekerja secara baik, sungguh, dan shaleh, sesuai dengan tugas dan profesinya merupakan bagian yang integral dari ajaran Islam itu. Keyakinan ini memunculkan etos kerja yang tinggi di kalangan umat Islam.

Didorong oleh perasaan bahwa kepemimpinan dunia sesungguhnya berada di tangan umat Islam (khalifah, khaira ummah, dan pemakmur bumi), maka mereka senantiasa bersikap lapang dada dan toleran (tasamuh) terhadap komunitas lain. Sementara sikap toleran ini juga dipandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ajaran Islam.

Kecemerlangan mereka dalam mengamalkan Islam menurut versi yang lebih dinamis menyebabkan atau sekaligus didorong oleh pemahaman Islam yang rasional, yang tidak terpaku pada symbol-simbol formal. Dengan demikian mereka seakan tidak pernah “dikecewakan”oleh keyakinan mereka terhadap kebenaran dan keunggulan.

Kultum 23 Maret 2008

Mencederai Faktor Keunggulan II

Memasuki abad-abad berikutnya, terutama setelah dunia Barat menemukan kemodernan, banyak umat Islam yang mencederai faktor keunggulan mereka, dan bahkan banyak diantara komunitas muslim yang tidak lagi menganut budaya kebangkitan itu. Banyak faktor yang menyebabkan umat Islam itu mengalami kemunduran atau menganut budaya kemunduran, diantaranya :

· Tidak adanya keyakinan yang utuh bahwa Islam sebagai jalan hidup yang terbaik dan dapat membawa kepada keunggulan. Bahkan banyak di antara mereka yang merasa silai dan lebih tertarik pada jalan hidup yang lain.

· Pemahaman yang lebih cenderung pada aspek refressif dari ajaran agama membuat umat Islam tidak memiliki program yang jelas bagi pengembangan masa depan.

· Sebagai konsekuensi dari masyarakat yang tidak memiliki pedoman yang kuat, maka sikap saling percaya di kalangan umat mulai sirna. Akibatnya munbcul sikap saling curiga, yang pada gilirannya memunculkan fenomena dan kenyataan disentegrasi dalam semua tingkat kehidupan.

· Semangat untuk peningkatan ilmu pengetahuan dan keahlian mulai menurun, yang menyebabkan tidak adanya prinsip-prinsip budaya dalam upaya memerangi keterbelakangan.

Berdasarkan pengalaman sejarah umat Islam dan keharusan sejarah kebangkitan, maka budaya kebangkitan itu memiliki paling tidak lima aspek penting:

1. Keyakinan yang kokoh terhadap islam sebagai jalan keselamatan dan jalan keunggulan, sehingga perilaku dan tindakannya akan dimotivasi oleh keyakinan itu.

2. Semangat yang tinggi untuk menguasai ilmu dan keahlian, serta pemikiran rasional.

3. Membangun etos kerja dan budaya kerja yang dilandasi oleh nilai-nilai yang diajarkan oleh agama.

4. Adanya konsep dan implementasi pemberdayaan yang jelas, sehingga pemberdayaan kaum yang lemah dalam rangka keadilan bagi hidup bermasyarakat dapat ditegakkan.

5. Adanya toleransi dan kebersamaan dalam pengembangan kehidupan bermasyarakat.

Berdasarkan aspek-aspek penting tersebut maka pembangunan budaya kebangkitan di kalangan umat Islam dapat dilakukan dengan upaya pemberdayaan. Pembedayaan (enpowerment) dalam arti memberi kemampuan atau keberdayaan bagi umat Islam.

Kultum 24 Maret 2008

MENCERMATI IMPLIKASI PENAYANGAN MISTIK DI TELEVISI

Salah satu fenomena yang menarik untuk diamati akhir-akhir ini adalah maraknya penayangan mistik hampir pada semua televisi di negeri kita. Tayangan ini, di samping sangat digemari oleh banyak kalangan, juga diperkirakan akan berimplikasi pada sikap beragama, juga mental banyak anggota masyarakat. Sementara itu Islam mempunyai ajaran tentang yang ghaib. Bahkan tentang Iblis, Jin, dan Syaitan. Hadis Rasulullah SAW banyak yang menjelaskan secara eksplisit keberadaan makhluk ghaib tersebut.

Terdapat dua teori tentang pengaruh tontonan bagi pemirsanya. Ada yang mengatakan bahwa tontonan sangat mempengaruhi orang yang menontonnya. Tetapi teori lain mengatakan bahwa sebuah tontonan tidak akan banyak berpengaruh pada para penontonnya.

Meskipun kecenderungan kontemporer bahwa sebuah tontanan tidak akan banyak mempengaruhi para pemirsanya. Namun kenyataannya kelihatan berbeda di Indonesia. Sebab pada masyarakat kita tontonan sangat mempengaruhi para pemirsanya.

Tayangan Mistik dan Klenik dapat membuat penontonnya, terutama remaja dan anak-anak tumbuh tidak sehat. Sebab intensitas pemutaran yang bertubi-tubi akan mendorong mereka semakin dekat dengan hal-hal yang tidak masuk akal. Sedangkan perkembangan zaman mengharuskan mereka untuk meningkatkan rasionalitasnya. Demikian juga agama sangat menekankan pengembangan penggunaan akal.

Anak-anak tidak dapat membedakan hal yang sesungguhnya fiksi, dan tidak perlu dipercayai, dengan non fiksi. Seringkali terjadi gangguan kejiwaan pada orang yang menontonnya, terutama anak-anak, seperti munculnya ketakutan yang berlebihan.

Banyak sekali waktu anggota masyarakat yang digunakan untuk menyaksikan acara tersebut, yang seharusnya digunakan untuk pekerjaan yang lebih produktif.

Bisa jadi muncul kesan kekaguman terhadap makhluk lain dan sekaligus merendahkan derajat manusia. Padahal Islam memandang manusia sebagai makhluk termulia.

Dengan semaraknya pemutaran film mistik dan klenik tersebut, boleh jadi juga akan memicu kesemarakan kegiatan perdukunan yang tidak sesuai syari’at.

Upaya Antisipasi

· Diperlukan pemahaman yang jelas mengenai keberadaan makhluk ghaib di kalangan umat beragama.

· Kalau tayangan itu akan berjalan terus, maka sangat dibutuhkan adanya advokasi spiritual masyarakat, terutama para remaja dan anak-anak yang menontonnya

· Diperlukan pembuatan/penampilan film yang bernuansa syari’at. Meskipun akan menayangkan dunia putih dan dunia hitam. Namun perlu dijelaskan bahwa yang haqq pasti menang melawan yang munkar.

· Jika penayangan akan berlangsung, maka jangan disuguhkan pada anak-anak dan para remaja yang belum mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Kultum 25 Maret 2008

MEMBERDAYAKAN POTENSI DIRI DAN KEBERAGAMAAN DALAM MENCAPAI KEBERHASILAN

Agama dalam pengertian umum selalu dipahami sebagai undang-undang atau ketentuan-ketentuan Tuhan yang diturunkan kepada manusia untuk menjadi penuntun dan pedoman hidup bagi mereka, demi kesuksesan dan kebahagiaan mereka (lisa’adatihim) di dunia dan dihari kemudian.

Ayat-ayat suci Al-Qur’an mengingatkan bahwa keberhasilan manusia dapat dicapai dengan tiga hal, pertama, melalui berbagai macam usaha dan kegiatan (amal). Kedua, dengan kualitas diri yang tinggi. Ketiga, keberagamaannya yang baik. Dengan ketiga potensi ini mereka dapat mencapai keberhasilan.

Di dalam Al-Qur’an dinyatakan kalimat la’allakum tuflihun, (agar kamu sukses) sebanyak 11 kali. Ulaika hum al-muflihun (mereka itulah orang-orang yang sukses) sebanyak 13 kali.

Al-Qur’an menyebutkan berulangkali bahwa status keimanan seseorang merupakan pintu yang sangat terbuka baginya untuk mencapai keberhasilan itu. Firman Allah SWT : Qad aflaha al-mu’minun = Sungguh sukseslah orang-orang yang beriman (Q.S.al-Mu’minun:1).

Keberhasilan dalam perspektif Islam tidak terbatas dalam konteks dunia saja, tetapi juga dalam kontek yang lebih abadi di akhirat, sehingga kesuksesan yang utuh adalah kesuksesan yang mencakup dunia dan akhirat. (Hasanah fi al-dunya wa al-akhirah)

Tampaknya, antara agama dan manajemen modern terjadi hubungan yang mutualis (saling mengisi) dalam MENDUKUNG keberhasilan seseorang dalam usahanya. Bahkan diduga beberapa ahli manajemen modern banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor religiositas.

Paling tidak ada enam faktor yang dapat mendorong manusia untuk berhasil dalam berbagai profesinya :

Keyakinan bahwa ada kekuatan di luar dirinya yang dapat melipatgandakan kekuatannya untuk mencapai kesuksesannya.

1. Penguasaan ilmu pengetahuan dan keahlian sesuai bidang profesinya.

2. Adanya kemampuan untuk memelihara dan memanfaatkan networking

3. Kesediaan untuk mengevaluasi kemampuan diri

4. Kemampuan untuk berkomunikasi dan menjaganya

5. Penampilan sesuai citra diri

Bagi seorang professional, termasuk para karyawan, keyakinan yang teguh kepada Allah dan kemahakuasaannya sangatlah penting, sebab dengan keyakinan yang teguh tersebut seseorang akan memperoleh berbagai jaminan Allah berupa : (a) akan diberi berbagai alternatif bagi keberhasilannya. Sebagaimana firman Allah : yaj’allahu makhrja (akan diberikan jalan keluar bagi mereka = 65/al-Thalaq:2). Demikian juga firman-Nya : Ianahdiyannahum subulana (Akan kami tunjukkan kepada mereka jalan kami = Q.S.29/al-Ankabut:69. (b) Akan diberikan kepadanya kesuksesan melebihi jangkauan perhitungan (kalkulasi) yang dibuatnya (wa yarzuquhu min haisu la yahtasib = Q.S. 65/al-Thalaq :3).

Kultum 26 Maret 2008

Faktor – faktor yang mendukung keberhasilan

Islam dalam konsep mengajarkan manajemen, menempatkan penguasaan ilmu dan keahlian sebagai kunci sukses utama bagi pencapaian keberhasilan. Allah menjelaskan dalam firman Nya : Sesungguhnya Allah akan meninggikan derajat orang yang beriman dan orang yang bertaqwa (58/al-Mujadalah:11). Demikian Rasulullah SAW ada mengisyaratkan bahwa penguasaan ilmu sangat menentukan bagi kesuksesan seseorang, sebagaimana sabdanNya : “Bagi siapa yang ingin mencapai kesuksesan di dunia hendaklah ia mempergunakan ilmu. Siapa yang ingin mencapai kesuksesan akhirat hendaklah ia menggunakan ilmu dan siapa yang ingin mencapai kebahagiaan pada kedua-duanya hendaklah ia menggunakan ilmu” (H.R.Bukhari Muslim).

Keberhasilan seseorang juga tidak lepas dari pembangunan dan pemanfaatan networking dalam profesinya. Networking dapat didefinisikan sebagai keunggulan sekelompok orang yang bersatu, saling memperkuat daya yang dimiliki masing-masing untuk mencapai satu tujuan.

Al Ries dan Jeck Trout dalam buku Horse Course mengumpamakan pemanfaatan networking dengan memilih kuda balap, sehingga seseorang harus hati-hati dalam memilih kuda yang tepat.

Seseorang dapat membangun kerjasama dengan membina tali ukhuwwah dengan teman-teman sekolah, teman-teman sehobbi, seprofesi, keluarga, lingkungan pergaulan istri, koneksi pimpinan, arisan, STM, tetangga, dll, baik dalam bentuk ukhuwah islamiyah ukhuwah insaniah, dan ukhuwah wataniyyah.

Kemampuan dan budaya untuk mengevaluasi diri menjadi salah satu faktor bagi kesuksesan seseorang dalam meniti karirnya, dalam bahasa agama dimaksudkan sebagai muhasabah, yang dalam penyelesaian selanjutnya digunakan lembaga taubat, terutama bagi hal-hal yang ditemukan sebagai kesalahan atau penyimpangan. Sebab kemampuan mengevaluasi diri dan upaya bertaubat dari kesalahan akan memungkinkan seseorang untuk dapat lebih waspada dan tidak menyombongkan diri pada masa berikutnya.

Komunikasi juga merupakan salah satu faktor penting bagi kesuksesan seseorang. Seseorang harus menkomunikasikan aktifitasnya kepada Tuhan dalam bentuk ibadah vertikal, dan komunikasi dengan pimpinannya dilakukan dengan bekerja secara efektif, baik dan shaleh, begitupula dengan menjalin komunikasi yang baik sama manusia atau teman seprofesinya, seperti yang digambarkan mengenai Hablun minallah wa hablun minan nas dalam Q.S. 3/Ali Imran:112.

Di dalam kajian-kajian mengenai strategi pengembangan karier, penampilan dipahami sebagai mencakup kebersihan, tata rias, dan busana. Namun dalam keprofesian senantiasa dikaitkan hanya dengan keserasian dan keindahan. Sementara dalam perspektif Islam hal tersebut bukan hanya dikaitkan dengan keindahan fisik luar tetapi keseharian dalam hal moral juga penting, sebagai pendukung penampilan.

Kultum 27 Maret 2008

MEMBANGUN VISI RELIGIUS DALAM BEKERJA

Jika setiap tenaga kerja ditanya mengapa ia bekerja maka akan diperoleh jawaban yang sangat fariatif yang menggambarkan banyaknya yang melatar belakangi seseorang yang mencari kerja.

Dengan berfariasinya jawaban mengenai visi kerja ini menjadi peyebab munculnya sejumlah sikap manusia dalam menangani pekerjaan mereka, ada yang melaksanakan pekerjaannya sesuai ketentuan yang ada, dan ada pula yang melaksanakan kerjanya tanpa merasa terikat pada ketentuan-ketentuan yang ada.

Adanya keterikatan seseorang pada ketentuan yang ada bisa karena komitmennya pada nilai-nilai agama-agama yang dianutnya, dan bisa pula karena ketaatan pada ketentuan yang berlaku di perusahaan. Kalau kedua keterikatan itu dapat ditegakkan dalam pada suatu lembaga atau perusahaan maka visi religius akan muncul dalam pekerjaan di perusahaan itu. Sebaliknya bila kedua norma dan nilai tersebut tidak sejalan, atau bertentangan maka tenaga kerja akan mengalami dilematis dalam merekam pekerjaan.

Visi religius kerja menurut Al-quran alkarim dijelaskan dalam sebuah ayat yang menceritakan tujuan kerja yang harus dipahami oleh setiap tenaga kerja, bunyi ayat itu adalah : “Muhammad itu adalah utusan allah dan orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi kasih sayang sesama mereka : kamu lihat mereka ruku, dan sujud mencari karunia Allah dalam keridhaannya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikian sifat-sifat mereka dalam taurat dan injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas tersebut menjadi kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus diatas pokoknya” (Q.S.45/Al-fath).

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertaburanlah kamu dimuka bumi dan carilah karunia Allah ingatlah allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung (QS.62/Al-jum’ah).

Dua ayat diatas menjelaskan bahwa tujuan seseorang muslim bekerja adalah untuk : Mencari keridhaan allah Swt. dan Mendapat keutamaan (kualitas dan hikmah) dari hasil yang diperoleh. Kalau kedua hal itu telah menjadi landasan kerja seseorang, maka dia akan berupaya untuk :

1. Mencari dan melaksanakan pekerjaan yang mendapatkan hasil yang positif

2. Berusaha menjadi pekerja yang jujur (bisa dipercaya)

3. Berupaya mendapatkan citra kerja yang baik, serta mengajak teman untuk bekerja secara baik agar mendapat citra yang baik pula.

4. Menggunakan cara-cara yang baik dalam bekerja supaya dapat memperoleh hasil yang baik, maksudnya jangan menghalalkan segala cara untuk memperoleh segala keuntungan.

5. Setelah memperoleh gaji menyisihkan sebagian rezeki (2.5 %) sebagai zakat dalam rangka syukur atas nikmat yang diperoleh dari Allah

Kultum 28 Maret 2008

KOMUNIKASI VERTIKAL PERUSAHAAN BERNUANSA ISLAMI

Perusahaan yang bernuansa Islam dijalankan dengan landasan keimanan dan jihad di jalan Allah. Karena itu komunikasi dengan Allah di sini sangat diperhatikan. Pada sisi lain sebagai konsekuensi logis dari cara kerja islami yang bergerak di dunia modern, maka perusahaan bernuansa islami juga dijalankan dengan manajemen modern.

Berangkat dari jalam pikiran tersebut, maka komunikasi merupakan bagian integral dari proses jalannya perusahaan bernuansa islami, dan memang Islam sangat memandang penting soal komunikasi.

Komunikasi perusahaan bernuansa islami secara garis besar dapat dilihat dalam tiga dimensi :

· Dimensi Vertikal

· Dimensi Horizontal-eksternal

· Dimensi Horizontal-internal

Suatu usaha yang dimaksudkan sebagai pengabdian kepada Allah hendaknya selalu dikomunikasikan kepada-Nya, demi kesuksesan pengelolaannya. Petunjuk ke arah itu terlihat umpamanya dalam ayat-ayat berikut : “Faidza ‘azamta fatawakkal ‘ala Allahi inna Allaha yuhibbu al-mutawakkilin” Artinya : “Maka jika engkau sudah mengambil keputusan, bertawakkallah kepada Allah, karena Allah mencintai orang yang bertawakkal” (QS.3/Ali ‘Imran : 159). “Wa qala rabbukum ud’uni astajiblakum inna al-ladzina yastakbiruna ‘an ‘ibadati sayadkhuluna jahannama dakhirin.” Artinya : “Dan Tuhanmu berfirman : Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina (QS.40/al-Mukminun:60)

Ayat-ayat tersebut mengindikasikan bahwa usaha sungguh-sungguh dari pihak manusia perlu dikomunikasikan kepada Allah, dan komunikasi itu sendiri merupakan prasyarat bagi datangnya pertolongan Allah untuk kesuksesannya.

Metodologi pengkomunikasian kepada Allah telah dituntun (secara tersirat) dalam surat al-Fatihah sebagaimana kronologi ayat-ayatnya :

· Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam

· Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

· Yang menguasai hari pembalasan

· Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

· Tunjukilah kami jalan yang lurus

· (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (jalan) mereka yang sesat (QS.1/al-FAtihah:2-7).

Urutan ayat ini mengisyaratkan urutan komunikasi dalam rangka penyerahan usaha kepada Allah SWT, yaitu :

1. Mengucapkan pujian kepada Allah

2. Mengakui kemahakuasaan Allah

3. Menyatakan ketaatan dan penyerahan diri

4. Menyatakan permohonan bantuan

5. Menjelaskan hal yang diperlukan

6. Yang diminta adalah sesuatu yang baik dan berguna.

Kultum 29 Maret 2008

KOMUNIKASI Horizontal-Eksternal PERUSAHAAN BERNUANSA ISLAMI

Dalam kiprahnya, komunikasi insan perusahaan dengan masyarakat, terutama konsumennya sangatlah penting. Komunikasi dalam hal ini bertujuan :

1. Agar masyarakat (konsumen) mempercayai dan memanfaatkannya. Dengan komunikasi ini diharapkan konsumen semakin meningkat. Dalam hal ini sangat relevan petunjuk SWT : “Fabima rahmatin min Allahi linta lahun walau kunta ghalizh al-qalbi lanfadhdhu min haulik.” Maka disebabkan rahmat Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu (QS.3/Ali ‘Imran:159).

2. Agar masyarakat meyakini bahwa apa yang dilakukan perusahaan tersebut adalah benar dan terpuji. Komunikasi ini bertujuan agar semakin banyak orang yang bersedia diajak/mengajak kerja sama, meniru, dan bisa pula meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjalankan agamanya. Dalam konteks ini perusahaan bernuansa Islam telah bertindak semacam ‘Lembaga Dakwah”. Hal ini relevan dengan firman Allah : “Ud’u ila sabili rabbika bi al-hikmati wa al-mau’izhatil hasanati wa jadilhum bi al-lati hia ahsan.” Artinya : “ Berdakwalah kepada jalan Tuhanmu dengan bijak dan contoh-contoh yang baik. Dan ajaklah mereka dengan argumentasi yang baik pula.”

Pesan-pesan (promosi) yang dilakukan oleh perusahaan bernuansa islami harus memperhatikan nilai-nilai islami, sopan santun dan saling menghormati, sebagaimana dicontohkan Allah SWT dalam mengkomunikasikan (dengan cara berdialog) kepada malaikat, tentang rencana penciptaan manusia di bumi. Yakni dengan kata-kata yang baik. Bahkan dipandu oleh hadis Nabi yang mengatakan:

Man kana yu’minu bi Allahi wa al-yaumi al-akhir falyaqul khairan au liyashmut”, Artinya : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata secara benar (kalau tidak) atau dia diam saja”. Pada hadis lain disebutkan pula : “ Tidaklah beriman seseorang sehingga ia menyayangi saudara-saudaranya, sebagaimana ia menyayangi dirinya sendiri”.

Demikianlah bangunan komunikasi islami yang dilukiskan Islam yang menunjukkan betapa komunikasi memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan terutama dalam konteks perusahaan bernuansa islami. Dan komunikasi menyangkut segala Aspek disetiap tingkat, baik pada level vertikal maupun horizontal. Dan hendaknya semua komunikasi yang dijalankan itu adalah komunikasi islami, yang penuh kelembutan dan santun.

Kultum 30 Maret 2008

KUNCI SUKSES WIRAUSAHAWAN MUSLIM

Setiap Muslim hendaklah memiliki semangat dalam berusaha agar bisa menggapai kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat, serta terhindar dari api neraka. Ini adalah visi seorang mukmin. Sedangkan untuk menjalankan visi itu dibutuhkan misi yakni :

1. Mencari kebahagiaan melalui usaha dan aktifitas yang baik

2. Menjadikan segala aktifitasnya sebagai jihad dan pengabdian kepada Tuhan

3. Mencari keridhaan Allah SWT dengan melakukan pekerjaan secara profesional dan shaleh.

Sebagai landasan kesuksesan, seorang mukmin hendaklah :

· Yakin bahwa Allah SWT akan memberikan kesuksesan kepada setiap makhluk yang aktif dan kreatif

· Allah SWT selalu menghargai aktifitas manusia

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia akan dirugikan (Q.S.Hud:15)

· Menetapi akhlak dan etika profesi.

Dalam hal Akhlak, seorang Muslim harus menjaga dirinya agar senantiasa bersifat :

· Amanah, menjaga kejujuran

· Sungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugasnya

· Suka berinfaq dan dermawan dalam

· Tawadhu’ (Rendah Hati)

· Takut dan malu kepada Allah SWT

· Toleran

· Ikhlas dan Jujur

· Penyayang

Sedangkan Kunci Suksesnya terletak pada kesungguhannya dalam :

· Menjaga waktu dan efisiensinya

· Percaya kepada Allah dan memiliki keyakinan diri

· Selalu mencari hasil yang halal

· ‘Iffah (menjaga harga diri) dan qana’ah

· Berusaha keras membekali diri dengan ilmu. Ketrampilan, dan wawasan.

Kultum 31 Maret 2008

DAMPAK MAKANAN HALAL TERHADAP PRILAKU MANUSIA

Disamping itu taqwa juga tidak hanya menjamin keselamatan hidup dalam didunia, namun juga keselamatan dihari kemudian berupa keselamatan dari siksa pedih azab neraka. Termasuk salah satu ajaran tentang ketaqwaan adalah memelihara makanan yang merupakan salah satu aspek ajaran Islam yang tidak memiliki dampak langsung terhadap kehidupan manusia tidak hanya di dunia namun juga di akhirat.

Ajaran Islam tetanga kewajiban makanan halal, adalah firman Allah :

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا

Makanlah dari makanan yang baik –baik (halal) dan kerjakanlah amal shaleh” (QS.23/al-Mukminun : 51)

Mencari makanan yang halal tidak hanya karena takut dosa agar selamat siksaan pedih di hari akhirat saja, melainkan upaya mencari makanan yang halal sangat diperlukan karena berpengaruh pada kualitas hidup dan berdampak langsung pada aktifitas serta perilaku seseorang.

Sebagaimana disinggung oleh ayat diatas tadi, bahwa perintah menjaga kehalalan makanan, dikaitkan dengan perintah mengerjakan amal sholeh, sehingga makanan yang halal akan berimplikasi pada kegemaran seseorang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik (amal shaleh). Tidak ada jaminan bagi seseorang yang mengikuti ceramah agama dari ulama kondang, akan menampakkan hasil berupa perubahan prilaku selama ada hal yang haram yang dikonsumsi. Sebab, makanan halal yang di konsumsi akan berkembang menjadi daging, bersamaan dengan meningkatnya kualitas kesalehan, lahir dan batin. Sabda Rasulullah : “Barang siapa yang makan makanan halal selama 40 hari, maka Allah menerangi hatinya dan dia dialirkan sumber-sumber hikmah dari hatinya atas lidahnya” (HR.Abu Nu’aim dan Abu Ayub).

Makanan halal akan berimplikasi pada tumbuhnya kepercayaan diri bahwa Allah akan senantiasa dekat dan akan memberi jalan terbaik, serta memperkenankan doanya. Sabda Rasulullah SAW : “Bahwasanya Sa’ad mohon kepada Rasulullah SAW untuk memohon kepada Allah SWT agar diperkenankan doanya. Lalu beliau bersabda “Baiklah makananmu, maka doamu diperkenankan” (H.R.Thabrani dan Ibnu Abbas).

Penutup KULTUM kita kali ini dapat kita simpulkan bahwa adanya kaitan secara langsung antara makanan halal dengan prilaku dan perangai yang dimunculkan oleh manusia. Oleh karenanya salah satu cara untuk memunculkan prilaku dan perangai yang baik yang muncul secara kesadaran adalah dengan cara berupaya mengkonsumsi makanan halal. Semoga Allah membuka luas pintu hati kita untuk senantiasa memandang kehalalan dalam mencari rizqi dan kebaikan. Amiin ya Rabbal ‘Alamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: